Lidah: Lisan Dan Rindumu Pada Masakan Ibu

Standar

Hari ini saya sariawan tepat di ujung lidah. Sakitnya sangat tidak nyaman. Bicara jadi sulit (untunglah ini liburan habis UAS jadi tidak ngajar) dan  makan tidak nyaman. Ini membuat saya berfikir tentang fungsi penting lidah ini adalah sebagai lisan yang berkomumnikasi serta sebagai cara menikmati makanan yang membuat kita menutrisi tubuh kita agar hidup. Astaga, betapa rewelnya kita tatkala lidah ini sehat pada sesuatu yang kita telan: sering ingin makanan enak. Dan astaga betapa kadang kita tidak berfikir agar yang keluar juga yang enak-enak saja: kata-kata yang baik semanis madu….   Ternyata di sini ada lalu lintas masuk dan keluar yang sangat penting. Masuk makanan untuk menutrisi hidup dan keluar kata-kata untuk memupuk hidup…

jadi lidah adalah bagian tubuh yang terhubung erat dengan hidupmu setidaknya dalam dua hal: kata dan rasa. Baik kata maupun rasa ini membentuk sejarah.  Lidah merasakan rasa namun lidah juga membentuk rasa: rasa di mulutmu dan rasa di hatimu.

Perilahal lidah kita ini, untuk artian alat berkomunikasi bahasa arab menyebut “lisan”. Nah, dalam konteks lisan ini ternayata ada banyak warning dalam alqur’an tentang betapa lidah kita bisa menjadi sumber kebaikan sekaligus bisa menjadi sumber bencana. Simaklah beberapa berikut:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.”
(an-Nisaa’: 114)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar”(Al Ahzab: 70-71)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Hujurat : 12]

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadirs” [Qaf : 16-18]

[yaitu] orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna. (QS. al-Mu’minun [23]: 2-3)

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (Al-Humazah: 1)

”Dialah yang memperkuatmu dengan pertolonganNya
dan dengan para mukmin.
Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi,
niscaya kamu tidak dapat
mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”
(Al-Anfal: 62-63).

lihatlah betapa istimewanya lidah kita yang tak bertulang dimana ia bisa membuat hati berbunga sekaligus bisa menusuk mencabik-cabik kalbu seseorang. Pisau bermata dua ini ternyata adalah bagian tak bertulang dalam mulut kita.

 

Lidah Dan Rindumu Pada Masakan Ibu…

Lidah kita menikmati masakan ibu kita sejak kecil hingga kita mulai mandiri yang menyiapkan serta menyediakan makanan kita sendiri. Mungkin karena masakan ibu (dan nenek juga) begitu lama dikenali oleh lidah kita maka itulah kenikmatan pertama yang dikenali oleh lidah kita.

Dalam banyak kesempatan saya berdiskusi dengan teman, termasuk diskusi di medsos, menanyakan apakah mereka mersakan bahwa masakan ibu (juga nenek) kita jauh lebih lezat dari masakan kita? hampir semua bilang iya. Lalu tiap kutanya kenapaa? ternyata jawaban umumnya berkait dengan hal-hal non material sepoerti: Ibu memasak dengan cinta, ketulusan, keihlasan, kasing sayang, ada do’a dalam masakan ibu dan seterusnya.

Tak ada yang menjawab secara material seperti ibu lebih pandai meracik komposisi bumbu, ibu lebih berpengalaman memasak, ibu telah belajar memasak dari banyak kesempatan kuliner dan seterusnya. Sepertinya bagi banyak orang masakan ibu ini terkait denganhal immateriil: cintanya pada keluarga. Maka mungkin demikianlah masakan ibu yang kita rasakan melalui lidah kita ini mengikat batin kita padanya. Saat engkau jauh dari ibu pada satu titik engkau rindu ibumu dan yang kau kenang awal adalah rasa masakan favoritmu.

Bahkan saya dan kakak saya mengakui kita sering rindu makan masakan ibu di rumah sambil diomelin (sebenarnya dinasehati) tentang hal-hal kecil yang sebenarnya kami sudah tahu. Ini indah sekali bukan? perpaduan rasa masakan dilidah kita yang kita masukkan sebagai nutrisi tubuh dan nasehat (omelan? hahahah…) yang menutrisi pikiran dan jiwa kita.

Benarkah demikian?  istafti qolbak: mintalah fatwa pada hatimu apakah ini benar.

 

Lidah Juga Yang Sampai  Di Hati…

Dalamnya laut dapat diduga dalamnya hati siapa yang tau? ini adalah pepatah bahasa indonesia yang kita pelajari di sekolah dasar. Bahwa sulit bagi kita untuk menebak isi hati seseorang. Namun seseorang bisa menyampaikan melalui lisan bukan? dan bisa sampai ke pikiran dan hati kita.

Penyanyi tahu betul bagaimana mengatur lisannya dalam lagu-lagu romantis agar masuk ke hati pendengarnya. Penyair tahu betul bagaimana membaca puisi agar menyentuh emosi pendengarnya. Motivator seperti mario teguh tahu betul bagaimana  lisannya berujar dan sehingga ia mendapat berjuta persetujuan dan kadang juga air mata pemirsanya. Bahkan seorang qori’ bisa membuat pendengarnya menangis meskipun tak tau makna ayat yang ia bacakan….

Sebaliknya, menyampaikan kebencian dalam kata-kata juga akan sampai ke hati. Banyak bentuk “pilihan” disini: ocehan, umpatan, hardikan, pisuhan (soroboyan itu exeption ya..), kata-kata buruk, penilian negatif, strereotyping person, dan seterusnya.

Begitu tajamnya lidah ini sebagai sebuah alat yang melembutkan hati namun sekaligus adalah alat yang sangat tajam untuk melukai hati.

 

Seperti Hatimu, Lidah Juga Muat Untuk Seisi Dunia…

Dunia dan cakrawala ini tak muat untuk diisi Tuhan beserta kebesarannya  namun Tuhan dan kebesarannya bisa mengisi/memasuki hatimu…   entah itu kata-kata mutiara sufi siapa saya hanya tiba-tiba ingat saja namun lupa pemilik asli kebijaksanaan tersebut. Betapa hati kita itu besar untuk menampung banyak hal berupa pengetahun dan kepercayaan.

Sebaliknya, lisan kita juga bisa mengeluarkan apa saja seisi dunia ini: ilmu pengetahuan, ketidak tahuan, kebodohan, kemarahan, kesombongan, kebajikan, puja puji syukur, dan semua hal bisa kita keluarkan dari lisan kita. Bayangkan jika kata-kata yang keluar dari lisan kita ini terwujud secara materal mungkin dunia seisinya telah penuh oleh kata-kata yang keluar dari lisan kita.

Namun tidak semua orang bisa menggunakan lisannya dengan baik. Tidak semua orang bisa mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikirannya dalam kata-kata yang menyentuh pikiran dan hati orang lain agar dapat memahami. Maka bersyukurlah kita atas lidah kita: ada lisan dan ada rasa.

Tidakkah layak sejenak kita mengingat do’a nabi musa tentang hati dan lisannya: Robbishrohli sodri wayassirli amri wahlul uqdatan min lisani yafqohu qouli…..

 

IMG_1775

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s