Monthly Archives: Oktober 2015

Memasak sebagai hobi

Standar

Saya hobi memasak. Sebagai hobi, tentu saja saya lakukan pada saat memiliki waktu luang. Tentu saja karena hobi, saya mengkoleksi berbagai peralatan memasak yang standard maupun tidak standard dari merk-merk yang terkenal maupun tidak terkenal.

Mungkin karena saya perempuan, memasak menjadi hal yang sensitif bagi kalangan kami. Masyarakat secara gender menuntut para perempuan harus ahli memasak. mungkin lebih tepatnya masyarakat menuntut para perempuan ahli banyak hal: memasak seahli koki restoran, mengasuh anak sebaik baby sitter profesional, house keeping, berkebun bunga cantik, dst.

Dalam banyak kesempatan, memasak menjadi diskusi asik yang membangkitkan tawa, rasa ingin tahu, prihatin, sedih, bahkan marah. maksudnya bagaimana? begini, bayangkan seorang teman yang kurang beruntung cerita belajar memasak dengan sangat tertekan sebab ibu mertuanya mencerca dia perempuan kok gak bisa masak. Hampir tiap hari ia mendengar ibu mertuanya “ngomelin” masakannya. Sedih banget kan.. Lalu seorang teman cerita gak bisa bedain merica dan ketumbar dan bikin sop pakai ketumbar, sementara ia bingung dengan rasanya, suaminya bilang itu sop yang sangaaat lezat. Dia sungguh beruntung punya suami yang “mati rasa” lidahnya.  Lalu seorang teman yang belajar masak dimulai dari menggoreng ikan dan pada akhir kisah memasak hari itu ia harus ke dokter karena tangannya terpercik minyak panas sebab grogi sewaktu memasukkan ikan ke penggorengan. Dia bilang memasukkan ikan yang sudah dibumbui ke penggorengan itu seperti sedang berada di medan perang. Duh, baiklah… Kita berperang dengan peralatan tempur kita: wajan, kompor, dandang, sutil, dan seterusnya.

Memang ada juga pengalaman-pengalaman indah tentang memasak dari teman-teman yang sudah expert atau memang sejak dari sononya punya bakat memasak. Namun tetap saja pengalaman indah itu berkait relasi gender yang melekatkan memasak sebagai skill perempuan. Misalnya seorang teman cerita bahwa mantan pacarnya yakin segera menikahi dia setelah makan masakannya. Atau teman lain yang cerita bahwa ia disayang keluarga besar suaminya sebab kepandaiannya bikin kue buat hantaran ke mereka sambil silaturrachim. Yach, inilah fakta gender. sebaliknya ada juga teman yang curhat tentang omelan mertua atas masakannya. memasak menjadi hal krusial yang bisa “mendekatkan’ juga bisa “menjatuhkan” seorang perempuan dalam relasi keluarga besar mereka.

saya sendiri jarang memasak sebab tinggal di Kota seperti Malang ini makanan bukanlah hal yang sulit diakses serta juga bukan hal yang mahal. segala harga tersedia sehingga kocek dosen yang tidak tebal seperti saya sangat mampu mengaksesnya.  bahkan kalau dihitung, makan untuk dua orang sehari hari  yakni saya dan kak nay (adeknya sudah mondok)  lebioh praktis dan ekonomis jika dilakukan dengan membeli daripada memasak sendiri. Adek Ninid mengekspresikan hal ini dengan sangat menarik yakni:”masakan umi itu istimewa”. anda tau kenapa masakan saya istimewa? selain rasanya lezat yang lebih penting dari itu adalah jarang tersedia sebab lebih banyak beli matang. istimewa karena jarang ada. Begitulah istimewa….

Iklan

JIPING

Standar

Jiping kependekan dari “Ngaji Kuping” atau dalam bahasa indonesia mengaji dengan telinga (mendengarkan). istilah ini sangat dimengerti di kalangan islam tradisional indonesia khususnya di jawa timur yang merujuk pada pembelajaran agama yang dilakukan kalangan awam yakni hanya dengan mendengarkan.
Mengapa hanya mendengarkan? pada awalnya hanya mendengarkan ini dilakukan sebagai cara minimal mengingat keawaman dan keterbatasan. Misalnya dalam situasi “nderes” atau muroja’ah atau membaca bersama al-qur’an maka yang tidak bisa membaca akan mendengarkan sehingga diyakini mendapatkan pahala sebagaimana yang membaca. Dalam situasi mengaji kitab kuning maka yang tidak mampu menulis makna dalam tulisan arab jawa/pegon akan “jiping” atau cukup mendengarkan dengan seksama sehingga memiliki pahala sebagaimana yang juga menulis serta mendengarkan mauidhoh hasanah (ceramah agama) dalam pengajian umum juga berlaku “jiping”.
Jiping ini jika kita hayati mendalam pengistilahan ini sebenarnya adalah bentuk kebijaksanaan masyarakat islam tradisional untuk memberi posisi yang baik dan mulia bagi kalangan awam dalam belajar agama islam serta beribadah.
Nah, sekarang apa kaitan jiping ini dengan saya? jika ada kategori awam untuk melakukan jiping ini maka saya harus dilempar jauh-jauh dari karakteristik awam. Namun faktanya, jiping ini adalah kelakuan sehari-hari saya. Lebih tepatnya, jiping menjadi wahana “ngeles” atau berdalih dari yang seharusnya saya mengaji dengan memegang mushaf serta “maknani” kitab saat belajar kitab kuning. Saat maghrib saya nyalakan chanel TV Al-Qur’an dari Pilihan chanel TV berlangganan yang isinya siaran live thowaf dari masjidil haram dan diiringi suara merdu imam sana yang mengaji, jadi saya jiping sambil mengikuti lantunan ayat sang imam. Saat perjalanan jarak dekat seperti ke kampus maupun jarak jauh seperti sewaktu pulang kampung, saya menyalakan CD mengajinya imam assudais dan alghomidi yang tersedia di Mobil. Dan kelakuan ini saya jadikan pembenaran jika ibu saya bertanya:”apakah kamu di malang teetap istiqomah mengaji?”. “iya bu saya masih rajin ngaji kok, lihat HP saya aja ada Al-qurannya…” sambil dalam hati membayangkan kelakuan jiping dan merenungi dengan agak ngenes mushaf alqur’an yang mungkin agak berdebu. Yes, maksudku Jiping itu ngeles alias berdalih. Jangan ditiru ya… Ini kurang sip alias tidak keren!!
Namun jujur saja, jiping ini sungguh menentramkan hati untuk orang kota (cie…) pendatang macam saya ini (aslinya orang kampung). Bayangkan di komplek perumahan saya masyarakatnya menolak “berisik” di masjid. maksudnya mereka tidak suka ada aktifitas dengan toa atau pengeras suara dari masjis selain pada jam sholat itupun hanya adzan dan jama’ah serta sedikit sholawat pas hendak qomat dikumandangkan. Tentu sebagai orang hobi jiping kayak saya ini sungguh situasi yang tidak menyenangkan. Maka dari itu ketima perkampungan sebelah mulai punya alat pengeras suara baru di masjid mereka sehingg “berisiknya” terdengar hingga ke rumah saya di komplek adalah suatu berkah tersendiri.
Saya menikmati jiping tiap selasa pagi mereka membaca dziba’ meskipun lagunya kadang-kadang mereka pakai dangdut koplo dan njengkelin, hehehe.. tiap rabo mereka baca burdah yang indah itu. Dan tiap kamis pagi mereka baca tahlil lengkap dengan terlebih dahulu menyebut nama-nama ahli kubur yang mereka kirimi do’a. Kemudian jumat mulai bakda shubuh mereka khotmil qur’an hingga jam 9 pagi. Bayangkan ini adalah kebahagian luar biasa bagi para “Jipingers” macam saya.
Tiba-tiba saya ingat khittoh kaum Jipingers seharusnya adalah para awam dan jumlah mereka sangatlah banyak. Betapa bahagianya mereka dengan keberisikan masjid itu… dan tiba-tiba saya teringat pemerintah yang sempat “berisik” melarang masjid-masjid ini “berisik”. Loh, berisik seindah ini kok dilarang…?.
Mau bahas dalam konteks kebijakan publik? hem, saya sedang tidak asik melihat ini dengan kacamata kebijakan yang kemudian artinya adalah melarang “berisik” yang kayak gini.
MasyaAlloh…. Sepertinya mencintai “berisik”nya ahlul ilmi dan ahlul ibadah di masjid ini sebagian dari iman. bener gak ya…?
Wallahu a’lam.

Kasmaran Pada Burdah

Standar

Sebenarnya bagi kalangan islam tradisional seperti saya, qasidah burdah adalah lantunan sehari-hari sebagaimana dziba’, barzanji, manaqib dan seterusnya. Qasidah-qasidah ini dilantunkan dengan lagu atau irama yang disesuaikan dengan bait-baitnya.

Di wilayah pedesaan biasanya para ibu dan remaja putri membentuk majlis-majlis rutin untuk membaca qasidah-qasidah ini dengan di musholla atau “langgar” mereka dengan menggunakan pengeras suara. Bagi mereka selain sebagai ibadah, majlis ini juga adalah kesempatan berekreasi dan berkreasi dengan lagu-lagu qasidah serta sebagai sarana bersosialisasi di kampung mereka. Lagu-lagu yang dipakai untuk melantunkan qasidah ini juga beragam dan terkadang juga mengikuti irama lagu kontemporer seperti lagu-lagunya rhoma irama, elvy sukaesih, siti nurhalizah, bahkan terkadang mengkreasi irama dari lagu dangdut koplo untuk membaca qasidah shalawat ini. Dulu pada era 80-an terkenal sekali ada group ibu-ibu muda dari Semarang bernama “Nasida Ria” yang irama lagu-lagunya menginspirasi pembacaan dziba’, barzanji, burdah, manaqib dst ini. Selain itu konten atau isi dari lagu-lagu nasida ria ini juga “futuristik” tentang tantangan zaman yang harus dihadapi dengan ilmu dan iman sehingga para ibu harus menyiapkan generasi mendatang dengan sungguh-sungguh.

Suka ria membaca dziba’, manaqib, barzanji dst ini adalah suasana pedesaan yang berkultur islam tradisional terasa  syahdu terutama pada malam jum’at. Saat dewasa dan telah pindah di kota malang ini saya tinggal di kompleks perumahan “modern” yang masjidnya jarang “berisik” oleh lantunan shalawat. tapi saya bersyukur lamat-lamat di malam jumat terdengar dziba’ remaja-remaja pria dari dusun di luar kompleks sehingga rindu pada “berisik”nya para remaja membaca shalawat.

Kembali soal burdah, qasidah ini diciptakan oleh Imam Al Bushiri yang nama lengkapnya adalah Syarifudin Abu Abdillah Muhammad Bin Zaid Al Bushiri dari Mesir.  Ia hidup pada tahun 610-698 H/ 1213-1296 M dan merupakan murid dari Imam assyadzili yakni pemimpin thoriqoh Syadziliyah yang yang sangat terkenal itu. maka tak heran penganut syadziliyah juga sangat akrab dengan burdah ini.  Qasidah ini berisi 160 bait ungkapan rindu teramat sangat, puji-pujian ke kanjeng nabi, doa, pesan moral dan seterusnya.

Ada sepuluh (10) bagian dalam burdah ini yang masing-masing memiliki tema. bagian pertama adalah yang paling saya suka. tiap baitnya seperti mengandung daya magis yang membuat pembacanya berlinang air mata mengenang kanjeng nabi dan menghayatinya dengan rasa cinta. yach, jujur pada bagian pertama ini kadang saya menghayatinya secara dangkal yakni seperti orang kasmaran, rindu dan patah hati karena selalu ingin bertemu dengan kekasihnya. namun justru dari kedangkalan pikiranku itu saya temukan betapa penulisnya menghayati rasa cinta ke kanjeng nabi ini secara gambaran cinta  manusia “biasa” sekaligus secara mendalam dalam cinta yang “tidak biasa”. Sungguh pilihan kata yang penuh daya magis dari cinta…

Dalam sebuah perjalanan ziarah di madinah tahun 2009 guru saya bercerita tentang salah bait burdah bagian pertama yakni: Na’am saro thoifu man ahwa faarroqoni#walhubbu ya’taridlu ladzati bilalami  banyak dipercaya bahwa mengamalkan bacaan bait ini dengan sungguh-sungguh dan memohon bertemu dengan kanjeng rosul dan beberapa diantara mereka kemudian bertemu dalam mimpi dengan kanjeng nabi muhammad SAW. Entah apakah benar karena amalan bait tersebut atau hal lainya, wallahu a’lam. Demikian pula bait-bait lainnya memiliki kisah-kisah ajaib tentang terkabulnya doa atau hajat.

Bagi saya, tanpa kisah ajaib apapun, mengahayati makna syair-syair burdah khususnya bagian pertama ini sudah seperti membaca kisah cinta abadi nan suci. seperti cinta yang penuh derita namun sekaligus sangat bahagia yang bahagianya tak akan dipahami oleh orang yang tak mengenal cinta.  Begitu pedihnya orang yang merindu dan tak tau malu atas rindunya tersebut hingga memohon agar dimaklumi dan tak dipermalukan atas membuncahnya kerinduan tersebut, hingga air mata ini meleleh begitu saja membayangkan betapa imam bushiri ini menuliskan cintanya yang begitu rupa pada kanjeng nabi teramat bagitu rupa…

Disini bisa kita nikmati perasaan betapa orang yang kasmaran itu sangat merindukan pertemuan dengan orang yang dikasihi. Pertemuan yang pernah terjadi diantara seseorang yang kasmaran terhadap orang yang dicintai (kanjeng nabi) senantiasa menjadi kenangan sekaligus keyakinan bahwa itu adalah pertanda adanya pertemuan-pertemuan berikutnya. Dan romantisme alam, jalan dan tempat-tempat bersejarah  sepanjang perjalanan makkah madinah seperti Dzi salam (suatu tempat antara makkah madinah), kadzimah (nama jalan menuju makkah), idzom (jurang di madinah), pepohonan ban dan juga ranting-rantingnya menjadi semacam kenangan yang berbeda saat orang kasmaran memandang segala sesuatu yang biasa saja bagi orang yang tidak sedang kasmaran.

Fama liaynaika in qultakfufa hamata#wa ma liqolbika in qultastaqif yahimi. mengapa kedua matamu mengalirkan air mata begitu saja, apa yang terjadi pada hatimu, padahal engkau telah berusaha menghiburnya?. Bait ini senantiasa memberi sensasi buat saya, bahwa bagaimanapun orang kasmaran menghibur hatinya maka matanya tak dapat menyembunyikan api asmara yang penuh rindu sehingga air mata begitu saja meleleh tiap terkenang sang kekasih baik itu kenangan indah maupun kenangan nestapa dari sang kekasih.

Imam bushiri ini juga membuatku tersenyum di akhir bait bagian pertama ini ketika ia curiga pada ubannya yang mencela perasaan cintanya namun sekaligus yakin itu  tak mungkin melainkan ketulusan dalam warna ubannya tersebut.

Maha Suci Alloh, Segala puji bagi Alloh, yang telah memberiku kesempatan menikmati kasmaran imam bushiri dalam burdah bagian pertama ini… melalui bait-bait puisi terindah sepanjang masa, dalam bahasa teromantis sedunia, dalam situasi penih cinta sejati kekal abadi…   Semoga desir cinta dan kerinduan  imam bushiri ini terekam dalam tubuh dan segenap aliran darah kita menyebut nama kekasih manusia terindah sepanjang masa. Semoga kita semua adalah ummat kanjeng nabi muhammad yang dapat merasakan cinta kasih beliau kepada kita, ummatnya… aamiin.

Semua ada permulaannya

Standar

Hari ini jumat tanggal 2 oktober 2015 saya mulai menulis disini. Bukan yang berat-berat sich, sekedar mozaik kehidupan saja. Awalnya adalah protes dari sahabat tentang tulisanku kenapa tidak dibuat dalam versi blog? Meskipun sebenarnya masuk kategori gaptek saya beranikan diri asal mencoba saja. kita tidak akan pernah tau hasil dari upaya kita manakala kita tak pernah memulai untuk mencoba.

ngomong tentang mencoba, saya ingat saat remaja mengaji di pondok tambakberas, guru kami sering mengingatkan bahwa saat kalian berusaha bersungguh-sungguh mencari sebuah jawaban, solusi, ataupun penyelesain dari persoalan itu senilai ijtihad. maka apabila salah kalian mendapat satu pahala namun apabila benar maka akan mendapat pahala dua kali lipatnya.

Ijhtihad sendiri adalah “badlul juhdi fistinbatil  hukmissyar’i” yakni mengerahkan segenap kemampuan untuk beristinbat (menetapkan) hukum syareat. hakekat pentingnya adalah bersungguh-sungguh dalam berusaha. Jadi saat kita bersungguh-sungguh berusaha maka Alloh memberi kita penghargaan yang demikian besar. Alloh bersama orang-orang yang berusaha. Semangat selalu, Bismillahirrohmanirrochiim.