Militansi Cinta Kucing Kampung

Standar

12548963_952585768123408_4665429549717036557_n

Saya bukan pecinta kucing namun juga bukan pembenci kucing. Tapi kucing-kucing ini selalu di depan rumah saya. Pada awalnya kucing-kucing kampung ini secara rutin dikasih kerupuk jatah sarapan pagi Mbak Ninid  kecil. Mbak Ninid kecil memang sangat menyayangi mereka meskipun terkadang tampak “bereksperimen” terhadap mereka. Mbak Ninid kecil yang sewaktu itu masih sekolah tingkat  TK di TK BSS (Brawijaya Smart School) ini meyakinkan guru dan teman-temannya bahwa makanan kucing bukanlah ikan pindang melainkan krupuk, permen, kue-kue yang enak dan daging ayam. Lah ya memang Mbak Ninid tidak salah sebab dalam pengetahuannya kucing-kucing ini doyan makanan yang disebutkan oleh Mbak  Ninid dan belum pernah kucing ini makan ikan pindang dari kami sebab Kak Nay benci ikan pindang. Saya menyesuaikan dengan hampir tidak pernah ada ikan pindang dalam menu kami.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Entah dari mana asalnya, awalnya hanya ada satu dan sekarang sudah ada sekitar lima ekor. Seringkali mereka berusaha masuk rumah tiap ada yang membuka pintu rumah kami meskipun sebentar saja. Mereka sudah mengintai depan pintu dan syuuuut langsung masuk rumah saat pintu dibuka. Militan sekali mereka mengintai dan menunggu pintu kami dibuka karena hendak keluar rumah. Bahkan pada suatu hari mereka berusaha masuk dari celah bawah pintu rumah. Cakar mereka berusaha menggapai-gapai dan akhirnya berhasil menarik keset keluar rumah. Rupanya memang keset itu tujuan mereka. Mereka jadikan alas tidur depan pintu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Beberapa tetangga yang lain juga ada yang care sama mereka. Cukup diteriakin “Pus…Pus…!” lalu makanan ditaruh di tanah dan mereka para kucing-kucing ini akan berhamburan mengejar yang neriakin mereka ini. Namun tetap saja setelah puas makan mereka ini kembali di depan pintu rumah saya. Duduk manis terkadang menyeringai licik penuh makna waspada menunggu pintu di buka.  Pernah saya bilang:”Pus, Bu Bambang kan sayang sama kalian kenapa gak jaga pintu rumah Bu Bambang aja sich…?”. Mereka menjawab dengan sangat tegas:”Meong… meong… meong…”.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Seringkali saat pulang kantor, mobilku baru masuk gang saja kucing-kucing ini berhamburan mengejarku. Dan saat turun dari mobil mereka sudah mengerubuti kakiku seraya menggosok-gosokkan kepala mereka di kakiku. Geli dan risih sebenarnya namun belakangan ini saya jadi ingat respon Mbak Ninid kecil yang saat ini sudah mondok (Mulai kelas satu SD pertengahan tahun 2015) terhadap ulah kucing-kucing seperti ini. Ia akan menggendong salah satunya lalu mulai duduk depan rumah. Kucing-kucing itu kemudian naik di pangkuannya. Dan Mbak Ninid kecil  ngobrol sama mereka seraya tertawa gembira seolah kucing-kucing ini bercakap-cakap dengannya. Duh dasar anak kecil pikirku.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Yah, belakangan ini saya mulai membiarkan mereka menggosok-gosokkan kepalanya di kakiku sebab saya rindu Mbak Ninid yang sedang mondok. Membayangkan ia yang menikmati situasi ini.  Sesekali saya marahi mereka jika masuk rumah namun saya mulai bisa memahami sikap dan respon Mbak Ninid kecil terhadap mereka. Saya mulai mengerti suara mengeong itu beda-beda intonasinya… Terkadang saya mulai membaca beragam makna ngeong itu melalui mata mereka. Mata mereka berbicara banyak hal: saat mengedip perlahan dan mengeong perlahan saya merasa mereka berkata aku sayang kamu…   Di saat yang lain mereka mengajak bermain dengan membawa daun-daun kering di kaki mereka kayak main bola aja. Menjengkelkan ketika mereka mulai mengasah kuku mereka dengan mencakar-cakar ban mobil. Lebih menjengkalkan lagi jika mereka mulai naik atap mobil melalui tembok rumah dan membuat guratan-guratan bekas cakar mereka di cat body mobil namun saat mau kumarahi mata mereka berkata:”ini asyik.. lihat mobilmu jadi artistik…” Duh!!

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Ada tetangga (gang sebelah) memelihara kucing luar negeri alias impor. Konon dia beli seharga 4-5 Juta. Namun beberpa waktu kemudian kucing itu hamil dan melahirkan. Tentu saja kucing bayi itu berwajah setengan kampung sebab emak kucing itu “menikah” dengan kucing kampung…  Tak kusangka ternyata Tuan kucing itu membuang si bayi kucing dengan alasan jenis begini tidak berkelas dan  merusak garis keturunan saja….  astaga, saya teringat jomblo2 yang ditolak  calon mertua karena kurang ini dan itu. Di Dunia perkucingan pun ada menjaga garis murni keturunan perkucingan ras tertentu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Mereka ini kucing, yakni salah satu jenis binatang. Tentu saja mereka tak punya konsep mencuri. Jika dalam suatu kesempatan mereka berhasil membobol secara cerdik pertahanan pintu rumah kami maka itulah kecerdikan. Dalam suatu kesempatan kecil mereka ambil dengan sangat cermat dan tepat apalagi jika tidak ketahuan sampai mereka kenyang dan mulai mengeong minta dibukakan pintu.  Tentu pada awalnya aku sebut itu mencuri. “Dasar kucing pencuri!!”. Belakang aku mulai berfikir benarkah mereka pencuri? tidak ada hukum dalam dunia perkucingan maka bagaimana mungkin ada pencurian. Pastinya hanya berlaku hukum rezeki. Jadi jika mereka mengambil makanan pastilah itu karena makanan itu rezeki mereka. Yah, kucing dan dunia perkucingan mereka ini mendidik saya tentang memiliki terhadap makanan-makanan tersebut.

Kucing-kucing ini selalu di depan  rumah. Tak peduli berapakalipun saya usir mereka, tetap saja hanya bergeser sejenak untuk kemudian kembali ambil posisi manis di depan pintu rumah. Sepertinya itu ungkapan cinta mereka pada kami seisi rumah secara militan. Seringkali mereka menyayangi saya dengan cara yang paling mereka suka yakni melarang saya memasak. Terutama jika sudah terlanjur belanja daging ayam.  Mata mereka seolah berkata;”Sudah gak usah repot…  Mentahan aja sampiyan ndak usah masak….” Dan begitulah mereka, sampai hari ini mereka adalah alasan utama untuk banyak  kejadian seperti hari inihari ini (sering terulang sich!): Saya gak jadi memasak….

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s