Anakku Mondok… (Pengalaman bagaimana memondokkan anak)

Standar

Keterpautan usia kedua anak saya lumayan jauh juga yakni 5 tahun. jadi kak Nay kelas naik kelas 6 maka adeknya, mbak ninid (begitu kami biasa memanggil), baru masuk kelas 1 SD. Sisi positif dari jarak yang lumayan jauh itu adalah kakaknya sudah cukup memahami bagaimana “ngemong” seorang adik dan dari sisi pengasuhan juga saya lebih bisa longgar karena hal tersebut.

Mondok atau sekolah dengan tinggal di asrama pesantren di usia pendidikan dasar adalah tradisi keluarga kami. jadi saya dan seluruh saudara saya pernah mengenyam pendidikan pondok pesantren. Kakakku mondok di langitan wetan tuban dan alhikam malang saat kuliah di universitas brawijaya. Saya sendiri mondok di Bahrul Ulum Tambakberas sewaktu smp-sma. Adekku berturut-turut modok di Mambaul Maarif Denanyar Jombang dan Darul Ulum Peterongan Jombang. Jadi mondok adalah tradisi keluarga kami.

Tantangan bagi saya kemudian adalah bagaimana nanti saya harus memondokkan anak-anakku. Itu sungguh membuat saya berfikir bagaimana caranya agar mereka nantinya kerasan di pondok. Jadi mulailah saya banyak bercerita tentang pondok pesantren dan apa saja yang para santri lakukan sehari hari serta mengapa itu dilakukan. Saya juga mulai menceritakan pengalaman-pengalaman konyol di pondok serta penglaman-pengalaman spesifik yang hanya dialami santri pondok.

Dalam kesempatan tertentu anak-anak juga saya ajak jalan-jalan ke beberapa pondok. Sekedar membuat mereka paham bagaimana bentuk dan rupa dari pondok itu. Saat itu mbak ninid kecil masih TK. Targetku sebenarnya adalah membuat Kak Nay mulai menyukai pondok dan terbangun kesadaran tentang pentingnya sekolah di pondok. Tak dinyana justru adeknya yang masih TK itu minta sekolah di pondok saat lulus TK. Artinya di usia 6 tahun dan masih kelas 1 SD. Tentu saja saya berat hati. Meskipun tidak bilang jangan tapi juga tidak bilang iya. Menjelang lulus TK BSS, mbak ninid kecil ini saya daftarkan di SD BSS dan telah lolos tes.

Selang beberapa minggu kemudian Alloh memberi saya kesempatan menjalankan ibadah umroh. Dalam perjalanan tersebut saya bercerita pada guru saya tentang anak-anak yang ternyata guru saya ini sangat berminat tentang cerita saya soal Mbak Ninid dan kemampuannya mengingat. Saya menceritakan tentang hadiah CD Mirah Ingsun pemberian Mbah Tejo (Sujiwo Tejo) yang hanya dalam tempo satu malam saja besok paginya Mbak Ninid kecil ku ini sudah hafal. Padahal itu bahasa jawa lawas yang agak jarang terdengar sehari-hari. Lalu guru saya tanya:”Pernahkan kau coba bagaimana jika dia mendengarkan al-Qur’an sebelum tidur?”. Lalu saya baru mikir bahwa benar sekali tiap kuajari ngaji Mbak Ninid kecil ini cepat sekali hafal. Guruku bilang:”lagu mbak tejo itu baik tapi kenapa tidak kau isi juga ingatannya itu dengan al-qur’an? Yang jelas-jelas terbaik..”.

Saya mengakui bahwa tidak tiap malam ia ngaji dengan saya. Tidak bisa rutin karena kadang saya sampai rumah sepulang aktifitas Mbak Ninid kecil ini sudah tidur. Guru saya berkata:”Berarti kamu butuh pertolongan kyai. Taruhlah anakmu di pondok saja..”    Seperti disambar petir perintah tersebut di telingaku. SEperti mozaik yang baru nyambung dalam ingatanku betapa mbak ninid kecil ingin mondok….   Apakah saya bahagia? tidak, saya takut kesepian….   Mbak NInid kecil ini adalah kebahagian dan kegembiraan saya ketika pulang ke rumah. Tempat saya mencurahkan segenap kegembiraan dan keriangan kanak-kanak. Jadi membayangkan ia harus mondok dan jauh dari saya sungguh saya pikir saya tak sanggup. Ia masih 6 tahun. Yang saya prospek mondok adalah kakaknya yang 11 tahun di tahun depan saat berusia 12 tahun. Di usia yang sama tersebut saya dan saudara-saudara saya dipondokkan oleh orang tua kami.

Saya timbang-timbang dalam diskusi, renungan dan do’a selama ibadah umroh tersebut. Akhirnya saya putuskan mencoba. Pondok yang kami pilih adalah Pesantren Al Munawwariyah Bululawang Malang dengan pertimbangan bagus untuk anak kecil serta tidak terlalu jauh dari rumah. Ternyata ketika saya hendak mendaftar pondok tersebut sudah tutup pendaftaran akibat quota santri baru habis. Oleh guru saya, KH Said Khumaidi, dimintakan formulir khusus yang dikeluarkan oleh kyai pengasuhnya yakni KH Maftuh Said. Mbak Ninid kemudian diterima dari jalur formulir kiai tersebut. Alhamdulillah…

Apakah saya senang..? jujur saja tidak. Dalam hati kecil saya ingin Mbak NInid ndak kerasan lalu minta boyongan pulang. Begitu juga ibuku, neneknya. Namun mengingat bagaimana timbang menimbang keputusan ini dibuat di tanah suci saya menguatkan tekat. Bismillah…  Niat ingsun mondokkan Mbak Ninid…

Masa-masa Awal Mondok

*Ada mitos bahwa kalau santri sudah kena penyakit kulit berarti mondoknya di terima. Haddeeeeh…. tentu saja ini mitos. Tapi begitulah kami menerima mitos itu sebagai ya begitulah biasanya, hehehehe…..

Di hari awal mengantar ananda ke pondok tanggal 30 Agustus 2015 Mbak Ninid sangat bersemangat. Bahkan dia sempat melucu (seperti biasa dia memang lucu) ketika di tes oleh petuga pondok ia ditanyai

Petugas:”bisa tambah-tambahan?”

Mbak Ninid menjawab:”Tambah-tambahan itu apa?”

Petugas:”Ya misalnya satu tambah satu hasilnya berapa?”

Mbak Ninid:”oooo  satu tanbah satu ya hasilnya dua. Itu namanya bukan tambah-tambahan tapi Matematika..”

Hari itu Mbak Ninid kecil gembira dan bersemangat sekali sebagai hari pertama masuk pondok. Ia bahkan tak tampak sedih sama sekali ketika kami harus pulang meninggalkan ia di pondok. Sungguh di luar dugaanku….    Kami baru boleh sambang (berkunjung) 40 hari kemudian…..   Ya Alloh…  Bagaimana aku melalui 40 hari ke depan tanpa dia disisiku…   Begitulah batinku menjerit meskipun bibirku tersenyum dan tertawa-tawa riang dengan mbak ninid.

40 hari kemudain kami berkunjung. Hari yang kami nanti-nantikan itu akhirnya tiba. Ibuku jauh-jauh dari Lamongan datang untuk ikut berkunjung ke pondok Mbak Ninid. Sepanjang perjalanan ibuku menangis setengah marah-marah yang intinya jika melihat Ninid sakit atau nangis tidak kerasan maka saat itu juga diboyong dan dibawa ibuku pulang ke Lamongan untuk di sekolahkan disana. Ibuku berfikir saya terlalu tega memondokkan ia yang masih sekecil itu…  Dengan “sok” bijaksana saya menjawab:”Ibu tiap anak punya jalan hidupnya sendiri-sendiri…  ini adalah juga ujian bagi kita untuk sabar dan ridlo dia mencari ilmu kebaikan masa depannya….”. Namun ibu memaksaku berjanji dan saya menyerah berkata:”Baiklah…  Ibu boleh mengambil Ninid jika dia sakit dan menangis tidak kerasan”.

Seperti film dramatis saat melihat Mbak Ninid ternayata sakit cacar….  Ibuku tergugu. Saya menahan air mata….  Apakah Mbak Ninid menangis? Sama sekali tidak…   Bahkan ketika saya berinisiatif membawanya pulang sampai ia sembuh Mbak NInid menolak dan  berkata;”Tidak Umi… Saya mau menjadi santri yang baik. Kasihan Pak Kiai sudah menjaga kami… Kalau saya pulang sekarang nanti Pak Kiai sedih…”.

Perjanjianku dengan ibu adalah jika mbak ninid kecil ini sakit dan atau tidak kerasan maka ibuku lebih berhak atas mbak  ninid daripada aku, ibunya…   Kenyataannya dia sakit tapi bersikeras tetap di pondok. Dan itu sakit cacar air… menular kan…? Dan itu sakit kulit…   Kami langsung teringat mitos sakit kulit sebagai tanda mondok diterima, hahahaha….   Kami terharu biru antara air mata tawa gembira dan air mata terharu atas sikap bocah 6 tahun ini dan tentu saja sedih (terutama ibu) karena gagal membawanya pulang…

Pada sambangan 2 minggu kemudian Mbak Ninid kecil masih tabah…..

Sambangan 4 minggu kemudian Mbak Ninid mulai berkaca kaca saat saya tinggalkan pulang dan mulailah hatiku bernyanyi nyayi: “Balonku ada lima rupa rupa warnanya hijau kuning kelabu merah muda dan biru… meletus balon hijau :DOR!!!!!!!!!!!! Hatiku sangat kacau………”.  Di tengah kekacauan hati ini kita mesti tertawa-tawa riang persis saat lagu ini dinyanyikan…. Ini lagu ketabahan anak-anak TK saudara-saudara! Mereka tertawa gembira saat hatinya kacau! Anak TK bisa masa emaknya tidak bisa?!!!

Sambangan 6 minggu berikutnya mata Mbak Ninid seolah bicara:”Umi…  kenapa kau buang aku disini…..?”

Sambangan 8 minggu kemudian Mbak Ninid bercerita tentang tangisan teman-temannya yang ingin pulang dan beberpa temannya yang tak kuat dan memutuskan boyongan pulang. Apakah Mbak Ninid ingin boyong? Ia mulai menjawab Iya semua temanku ingin boyong…..  Seketika itu saya sadar ini efek teman-temannya. Saya menjawab:”Kita fikirkan dulu ya…   Boyong juga kan harus ada alasan yang baik serta persiapan yang baik. Apakah Mbak Ninid punya alasan yang baik..? Apakah ada hal buruk yang terjadi atau diperbuat orang lain pada mbak ninid disini” Dia diam… lalu curhat tentang teman-temannya yang menurutnya suka mengganggunya. Dan kami diskusi tentang sikap-sikap yang baik…  Dan astaga, saya seperti bicara pada anak umur 12 tahun. Hari itu Mbak Ninid tidak jadi ingin ingin boyong….  Dia ingin hafal Al-Qur’an…..    MasyaAlloh…….   *emaknya termehek-mehek.

Satu hal yang sangat saya takutkan adalah kecukupan gizinya. Membayangkan ia hanya makan makanan sederhana lauknya tahu tempe ikan asin berganti ganti disitu situ aja. itu membuat saya browse dan diskusi dengan teman-teman ahli gizi dan akhirnya kudapatkan kesimpulan itu cukup. Kandungan gizi nabati itu cukup. Namun demi memuaskan batinku tiap sambangan kubawakan roti tawar, mentega, keju, susu dan meses coklat. Biar dia dapat tambahan gizi. Saya takut dia tidak tumbuh maksimal. Kakaknya sangat tinggi untuk ukuran usianya. Saya khawatir adeknya, Mbak Ninid kecil ini, tidak tumbuh maksimal. Namun apa yang terjadi? Beberapa waktu kemudian saya bertanya dalam sebuah acara sambangan. Rotinya dimakan sayang? habis dalam berapa hari? Dia menjawab;”Ya langsung habislah Umi…  Kan dimakan rame-rame….”    Haduh Ya Alloooooh…..   Batinku nelangsa….   Dia malah ngomong lagi;”Umi di pondok itu semua anak doyan roti. Masa aku makan sendiri….   Umi mau aku pelit?” …..emaknya langsung speechless…..  Kuputuskan biarlah itu dia bagi sesukanya. Alloh maha tahu tujuanku. Biarlah roti-roti itu membangun gizinya bersama teman-temannya dan semoga tiap bagian yang dia kasikan teman2nya itu membuat Mbak Ninid kecil penuh berkah dalam tiap asupan gizinya yang terbatas itu…   Sudah. Pasrah. Tawakkal. Titik. Ndak Usah dipikir!. Beneran gak dipikir……?    Saya tetap mikir sahabat sekalian… hiks hiks…. Yang benar adalah saya berusaha Pasrah dan Tawakkal. Berusaha meningkatkan Iman (Percaya) pada Alloh atas segalanya untuk Mbak Ninid kecil ini….  Itu yang benar.

Catatan Penting Dari Pengalaman 6 Bulan Terakhir Ini..

Memondokkan anak bukan hanya ujian bagi sang anak. itu juga ujian untuk kita.. hikmah yang saya catat banyak. Diantaranya adalah berikut:

  1. Belajar sabar untuk ta’at. Sabar bukan hanya pada saat ada musibah ternyata. Sabar juga adalah hal penting saat kita memilih untuk taat aturan di pondok. Ketika aturannya tak boleh pulang ya sudahlah ia tidak kita bawa pulang melainkan sesuai aturan. Saat kangen melanda saya juga tetap sabar menghitung kalender untuk berkunjung sesuai aturan.
  2. Belajar tawakkal. Bahwa ketika mata dan diri kita tak bisa menjangkau langsung maka kita wakilkan pada Alloh dalam do’a. Yakin bahwa Allohlah yang akan mewakili ini dan tentu itu lebih baik serta Paling baik. Adakah penjaga yang lebih baik dari penjagaan Alloh SWT.
  3. Belajar menyisihkan rezeki dengan tertib mengingat di pondok butuh biaya.
  4. Belajar semakin istiqomah berdo’a untuk anak-anak. Addu’a shilahul mu’min. Hanya doalah yang menjadi senjata ampuh kita.
  5. Belajar membangun hubungan yang baik dengan para wali santri lain yang sebelumnya tak saling kenal.
  6. Belajar memahami melalui mendengarkan ceritanya saat sambangan. Kira-kira apa saja yang mereka lakukan di pondok. Menghayati melalui cerita anak-anak kita ternayata indah sekali…
  7. Belajar agama dan al-qur’an lebih baik lagi agar setidaknya di masa awal ini kita tak kalah sama anak-anak kita…  Jika suatu saat mereka mengungguli kita pastikan bahwa kita telah pada level tinggi pengetahuan dan akhlaq kita sehingga mengungguli kita berarti: Luar Biasa…!!!  Aamiin…..

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk sahabat sekalian.

 

 

*Foto disini adalah foto perbandingan Mbak Ninid Usia 1 tahun dan pada saat Ulang tahun Ke 7. Satunya lagi adalah Foto saat kami sambang di minggu-minggu awalnya mondok.foto(1)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s