Monthly Archives: Januari 2016

Lamongan Dan Terorisme: Jangan sampai Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga!

Standar

Dalam suatu forum guyon-guyon teman-teman saya “nggojloki” diri saya sebagai warga asli kota lamongan bahwa orang lamongan itu kreatif-kreatif sebab selain pandai menyajikan masakan lezat di waeung-warung PKL orang lamongan ternyata juga pandai memanfaatkan momentum populer. Misalnya dari banyak kasus terorisme mencuat banyak yang ada hubungannya dengan lamongan. Hubungan tersebut bisa jadi oranga/pelakuanya ataupun lokasi jaringannya. Ini guyon. Tapi menurut saya lebih tepat disebut setengah guyon.

Hati saya terusik sebagai warga lamongan jadi saya coba menelusuri di media on-line tentang kasus teroris dan terduga teroris yang diberitakan media on line. Kaget juga ternayata  setidaknya ada 9 kasus yang saya temukan dalam waktu singkat. Kasus-kasus ini saya rangkum dalam tabel berikut:

No Nama Pelaku Kasus Alamat Asal Pelaku Informasi Personal Pembahasan Media Tentang Pelaku
1 Amrozi. Ia juga terkenal dengan kelompoknya bernama trio bombing yakni Ali Ghufron alias Mukhlas dan Ali Imron. Mereka bertiga saudara kandung. Bersama ketiganya ditangkap juga saudara tiri mereka yang turut memback up yakni Ari fauzi dan Tafsir. Bom Bali 1

Terjadi pada tanggal 12 oktober 2002

Tenggulun Kec Solokuro Tidak ada catatan criminal, bersaudara dengan ali ghufron dan ali imron yang belakangan juga terkait kasus terorisme. Amrozi mendapat julukan the smiling assassin oleh media barat sebab penampilannya yang selalu tersenyum sumringah sepanjang persidangan dan menampakkan tak perduli dengan persidangan tersebut. Dalam buku yang ditulisnya selama mendekam di Nusakambangan berjudul senyum terakhir sang mujahid ia mengakui turut berkontribusi pada banyak kasus terorisme sejak tahun 1999 antara lain: kerusuhan di Maluku, poso, peledakan gereja di mojokerto, mataram, batam, pekanbaru, dst.
2 Zaenal Arifin Bom bunuh diri Poso 3 Juni 2013 Kel Blimbing Kec Paciran Terkenal ramah, baik dan taat beribadah Sebagai “Pengantin” yakni istilah untuk pelaku bom bunuh diri.
3 Iwan Ditangkap Densus 88 pada tanggal 15 Agustus 2013 Asal Bekasi tinggal di rumah mertua Kel Jetis Kec Lamongan. Sering shalat di masjid polres lamongan dan bersalaman dengan Kapolres di Masjid Diduga bagian dari Jaringan Teroris internasional Al Qaida.
4 Toni Saronggallo Ditangkap Densus 88 pada tanggal 22 Desember 2014 Dusun Kalimalang Desa Kentong Kecamatan Glagah Asal kota Kediri. Mencari nafkah sebagai penjual ayam. Pernah ikut latihan perang di gunung junto aceh. Jaringan Dul Matin, Perencana Bom Bali 1. Menurut piak kepolisian yang bersangkutan masih aktif dalam Jaringan terorisme tersebut.
5 Fadlan Muholat Tewas di Iraq tahun 2015 Solokuro Berangkat ke Iraq biaya sendiri. Berpamitan sebagai TKI. Diberitakan tewas di Iraq dan diberitakan oleh media bahwa masih banyak warga Lamongan lainnya yang tergabung ISIS baik berada di luar negeri maupun dalam negeri.
6 Edy Darwanto Menyimpan bendera ISIS, ditangkap 9 Agustus 2014 Kec Paciran Seorang Nelayan Ditemukan bendera, buku, buklet, CD dan lainnya di rumah terduga namun segera di lepas oleh pihak kepolisian dengan alas an tidak terbukti terkait kelompok teroris.
7 Tidak ada detail nama hanya disebut 8 anggota keluarga Lamongan tergabung ISIS Diungkap oleh imigrasi dalam wawancara pembuatan paspor. Diberitakan di banyak media on line pada tanggal 23 Maret 2015 Kec Brondong, Kec Paciran dan Kec Karanggeneng Tidak jelas Tidak jelas
8 Ririn Ditangkap saat menyeberang ke Syuriah melalui Turki bersama 17 Oranng WNI lainnya. Ia mengajak ketujuh anaknya. Diberitakan media pada 15 Maret 2015. Desa Kandangsemangkon Kecamatan Blimbing istri dari Ahsanul Huda, 40 tahun, pria yang terdeteksi ada di Turki pada pertengahan Ramadan 2014. Pamit keluarga untu pergi mengaji ke Solo.

Tidak ada informasi di media mengapa mereka berangkat ke Syuriah. Kemungkinan mengikuti suami.

9 Tiara Nurmayanti Bersama Ririn ditangkap saat menyeberang ke Syuriah melalui Turki bersama 17 Oranng WNI lainnya. Ia mengajak seorang anak berusia 2,5 tahun. Diberitakan media pada 15 maret 2015. Jl Raya Deandles Kampung Gowak Kel Blimbing Kec Blimbing. istri dari Mohammad Hidayah, terduga teroris yang meninggal dalam penggerebekan di Tulungagung oleh Detasemen Khusus 88 pada 22 Juli 2013. Tidak ada informasi tentang tujuannya mengingat suaminya telah tewas dalam penggerebekan Densus 88 di Tulungagung.

Sumber: Diolah, 2016

Amrozi Sang Pioner Teroris Lamongan

Daftar tabel atas jika dilihat sekilas maka yang paling banyak menyita perhatian publik adalah amrozi. Ketokohan Amrozi sebagai teroris sangatlah terkenal hingga seantero dunia. Saat kasus Bom Bali 1 terjadi itu banyak kalangan yang menyatakan bahwa saat itu  popularitas Kabupaten Lamongan melebihi Kota  Surabaya ibu kota provinsi Jawa Timur akibat kasus tersebut.  Tentu saja ungkapan tersebut tak layak disikapi dengan bangga sebagaimana ungkapan goyunan kawan-kawan saya di atas juga tak layak disikapi dengan bangga.

Saya ingat betul saat eksekusi Amrozi dilakukan Media mengekspose besar-besaran seolah ia adalah pahlawan. Masyarakat juga tak kalah heboh mereka berbondong-bondong takziah ke rumah keluarga Amrozi seolah ia pahlawan. Padahal saat beberapa teman-teman saya dari kalangan pedagang pasar baru kota lamongan yang takziyah saya tanya kenapa kalian takziyah kan gak kenal mereka? jawabnya unik;”siapa tau masih ada media kan lumayan kita diliput”. Whatttttttt??????

“Lagipula kasihan keluarganya mbak…  mereka kan orang-orang shaleh dan tidak terkait dengan perilaku Amrozi itu..”. Agak membingungkan memang logika tidak setuju dengan terorisme namun tetap memilih berangkat takziyah secara berombongan itu. Bahkan mistifikasi beredar sebentar tentang kuburan Amrozi. Sebentar saja. Hanya sebentar kemudian tak terdengar lagi. Belakangan saya memahami bahwa mereka ini, teman-teman saya yang konon takziyah itu, sebenarnya hanyalah ingin menjadi “keren” di lingkungannya dengan bisa bercerita sebagai saksi mata bagaimana rupa kuburan seorang teroris.

Media punya peran besar dalam membentuk “citra” seorang teroris dalam kasus Amrozi ini sehingga masyarakat begitu rupa merespon kematian Amrozi ini. Sebenarnya ini juga mengingatkan saya pada pada kasus Bom Sarinah dimana masyarakat malah menonton dan bukannya lari menyelamatkan diri seperti yang seharusnya. Mereka menonton. Iya, menonton. Sebagaimana dulu Amrozi juga “ditonton” dalam bungkus takziyah.

Namun bagaimanapun juga selayaknya publisitas ada yang benar-benar mengidolakan. Mungkin karena itu kasus keterlibatan warga Lamongan dalam kasus terorisme masih berlajut hingga akhir tahun 2015. Bahkan di tahun tersebut sudah mulai muncul dua perempuan yang berani melewati bahaya menuju tanah syuriah meskipun media massa tidak memberitakan apa motivasi dan tujuan para perempuan tersebut. Bukankah butuh mental militan luar biasa ketika wanita dengan 7 (tujuh) anak dan seorang janda dengan bayinya berusia 2,5 tahun melakukan perjalanan antar negara menuju wilayah konflik?! Apa yang ada di pikiran para wanita ini sehingga membawa buah hati mereka menuju lokasi yang membahayahan nyawa mereka?

 

Mereka terkonsentrasi diwilayah pantura

Coba perhatikan alamat para teroris dan terduga teroris itu umumnya terkonsentrasi di Kecamatan Paciran, Solokuro dan Blimbing. Baru kemudian selebihnya di kecamatan kota, glagah dan belakangan muncul istilah perluasan di Karanggeng dimana Karanggeneng ini berbatasan dengan Solokuro.  Artinya ada Pekerjaan Rumah (PR) besar untuk pemerintah dan kepolisian terdekat untuk meneliti dan memahami mengapa demikian, bagaimana itu berkembang serta apa saja peluang yang bisa dilakukan untuk memberantas dan setidaknya menghambat hal tersebut menyebar luas. Memang tidak menutup kemungkinan penyebarannya ke seluruh penjuru kecamatan. Setidaknya tidak ada kasus terorisme yang melibatkan warga Lamongan selatan. Bisakah ini dijelaskan mengapa demikian?

Ada apa saja dan bagaimana masyarakat lamongan di wilayah pantura ini terinfiltrasi ideologi terorisme saya kira hal tersebut tak akan cukup di selesaikan oleh pemerintah dan kepolisian sebab keterbatasan mereka. Peran nyata masyarakat jauh lebih penting dalam konteks pe ntingnya memahami islam sebagai agama damai yang anti terorisme.  Simpul-simpul masyarakat khususnya dari kalangan ormas keagamaan haruslah digandeng dengan tepat oleh pemerintah untuk bergerak bersama dalam hal ini.

 

Lamongan kota yang baik

Zaman masa remaja saya (1992-2000an awal) Lamongansering dijuluki kota kodok. Memang mengasosiasikan pada keberadaan obyek wisata Tanjung Kondok yang saat ini sudah menjadi Wisata Bahari Lamongan (WBL). Julukan Kota Kodok itu secara “semonan” juga menyindir tentang situasi fenomena alam lamongan yang kalau hujan “ora iso ndodok” dan kalau kemarau “ora iso cewok” yang kemudian disingkat kodok. Maknanya saat penghujan tak bisa duduk karena banjir dan saat kemarau tak bisa membersihkan diri setelah buang air karena kekeringan. Jadi kondisi alam yang kurang menguntungkan ini tidak membuat warga lamongan frustasi melainkan menjadikan hal ini tantangan sekaligus guyonan ringan. Ini watak umum masyarakat lamongan.

Ada juga julukan Banglades yang berarti Bangsa Lamongan Ndeso. Ada juga julukamn Lampung yang kepanjangan dari Lamongan Kampung. Juga ada istilah LA yang bukan kepanjangan dari Los Angeles melainkan Lamongan Asli. Begitulah warga lamongan di masa lalu biasa humoris dan saling “gojlokan” dalam interaksi dengan orang dari wilayah manapun secara enjoy. Seiring dengan kemajuan berkat kerja keras semua pihak, guyonan ini lambat lain tenggelam dari arena “gojlokan” antar teman.

Lamongan awalnya juga lebih banyak terkenal sebagai sumber berbagai  kuliner istimewa. Soto Lamongan, tahu campur lamongan, wingko lamongan, penyetan, bebek tugu pahlawan, sari laut lamongan, dan tentu saja Nasi Boranan adalah contoh dari beberapa kuliner lamongan yang termasyhur. Yang ini juga sempat terdampat saat kasus bom bali 1 dimana warga lamongan yang merantau berjulan makanan, khususnya di bali, takut mem-branding dagangan mereka ini dari Lamongan. Sungguh terorisme itu berdampak negatif hingga ke perekomomian rakyat semacam ini.

Jadi, kalau ada warga lamongan yang menerima guyonan maupun komentar miring tentang lamongan kota teroris itu baru terjadi dimulai dari kasus Amrozi tahun 2002. Fenomena yang sangat baru jika dibanding kemasyhuran lamongan untuk hal-hal baik serta hal-hal lucu yang telah saya ulas diatas.

Terlebih lagi jika kita mau meneliti orang-orang lamongan yang sukses di perantauan sebagai tokoh-tokoh masyarakat, ilmuwan, pengusahar dan seterusnya maka ketokohan para teroris itu sangatlah kecil bagaikan sebutir debu di Lamongan. Mereka hanya besar di media massa. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelanga. Jangan sampai karena amrozi dkk setitik rusak kebaikan se Kabupaten Lamongan.  Lamonga itu  baik!.

 

 

 

 

 

 

Link-link terkait lamongan dan terorisme

Bom Bali 1

https://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2002

http://www.pantau.or.id/?/=d/258

Penangkapan Densus 88 pada tahun 2013

  1. Terduga iwan dari kelurahan jetis kec lamongan: http://www.tribunnews.com/regional/2013/12/17/terduga-teroris-sering-salat-berjamaah-dan-jabat-tangan-dengan-kapolres?page=2

Penangakapan Densus 88 pada tahun 2014 (terkait Bom Bali)

  1. Terduga Toni Saronggolo Dsn Kalimalang Kec Glagah: http://hariansib.co/view/Headlines/40883/Diduga-Anak-Buah-Dulmatin–Perencana-Bom-Bali-Warga-Lamongan-Penjual-Ayam-Diciduk-Densus-88.html#.VqtVMqsxXITw
  2. http://news.detik.com/berita/2783898/warga-lamongan-penjual-ayam-diciduk-densus-88
  3. http://www.bangsaonline.com/berita/7004/densus-tangkap-tersangka-teroris-saat-kulakan-ayam-di-lamongan

Tentang ISIS dan Warga Lamongan

  1. http://nasional.tempo.co/read/news/2014/08/11/078598782/anggota-isis-asal-lamongan-di-irak-diduga-masih-banyak
  2. http://nasional.tempo.co/read/news/2014/08/12/078598878/gabung-isis-teroris-bom-bali-ini-tewas
  3. http://www.tribunnews.com/regional/2015/03/23/delapan-anggota-keluarga-asal-lamongan-diduga-gabung-isis
  4. http://nasional.tempo.co/read/news/2015/03/16/058650256/tiara-dari-lamongan-pamit-ngaji-ke-solo-ditangkap-di-turki
  5. http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150417133828-106-47408/ada-keterkaitan-jaringan-teror-lamongan-poso-suriah/

 

 

Iklan

Anakku Mondok… (Pengalaman bagaimana memondokkan anak)

Standar

Keterpautan usia kedua anak saya lumayan jauh juga yakni 5 tahun. jadi kak Nay kelas naik kelas 6 maka adeknya, mbak ninid (begitu kami biasa memanggil), baru masuk kelas 1 SD. Sisi positif dari jarak yang lumayan jauh itu adalah kakaknya sudah cukup memahami bagaimana “ngemong” seorang adik dan dari sisi pengasuhan juga saya lebih bisa longgar karena hal tersebut.

Mondok atau sekolah dengan tinggal di asrama pesantren di usia pendidikan dasar adalah tradisi keluarga kami. jadi saya dan seluruh saudara saya pernah mengenyam pendidikan pondok pesantren. Kakakku mondok di langitan wetan tuban dan alhikam malang saat kuliah di universitas brawijaya. Saya sendiri mondok di Bahrul Ulum Tambakberas sewaktu smp-sma. Adekku berturut-turut modok di Mambaul Maarif Denanyar Jombang dan Darul Ulum Peterongan Jombang. Jadi mondok adalah tradisi keluarga kami.

Tantangan bagi saya kemudian adalah bagaimana nanti saya harus memondokkan anak-anakku. Itu sungguh membuat saya berfikir bagaimana caranya agar mereka nantinya kerasan di pondok. Jadi mulailah saya banyak bercerita tentang pondok pesantren dan apa saja yang para santri lakukan sehari hari serta mengapa itu dilakukan. Saya juga mulai menceritakan pengalaman-pengalaman konyol di pondok serta penglaman-pengalaman spesifik yang hanya dialami santri pondok.

Dalam kesempatan tertentu anak-anak juga saya ajak jalan-jalan ke beberapa pondok. Sekedar membuat mereka paham bagaimana bentuk dan rupa dari pondok itu. Saat itu mbak ninid kecil masih TK. Targetku sebenarnya adalah membuat Kak Nay mulai menyukai pondok dan terbangun kesadaran tentang pentingnya sekolah di pondok. Tak dinyana justru adeknya yang masih TK itu minta sekolah di pondok saat lulus TK. Artinya di usia 6 tahun dan masih kelas 1 SD. Tentu saja saya berat hati. Meskipun tidak bilang jangan tapi juga tidak bilang iya. Menjelang lulus TK BSS, mbak ninid kecil ini saya daftarkan di SD BSS dan telah lolos tes.

Selang beberapa minggu kemudian Alloh memberi saya kesempatan menjalankan ibadah umroh. Dalam perjalanan tersebut saya bercerita pada guru saya tentang anak-anak yang ternyata guru saya ini sangat berminat tentang cerita saya soal Mbak Ninid dan kemampuannya mengingat. Saya menceritakan tentang hadiah CD Mirah Ingsun pemberian Mbah Tejo (Sujiwo Tejo) yang hanya dalam tempo satu malam saja besok paginya Mbak Ninid kecil ku ini sudah hafal. Padahal itu bahasa jawa lawas yang agak jarang terdengar sehari-hari. Lalu guru saya tanya:”Pernahkan kau coba bagaimana jika dia mendengarkan al-Qur’an sebelum tidur?”. Lalu saya baru mikir bahwa benar sekali tiap kuajari ngaji Mbak Ninid kecil ini cepat sekali hafal. Guruku bilang:”lagu mbak tejo itu baik tapi kenapa tidak kau isi juga ingatannya itu dengan al-qur’an? Yang jelas-jelas terbaik..”.

Saya mengakui bahwa tidak tiap malam ia ngaji dengan saya. Tidak bisa rutin karena kadang saya sampai rumah sepulang aktifitas Mbak Ninid kecil ini sudah tidur. Guru saya berkata:”Berarti kamu butuh pertolongan kyai. Taruhlah anakmu di pondok saja..”    Seperti disambar petir perintah tersebut di telingaku. SEperti mozaik yang baru nyambung dalam ingatanku betapa mbak ninid kecil ingin mondok….   Apakah saya bahagia? tidak, saya takut kesepian….   Mbak NInid kecil ini adalah kebahagian dan kegembiraan saya ketika pulang ke rumah. Tempat saya mencurahkan segenap kegembiraan dan keriangan kanak-kanak. Jadi membayangkan ia harus mondok dan jauh dari saya sungguh saya pikir saya tak sanggup. Ia masih 6 tahun. Yang saya prospek mondok adalah kakaknya yang 11 tahun di tahun depan saat berusia 12 tahun. Di usia yang sama tersebut saya dan saudara-saudara saya dipondokkan oleh orang tua kami.

Saya timbang-timbang dalam diskusi, renungan dan do’a selama ibadah umroh tersebut. Akhirnya saya putuskan mencoba. Pondok yang kami pilih adalah Pesantren Al Munawwariyah Bululawang Malang dengan pertimbangan bagus untuk anak kecil serta tidak terlalu jauh dari rumah. Ternyata ketika saya hendak mendaftar pondok tersebut sudah tutup pendaftaran akibat quota santri baru habis. Oleh guru saya, KH Said Khumaidi, dimintakan formulir khusus yang dikeluarkan oleh kyai pengasuhnya yakni KH Maftuh Said. Mbak Ninid kemudian diterima dari jalur formulir kiai tersebut. Alhamdulillah…

Apakah saya senang..? jujur saja tidak. Dalam hati kecil saya ingin Mbak NInid ndak kerasan lalu minta boyongan pulang. Begitu juga ibuku, neneknya. Namun mengingat bagaimana timbang menimbang keputusan ini dibuat di tanah suci saya menguatkan tekat. Bismillah…  Niat ingsun mondokkan Mbak Ninid…

Masa-masa Awal Mondok

*Ada mitos bahwa kalau santri sudah kena penyakit kulit berarti mondoknya di terima. Haddeeeeh…. tentu saja ini mitos. Tapi begitulah kami menerima mitos itu sebagai ya begitulah biasanya, hehehehe…..

Di hari awal mengantar ananda ke pondok tanggal 30 Agustus 2015 Mbak Ninid sangat bersemangat. Bahkan dia sempat melucu (seperti biasa dia memang lucu) ketika di tes oleh petuga pondok ia ditanyai

Petugas:”bisa tambah-tambahan?”

Mbak Ninid menjawab:”Tambah-tambahan itu apa?”

Petugas:”Ya misalnya satu tambah satu hasilnya berapa?”

Mbak Ninid:”oooo  satu tanbah satu ya hasilnya dua. Itu namanya bukan tambah-tambahan tapi Matematika..”

Hari itu Mbak Ninid kecil gembira dan bersemangat sekali sebagai hari pertama masuk pondok. Ia bahkan tak tampak sedih sama sekali ketika kami harus pulang meninggalkan ia di pondok. Sungguh di luar dugaanku….    Kami baru boleh sambang (berkunjung) 40 hari kemudian…..   Ya Alloh…  Bagaimana aku melalui 40 hari ke depan tanpa dia disisiku…   Begitulah batinku menjerit meskipun bibirku tersenyum dan tertawa-tawa riang dengan mbak ninid.

40 hari kemudain kami berkunjung. Hari yang kami nanti-nantikan itu akhirnya tiba. Ibuku jauh-jauh dari Lamongan datang untuk ikut berkunjung ke pondok Mbak Ninid. Sepanjang perjalanan ibuku menangis setengah marah-marah yang intinya jika melihat Ninid sakit atau nangis tidak kerasan maka saat itu juga diboyong dan dibawa ibuku pulang ke Lamongan untuk di sekolahkan disana. Ibuku berfikir saya terlalu tega memondokkan ia yang masih sekecil itu…  Dengan “sok” bijaksana saya menjawab:”Ibu tiap anak punya jalan hidupnya sendiri-sendiri…  ini adalah juga ujian bagi kita untuk sabar dan ridlo dia mencari ilmu kebaikan masa depannya….”. Namun ibu memaksaku berjanji dan saya menyerah berkata:”Baiklah…  Ibu boleh mengambil Ninid jika dia sakit dan menangis tidak kerasan”.

Seperti film dramatis saat melihat Mbak Ninid ternayata sakit cacar….  Ibuku tergugu. Saya menahan air mata….  Apakah Mbak Ninid menangis? Sama sekali tidak…   Bahkan ketika saya berinisiatif membawanya pulang sampai ia sembuh Mbak NInid menolak dan  berkata;”Tidak Umi… Saya mau menjadi santri yang baik. Kasihan Pak Kiai sudah menjaga kami… Kalau saya pulang sekarang nanti Pak Kiai sedih…”.

Perjanjianku dengan ibu adalah jika mbak ninid kecil ini sakit dan atau tidak kerasan maka ibuku lebih berhak atas mbak  ninid daripada aku, ibunya…   Kenyataannya dia sakit tapi bersikeras tetap di pondok. Dan itu sakit cacar air… menular kan…? Dan itu sakit kulit…   Kami langsung teringat mitos sakit kulit sebagai tanda mondok diterima, hahahaha….   Kami terharu biru antara air mata tawa gembira dan air mata terharu atas sikap bocah 6 tahun ini dan tentu saja sedih (terutama ibu) karena gagal membawanya pulang…

Pada sambangan 2 minggu kemudian Mbak Ninid kecil masih tabah…..

Sambangan 4 minggu kemudian Mbak Ninid mulai berkaca kaca saat saya tinggalkan pulang dan mulailah hatiku bernyanyi nyayi: “Balonku ada lima rupa rupa warnanya hijau kuning kelabu merah muda dan biru… meletus balon hijau :DOR!!!!!!!!!!!! Hatiku sangat kacau………”.  Di tengah kekacauan hati ini kita mesti tertawa-tawa riang persis saat lagu ini dinyanyikan…. Ini lagu ketabahan anak-anak TK saudara-saudara! Mereka tertawa gembira saat hatinya kacau! Anak TK bisa masa emaknya tidak bisa?!!!

Sambangan 6 minggu berikutnya mata Mbak Ninid seolah bicara:”Umi…  kenapa kau buang aku disini…..?”

Sambangan 8 minggu kemudian Mbak Ninid bercerita tentang tangisan teman-temannya yang ingin pulang dan beberpa temannya yang tak kuat dan memutuskan boyongan pulang. Apakah Mbak Ninid ingin boyong? Ia mulai menjawab Iya semua temanku ingin boyong…..  Seketika itu saya sadar ini efek teman-temannya. Saya menjawab:”Kita fikirkan dulu ya…   Boyong juga kan harus ada alasan yang baik serta persiapan yang baik. Apakah Mbak Ninid punya alasan yang baik..? Apakah ada hal buruk yang terjadi atau diperbuat orang lain pada mbak ninid disini” Dia diam… lalu curhat tentang teman-temannya yang menurutnya suka mengganggunya. Dan kami diskusi tentang sikap-sikap yang baik…  Dan astaga, saya seperti bicara pada anak umur 12 tahun. Hari itu Mbak Ninid tidak jadi ingin ingin boyong….  Dia ingin hafal Al-Qur’an…..    MasyaAlloh…….   *emaknya termehek-mehek.

Satu hal yang sangat saya takutkan adalah kecukupan gizinya. Membayangkan ia hanya makan makanan sederhana lauknya tahu tempe ikan asin berganti ganti disitu situ aja. itu membuat saya browse dan diskusi dengan teman-teman ahli gizi dan akhirnya kudapatkan kesimpulan itu cukup. Kandungan gizi nabati itu cukup. Namun demi memuaskan batinku tiap sambangan kubawakan roti tawar, mentega, keju, susu dan meses coklat. Biar dia dapat tambahan gizi. Saya takut dia tidak tumbuh maksimal. Kakaknya sangat tinggi untuk ukuran usianya. Saya khawatir adeknya, Mbak Ninid kecil ini, tidak tumbuh maksimal. Namun apa yang terjadi? Beberapa waktu kemudian saya bertanya dalam sebuah acara sambangan. Rotinya dimakan sayang? habis dalam berapa hari? Dia menjawab;”Ya langsung habislah Umi…  Kan dimakan rame-rame….”    Haduh Ya Alloooooh…..   Batinku nelangsa….   Dia malah ngomong lagi;”Umi di pondok itu semua anak doyan roti. Masa aku makan sendiri….   Umi mau aku pelit?” …..emaknya langsung speechless…..  Kuputuskan biarlah itu dia bagi sesukanya. Alloh maha tahu tujuanku. Biarlah roti-roti itu membangun gizinya bersama teman-temannya dan semoga tiap bagian yang dia kasikan teman2nya itu membuat Mbak Ninid kecil penuh berkah dalam tiap asupan gizinya yang terbatas itu…   Sudah. Pasrah. Tawakkal. Titik. Ndak Usah dipikir!. Beneran gak dipikir……?    Saya tetap mikir sahabat sekalian… hiks hiks…. Yang benar adalah saya berusaha Pasrah dan Tawakkal. Berusaha meningkatkan Iman (Percaya) pada Alloh atas segalanya untuk Mbak Ninid kecil ini….  Itu yang benar.

Catatan Penting Dari Pengalaman 6 Bulan Terakhir Ini..

Memondokkan anak bukan hanya ujian bagi sang anak. itu juga ujian untuk kita.. hikmah yang saya catat banyak. Diantaranya adalah berikut:

  1. Belajar sabar untuk ta’at. Sabar bukan hanya pada saat ada musibah ternyata. Sabar juga adalah hal penting saat kita memilih untuk taat aturan di pondok. Ketika aturannya tak boleh pulang ya sudahlah ia tidak kita bawa pulang melainkan sesuai aturan. Saat kangen melanda saya juga tetap sabar menghitung kalender untuk berkunjung sesuai aturan.
  2. Belajar tawakkal. Bahwa ketika mata dan diri kita tak bisa menjangkau langsung maka kita wakilkan pada Alloh dalam do’a. Yakin bahwa Allohlah yang akan mewakili ini dan tentu itu lebih baik serta Paling baik. Adakah penjaga yang lebih baik dari penjagaan Alloh SWT.
  3. Belajar menyisihkan rezeki dengan tertib mengingat di pondok butuh biaya.
  4. Belajar semakin istiqomah berdo’a untuk anak-anak. Addu’a shilahul mu’min. Hanya doalah yang menjadi senjata ampuh kita.
  5. Belajar membangun hubungan yang baik dengan para wali santri lain yang sebelumnya tak saling kenal.
  6. Belajar memahami melalui mendengarkan ceritanya saat sambangan. Kira-kira apa saja yang mereka lakukan di pondok. Menghayati melalui cerita anak-anak kita ternayata indah sekali…
  7. Belajar agama dan al-qur’an lebih baik lagi agar setidaknya di masa awal ini kita tak kalah sama anak-anak kita…  Jika suatu saat mereka mengungguli kita pastikan bahwa kita telah pada level tinggi pengetahuan dan akhlaq kita sehingga mengungguli kita berarti: Luar Biasa…!!!  Aamiin…..

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk sahabat sekalian.

 

 

*Foto disini adalah foto perbandingan Mbak Ninid Usia 1 tahun dan pada saat Ulang tahun Ke 7. Satunya lagi adalah Foto saat kami sambang di minggu-minggu awalnya mondok.foto(1)

 

Lidah: Lisan Dan Rindumu Pada Masakan Ibu

Standar

Hari ini saya sariawan tepat di ujung lidah. Sakitnya sangat tidak nyaman. Bicara jadi sulit (untunglah ini liburan habis UAS jadi tidak ngajar) dan  makan tidak nyaman. Ini membuat saya berfikir tentang fungsi penting lidah ini adalah sebagai lisan yang berkomumnikasi serta sebagai cara menikmati makanan yang membuat kita menutrisi tubuh kita agar hidup. Astaga, betapa rewelnya kita tatkala lidah ini sehat pada sesuatu yang kita telan: sering ingin makanan enak. Dan astaga betapa kadang kita tidak berfikir agar yang keluar juga yang enak-enak saja: kata-kata yang baik semanis madu….   Ternyata di sini ada lalu lintas masuk dan keluar yang sangat penting. Masuk makanan untuk menutrisi hidup dan keluar kata-kata untuk memupuk hidup…

jadi lidah adalah bagian tubuh yang terhubung erat dengan hidupmu setidaknya dalam dua hal: kata dan rasa. Baik kata maupun rasa ini membentuk sejarah.  Lidah merasakan rasa namun lidah juga membentuk rasa: rasa di mulutmu dan rasa di hatimu.

Perilahal lidah kita ini, untuk artian alat berkomunikasi bahasa arab menyebut “lisan”. Nah, dalam konteks lisan ini ternayata ada banyak warning dalam alqur’an tentang betapa lidah kita bisa menjadi sumber kebaikan sekaligus bisa menjadi sumber bencana. Simaklah beberapa berikut:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”
(an-Nisaa’: 114)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar”(Al Ahzab: 70-71)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]

[yaitu] orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna. (QS. al-Mu’minun [23]: 2-3)

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (Al-Humazah: 1)

”Dialah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya
dan dengan para mukmin.
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”
(Al-Anfal: 62-63).

lihatlah betapa istimewanya lidah kita yang tak bertulang dimana ia bisa membuat hati berbunga sekaligus bisa menusuk mencabik-cabik kalbu seseorang. Pisau bermata dua ini ternyata adalah bagian tak bertulang dalam mulut kita.

 

Lidah Dan Rindumu Pada Masakan Ibu…

Lidah kita menikmati masakan ibu kita sejak kecil hingga kita mulai mandiri yang menyiapkan serta menyediakan makanan kita sendiri. Mungkin karena masakan ibu (dan nenek juga) begitu lama dikenali oleh lidah kita maka itulah kenikmatan pertama yang dikenali oleh lidah kita.

Dalam banyak kesempatan saya berdiskusi dengan teman, termasuk diskusi di medsos, menanyakan apakah mereka mersakan bahwa masakan ibu (juga nenek) kita jauh lebih lezat dari masakan kita? hampir semua bilang iya. Lalu tiap kutanya kenapaa? ternyata jawaban umumnya berkait dengan hal-hal non material sepoerti: Ibu memasak dengan cinta, ketulusan, keihlasan, kasing sayang, ada do’a dalam masakan ibu dan seterusnya.

Tak ada yang menjawab secara material seperti ibu lebih pandai meracik komposisi bumbu, ibu lebih berpengalaman memasak, ibu telah belajar memasak dari banyak kesempatan kuliner dan seterusnya. Sepertinya bagi banyak orang masakan ibu ini terkait denganhal immateriil: cintanya pada keluarga. Maka mungkin demikianlah masakan ibu yang kita rasakan melalui lidah kita ini mengikat batin kita padanya. Saat engkau jauh dari ibu pada satu titik engkau rindu ibumu dan yang kau kenang awal adalah rasa masakan favoritmu.

Bahkan saya dan kakak saya mengakui kita sering rindu makan masakan ibu di rumah sambil diomelin (sebenarnya dinasehati) tentang hal-hal kecil yang sebenarnya kami sudah tahu. Ini indah sekali bukan? perpaduan rasa masakan dilidah kita yang kita masukkan sebagai nutrisi tubuh dan nasehat (omelan? hahahah…) yang menutrisi pikiran dan jiwa kita.

Benarkah demikian?  istafti qolbak: mintalah fatwa pada hatimu apakah ini benar.

 

Lidah Juga Yang Sampai  Di Hati…

Dalamnya laut dapat diduga dalamnya hati siapa yang tau? ini adalah pepatah bahasa indonesia yang kita pelajari di sekolah dasar. Bahwa sulit bagi kita untuk menebak isi hati seseorang. Namun seseorang bisa menyampaikan melalui lisan bukan? dan bisa sampai ke pikiran dan hati kita.

Penyanyi tahu betul bagaimana mengatur lisannya dalam lagu-lagu romantis agar masuk ke hati pendengarnya. Penyair tahu betul bagaimana membaca puisi agar menyentuh emosi pendengarnya. Motivator seperti mario teguh tahu betul bagaimana  lisannya berujar dan sehingga ia mendapat berjuta persetujuan dan kadang juga air mata pemirsanya. Bahkan seorang qori’ bisa membuat pendengarnya menangis meskipun tak tau makna ayat yang ia bacakan….

Sebaliknya, menyampaikan kebencian dalam kata-kata juga akan sampai ke hati. Banyak bentuk “pilihan” disini: ocehan, umpatan, hardikan, pisuhan (soroboyan itu exeption ya..), kata-kata buruk, penilian negatif, strereotyping person, dan seterusnya.

Begitu tajamnya lidah ini sebagai sebuah alat yang melembutkan hati namun sekaligus adalah alat yang sangat tajam untuk melukai hati.

 

Seperti Hatimu, Lidah Juga Muat Untuk Seisi Dunia…

Dunia dan cakrawala ini tak muat untuk diisi Tuhan beserta kebesarannya  namun Tuhan dan kebesarannya bisa mengisi/memasuki hatimu…   entah itu kata-kata mutiara sufi siapa saya hanya tiba-tiba ingat saja namun lupa pemilik asli kebijaksanaan tersebut. Betapa hati kita itu besar untuk menampung banyak hal berupa pengetahun dan kepercayaan.

Sebaliknya, lisan kita juga bisa mengeluarkan apa saja seisi dunia ini: ilmu pengetahuan, ketidak tahuan, kebodohan, kemarahan, kesombongan, kebajikan, puja puji syukur, dan semua hal bisa kita keluarkan dari lisan kita. Bayangkan jika kata-kata yang keluar dari lisan kita ini terwujud secara materal mungkin dunia seisinya telah penuh oleh kata-kata yang keluar dari lisan kita.

Namun tidak semua orang bisa menggunakan lisannya dengan baik. Tidak semua orang bisa mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya dalam kata-kata yang menyentuh pikiran dan hati orang lain agar dapat memahami. Maka bersyukurlah kita atas lidah kita: ada lisan dan ada rasa.

Tidakkah layak sejenak kita mengingat do’a nabi musa tentang hati dan lisannya: Robbishrohli sodri wayassirli amri wahlul uqdatan min lisani yafqohu qouli…..

 

IMG_1775

 

 

 

Militansi Cinta Kucing Kampung

Standar

12548963_952585768123408_4665429549717036557_n

Saya bukan pecinta kucing namun juga bukan pembenci kucing. Tapi kucing-kucing ini selalu di depan rumah saya. Pada awalnya kucing-kucing kampung ini secara rutin dikasih kerupuk jatah sarapan pagi Mbak Ninid  kecil. Mbak Ninid kecil memang sangat menyayangi mereka meskipun terkadang tampak “bereksperimen” terhadap mereka. Mbak Ninid kecil yang sewaktu itu masih sekolah tingkat  TK di TK BSS (Brawijaya Smart School) ini meyakinkan guru dan teman-temannya bahwa makanan kucing bukanlah ikan pindang melainkan krupuk, permen, kue-kue yang enak dan daging ayam. Lah ya memang Mbak Ninid tidak salah sebab dalam pengetahuannya kucing-kucing ini doyan makanan yang disebutkan oleh Mbak  Ninid dan belum pernah kucing ini makan ikan pindang dari kami sebab Kak Nay benci ikan pindang. Saya menyesuaikan dengan hampir tidak pernah ada ikan pindang dalam menu kami.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Entah dari mana asalnya, awalnya hanya ada satu dan sekarang sudah ada sekitar lima ekor. Seringkali mereka berusaha masuk rumah tiap ada yang membuka pintu rumah kami meskipun sebentar saja. Mereka sudah mengintai depan pintu dan syuuuut langsung masuk rumah saat pintu dibuka. Militan sekali mereka mengintai dan menunggu pintu kami dibuka karena hendak keluar rumah. Bahkan pada suatu hari mereka berusaha masuk dari celah bawah pintu rumah. Cakar mereka berusaha menggapai-gapai dan akhirnya berhasil menarik keset keluar rumah. Rupanya memang keset itu tujuan mereka. Mereka jadikan alas tidur depan pintu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Beberapa tetangga yang lain juga ada yang care sama mereka. Cukup diteriakin “Pus…Pus…!” lalu makanan ditaruh di tanah dan mereka para kucing-kucing ini akan berhamburan mengejar yang neriakin mereka ini. Namun tetap saja setelah puas makan mereka ini kembali di depan pintu rumah saya. Duduk manis terkadang menyeringai licik penuh makna waspada menunggu pintu di buka.  Pernah saya bilang:”Pus, Bu Bambang kan sayang sama kalian kenapa gak jaga pintu rumah Bu Bambang aja sich…?”. Mereka menjawab dengan sangat tegas:”Meong… meong… meong…”.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Seringkali saat pulang kantor, mobilku baru masuk gang saja kucing-kucing ini berhamburan mengejarku. Dan saat turun dari mobil mereka sudah mengerubuti kakiku seraya menggosok-gosokkan kepala mereka di kakiku. Geli dan risih sebenarnya namun belakangan ini saya jadi ingat respon Mbak Ninid kecil yang saat ini sudah mondok (Mulai kelas satu SD pertengahan tahun 2015) terhadap ulah kucing-kucing seperti ini. Ia akan menggendong salah satunya lalu mulai duduk depan rumah. Kucing-kucing itu kemudian naik di pangkuannya. Dan Mbak Ninid kecil  ngobrol sama mereka seraya tertawa gembira seolah kucing-kucing ini bercakap-cakap dengannya. Duh dasar anak kecil pikirku.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Yah, belakangan ini saya mulai membiarkan mereka menggosok-gosokkan kepalanya di kakiku sebab saya rindu Mbak Ninid yang sedang mondok. Membayangkan ia yang menikmati situasi ini.  Sesekali saya marahi mereka jika masuk rumah namun saya mulai bisa memahami sikap dan respon Mbak Ninid kecil terhadap mereka. Saya mulai mengerti suara mengeong itu beda-beda intonasinya… Terkadang saya mulai membaca beragam makna ngeong itu melalui mata mereka. Mata mereka berbicara banyak hal: saat mengedip perlahan dan mengeong perlahan saya merasa mereka berkata aku sayang kamu…   Di saat yang lain mereka mengajak bermain dengan membawa daun-daun kering di kaki mereka kayak main bola aja. Menjengkelkan ketika mereka mulai mengasah kuku mereka dengan mencakar-cakar ban mobil. Lebih menjengkalkan lagi jika mereka mulai naik atap mobil melalui tembok rumah dan membuat guratan-guratan bekas cakar mereka di cat body mobil namun saat mau kumarahi mata mereka berkata:”ini asyik.. lihat mobilmu jadi artistik…” Duh!!

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Ada tetangga (gang sebelah) memelihara kucing luar negeri alias impor. Konon dia beli seharga 4-5 Juta. Namun beberpa waktu kemudian kucing itu hamil dan melahirkan. Tentu saja kucing bayi itu berwajah setengan kampung sebab emak kucing itu “menikah” dengan kucing kampung…  Tak kusangka ternyata Tuan kucing itu membuang si bayi kucing dengan alasan jenis begini tidak berkelas dan  merusak garis keturunan saja….  astaga, saya teringat jomblo2 yang ditolak  calon mertua karena kurang ini dan itu. Di Dunia perkucingan pun ada menjaga garis murni keturunan perkucingan ras tertentu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Mereka ini kucing, yakni salah satu jenis binatang. Tentu saja mereka tak punya konsep mencuri. Jika dalam suatu kesempatan mereka berhasil membobol secara cerdik pertahanan pintu rumah kami maka itulah kecerdikan. Dalam suatu kesempatan kecil mereka ambil dengan sangat cermat dan tepat apalagi jika tidak ketahuan sampai mereka kenyang dan mulai mengeong minta dibukakan pintu.  Tentu pada awalnya aku sebut itu mencuri. “Dasar kucing pencuri!!”. Belakang aku mulai berfikir benarkah mereka pencuri? tidak ada hukum dalam dunia perkucingan maka bagaimana mungkin ada pencurian. Pastinya hanya berlaku hukum rezeki. Jadi jika mereka mengambil makanan pastilah itu karena makanan itu rezeki mereka. Yah, kucing dan dunia perkucingan mereka ini mendidik saya tentang memiliki terhadap makanan-makanan tersebut.

Kucing-kucing ini selalu di depan  rumah. Tak peduli berapakalipun saya usir mereka, tetap saja hanya bergeser sejenak untuk kemudian kembali ambil posisi manis di depan pintu rumah. Sepertinya itu ungkapan cinta mereka pada kami seisi rumah secara militan. Seringkali mereka menyayangi saya dengan cara yang paling mereka suka yakni melarang saya memasak. Terutama jika sudah terlanjur belanja daging ayam.  Mata mereka seolah berkata;”Sudah gak usah repot…  Mentahan aja sampiyan ndak usah masak….” Dan begitulah mereka, sampai hari ini mereka adalah alasan utama untuk banyak  kejadian seperti hari inihari ini (sering terulang sich!): Saya gak jadi memasak….

 

MENIKMATI MALANG KOTA SELFIE

Standar

Early warning ya.. bahwa tulisaan ini agak baper alias bawa perasaan. Saya mulai menetap di Kota Malang sejak akhir tahun 2009. Motivasi awalnya adalah berkumpul dengan keluarga secara lengkap. Namun motivasi berikutnya adalah tanggungjawab moral sebagai pendidik (cie…) yakni dosen di FISIP Universitas Brawijaya.  Itu membuat saya bertahan manakala alasan awal ternyata bukanlah alasan yang relevan secara harfiah, hehehe…  Jujur saja saya hampir menyerah berputus asa dan ingin meninggalkan kota malang namun Kiai Saya berdiskusi dengan saya dalam sebuah kesempatan di Madinah agar saya tetap disini dengan banyak alasan dhohir yang rasional maupun alasan bathin yang butuh keyakinan atau kepercayaan pada do’a serta memperkuat tawakkal. Saya putuskan percaya, bersabar dan bertawakkal disini jauh dari keluarga asaal serta tak ada sanak saudara.

Meninggalkan keluarga besar di Lamongan beserta status saya disana sebagai anggota DPRD 2004-2009, wiraswasta, serta anak keluarga lumayan terpandang secara ekonomi dan sosial politik  membuat saya merasakan hal “berbeda”.  Kota ini mengajari saya tentang menjadi bukan siapa-siapa dalam tatanan masyarakat di sini, tidak punya siapa-siapa dan tentu saja sesekali juga tidak punya uang hehehe….  Sesuatu yang hampir tak pernah terjadi pada saya di KOta kelahiran saya. Disini saya bukan hanya belajar berempati tapi mersakan secara langsung bagaimana itu miskin, bagaimana itu lemah tanpa daya tawar terhadap penguasaa, bagaimana itu dihinakan statusnya, serta tentu saja menghadapi berbagai fitnah sendirian… iya, sendirian. Hikmah besarnya adalah saya juga belajar makna kebersamaan sebab mengalami kesendirian.

Saya mulai belajar mencintai kota ini dengan berusaha tulus tanpa pamrih untuk mahasiswa dan tidak memperhitungkan apapun untuk mereka sebagai bagian dari pekerjaan. Jadi mereka bukan pekerjaan saya melainkan bagian dari diri saya. Lalu saya lanjutkan dengan mulai bersedia mengisi kegiatan-kegiatan diskusi ilmiah maupun non ilmiah bahkan pengajian-pengajian tak berbayar tentu saja. Sebagai peserta maupun penceramah. Hingga pada suatu waktu saya bertemu dengan masyarakat Dusun Jeruk Kecamatan Lawang Kabupaten Malang yang minus ekonomi dan pendidikan. Secara geografis Kota Malang memang di tengah-tengah kabupten Malang sehingga rumah saya yang ada di perbatasan yakni Arjosari tidak jauh dari wilayah kec Lawang dan Singosari. Kembali ke Dusun Jeruk, anak-anak mereka berjalan sejauh +-5 KM tiap harinya untuk mengakses pendidikan dasar. Sebuah percakapan saya denga Kamituwo dusun tersebut yang membuat saya merenung mendalam. “Saya heran dusun jauh diatas bukit gini kok banyak anak kecilnya padahal akses pendidikan daan lainnya susah.” kamituwo dusun itu menjawab:”Njenengan niku dos pundi toch bu  (Ibu itu bagaimana sich?)… Ya karena letak kami terpelosok jauh dari segala macaam maka hiburan kamai masyarakat sini ya cuman itu; bikin anak..”. Waktu itu kami tertawa terbahak namun sebenarnya sayaa berfikir tentang bagaimana seharusnya negara memikirkan mereka. Berbekal pengetahuan dan skill saya selaku dosen yang pernah berkecimpung dalam politik dan pemerintahan secara praktis saya mulai menggagas pendirian TK dan PAUD yang kemudian diberinama Roudlotussalaf. Pada bagian lain akan saya ceritakan liku-liku pendirian sekoklah ini. Kita kembali ke Kota Malang. Namun disini saya menikmati indahnya dicintai masyarakat. Sesuatu yang indah dan saya tinggalkan di Kota Kelahiran saya.

Anak saya Kak Nay ternaya lebih dahulu melakukan ini. Maksud saya adalah menghayati dan  mencintai kota ini. Dia hafal lebih banyak rute “jalan tikus” kota malang sebab naik mobil antar jemput sekolah dengan segudang rute alternatif menembus kemacetan. Ia juga banyak tahu dari diskusi di sekolah maupun lainnya hal-hal apa saja yang bisa di nikmati di Kota ini. Mulai dari kuliner, tempat wisata, perbelanjaan hingga tentu saja lokasi selfie. Kak Nay membuktikan kecintaannya pada kota ini dengan dua hal yang mencengangkan buat saya: Ia memenangkan lomba surat untuk walikota yang diselenggarakan Bappeda Kota Malang dan juga membuat buku komik yang meskipun bercerita tentang kisah kanak-kanaknya  bersaudara dengan adiknya juga mengulas Kota Malang sebagai setting lokasi komik tersebut.

Saya mulai menuruti rute-rute kuliner yang direkomendasi Kak Nay, mengantanya menikmati wisata lokal, dan mulai mengunjungi teman-teman lama. Ajaib.. Mengunjungi teman lama memberiku spirit luar biasa. TEman-teman lama ini menjadi keluarga dalam artian non harfiah sebab mereka inilah yang kemuddian berlaku seperti keluarga bagi saya. Ini membuat saya merenungi makna silaturrachim dan menghayatinya sebagaimana hikmah yang diajarkan kanjeng nabi muhammad  SAW dalam agama saya: islam.

Disisi lain Kota ini selain indah sejuk nyaman juga sangat ramah pada pendatang. Tidak sulit bagi pendatang untuk berbagai makanan, belanja yang murah, beli rumah dengan berbagai pilihan bahkan kredit kendaraan amat sangat mudah. Dan yang terkini tentu saja kota ini sangat memfasilitasi bagai pendatang macam saya untuk menikmatinya secara kekinian: selfie.

Capture-capture selfie yang diupload di medsos adalah hal kekinian yang menciptakan beberapa hal positif buat pendatang yang mulai menghayati dan mencintai kota ini sebagai pilihan hidup: pertama, saya menerima support dan dukungan moral dan do’a dari teman-teman medsos tentang betapa kota malang itu indah dan pilihan yang baik sebagai tenpat tinggal. sungguh menguatkan bukan? kedua, saya menerima banyak pandangan dan pendapat tentang pendidikan anak-anak saya lebih terjamin disini dibanding tempat manapun di Jatim. Yang ini tentu saja masih bisa diperdebatkan terlebih ternyata anak kedua saya, ninid, memilih mondok dan belajar menghafal alqur’an disini. Mengharukan…   ketiga, saya mendapat banyak hal baru yang bisa dianggap petualangan hidup. sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupan saya yang pasti tidak saya rasakan di kampung halaman sana. tentang kebijaksanaan hidup. keempat, astaga…   saya dan kediaman saya diam-diam  menjadi “tujuan minggat” dari teman-teman untuk sejenak melepaskan penat hidup masalah mereka  sekaligus “hotel gratis” kolega sahabat dan keluarga yang berlibur ke malang. Ternyata posting-posting saya tentang menghadapi masalah hidup itu membuat beberapa dari mereka mempercayakan masalah mereka untuk didiskusikan dengan saya sekaligus mungkin juga menginap  yang melepaskan penat dan frustasi sebab di rumah saya tidak ada sungkan karena tidak ada keluarga selain anak-anak yang masih kecil. Disini saya merasa bersyukur ternyata dalam kemelut masalah hidup kita bisa saja menjadi secercah cahaya untuk orang lain yang menghadapi masalah serupa. Bersyukur di tengah fitnah yang mencoba menghancurkan integritas diri saya ternyata diam-diam Alloh mempercayakan tangisan teman-teman ini pada pendapat saya…  Mereka ini percaya pada saya untuk sesuatu yang mungkin sangat mereka rahasiakan dari dunia.   Dan saya berbaik sangka demikian pula secara rahasia Alloh menaruh kepercayaan pada diri saya untuk suatu hal baik di masa mendatang yang masih ia rahasikan pada dunia. Terimakasih untuk cinta yang mulai tumbuh pada kota ini.  Manakah nikmat Tuhanmu yang Engkau dustakan?

Ngalam… I’m in love.

IMG_1559[1].JPG

 

 

 

 

Selera Humor Dan Teror Bom Jakarta (Teror Vs Humor)

Standar

Terorisme itu tidak lucu. Gak ada lucu-lucunya namun mengapa netizen indonesia justru menjadikan kejadian teror bom jakarta sebagai obyek kelucuan yang beragam macam bentuk? mulai dari posting lucu, meme lucu, surat terbuka lucu dan kelucuan lainnya.. tentu saja ada juga respon serius maupun sok serius bertebaran di media sosial. tapi lebih asik saya ngobrol soal yang lucu-lucu aja disini. ngobrol santai….

sudah lazim orang tahu bahwa tujuan utama terorisme adalah menyerbarkan rasa takut dan mengokohkan eksistensi mereka di tengah masyarakat. artiya kaum teroris ini membunuh satu orang untuk membuat takut ribuan orang. mereka meledakkan bom di satu lokasi simbolis untuk mengirim pesan ke berbagai penjuru atas keberadaan mereka dan tujuan jangka panjang mereka. dan kasus bom jakarta ini ditengarai sebagai aksi ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). setidaknya demikianlah release yang yang dilakukan pihak kepolisian serta pengakuan yang diunggah pihak isisi sendiri. http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://elshinta.com/news/42538/2016/01/15/polisi-berhasil-identifikasi-pelaku-teror-bom

Namun ini Indonesia.. Respon yang muncul bukannya rasa takut melainkan rasa humor. Entah sejak kapan bangsa ini menjadi begini penuh humor. Dulu memang pernah bangsa kita mengidentifikasi diri sebagai bangsa yang ramah (era orba) bahkan dalam kurikulum sekolah di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila namun di rezim berikutnya terjadi chaos begitu rupa dan kita tak lagi  mengidentifikasi diri sebagai bangsa ramah itu sebab kemarahan, tawuran gang maupun suporter bola, kelompok atas nama agama membakar warung di bulan ramadhan serta mengacungkan pedang di jalan-jalan,  hingga baku  tembak kelompok masyarakat,   bisa terjadi dimana saja kapan saja. tentu itu mencekam.  Namun mungkin lebih tepatnya pada awalnya mencekam hingga kemudian menjadi terbiasa setelah serangkaian teror-teror “pendahuluan”.

Respon humor ini memang dalam beragam bentu. ada yang gambar atau lazim disebut meme, kisah humor, percakapan (imajinatif)  humor seperti para teroris bom jakarta itu “budhek” (tuli) disuruh ke suriah malah ke sarinah, serta bentuk lainnya.   Beberapa meme  berikut beredar luas di kalangan netizen misalnya berikut:

Beberpa hal lucu yang saya tangkap dalam humor para Netizen Pertama, mereka menjadikan respon “wong cilik” yang bekerja di lokasi kejadian sebagai bukti hal lucu dimana di belahan negeri lain saat ada aksi terorisme warganya berlarian menjauh. sedangkan tukang sate, pedagang asongan, dan para pengamen jalanan justru mearasa ini adalah momen peningkatan omset. So, foto mereka tetap asik bekerja di tengah situasi yang seharusnya penuh takut adalah kelucuan penting pertama. ini adalah pesan netizen pada teroris bahwa masyarakat tidak takut. Kedua, Masyarakat menjadikan kejadian ini tontonan. Bukannya berhamburan menjauh alih-alih masyarakat berkumpul menyaksikan kejadian padahal polisi saja berlindung di belakang  mobil-mobil mereka di tengah baku tembak. Seolah pesan masyakarat penonton itu bahwa kami tak takut peluru nyasar atau peluru kalian mengarah pada masyarakat. What?! Ini tidak takut atau tak sadar bahaya…?.   Ketiga, tentu saja infotainment juga punya produk penting yakni polisi ganteng yang sedang beraksi di arena menjadi artis baru di kalangan gadis-gadis remaja dan penggemar infotainment yang mengolah informasi ala infotainment tentunya. Bayangkan situasi terorpun yang seharusnya mencekampun   bisa menciptakan artis lokasi (arlok) yang membuat dada penonton infotainment berdebar-debar menonton acara ini. Semacam istilah cinta lokasi (Cinlok) yang juga muncul dari dunia infotainment. Keempat, tentu nasionalisme juga ambil tempatlah. Muncul juga respon dalam berbagai bentuk itu tentang betapa Indonesia adalah bangsa besar yang tidak takut teror serta tidak takut menghadapi terorisme. Tagar-tagar yang muncul sejalan ini misalnya: #indonesiaberani, #KamiTidakTakut dan sebagainya. Simak saja berita ini: http://www.tribunnews.com/nasional/2016/01/15/tagar-seputar-teror-jakarta-bermunculan-dari-kamitidaktakut-sampai-cumadegdegan .

Tentu saja ada pula humor yang tidak layak dilakukan oleh netizen dan segera mendapat serangan protes netizen lagi untuk kemudian dihapus yang memposting. Misalnya meme yang menjadikan polisi di arena kejadian sebagai bahan humor. Saya pasti tidak memuat disini sebab saya juga tidak setuju menjadikan polisi yang sedang berjibaku itu sebagai bahan humor.

So, pertanyaan beriutnya benarkan hal tersebut benar-benar humor? Bolehkah humor ini dilakukan? layakkah? Membicarakan humor ini membuat saya terkenang Gus Dur yang sering menjadikan humor sebagai cara efektif untuk menyampaikan pesan. Beberapa pesan humor Gus Dur bahkan saat ini menjadi kode umum dari masyarakat untuk mengkritik negara misalnya; “Gitu aja kok repot” untuk merespon tiap kali berhadapan dengan hal birokratis dan “anggota DPR kayak anak TK” menjadi ungkapan umum ketika ada kasus kelakuan anggota DPR yang kurang layak. Jadi kalau teroris menyampaikan pesan agar mereka diakui dan takuti dengan cara teror maka kemudian masyarakat (netizen) menjawan pesan tersebut dengan cara humor yang berarti tidak takut. Pesan tersirat dijawab dengan pesan tersirat. Mungkin boleh juga kalau saya bilang disini: tetaplah berselara humor yang serius dan jadikan selera humor secara benar.  Melawan serta mengkritik dengan humor juga toch bukan kali pertama  terjadi di negeri ini.

 

Pengalaman menangani bakat anak..

Standar

Kak Nay senang menggambar dan hari ini telah menelurkan karya buku komik pertamanya yang berkisah tentang keseharian kakak beradik dirinya dan adeknya. Gambar yang dibuat kak nay dalam komiknya tampak sangat komunikatif serta pandai sekali membuat plot cerita sehingga membawa pembacanya bisa menghayati kelucuan serta ketengilan kelakuan kanak-kanak mereka.

Misalnya salah satu episode dalam bukunya ini bercerita tentang pertengkaran kanak-kanaknya dengan sang adik dan dilerai umi (saya). Namun pertengkaran itu berlanjut sampai saat makan malam tiba di Rumah Makan favorit mereka yang kebetulan menu-menunya berporsi sangat besar. Karena besarnya porsi tersebut maka saya meminta mereka berbagi makanan dalam satu menu untuk menghindari makanan sisa yang mubadzir. Sebenarnya tujuannya adalah agar kakak dan adek bisa berdiskusi dan menemukan solusi sebagai kesepakatan bersama. akan tetapi yang terjadi justru mereka bertengkar kembali maka akhirnya sayalah yang membuat keputusan.

Kak Nay menggambarkan kejadian menjengkelkan bagi mereka ini dengan plot yang asyik sehingga membuat yang membaca akan tertawa. Berikut cuplikan halaman terakhir episode tersebut:

IMG_0857

Pada awalnya saya tidak mengenali dengan baik bakat Kak Nay ini. yang saya ketahui adalah rumah yang senantiasa berantakan oleh kertas kertas bergambar yang berserakan dimana mana. Tentu saja saya agak marah-marah supaya ia lebih rapih dan menjaga kebersihan hingga dalam suatu kesempatan kami ngobrol dan Kak Nay menceritakan gambar-gambar berserakan tersebut. Barulah saya menyadari bahwa kertas-kertas berserakan itu adalah sebuah potensi yang patut digali serta diarahkan lebih lanjut.

Mulailah saya mencari informasi, sharing dengan teman, serta meminta pendapat teman-teman melalui media sosial apa yang sebaiknya saya lakukan mengingat saya sama sekali tidak paham dunia gambar menggambar. Kemudian seorang teman dari penyiar RRI memberi kontak seorang komikus bereputasi tinggi yang tinggal di malang. Dari sini saya berdikusi tentang komik serta kami bersama sama membuat rangkaian hal-hal strategis yang bisa kita lakukan untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi Kak Nay ini hingga tercetus ide membuat buku komik.

Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali dan mengarahkan bakat atau potensi anak mungkin tidak bisa kita lakukan sendiri. terkadang kita perlu men-share apa yang menjadi keperluan kita bahkan apa yang perlu untuk kita ketahui tentang bakat anak kita tersebut. dalam banyak kasus saya diskusi ternyata tidak selalu bakat anak adalah “turunan” dari orang tuanya sebab bisa saja itu muncul dari minatnya. dan minat ini bisa dari apapun misalnya lingkungan, trend, daya tarik hal tersebut serta aspek-aspek lain yang memunginkan.

Kak nay mungkin tidak berkembang sepesat ini tanpa bantuan banyak pihak yang peduli mulai dari teman-teman saya yang memberi pendapat dan gagasan tentang apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang ibu atas bakat anaknya ini. sampai kemudian teman-teman saya ini memberi saya “jalan” bertemu ahlinya.

Oke, semoga sharing pengalaman ini ada manfaatnya.

 

 

 

 

 

 

Tentang Rezeki

Standar

Saya Pernah Mengisi Kultum (Kuliah Tujuh Menit) untuk acara Cahaya Qalbu di UB TV pada bulan ramadhan tahun 2015 dengan tema  Menguak Rahasia Rezeki

Kalau link tersebut dibuka maka anda akan bertemu dengan penjelasan saya secara dalam bentuk video tentang tingkatan rezeki, bagaimana kaitan antara bekerja dan rezeki, bagaimana Alloh membagi rezeki berdasarkan petunjuk dalam Al-qur’an dan seterusnya.

Ada pertama, madzmun ditangung oleh Alloh. Dalam konteks ini rezeki itu dipastikan datang kepada hambanya. Alloh mendatangkan rezeki dengan berbagai cara sehingga hambanya bisa hidup. Kategori kedua adalah maqsum. yakni rezeki telah dibagi sesuai dengan kadar kapasitas dan kapabilitas hambanya. disini ada unsur ikhtiar atau kerja keras serta taqdir yang telah diatur. jadi pada rezeki kategori ini merupakan pertautan antara unsur manusia yang berusaha serta unsur pengaturan oleh yang maha kuasa. Ada orang orang tertentu yang telah ditaqdirkan menjadi orang kaya dan ada yang ditaqdirkan menjadi orang miskin namun tidak menafikan faktor usaha atau ikhtiar. Kategori ketiga adalah  mau’ud atau rezeki yang  dijanjikan. Alloh menjanjikan rezeki bagi beberapa kriteria-kriteria tertentu misalnya rezekinya orang yang bertaqwa. Dijanjikan oleh Alloh bahwa rezeki orang bertaqwa adalah dari arah yang tak disangka-sangka atau diluar perkiraan (man yattaqillaha yaj’al alhu makhrojan wa yarzuquhu min haitsu la yahtasib). Orang yang sabar dan  khusyu’ juga dijanjikan akan senantiasa dapat pertolongan (wasta’inuu bisshobri wassholah innaha lakabirotan illa alal khosyiin). Dan masih banyak lainnya jika kita kaji mendalam tentang bagaimana rezeki itu diatur oleh Alloh serta dijelaskan dalam Alqur’an.

Rezeki tak akan salah alamat. jadi dengan memahami kriteria atau kateogri serta penjelsan Alloh melalui Al quran tentang bagaimana rezeki diatur serta bagaimana rezeki memiliki tingkatan maka akan menjadikan kita manusia yang tenang dalam bekerja. Biarlah kita bekerja maksimal sebaik baiknya  dan alloh yang akan mengatur rezeki untuk kita. Seorang kawan bilang pada saya bahwa biarlah kita mengatur belanja sebaik-baiknya untuk kebaikan dan selebihnya biarkan Alloh SWT yang mengatur pemasukan untuk kita. Semoga kita menjadi pribadi yang baik dalam memahami rezeki. Aamiin…