Selera Humor Dan Teror Bom Jakarta (Teror Vs Humor)

Standar

Terorisme itu tidak lucu. Gak ada lucu-lucunya namun mengapa netizen indonesia justru menjadikan kejadian teror bom jakarta sebagai obyek kelucuan yang beragam macam bentuk? mulai dari posting lucu, meme lucu, surat terbuka lucu dan kelucuan lainnya.. tentu saja ada juga respon serius maupun sok serius bertebaran di media sosial. tapi lebih asik saya ngobrol soal yang lucu-lucu aja disini. ngobrol santai….

sudah lazim orang tahu bahwa tujuan utama terorisme adalah menyerbarkan rasa takut dan mengokohkan eksistensi mereka di tengah masyarakat. artiya kaum teroris ini membunuh satu orang untuk membuat takut ribuan orang. mereka meledakkan bom di satu lokasi simbolis untuk mengirim pesan ke berbagai penjuru atas keberadaan mereka dan tujuan jangka panjang mereka. dan kasus bom jakarta ini ditengarai sebagai aksi ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). setidaknya demikianlah release yang yang dilakukan pihak kepolisian serta pengakuan yang diunggah pihak isisi sendiri. http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://elshinta.com/news/42538/2016/01/15/polisi-berhasil-identifikasi-pelaku-teror-bom

Namun ini Indonesia.. Respon yang muncul bukannya rasa takut melainkan rasa humor. Entah sejak kapan bangsa ini menjadi begini penuh humor. Dulu memang pernah bangsa kita mengidentifikasi diri sebagai bangsa yang ramah (era orba) bahkan dalam kurikulum sekolah di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila namun di rezim berikutnya terjadi chaos begitu rupa dan kita tak lagi  mengidentifikasi diri sebagai bangsa ramah itu sebab kemarahan, tawuran gang maupun suporter bola, kelompok atas nama agama membakar warung di bulan ramadhan serta mengacungkan pedang di jalan-jalan,  hingga baku  tembak kelompok masyarakat,   bisa terjadi dimana saja kapan saja. tentu itu mencekam.  Namun mungkin lebih tepatnya pada awalnya mencekam hingga kemudian menjadi terbiasa setelah serangkaian teror-teror “pendahuluan”.

Respon humor ini memang dalam beragam bentu. ada yang gambar atau lazim disebut meme, kisah humor, percakapan (imajinatif)  humor seperti para teroris bom jakarta itu “budhek” (tuli) disuruh ke suriah malah ke sarinah, serta bentuk lainnya.   Beberapa meme  berikut beredar luas di kalangan netizen misalnya berikut:

Beberpa hal lucu yang saya tangkap dalam humor para Netizen Pertama, mereka menjadikan respon “wong cilik” yang bekerja di lokasi kejadian sebagai bukti hal lucu dimana di belahan negeri lain saat ada aksi terorisme warganya berlarian menjauh. sedangkan tukang sate, pedagang asongan, dan para pengamen jalanan justru mearasa ini adalah momen peningkatan omset. So, foto mereka tetap asik bekerja di tengah situasi yang seharusnya penuh takut adalah kelucuan penting pertama. ini adalah pesan netizen pada teroris bahwa masyarakat tidak takut. Kedua, Masyarakat menjadikan kejadian ini tontonan. Bukannya berhamburan menjauh alih-alih masyarakat berkumpul menyaksikan kejadian padahal polisi saja berlindung di belakang  mobil-mobil mereka di tengah baku tembak. Seolah pesan masyakarat penonton itu bahwa kami tak takut peluru nyasar atau peluru kalian mengarah pada masyarakat. What?! Ini tidak takut atau tak sadar bahaya…?.   Ketiga, tentu saja infotainment juga punya produk penting yakni polisi ganteng yang sedang beraksi di arena menjadi artis baru di kalangan gadis-gadis remaja dan penggemar infotainment yang mengolah informasi ala infotainment tentunya. Bayangkan situasi terorpun yang seharusnya mencekampun   bisa menciptakan artis lokasi (arlok) yang membuat dada penonton infotainment berdebar-debar menonton acara ini. Semacam istilah cinta lokasi (Cinlok) yang juga muncul dari dunia infotainment. Keempat, tentu nasionalisme juga ambil tempatlah. Muncul juga respon dalam berbagai bentuk itu tentang betapa Indonesia adalah bangsa besar yang tidak takut teror serta tidak takut menghadapi terorisme. Tagar-tagar yang muncul sejalan ini misalnya: #indonesiaberani, #KamiTidakTakut dan sebagainya. Simak saja berita ini: http://www.tribunnews.com/nasional/2016/01/15/tagar-seputar-teror-jakarta-bermunculan-dari-kamitidaktakut-sampai-cumadegdegan .

Tentu saja ada pula humor yang tidak layak dilakukan oleh netizen dan segera mendapat serangan protes netizen lagi untuk kemudian dihapus yang memposting. Misalnya meme yang menjadikan polisi di arena kejadian sebagai bahan humor. Saya pasti tidak memuat disini sebab saya juga tidak setuju menjadikan polisi yang sedang berjibaku itu sebagai bahan humor.

So, pertanyaan beriutnya benarkan hal tersebut benar-benar humor? Bolehkah humor ini dilakukan? layakkah? Membicarakan humor ini membuat saya terkenang Gus Dur yang sering menjadikan humor sebagai cara efektif untuk menyampaikan pesan. Beberapa pesan humor Gus Dur bahkan saat ini menjadi kode umum dari masyarakat untuk mengkritik negara misalnya; “Gitu aja kok repot” untuk merespon tiap kali berhadapan dengan hal birokratis dan “anggota DPR kayak anak TK” menjadi ungkapan umum ketika ada kasus kelakuan anggota DPR yang kurang layak. Jadi kalau teroris menyampaikan pesan agar mereka diakui dan takuti dengan cara teror maka kemudian masyarakat (netizen) menjawan pesan tersebut dengan cara humor yang berarti tidak takut. Pesan tersirat dijawab dengan pesan tersirat. Mungkin boleh juga kalau saya bilang disini: tetaplah berselara humor yang serius dan jadikan selera humor secara benar.  Melawan serta mengkritik dengan humor juga toch bukan kali pertama  terjadi di negeri ini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s