JIPING

Standar

Jiping kependekan dari “Ngaji Kuping” atau dalam bahasa indonesia mengaji dengan telinga (mendengarkan). istilah ini sangat dimengerti di kalangan islam tradisional indonesia khususnya di jawa timur yang merujuk pada pembelajaran agama yang dilakukan kalangan awam yakni hanya dengan mendengarkan.
Mengapa hanya mendengarkan? pada awalnya hanya mendengarkan ini dilakukan sebagai cara minimal mengingat keawaman dan keterbatasan. Misalnya dalam situasi “nderes” atau muroja’ah atau membaca bersama al-qur’an maka yang tidak bisa membaca akan mendengarkan sehingga diyakini mendapatkan pahala sebagaimana yang membaca. Dalam situasi mengaji kitab kuning maka yang tidak mampu menulis makna dalam tulisan arab jawa/pegon akan “jiping” atau cukup mendengarkan dengan seksama sehingga memiliki pahala sebagaimana yang juga menulis serta mendengarkan mauidhoh hasanah (ceramah agama) dalam pengajian umum juga berlaku “jiping”.
Jiping ini jika kita hayati mendalam pengistilahan ini sebenarnya adalah bentuk kebijaksanaan masyarakat islam tradisional untuk memberi posisi yang baik dan mulia bagi kalangan awam dalam belajar agama islam serta beribadah.
Nah, sekarang apa kaitan jiping ini dengan saya? jika ada kategori awam untuk melakukan jiping ini maka saya harus dilempar jauh-jauh dari karakteristik awam. Namun faktanya, jiping ini adalah kelakuan sehari-hari saya. Lebih tepatnya, jiping menjadi wahana “ngeles” atau berdalih dari yang seharusnya saya mengaji dengan memegang mushaf serta “maknani” kitab saat belajar kitab kuning. Saat maghrib saya nyalakan chanel TV Al-Qur’an dari Pilihan chanel TV berlangganan yang isinya siaran live thowaf dari masjidil haram dan diiringi suara merdu imam sana yang mengaji, jadi saya jiping sambil mengikuti lantunan ayat sang imam. Saat perjalanan jarak dekat seperti ke kampus maupun jarak jauh seperti sewaktu pulang kampung, saya menyalakan CD mengajinya imam assudais dan alghomidi yang tersedia di Mobil. Dan kelakuan ini saya jadikan pembenaran jika ibu saya bertanya:”apakah kamu di malang teetap istiqomah mengaji?”. “iya bu saya masih rajin ngaji kok, lihat HP saya aja ada Al-qurannya…” sambil dalam hati membayangkan kelakuan jiping dan merenungi dengan agak ngenes mushaf alqur’an yang mungkin agak berdebu. Yes, maksudku Jiping itu ngeles alias berdalih. Jangan ditiru ya… Ini kurang sip alias tidak keren!!
Namun jujur saja, jiping ini sungguh menentramkan hati untuk orang kota (cie…) pendatang macam saya ini (aslinya orang kampung). Bayangkan di komplek perumahan saya masyarakatnya menolak “berisik” di masjid. maksudnya mereka tidak suka ada aktifitas dengan toa atau pengeras suara dari masjis selain pada jam sholat itupun hanya adzan dan jama’ah serta sedikit sholawat pas hendak qomat dikumandangkan. Tentu sebagai orang hobi jiping kayak saya ini sungguh situasi yang tidak menyenangkan. Maka dari itu ketima perkampungan sebelah mulai punya alat pengeras suara baru di masjid mereka sehingg “berisiknya” terdengar hingga ke rumah saya di komplek adalah suatu berkah tersendiri.
Saya menikmati jiping tiap selasa pagi mereka membaca dziba’ meskipun lagunya kadang-kadang mereka pakai dangdut koplo dan njengkelin, hehehe.. tiap rabo mereka baca burdah yang indah itu. Dan tiap kamis pagi mereka baca tahlil lengkap dengan terlebih dahulu menyebut nama-nama ahli kubur yang mereka kirimi do’a. Kemudian jumat mulai bakda shubuh mereka khotmil qur’an hingga jam 9 pagi. Bayangkan ini adalah kebahagian luar biasa bagi para “Jipingers” macam saya.
Tiba-tiba saya ingat khittoh kaum Jipingers seharusnya adalah para awam dan jumlah mereka sangatlah banyak. Betapa bahagianya mereka dengan keberisikan masjid itu… dan tiba-tiba saya teringat pemerintah yang sempat “berisik” melarang masjid-masjid ini “berisik”. Loh, berisik seindah ini kok dilarang…?.
Mau bahas dalam konteks kebijakan publik? hem, saya sedang tidak asik melihat ini dengan kacamata kebijakan yang kemudian artinya adalah melarang “berisik” yang kayak gini.
MasyaAlloh…. Sepertinya mencintai “berisik”nya ahlul ilmi dan ahlul ibadah di masjid ini sebagian dari iman. bener gak ya…?
Wallahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s