Memasak sebagai hobi

Standar

Saya hobi memasak. Sebagai hobi, tentu saja saya lakukan pada saat memiliki waktu luang. Tentu saja karena hobi, saya mengkoleksi berbagai peralatan memasak yang standard maupun tidak standard dari merk-merk yang terkenal maupun tidak terkenal.

Mungkin karena saya perempuan, memasak menjadi hal yang sensitif bagi kalangan kami. Masyarakat secara gender menuntut para perempuan harus ahli memasak. mungkin lebih tepatnya masyarakat menuntut para perempuan ahli banyak hal: memasak seahli koki restoran, mengasuh anak sebaik baby sitter profesional, house keeping, berkebun bunga cantik, dst.

Dalam banyak kesempatan, memasak menjadi diskusi asik yang membangkitkan tawa, rasa ingin tahu, prihatin, sedih, bahkan marah. maksudnya bagaimana? begini, bayangkan seorang teman yang kurang beruntung cerita belajar memasak dengan sangat tertekan sebab ibu mertuanya mencerca dia perempuan kok gak bisa masak. Hampir tiap hari ia mendengar ibu mertuanya “ngomelin” masakannya. Sedih banget kan.. Lalu seorang teman cerita gak bisa bedain merica dan ketumbar dan bikin sop pakai ketumbar, sementara ia bingung dengan rasanya, suaminya bilang itu sop yang sangaaat lezat. Dia sungguh beruntung punya suami yang “mati rasa” lidahnya.  Lalu seorang teman yang belajar masak dimulai dari menggoreng ikan dan pada akhir kisah memasak hari itu ia harus ke dokter karena tangannya terpercik minyak panas sebab grogi sewaktu memasukkan ikan ke penggorengan. Dia bilang memasukkan ikan yang sudah dibumbui ke penggorengan itu seperti sedang berada di medan perang. Duh, baiklah… Kita berperang dengan peralatan tempur kita: wajan, kompor, dandang, sutil, dan seterusnya.

Memang ada juga pengalaman-pengalaman indah tentang memasak dari teman-teman yang sudah expert atau memang sejak dari sononya punya bakat memasak. Namun tetap saja pengalaman indah itu berkait relasi gender yang melekatkan memasak sebagai skill perempuan. Misalnya seorang teman cerita bahwa mantan pacarnya yakin segera menikahi dia setelah makan masakannya. Atau teman lain yang cerita bahwa ia disayang keluarga besar suaminya sebab kepandaiannya bikin kue buat hantaran ke mereka sambil silaturrachim. Yach, inilah fakta gender. sebaliknya ada juga teman yang curhat tentang omelan mertua atas masakannya. memasak menjadi hal krusial yang bisa “mendekatkan’ juga bisa “menjatuhkan” seorang perempuan dalam relasi keluarga besar mereka.

saya sendiri jarang memasak sebab tinggal di Kota seperti Malang ini makanan bukanlah hal yang sulit diakses serta juga bukan hal yang mahal. segala harga tersedia sehingga kocek dosen yang tidak tebal seperti saya sangat mampu mengaksesnya.  bahkan kalau dihitung, makan untuk dua orang sehari hari  yakni saya dan kak nay (adeknya sudah mondok)  lebioh praktis dan ekonomis jika dilakukan dengan membeli daripada memasak sendiri. Adek Ninid mengekspresikan hal ini dengan sangat menarik yakni:”masakan umi itu istimewa”. anda tau kenapa masakan saya istimewa? selain rasanya lezat yang lebih penting dari itu adalah jarang tersedia sebab lebih banyak beli matang. istimewa karena jarang ada. Begitulah istimewa….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s