Monthly Archives: Februari 2016

SEKRETARIS DESA: ANTARA PENGELOLAAN ADMINISTRASI PARTISIPATIF DAN PELAYANAN PUBLIK DI DESA DALAM IMPLEMENTASI UU NO 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

Standar

Desa dan permasalahan umumnya

Implementasi UU Desa No 6 tahun 2014 menjadi semacam momentum “harap-harap cemas” setelah ueforia yang terjadi mengiringi penetapan UU tersebut. Harap-harap cemas dari banyak kalangan ini terkait terselenggaranya desa yang maju, kuat mandiri dan sejahtera sebagaimana hal tersebut menjadi tujuan dari implementasi UU tersebut apakah bias terselenggaran dengan baik mengingat banyaknya persolan yang relative rumit, melibatkan banyak hal serta telah berlangsung sangat lama. Sementara itu khalayak umum yang dibayangkan hanyalah besarnya transfer dana dari pusat untuk pemerintahan desa sebagaimana sebagaimana amanat UU ini. Setidaknya UU Desa ini juga adalah UU pertama yang secara spesifik mengatur desa dimana sebelumnya desa hanyalah salah satu bagian dari pasal-pasal dalam UU tentang pemerintah daerah.

Hal penting yang patut diapresiasi dari UU Desa ini adalah keberanian pemerintah untuk tegas secara dalam UU ini bagaimana kewenangan yang besar diberikan pada desa dan kemudian secara konsisten keuangan untuk desa juga diperjelas secara tekstual dalam rangka pelaksanaan besarnya kewenangan desa. Sumber-sumber keuangan desa menjadi melambung tinggi secara potensial sehingga ruang gerak pembiayaan pembangunan di desa juga akan berpotensi bergerak maju secara signifikan. Problem berikutnya adalah mampukah pemerintahan desa sebagai aparatur pemerintahan terbawah sekaligus pelaksana langsung dari implementasi UU Desa ini menangkap ruh tujuannya sekaligus melaksanakannya secara baik dan benar?

Bukan rahasia lagi bahwa persoalan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di desa relative rendah selain karena belum efektifnya penyelenggaraan system pendidikan nasional juga akibat selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka desa bukanlah prioritas pembangunan secara nyata. Prioritas pembangunan untuk desa selama itu baru pada level symbol dan pernyataan-pernyatan bersifat kampanye politik saja. Akibatnya SDM berkualitas berbondong-bondong ke kota bahkan SDM berskill rendah juga demikian dan mengisi pekerjaan sektor-sektor informal dan juga buruh-buruh di pabrik. Urbanisasi adalah fenomena umum bangsa Indonesia hingga saat ini dan merupakan salah satu problem besar yang harus dijawab oleh UU Desa ini dimana lapangan pekerjaan yang baik dan banyak juga tersedia di desa.

Desa juga adalah lokasi pusat kesenjangan ekonomi masyarakat dan kemiskinan. Data BPS bisa kita jadikan acuan dari hal ini yakni bahwa sampai bulan Maret 2015 persentase penduduk miskin di kota adalah 8,29% dan penduduk miskin di desa sebesar 14,21%.[1] Nyaris tiap tahun tidak pernah bergeser posisi kemiskinan di desa lebih tinggi daripada di kota. Artinya belum pernah terjadi pergerakan perekonomian yang turut menggerakkan masalah kemiskinan di desa menuju ke arah peningkatan kesejahteraan warga miskin di desa. Pertanian sebagai mata pencaharian umum di desa sampai saat ini belum mampu menjadi penggerak signifikan terhadap kesejahteraan umum warga desa. Pendapatan Asli Desa (PADes) juga secara umum sangat rendah sehingga roda pelaksanaan pemerintahah dan pembangunan di desa masih di dominasi pembiayaan yang bersumber dari pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat. Artinya dari sisi kemandirian pemerintan desa juga masih merupakan “pekerjaan rumah” pemerintah untuk bisa membina kemandirian ini.

Apresiasi lain yang patut kita berikan dari UU Desa ini adalah pengaturan struktur pemerintahan desa yang lebih lengkap dan terinci serta posisi posisi penting yang baru baik diseleksi secara professional oleh pemerintah melalui kementrian dan pemerintah daerah maupun yang dipilih oleh masyarakat melalui musyawarah desa dalam tata laksana pemerintahan desa seperti pendamping desa (PD), pendamping lokal desa (PLD), kader pemberdayaan masyarakat dst. Namun sebagai hal baru tentu saja ini menjadi transisi membingungkan yang jika tidak didampingi dan bina secara hati-hati akan menjadi preseden yang buruk pada tahun-tahun awal implementasi.

 

Transisi Struktur Pemerintahan Dan Ketertinggalan Budaya Kerja Organisasi Pemerintahan Desa

                UU 32 tahun 2004 mengatur bahwa posisi sekretaris desa adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Argumentasi awal dari kebijakan tersebut adalah agar sekdes menjadi pejabat karir yang lepas sama sekali dengan politicking di desa. Hal ini juga mengadopsi semacam posisi Sekretaris Daerah (Sekda) yang merupakan pejabat karir PNS sehingga relatif lebih bisa lepas dari politik. Tentu saja argumentasi tersebut tidak sepenuhnya benar sebab rahasia umum bahwa sekda adalah birokrat yang dipilih bupati dimana yang bersangkutan telah memiliki kedekatan atau memiliki investasi politik dalam pilkada maupun hal lainnya diluar pertimbangan teknis jabatan.

Agak berbeda problem yang terjadi di desa mengenai jabatan sekretaris desa. Posisinya sebagai PNS yang atasan langsungnya camat membuat sekdes memiliki jalur instruksi berganda antara camat dan kepala desa. Masalah kemudian timbul manakala terjadi perbedaan pendapat antara kades dan camat maka secara umum sekdes lebih mematuhi camat dan hal ini menimbulkan situasi pemerintahan desa yang tidak kondusif. Hal lain yang memicu tidak kondusifnya pemerintahan desa sebagai akibat dari posisi PNS dari sekdes ini juga menciptakan level keberanian tertentu dari sekdes sebagai PNS yang tidak bisa dipecat kades. Beberapa pertimbangan diatas kemudian membuat posisi sekdes di UU Desa ini dikembalikan sebagaimana dahulunya yakni dipilih oleh masyarakat melalui musyawah desa. Apakah ini akan lebih baik? Belum tentu sebab tetap saja ada kekhawatiran posisi ini menjadi politis dan rentan menjadi arena negosiasi kekuatan politik pasca pilkades atau bahkan jual beli kursi mengingat money politics telah demikian mengakar dimulai dari pilkades itu sendiri. Jadi memang pilihan yang sulit untuk mempersonifikasi posisi sekretaris desa dalam suatu system politik yang merit system belum menjadi budaya.

Namun UU Desa telah jelas mengarahkan sekdes dipilih melalui musyawara desa. Artinya ada periode transisi dari sekdes yang sudah terlanjur di PNS kan ini diganti menjadi sekdes yang dipilih dalam musayawarah desa. Banyak rilis dari pemerintah daerah yang akan menarik sekdes PNS ini untuk dimutasi ke SKPD yang memerlukan atau relevan. Ada juga desa yang sekdesnya kebetulan belum diangkat PNS namun tidak sedikit desa yang masih kosong posisi sekdesnya dan terpaksa menunggu turunnya juklak juknis yang jelas untuk pengadaannya. Untuk pengisian posisi ini kabar-kabar beredar hal tersebut akan diselenggarakan di bulan Juni tahun ini.

Sementara pengisian posisi jabatan sekretaris desa masih silang sengkarut masa transisi sesuai pengaturan baru undang-undang ini, reformasi birokrasi yang telah melewati gelombang dua tahapan Reformasi Birokrasi dalam grand design reformasi birokrasi di Indonesia 2010-2025 yang dicanangkan melalui Peraturan Presiden No 10 tahun 2010 sebagai acuan pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik sama sekali belum menyentuh pemerintahan desa sebagai struktur pemerintah terbawah yang menyelenggarakan pelayanan publik.[2] Pada gelombang dua yang direncanakan berakhir pada tahun 2014 ini reformasi birokrasi seharusnya telah mencapai sasaran sebagai berikut ini:

  1. Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN
  2. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik pada masyarakat
  3. Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi

Dengan area perubahan yang baik pada organisasi, tata laksana, peraturan perundang-undangan, sumber daya manusia aparatur, pengawasan, akuntabilitas, pelayanan publik, pola pikir (mind set), dan budaya kerja (culture set) aparatur.[3]

Tidak sulit bagi siapapun untuk menyatakan pendapat bahwa 3 (tiga) sasaran tersebut diatas belum atau bahkan sama sekali belum terwujud pada pemerintahan desa. Pemerintahan yang bersih dan bebas KKN di desa dihadapkan pada kenyataan money politics pilkades yang kemudian mewarnai hal-hal lain yang terkait di desa. Sasaran kedua yakni peningkatan kualitas pelayanan publik juga amat dipertanyakan mulai dari jam layanan kantor pemerintahan desa, kehadiran aparatur desa di kantor, hingga alur tata laksana dan penyelenggaraan layanan pada masyarakat yang juga belum memenuhi jaminan kualitas. Demikian juga pada sisi sasaran ketiga yakni meningkatnya kapasitas dan kapabilitas kinerja birokrasi pemerintihan desa juga masih berjalan sangat lambat.

Sementara saat ini (2016) telah memasuki tahun kedua implemetasi UU Desa meskipun di tahun pertama implementasinya masih sangat terbatas. Pemerintah desa mempunyai “pekerjaan rumah” yang sangat berat untuk mengejar ketertinggalan perubahan budaya kerja organisasi pemerintahan desa yang sesuai dengan target grand design reformasi atau akan tidak menjadi bagian dari organisasi pemerintahan yang mereformasi diri sesuai arah tersebut. Disinilah posisi sekretaris desa memiliki relevansi yang sangat kuat untuk menjadi titik struktur dengan daya dorong perubahan yang sangat signifikan untuk mewujudkan reformasi birokrasi pemerintahan desa yang baik.


Rendahnya Kapasitas Dan Kabilitas Pengadministrasian Partisipatif

                Kapasitas dan kapabilitas pemerintahan adalah masalah klasik yang hampir dalam semua kajian tentang pemerintahan hal ini muncul sebagai masalah. Terlebih pemerintahan di tingkatan desa yang telah mengalami keterbelakangan prioritas pembangunan fisik, sarana prasarana maupun sumber daya manusia. Sejak Indonesia merdeka pembangunan bersifat “kota oriented” menjadi salah satu faktor penyebab keterbelakangan pembangunan di desa.

Dalam suatu diskusi kecil terfokus (Focus Group Discussion) yang di lakukan penulis dengan beberapa Kades dan sekdes menghasilkan beberapa catatan penting tentang bagaimana sulitnya roda pemerintahan berjalan sebagai berikut:

  1. Kantor pemerintahan desa agak sulit untuk dibuat jam kerja layanan sebagaimana lazimnya kantor pemerintahan di level atasnya (kecamatan dan kabupaten) mengingat masyarakat desa bekerja pada mulai pagi hari. Mereka terbiasa mengurus urusan mereka yang terkait dengan desa dengan cara mendatangi rumah perangkat desa pada sore atau malam hari setelah bekerja.
  2. Aparatur pemerintahan desa kurang mendapatkan bimbingan teknis dan pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia baik yang berorientasi peningkatan kapasitas dan kapabilitas personal maupun peningkatan kualitas kinerja layanan publik di desa. Pelatihan-pelatihan tersebut dirapkan berasal dari kecamatan atau kabupaten. Gambaran ketidakmampuan aparatur ini sebut oleh peserta diskusi adalah banyak sekali sekdes yang menyalakan computer saja tidak bisa. Lalu bagaimana urusan surat menyurat? Ada yang menjawab bahwa mereka pergi ke warnet untuk minta diketikkan penjaga warnet sekaligus memprint dan memperbanyak jika dibutuhkan. Sungguh ironis.
  3. Daya inisiatif yang rendah di hampir semua aparatur pemerintahan desa mengingat selama ini terbiasa dengan metode instruksi. Disamping itu juga penetapan standar prosedur kegiatan pelaksanaan pemerintahan (standar operating procedure) juga belum tersusun dengan baik. Pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) yang seperti ini sangatlah “terbelakang” dari gegap gempita reformasi birokrasi yang melayani public secara prima.
  4. Dan tentu saja masalah klasik lainnya adalah rendahnya gaji dan insentif yang diterima mereka menyebabkan adanya pembenaran dari mereka untuk mengutamakan pekerjaan lainnya yang menambah penghasilan ekonomi untuk keluarganya.

Sementara itu, UU Desa ini memberi amanat implementasi yang membutuhkan sokongan birokrasi pemerintahan desa yang berkualitas dengan kapasitas dan kapabilitas personal dan lembaga yang memadai seiring besarnya kewenangan yang diberikan pada pemerintah desa serta besarnya kapasitas transfer keuangan ke pemerintah desa yang menyertai kewenangan tersebut. Beberapa hal teknis yang bisa disimpulkan antara lain:

  1. Kapasitas keuangan yang mendadak sangat besar dikhawatirkan menjadi boomerang jika tanpa pembinaan yang baik. Mereka khawatir menjadi kasus korupsi yang bukan karena betul-betul korupsi melainkan kesahanan administrasi.
  2. Prinsip partisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa bukanlah hal mudah terutama mengadministrasikan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Menghadirkan masyarakat secara partisipatif dalam musayawarah perencanaan pembangunan misalnya, maka hal tersebut sebenarnya sudah harus disertai kapasitas dan kapabilitas administrasi pemerintahan desa dalam mengelola partisipasi tersebut. Pendapat dan usulan masyarakat pastilah banyak dan kemudian bagaiaman aparatur desa telah menyiapkan bahan untuk arah pembahasan yang sesuai RPJMDesa, penyususnan RPJMDes itu sendiri, serta bagaiamana argumentasi dan arah yang rasional dari penetapan prioritas pembangunan tersebut juga membutuhkan skill yang tidak main-main sebab jika salah menangani sangat rentan menjadi konflik di desa. Kita tahu bahwa manajamen konflik di desa belum maju sehingga sedikit saja ada pemicu konflik akan memunculkan berbagai kerumitan konflik yang sebelumnya telah ada terutama yang terkait dengan konflik politik seputar pilkades.
  3. Posisi sekretaris desa sangat penting dalam hal pengadministrasian yang baik ini. Hal tersebut terkai dengan tanggungjawabnya untuk menggerakkan kinerja dan tanggungjawab kesekretariatan di desa.

                                                                                                

Pada semua titik ini adalah krusial dan melibatkan keahlian seorang sekretaris untuk mengelola dokumen dengan baik. Disamping itu seorang sekretaris desa juga harus mampu mengelola sumber daya manusia yang terlibat sebagai pelaksana APBDes ini. Pada saat seorang sekdes mengkompilasi RKA dalam rangka rangka menyusun APBDes dimana proses ini tak terpisah dari penyusunan RKP Desa, ia melakukan banyak hal dengan skill tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam PP 114 dengan gambaran tanggung jawab sebagai berikut:

  1. Sekdes adalah ketua tim penyusun RKP Desa
  2. Sekdes juga harus memimpin penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dengan melibatkan pelaksana kegiatan
  3. Memeriksa dan merekomendasi RAB yang diusulkan oleh pelaksana
  4. Menyiapkan ranperdes APBDes, Menyiapkan Ranperdes APBDes jika dibutuhkan dan juga menyiapkan ranperdes pertanggungjawaban APBDes
  5. Menyususn rancangan Keputusan Kepala Desa terkait pelaksanaan APBDes
  6. Mendokumentasi dengan baik keseluruhan prosesnya

Peran pemerintah kabupaten melalui Camat dan Bupati dalam hal ini sangatlah penting sebagaimana diatur yakni menjalankan fungsi evaluasi, pembinaan dan pengawasan dalam implementasi UU Desa ini.

Pentingnya Skill Bermitra Strategis Dengan Para Implementator UU Desa

Ada beberapa posisi baru di desa yang diatur dalam UU Desa ini adalah posisi pendamping desa yang berasal dari unsur pendamping professional, Kader Pemberdayaan masyarakat dan pihak ke 3. Pendamping professional yang berkedudukan di desa adalah Pendamping Lokal Desa (PLD) dan yang di kecamatan adalah pendamping desa (PD). Sedangkan Kader Pemberdayaan Masyarakat dipilih melalui Musyawarah Desa (Musdes). Adapaun pihak ke 3 hadir jika dibutuhkan secara relevan dari berbagai kalangan misalnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Perguruan tinggi, Organisasi Kemasyarakatan, perusahaan dan lainnya.

Kegiatan pendampingan adalah asistensi, pengorganisasian, pengarahan dan fasilitasi desa. Ini diatur dalam permendesa nomor 3 tahun 2015 tentang pendampingan desa. Adapun tujuannya adalah Tujuan pendampingan Desa dalam Peraturan Menteri ini meliputi:

  1. Meningkatkan kapasitas, efektivitas dan akuntabilitas pemerintahan desa dan pembangunan Desa;
  2. Meningkatkan prakarsa, kesadaran dan partisipasi masyarakat Desa dalam pembangunan desa yang partisipatif;
  3. Meningkatkan sinergi program pembangunan Desa antarsektor; dan
  4. Mengoptimalkan aset lokal Desa secara emansipatoris.

                Peran dan fungsi para pendamping yang akan melakukan fungsi pendampingan di desa ini adalah suatu peluang strategis yang harus dipahami dan dioperasionalkan secara harmonis oleh pemerintahan desa. Dari empat kewenangan desa yakni: penyelenggaraan pemerintahan, pembinaan masyarakat, pembangunan dan pemberdayaan hanya dua yang akan/boleh mendapatkan bantuan pendampingan dari para pendamping yakni kewenangan pembangunan dan kewenangan pemberdayaan saja.

Para pendamping ini sebenarnya adalah “energy” positif bagi pemerintahan desa sehingga jangan sampai terjadi konflik kewenangan, konflik kepentingan, maupun ketidaksesuaian dan ketidakharmonisan dalam penyelenggaraan pemerintahan di desa. Nah, terkait dengan hal tersebut seorang sekretaris desa harus mempunyai pemahaman yang benar tentang apa, siapa dan bagaimana para pendamping ini berperan. Perlu juga arah strategis agar bagaimana pola kemitraan yang terbangun dapat di kelola serta dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintahan desa. Ada banyak hal yang bisa digali dari hal ini berdasarkan problem khas desa serta arah kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah desa.

Sekretaris Desa Dan Ujung Tombak Pelayanan Prima Di Desa

                Sebagaima kita ketahui bahwa pelayanan publik yang baik adalah bagian penting dari reformasi birokrasi di Indonesia. Butuh kerja keras untuk mewujudkan layanan pemerintahan desa dengan standar layanan prima. Sebuah perusahan butuh waktu panjang dan perjenjangan pelatihan untuk karyawan mereka untuk sekedar melatih bagaimana sikap dalam melayani yang baik (attitude), bagaimana memperhatikan pelanggan (customer) secara baik (attention) serta bagaimana tindakan (action) terbaik yang sebagaimana dibutuhkan pelanggan serta sesuai dengan standar operating procedure (SOP) perusahannya. Demikian gambaran kecil tentang bagaimana pelayanan prima itu bukan perkara sepele dan mudah dilakukan sebagai budaya kerja sebuah organisasi. Terlebih perusahan punya orientasi keuntungan (profit oriented) sedangkan pemerintahan desa tidak selalu berorientasi pada keuntungan namun lebih besar pada pelayanan umum (public service).

Lagi-lagi peran Sekretaris Desa sebagai penanggungjawab kesekretariatan dan perkantoran di desa menjadi sangat relevan. Pehaman yang baik serta skill yang cukup seorang sekdes menjadi penting agar dapat merubah budaya kerja organisasi pemerintahan desa sebagaimana road map refrmasi birokrasi yang melayani publik ini. Tidak mungkin desa dilepaskan begitu saja untuk mencapai target layanan prima pada public sebagaimana road map reformasi birokrasi tersebut. Apalagi sudah jelas desa pada posisi yang tertinggal. Kita kembali pada amanat undang-undang bahwa ada Camat dan Bupati yang punya peran mengevaluasi, membina dan mengawasi. Kemudian apa peran Gubernur untuk melakukan sosialisasi, bimbingan teknis tentang standar, procedure dan kriteria dalam implemetasi UU Desa ini dan juga ada pemerintah pusat melalui kementrian yang akan menetapkan norma, aturan, standard an kriteria yang relevan.

 

[1] http://bps.go.id/brs/view/1158

[2] Peraturan Presiden no 10 tahun 2010 tentang grand design reformasi birokrasi 2010-2025

[3] Lampiran Perpres No 10 tahun 2010 tentang grand design reformasi birokrasi 2010-2025

Mbak Ninid jadi imam..

Standar

*Cerita Di Hari Sambangan

“Umi, sekarang aku Sdh tidak pernah lagi sholat Dhuhur sambil ketiduran..”. Begitu ia mengawali ceritanya hari ini. Hari ini hari sambangan yakni hari ia boleh dijenguk keluarga sampai jam 5 sore. Jadi ia kubawa pulang dan kukembalikan petang hari ke pondoknya. “Wah hebat sekali akhirnya mbak Ninid berhasil mengerti sholat itu harus serius menghayati bacaannya… Alhamdulillah”. “Bukan gitu Umi.. Masalahnya sekarang aku ditunjuk sebagai Imam untuk sholat Dhuhur biar gak tidur pas sholat….”. *Umi’e langsung ngakak… Memang kalau Dhuhur Ninid terbiasa tidur siang jadi ngantuk nya justru pas Dhuhur itu. Dan kebetulan untuk Dhuhur sholatnya jamaah di kamar karena pulang sekolah. Nggak apa apa nak Umi tetap bangga pada ngantu’anmu itu… Semoga ngantu’anmu itu selalu memberkahi hidupmu juga… Tak henti2 aku ketawa hingga malam ini tiap ingat percakapan itu.

Foto Maratul Makhmudah.
Masalah dan solusi
Saya sungguh tak membayangkan bahwa ia dijadikan pemimpin sholat jamaan (imam) oleh teman2nya itu bukan karena prestasi namun supaya tidak jadi masalah. Sebagai ibu tentu saya paham masalah tersebut. Mbak Ninid kecil ini memang sering tertidur ditengah sholat juga tertidur di tengah membaca maupun tertidur di tengah ngaji. Bahkan sampai hari ini kalau dia pulang dan sulit disuruh tidur makan akan saya ajak ngaji ayat-ayat panjang dari surat panjang dimana saya tau dia akan tertidur di tengah-tengahnya.
Terbayang dalam pikiranku bagaimana ia berjuang menahan kantuknya yang hebat dan terus berusaha bertahan untuk fokus menyelesaikan sholatnya dengan baik tanpa tertidur. Sungguh itu solusi kanak-kanak yang didasari pikiran sederhana sebagai teman. hehehehe….
Hari itu juga bercerita tentang evaluasi mengaji al-qur’annya yang dipandang kurang memuaskan untuk tajwidnya. Ya wajarlah memang membaca sesuai tajwid itu bukan perkara mudah untuk usianya. Sebagai Ibu saya hanya mampu bilang “Tetap semangat ya sayang….”.

Do’a anak-anak yang mengancam kita para orang tua…

Standar

“Ya Alloh… Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku sebagaimana mereka mengasihiku di masa kecilku..” Malam itu adalah maghrib yang syahdu.  Anakku, Mbak Ninid kecil, membaca do’a ini sehabis shalat dalam bahasa Indonesia sambil mengerling mata tengil padaku. Dia memang sering tengil dengan logika-logika cerdas yang tengil. Mukanya terlihat semacam percampuran antara cerdas, polos, benar sekaligus nggregetno meskipun benar.. Itulah yang saya sebut tengil.

Tiba-tiba saya merasa do’a itu adalah warning. Doa tersebut adalah ancaman! Simaklah baik-baik. Do’a itu adalah peringatan bahwa anak-anak  kita dibimbing Alloh melalui Al Qur’an dalam doa tersebut agar kita mengasihi mereka saat mereka kecil. Kasih sayang kita saat mereka kecil ini  akan jadi ukuran dalam do’a dalam mereka seumur hidup mereka untuk kita. Mereka memohon Alloh SWT menyayangi kita seperti kita menyayangi mereka saat mereka kecil… Kamaa robbayani shoghiroo… Hati-hatilah sahabat. Sekali lagi hati-hatilah sahabat…  Anak-anak kita mendoakan kita, seumur hidup mereka, agar Alloh mengasihi kita sebagaimana kita mengasihi mereka saat mereka kecil…

Pertanyaan besarnya adalah ada apa dengan anak-anak kita saat mereka masih kecil? Kenapa Alloh SWT menyelipkan persyaratan berlakunya do’a anak kita untuk kita itu adalah senilai kasih sayang kita pada mereka saat mereka masih kecil? Dan itu berlaku seumur hidup hingga kita wafat…? Bagaimana jika kita orang tua tidak menyayangi saat mereka kecil? Bagaimana jika kita “khilaf” di masa kecil mereka dan baru tersadar saat mereka sudah besar dan atau tak tersadar hingga wafat tanpa pernah mencurahkan kasih sayang pada anak-anak kita…? Lalu saat mereka kecil itu berarti mulai kapan hingga usia berapa? MasyaAlloh….  Alloh SWT demikian detil dalam kebijaksanaanNya… Subhanalloh wal hamdulillah…

ADA APA DENGAN MASA KECIL MANUSIA?

Pernah mendengar lagu nasida ria zaman dulu:”belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai melukis diatas air…”

Memang pembahasan kita bukan tentang belajar namun lagu diatas bisa memberi kita gambaran bagaimana masa kecil itu adalah masa yang sangat penting. Masa dimana seperti mengukir diatas batu yang berarti akan sangat membekas seumur hidup seorang anak.

Beberapa catatan penting dari banyak hal yang saya baca tentang masa kecil anak kita adalah sebagai berikut:

  1. Alloh SWT dan kanjeng nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk berbuat baik pada anak-anak kita sebab anak-anak adalah titipan/amanah Alloh dan tidak semua orang diberi amanah ini. lihat suar Assyura 49-50. Bahkan Alloh menjamin rezeki anak-anak kita dalam al-an’am 151 sebab saat kita memiliki anak maka Alloh menanggung rezeki untuk kita dan anak kita. Secara lebih tegas lagi agar ibu menyusui dan ayahnya memberi makan dan pakaian pada ibunya anak secara baik serta mewariskan harta secara baik pula dalam dimana Alloh menegaskan sifatnya yang Maha Melihat dalam hal ini melalui surat Al-Baqoroh ayat 233 :

    وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {البقرة: 233}

    Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah: 233).

  2. Masa kecil anak-anak adalah dasar dari watak, sikap, cara berfikir dan berperilaku. Ini banyak dibuktikan oleh studi-studi ilmu psikologi yang salah satunya saya copy melalui sebuah link dibawah tulisan ini.
  3. Masa kecil adalah periode emas pertumbuhan yang membutuhkan sentuhan kasih sayang untuk menstimulasi otak serta emosi.
  4. Dan tentu saja anak-anak adalah makhluk yang lemah secara fisik maupun psikis sehingga kasih sayang itu juga berarti perlindungan dari segala sesuatu di luar diri anak tersebut yang belum mereka pahami karena mereka masih kecil.

Semua hal diatas adalah beberapa alasan yang bisa saya kemukakan untuk kita bisa memahami betapa pentingnya kasih sayang kita pada anak-anak kita sehingga Alloh SWT memberikan pertanda yang tegas dalam do’a tersebut bahwa kasih sayang itulah yang jadi ukuran dalam do’a anak-anak kita untuk kita untuk kasih sayang Alloh SWT pada kita.. Subhanalloh betapa indahnya cara Alloh mengingatkan serta menghargai kasih sayang kita pada anak-anak…

Saat anak kita mendoakan kita tidakkah ada yang merasa terancam bahwa kita masih kurang baik dalam cara kita menyayangi anak-anak kita…? Ingatlah Alloh akan menyayangi kita sebagaimana atau sederajat dengan cara kita menyayangi anak-anak kita….

bagaimana dengan orang tua yang dzalim pada anaknya sendiri?

baiklah…

Banyak kasus orang tua menelantarkan anaknya. Banyak kasus karena bercerai salah seorang dari orang tua anak (dan entahlah kenapa kebanyakan ini dilakukan seorang ayah…) kemudian mengabaikan kewajiban terhadap anak-anak bahkan ada pula yang menggelapkan harta bersama maupun harta yang merupakan hak anaknya…

Mari kita kaji sejenak do’a: “Ya tuhan ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku serta sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku di masa kecilku…”

Dalam ilmu mantiq atau ilmu logika di kenal mafhum muwafaqoh dan mafhum mukholafah yang ini juga menjadi salah satu metode memahami hukum dalam usul fiqh maupun fiqh praktisnya. Secara praktisnya mafhum muwafaqoh yakni kesesuaian makna dari suatu lafadz. Artinya dalam do’a tersebut secara sesuai anak-anak kita memohonkan ampun untuk kita serta memohon agar Alloh menyayangi kita sebagaimana kita menyayangi mereka saat mereka kecil. Ini sederhana sekali yakni tentang sesuai lafadz. Lalu mafhum muwafaqoh berarti kita bisa berfikir bagaimana jika orang tua tidak menyayangi anaknya? Bagaimana jika orang tua tidak memenuhi hak anak-anaknya? Bagaimana jika justru ada orang tua yang dzalim terhadap hak anak-anaknya bahkan menggelapkan hak anak-anaknya…? Cobalah berfikir secara mukholafah dari kalimat dalam doa tersebut berikut ini:”..sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecilku…”. Dan syarat sayang yang sepadan sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecilku itu bukanlah ide anak kita, Itu adalah arahan langsung dari Alloh SWT melalui Al-qur’an dimana do’a tersebut abadi dalam alqur’an. Lihatlah surat Al-Isro’ ayat 24 yang menjadi sumber do’a tersebut…

Jadi….  Kita para orang tua janganlah menuntut anak kita berbakti pada kita sebelum kita telah yakin menunaikan kewajiban kita serta menunaikan dengan baik hak-hak mereka.  Semoga kita menjadi orang tua yang baik dan sangat baiiiiik kasih sayang kita pada anak-anak kita sehingga Allohpun menyayangi kita sepadan dengan kasih sayang kita pada mereka. Wallahu a’lam bisshawaab.

Semoga bermanfaat….

foto 2(1).JPGfoto 1(1).JPG

 

 

 

 

 

Berikut saya copy pendapat serupa pendapat saya ini dalam perspektif berbeda dari situs  http://umymijerf.blogspot.co.id/2012/08/hubungan-pengalaman-masa-kecil-dengan.html

ScienceDaily (2 Agustus 2012).
Hubungan sosial yang baik ternyata lebih berperan dalam menentukan kesuksesan seseorang ketika dewasa dari pada kemampuan akademik.

Menurut Professor Craig Olsson dari Deakin University dan Murdoch Children Research Institute di Australia, dan rekan-rekannya, hubungan sosial yang positif di masa kecil dan remaja merupakan kunci kesuksesan kelak ketika dewasa. Sebaliknya, prestasi akademik tampaknya memiliki pengaruh yang kecil terhadap kesuksesan seseorang kelak ketika dewasa.

Kita sudah mengetahui tentang bagaimana aspek masa kanak-kanak dan perkembangan remaja, seperti nilai akademik dan sosial- emosional. Disini ada keterkaitan antara didikan yang positif, keterlibatan sosial terhadap tingkat kepercayaan diri.

Sebuah studi di Selandia baru yang dilakukan oleh Olsson dan tim-nya menganalisis data  804 orang selama 32 tahun, yang berpartisipasi dalam Studi Dunedin Multidisiplin dan Pengembangan Kesehatan (DMHDS). Mereka meneliti prestasi akademik dan sosial masa kecil terhadap perkembangan ketika dewasa.

Secara khusus, mereka mengukur hubungan antara keadaan keluarga di masa kecil, hubungan sosial di masa kecil, perkembangan bahasa di masa kecil, hubungan sosial di masa remaja, prestasi akademik di masa remaja, dan kesuksesan di masa dewasa. Hubungan sosial di masa kanak-kanak diperoleh dari hubungan dengan orang tua dan guru, pergaulan, dan tingkat kepercayaan diri pada anak. Keterikatan sosial pada masa remaja ditunjukkan dari orang tua, teman sebaya, sekolah, orang-orang terdekat, serta partisipasi dalam kelompok pemuda dan olah raga.

Para peneliti menemukan hubungan erat dari masa kanak-kanak, hubungan sosial saat remaja dengan kesuksesan ketika dewasa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan sosial yang positif dari kecil sampai dewasa. Disisi lain, dari segi perkembangan bahasa dengan prestasi akademik menunjukkan kurang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan dan kebahagiaan seseorang ketika dewasa.

Menyikapi Tes IQ: Lebih penting tetap selalu memotivasi anak….

Standar

 

Beberapa hari lalu Kak Nay pulang sekolah dengan bangga membawa hasil tes IQ nya yang menurut skala IQ(wechsler) tergolong diatas rata-rata yakni senilai 113. Skala ini membuat beberapa kategori mulai dari Moron (50-59), Borderline (60-79), Lambat belajar (80-89), Rata-rata bawah (90-99), rata-rata (100-104), Rata-rata atas (105-109), Diatas rata-rata (110-119), Superior (120-129), Berbakat (130-139) dan jenius untuk diatas 140. Tentu sebagai ibu saya tetap bersyukur atas hasil tersebut namun terasa ada yang kurang pas dalam hati dan pikiran saya atas rasa bangga yang tersirat di wajah anandaku tercinta…

Saya bertanya apakah kak Nay bangga dengan perolehan tes IQ tersebut? Ia menjawab bahwa menurut teman-temannya hasil testnya itu keren. Adakah temannya yang hasil testnya kurang memuaskan. Ia jawab ada. Bagaimana sikap anak tersebut? Ia jawab sedih. Bukannya hasil tes ini rahasia? Ia menjawab bahwa memang tertulis rahasia tapi semua temannya saling sharing, saling lihat, hasil tes tersebut. Begitulah anak-anak..

Siang itu saya berdiskusi dengan kakak bahwa hasil tes IQ tersebut tidaklah menjadi satu-satunya ukuran dari keberhasilan seorang anak di masa depan sebagaimana IP (Indeks Prestasi) yang mengukur prestasi akademik mahasiswa juga bukan satu-satunya ukuran dari keberhasilan seorang mahasiswa di masa depan. Ada banyak faktor yang menjadi pendorong keberhasilan seseorang di masa mendatang seperti kerja keras, belajar yang tekun, berdoa dengan sungguh-sungguh, kreatif, pandai membaca peluang, membangun relasi yang banyak dengan berbagai pihak dan lain sebagainya. Artinya, anak yang hasil test nya kurang memuaskan tersebut tetap saja punya peluang besar untuk menjadi pribadi sukses di masa mendatang.

SETIAP ANAK ISTIMEWA

Seingat saya ini bukan satu-satunya tes masuk ke sekolah di mana lembaga tertentu mengajukan proposal kerjasama untuk tes-tes yang mengukur kepribadian, intelegensia, bakat, bahkan ramalan masa depan. Saya ingat dulu juga pernah ada test finger print saya lupa istilahnya dimana dilakukan prediksi berdasarkan teori tertentu dari finger print seorang anak disisi mana bakat dan kemampuan anak itu menonjol. Saya sudah mencari dokumen hasil tes ini milik Mbak Ninid semasa masih TK dan saya ingat hasilnya Mbak Ninid seimbang otak kanan dan kirinya sama-sama aktif. Memang waktu itu Si Ninid bisa menulis dengan tangan kanan dan sekaligus tangan kiri. Bahkan dia bisa menulis bersamaan tangan kanan dan kirinya. Namun jujur saya tidak terlalu menganggap penting tes-tes tersebut. Bagi saya tes-tes tersebut hanyalah hore-horenya anak-anak sekolah.

Test-test tersebut di satu sisi ini menawarkan “prediksi” dari potensi anak agar potensi-potensi telah dikenali sehingga akan lebih mudah mengarahkan anak sesuai bakatnya. Di sisi lain ukuran-ukuran dalam test tersebut justru berpotensi juga untuk  menjudgemen kemampuan anak-anak dalam batasan-batasan kategori hasil test tersebut.  Menurut saya jika disikapi secara kurang bijaksana maka akan berbahaya dan justru kontraproduktif sebab mengungkung pikiran dan kreatifitas anak dalam skor tersebut.

Saya percaya bahwa manusia adalah makhluk belajar dimana Alloh SWT memberi potensi yang relatif sama untuk dikembangkan. PBeberapa potensi tersebut antara lain:

  1. Potensi utama adalah potensi fitrah yakni terlahir sebagai manusia dg jiwa yang suci (yuuladu ala fitroh). Karenanya kita mesti yakin bahwa pada dasarnya tiap manusia itu baik.  Nabi bersabda dalam sebuah hadits: kullu mauludin yuuladu ala fitroh. Maka otomatis anak-anak kita pun pada dasarnya adalah anak-anak yang baik.
  2. Potensi Mengembangkan diri.  Dalam sebuah ayat yang sangat terkenal tentang penciptaan manusia di firmankan oleh Alloh SWT melalui alquran: wallahu akhrojakum mim butuuni ummahatikum la ta’lamuna syaia wa ja’ala lakumussam’a wal abshooro wal af’idah laallakum tasykuruun (an-nahl: 78). Disini kita ditunjukkan bahwa saat kita lahir kita semua tidak tau apa-apa namun Alloh SWT membekali kita fungsi pendengaran, penglihatan, dan  akal budi supaya kita bersyukur. Ini mencerminkan manusia mengembangkan dirinya dari fungsi-fungsi tersebut bahkan jika salah satu fungsi tersebut tidak maksimal akibat ketulian atau kebutaan ternyata akal budi ini bisa tetap dikembangkan dengan metode-metode tertentu. Disinilah kita bisa menumpukan keyakinan bahwa IQ, EQ, SQ dan Q Q yang lainnya itu bertumbuh seiring bagaimana manusia memaksimalkan potensi tersebut.
  3. Potensi posisi sebagai kholifah terhadap alam/lingkungan. Disini manusia bisa memaksimalkan potensi sebagai kholifah yang menjaga melindungi serta mengembangkan kebaikan di dunia namun jika potensi ini berkembang secara salah juga bisa menjadi perusak. Ada dua dalil yang menunjukkan potensi saling berbenturan ini yakni wa idz qoola robbuka lil malaikati inni jaailun fil ardli kholifah VS dhoharol fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aydinnaas.

Artinya, selama manusia masih hidup segala potensi itu bisa ditumbuhkan dan dikembangkan sejalan dengan pemikiran dan bagaimana lingkungan kondusif diciptakan untuk mendukung hal-hal tersebut diatas.

MAKA BIJAKSANA MENYIKAPI BERBAGAI TES ITU PENTING…

Dasar pemikiran qur’an dan hadits diatas penting untuk keseluruhan periode kita menjadi orang tua yang berkewajiban mendidik anak-anak kita. Catatan penting dari kejadian ini bagi saya adalah:

  1. Jangan jadikan hasil test IQ (maupun test lainnya) sebagai patokan dari pikiran kita dalam mendidik anak-anak kita. Itu hanyalah indikasi manusiawi yang sangat mungkin salah. Lebih baik kembali pada dasar bahwa semua anak ponya potensi yang besar sebagaimana ayat dan hadits diatas.
  2. Tetap menghargai tes tersebut sebagai buah karya dari pemikiran tertentu dalam suatu disiplin ilmu tertentu khususnya (mungkin) psikologi.
  3. Percaya bahwa hasil-hasil test itupun juga dipengaruhi oleh lingkungan dan usaha belajar anak-anak kita.
  4. Tetap memberikan semangat dan menghargai berbagai hasil test dari semua teman-temannya tersebut.

Semoga sharing ini bermanfaat….  Aamiin…..