Monthly Archives: Agustus 2016

Memilih Berhenti Berkarir Dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Standar

Wanita Bekerja Dan Ibu Rumah Tangga

Saya bersyukur bahwa sejak dulu selalu memuliakan pilihan hidup para wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Meskipun saya dahulu  seorang aktifis yang memilih memiliki karir namun sejak dulu tak pernah memandang sebelah mata posisi ibu rumah tangga.

Perdebatan tentang mana yang baik menjadi wanita bekerja ataukah ibu rumah tangga selalu menjadi biang keributan di Media Sosial. Sebenarnya dua-duanya baik manakala keseimbangan bisa dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Bukan hanya salah satu pihak sehingga hal ini membutuhkan kesepakatan yang sungguh-sungguh jujur satu sama lain tentang keadaan  yang diinginkan oleh masing-masing pihak.

Ibu rumah tangga berarti fokus pada rumah tangga namun secara ekonomi mungkin (tidak selalu) ada ketergantungan pada suami. Sebaliknya Ibu bekerja berarti memiliki kemandirian ekonomi namun harus bisa membangun waktu berkualitas menggantikan yang harus berbagi waktu untuk pekerjaan di luar. Tentu ada variasi-variasi pilihan dalam mengatur hal ini namun komitmen adalah hal utama.

Pernah berkarir di partai politik, anggota DPRD, wirausaha dan kemudia menjadi dosen dan konsultan pemerintah daerah tidak membuat saya canggung ketika tahun ini, 2016, saya memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Mencurahkan waktu untuk suami, anak-anak, dan menjadi bagian dari sistem sosial suami semata.

Hampir Segalanya Adalah Pilihan,  Pilihan Menjadi  Jalan Hidup Dan Selebihnya adalah Taqdir

Sekitar Tahun 1998 saya masih sekolah di Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan masih seneng-senengnya jadi pengurus OSIS  kami hendak menyelenggarakan sarasehan budaya yang mengundang KH Mustofa Bisri namun menjelang hari H beliau ada udzur dan minta maaf tidak bisa hadir. Sebagai panitia kami sedih bukan kepalang.

Dalam keadaan sedih itu kami “ditimbali” (dipanggil) KH Nashir Fattah pengasuh pondok Al Fathimiyyah dan memberi kami nasihat yang seumur hidup tidak  mungkin dilupakan oleh angkatan kami yang bernama “FABANA” sebab kami abadikan nasehat tersebut dalam stiker angkatan berlatar hitam bertinta perak. Nasehat tersebut pendek namun sangat mengena: ana uriid anta turiid wallahu yaf’alu ma yuriid. Maknanya secara bebas saya intisarikan sebagai berikut: “aku ingin kamu juga ingin namun Alloh-lah yang akan terwujud keinginannya”. Stiker itu berasal dari tulisan tangan mbak Umi Hanik yang seingat saya saat ini menjadi pengasuh sebuah pesantren bernama Miftahul Huda di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah.

Dalam penjelasannya Yai Nashir Fattah mengibaratkan jika dipersentese kerja kaeras kita bisa saja kita prediksikan 99% sukses terlaksana namun ada 1% takdir Alloh. dan 1% inilah yang akan terwujud. Jika 1% tersebut sudah menunjukkan wujudnya maka percayalah (berimanlah sebab iman artinya percaya) bahwa itu yang terbaik dari Alloh. Akan ada hikmah bagi orang yang beriman. Selamilah ilmu hikmah dari keseluruhan hidup kita. Hari itu narasumber digantikan oleh almukarrom Gus Ishomuddin Hadziq yang ternayata juga luar biasa kedalaman ilmu memberi pencerahan pada kami tentang kitab kuning dalam sarasehan budaya pesantren hari itu.

Kejadian itu adalah penanda penting bagi saya tentang kegagalan. Siapa yang tak ingin hidupnya hanya bahagia saja…? namun mana mungkin dalam hidup ini kita hidup tanpa masalah, tanpa ada sama sekali kegagalan, tanpa ada sama sekali kesedihan. pasti ada banyak hal yang harus kita alami dan kita sikapi dan kemudian sikap kita itulah yang menjadi: jalan hidup. Artinya jalan hidup ini kita tapaki sebenarnya dengan arahan dari alam sadar kita yakni proses berfikir. Di hari lain saya punya perspektif baru  bahwa kesedihan untuk memperdalam iman dan kebahagiaan untuk memperbesar rasa syukur.

Saat kita remaja mata kita memandang segala sesuatu mungkin dalam “keremajaan” pula. Yakni dalam situasi transisi kanak-kanak tanpa beban tanggung jawab dan dewasa dengan segala tanggungjawab sebagai suatu konsekwensi. Saat dewasa beberapa dari kita baru kita menyadari ada banyak kesalahan atau bahkan kebaikan yang tak sengaja kita lakukan dan menjadi pembuka jalan maupun penutup jalan kita di masa kini. Namun selalu ada pilihan jalan dalam hidup ini. Banyak jalan menuju Roma dan tentu saja pasti lebih banyak lagi jalan menuju surga.

Saya berasal dari keluarga kampung dengan segala macam kebiasaanya yang “ala kampung”. Saat SD saya juga merangkap sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada siang harinya sebab di masa saya sekolah SD masuk pagi sedangkan MI masuk siang. Malamnya setelah maghrib sekolah diniyah di langgar atau surau milik budhe saya di kampung. Selepas SD/MI abah saya memondokkan saya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan saya bertempat di PPP Annajiyah Bahrul Ulum. Kalau anda ke Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang gtermasyhur itu anda akan bertemu dengan banyak asrama didalamnya serta banyak sekali pengasuh/Kiai yang mengampu masing-masing tempat. Saya masuk MTsN Tambakberas Jombang lalu selepasnya dengan banyak berdebat dan diskusi dengan abah akhirnya kami putuskan sekolah di MMA tersebut. Dan saya merasa dari situlah mulainya sebuah jalan hidup kesadaran dimulai. Sungguh saya sangat bersyukur pernah sekolah disana. Sebuah sekolah bersahaja yang kurikulumnya mayoritas agama berbasis kitab kuning (entah berapa persen) namun tetap mendapat ijazah umum (kami sering guyon ijazah nunut) sehingga kami tetap bisa melanjutkan kuliah secara normal.Sebagaimana normalnya anak SMA biasa saya berhasil lolos UMPTN masuk ke Universitas Airlangga (UA) surabaya yang konon pada zaman tersebut tidak mudah sebab hanya ada satu jalur seleksi yakni UMPTN itu.  Begitu juga S2 saya lakoni di Universitas Airlangga dan tahun ini, 2016, saya diterima di Universitas Indonesia (UI) yakni program studi ilmu politik dan sudah melengkapi segala macam administrasi namun saya (bersama suami) memutuskan batal sekolah s3 di UI. Loh gak jadi sekolah S3..? Kan lolos seleksinya susah plus biayanya mahal pula 24 juta..? Inilah juga jalan hidup, yakni proses berfikir mengambil keputusan yang berpadu dengan kekuatan taqdir. Saya juga tak pernah membayangkan jadinya seperti ini. Inilah kekuatan 1% taqdir Gusti Alloh yang akan begitu mudahnya merubah arah kita meskipun prediksinya tingkat keberhasilan 99%. Terserah Kuasa Gusti Alloh.

Soal Sekolah saya yang MMA tersebut jangan salah bahwa  alumni MMA ini tersebar dalam bernagai profesi bukan hanya kiai dan bu nyai, diantara kami ada yang komisaris BUMN, Departemen Keuangan, Pajak, Dekan/Dosen, Guru, Tenaga Ahli di kementrian dan DPR, Tenaga ahli di Lembaga Funding Internasional, penerima beasiswa dari berbagai belahan dunia yang bukan hanya bidang ilmu agama, dan Politisi? Bejibun yang politisi… pengurus partai dan anggota DPR baik level daerah, provinsi maupun pusat. Loh katanya sekolah agama kok profesinya beraneka ragam gitu…? Kami menyebutnya berkah…  berkah adalah ziyadatul khair yakni bertambah-tambah/berlipat gandanya kebaikan yang berasan dari do’a para masyayikh kami yang banyak bertirakat untuk kami. Dan kami meneladani mereka.

Pernah Gagal…? Saya Bukan Hanya Pernah Namun Banyak

Sebaik-baik orang yang gagal adalah yang banyak belajar dari kegagalan. Kegagalan terbesar dalam hidup saya adalah gagal berumah tangga alias pernah bercerai. Jadi pernah menjanda..? iya saya pernah merasakan hidup beberapa tahun dalam keadaan menjadi janda. Gimana rasanya hidup berstatus janda di sebuah kota (Malang) tanpa sanak saudara pula? Nanti saya tuliskan pada bagian lain di blog ini secara panjang lebar apa saja yang terjadi terutama respon dan imej/stereotype yang dilekatkan masyarakat masyarakat terhadap janda . Disini sekilas saja.

Gagal berumah tangga tersebut membuat saya merasa gagal “uswah” atau gagal menjadi teladan. Hal tersebut membuat saya memutuskan berhenti menerima undangan untuk ceramah agama atau mauidhoh hasanah dalam acara-acara pengajian umum masyarakat maupun sekedar hadir acara bertema keluarga sakinah. Saya sungguh malu punya ilmu pengetahuan namun gagal bersikap yang baik dan benar dalam rumah tangga. ya..  baik dan benar. Dalam rumah tangga ternyata kita tidak hanya dituntut benar melainkan juga baik. Bukan hanya baik melainkan juga benar.

Saya juga agak menutup diri dari pergaulan namun kabar tersebut beredar luas begitu saja dan menimbulkan banyak pertanyaan maupun pernyataan yang menjurus pada hal negatif terhadap saya. Frustasi gak..? jujur iya. Sebagian saya merasa ada salah namun sebagian saya merasa bersikap benar dan itu manusiawi.  Saya tidak menampik andil kesalahan saya dalam perceraian itu namun sungguh tidak adil ketika mendengar begitu banyak gosip menyudutkan saya. Bagi saya saat itu hanyalah berpegang pada suatu ayat yakni kita lahir dalam keadaan tak tahu apa apa dan Alloh memberi kita sepasang alat pendengaran, penglihatan dan hati nurani namun sedikit yang bersyukur dengan menggunakan semuanya. (Wallahu akhrojakum min buthuni ummahatukum la ta’lamuna syaian wa ja’ala lakumussam’a wal abshoro wal af’idah qolilan ma tasykuruun). Jadi para penggosip hanya menggunakan pendengaran mereka yakni telinga. Saya berdoa semoga para penggosip juga mulai dibukakan mata mereka serta hati nurani mereka terhadap posisi saya sebagai seorang Ibu yang berjuang  mendidik anak-anak saya serta mereka memaafkan saya pernah menjadi seorang istri yang gagal.

Namun diluar dugaan saya ternyata status janda  tersebut membuat teman-teman saya merasa enjoy meminta nasehat saya jika mereka ada masalah rumah tangga terutama ketika mereka bermasalah. Saya juga heran apakah mereka tak takut saya suruh bercerai seperti saya?  Bahkan ada banyak kesempatan diantara mereka datang ke rumah untuk menginap dan curhat-curhat. Disitu saya merasa ada hikmah dari kegagalan sehingga saya berdoa agar Alloh menjadikan saya uswah dalam kegagalan ini. Saya termotivasi untuk sukses dan sehingga meskipun dilihat orang lain sebagai wanita gagal berumah tangga namun tidak rapuh, kokoh dan mendidik anak-anak dengan penuh tanggung jawab.  Saya segera introspeksi dan memperbaiki diri sebab ingin mernjadi istimewa namunbanyak pula hal-hal kurang istimewa yang masih saya lakukan. Saya merasa banyak berbuat yang tidak baik.  Berusaha! Iya Berusaha! Berat? Iya berat…. Mungkin air mata tidak bisa mewakili yang saya maksud di sini.

Karir Dan Jalan Hidup

Lulus S1 saya mengalami nasib menjadi anggota DPRD di usia 23 tahun dari hasil pemilu legislatif tahun 2004. Itu karir formal saya yang pertama. Saya menyebutnya formal sebab menyangkut institusi formal. Setelahnya saya begitu asyik tenggelam dalam kerja-kerja politik di partai maupun DPRD. Keasyikan tersebut agak mengurangi perhatian saya pada rumah tangga. Saya sudah merasakan namun tidak segera bersikap. Saya baru bersikap dengan memutuskan berhenti berkarir politik dan pindah ke Kota Malang untuk dekat dengan suami (saat ini sudah  mantan) dan anak-anak saya boyong semua ke Kota Malang ini. Sebuah Kota yang bagaikan rimba belantara dalam hal tidak apa-apa serta tak punya sanak keluarga.

Keputusan saya untuk berhenti dari parpol tentu ditentang banyak pihak terutama para Kiai Kampung pendukung beserta para konstituen setia dengan banyak alasan mereka. Namun saya bersikukuh pada keputusan menyelamatkan rumah tangga. Namun takdir berkata lain yakni rumah tangga saya tetap tidak selamat. Hampir putus asa saya hendak kembali ke Lamongan kampung halaman namun seorang Kiai, guru saya, menyuruh saya tetap bertahan di Kota Malang dan belajar hidup yang sesungguhnya. Belajar survive dan mengabdikan diri secara baik dan benar. Waktu itu saya menangis dan berkata:”Yai saya  tak punya siapa-siapa lagi disini…  Saya begitu kecil bagai sebutir debu di Kota Malang ini. saya ingin pindah lagi dan  pergi dari kota malang ini… saya begitu keciiiil….”. Beliau menjawab:”Mengapa tidak kau fikir dengan benar bahwa mantanmu itu kecil dan Malang itu besaaaaar….  Kalau keluarga menjadi kerisauanmu saya  Saya doakan kelak kamu memiliki keluarga yang sangat besaaaaaar di Malang. InsyaAlloh Malang baik untukmu…”.

Mungkin karena saya santri dan santri punya kebiasaan taat pada guru maka dalam keadaan sama sekali tidak bahagia di Kota Malang saya tetap tinggal disini. Disebuah Kota tanpa sanak famili, tanpa sumber penghasilan jelas dan tanpa tempat tinggal tetap sebab terpaksa meninggalkan rumah lama untuk mengasuh dan membesarkan dua orang anak sendirian.. Berat? Berat dan saya mulai mengerti makna hidup adalah pengabdian. Mengabdi apakah ringan? Jika bahagia akan ringan… Maka kemudian saya belajar bahagia. Rupanya saya sudah lupa caranya bahagia. Karena itu saya belajar kembali tentang bagaimana caranya bahagia.  Saya mulai berkarir kembali sebagai dosen di Universitas Brawijaya Malang. Saya mendedikasikan waktu saya untuk mereka. Para Mahasiswa, Institusi Kampus dan tentu saja yang utama adalah anak-anak saya… Alhamdulillah mereka semua membuat saya bahagia. Mereka adalah alasan utama saya bahagia di sini.

Karir sebagai dosen di sebuah kampus negeri ternama di program studi ilmu politik, yang sebelumnya adalah dunia praktisi bagi saya, membuat saya dengan cepat menemukan banyak relasi di luar kampus serta bertemu dengan aktifitas-aktifitas sosial di dalam maupun luar kampus. Rupanya pengalaman praktis juga membuat saya agak berbeda dalam cara pandang serta sikap sehingga saya banyak sejali mendapatkan undangan seperti menjadi narasumber di radio khususnya RRI, menjadi narasumber kegiatan workshop DPRD serta seminar-seminar pemerintah daerah, menjadi narasumber acara televisi, dan bahkan sesekali saya juga mendapat undangan ceramah agama. Namun yang terakhir ini selalu saya tolak sebab saya merasa gagal uswah. Belakangan di tahun 2015 saya mulai mau kembali berceramah tetapi hanya di UB TV untuk program cahaya qalbu dengan beberapa alasan penting khususnya membantu institusi di kampus tercinta  yang baru tumbuh ini.Saya sungguh mulai menikmati pengabdian hidup ini dan memaknainya sebagai bahagia…

Bertemu Jodohku

Sekian tahun menjada tentu keluarga besar saya di kampung resah dan sudah mulai memaksa saya segera menikah di Malang ini sehingga memiliki keluarga yang utuh di malang. Tentu hal tersebut saya perhatikan sehingga belakangan saya mulai membuka diri untuk hubungan yang baru. Namun ada saja kerumitan yang saya hadapi ketika  ada yang pendekatan sehingga saya putuskan akan lebih jelas dalam satu keputusan jika anak-anakku sudah mulai mondok.

Di luar dugaan justri anakku yang  kecil berusia 6 tahun masuk SD minta mondok di tahun 2015 dan kakaknya setelah luus SD tahun 2016 ini masuk SMP dan baru mulai mondok. Artinya tahun 2016 anak-anak sudah mulai mondok dan janjiku pada keluarga harus saya tepati. Saya harus mulai sangat serius soal menikah kembali.

Ada beberapa pilihan baik yang berasal dari usulan keluarga, usulan sahabat, usulan guru, dan tentu saja berkenalan sendiri. Namun semuanya saya tidak merasa mantap untuk memutuskan menikah terutama ketika menyelami pemikiran tentang bagaiamana menjalani hidup bersama kedepan. Sepertinya pernikahan kedua bagi orang gagal memang lebih penuh kehati-hatiaan sehingga membawa pikiran yang dalam.

Sampai suatu hari saya sekedar nyambung dengan beliau (suami saya sekarang) di face book dan kemudian berbarengan saya mengasuh program televisi UB TV sebagai Host acara Sobo Pondok. Ini adalah program yang direncanakan untuk mengisi bulan ramadhan tahun ini. Salah satu lokasi syuting adalah pondok pesantren yang diasuh oleh beliau sehingga saya harus berkomunikasi secara pribadi untuk menyiapkan syuting di lokasi ini. Kami menjadi intens berdiskusi dan sampai kemudian kita bertemu di H-1 ramadhan yakni beberapa hari sebelum syuting dilakukan.

Jodoh rahasia Alloh SWT. Begitulah dari hari kita bertemua itu hingga tanggal kami memutuskan bersedia segera menikah adalah 10 hari saja yakni 17 juni 2016 dan itu berlangsung secara agama, sederhana, hanya dihadiri keluarga terdekat dan para asatidz pondok. Tentu mengagetkan banyak pihak sebab sebelumnya kami bersepakat menikah pada tanggal 2 Juli 2016 dan segala sesuatunya dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. Percepatan tersebut adalah keinginan dari ibunda beliau yakni ibu mertua saya. Karena itu pernikahan tersebut berlangsung di ndalem beliau, di depan kamar beliau dimana beliau menyaksikan dari dalam kamar mengingat secara fisik beliau tidak memungkinkan  untuk berdiri maupun berjalan. Dan pernikahan resmi sebagaimana rencana di tanggal 2 juli 2016 tetap diselenggarakan di rumah keluarga kami di Lamongan.

Beliau (Ibu mertua)  juga meminta saya berhenti bekerja dan fokus pada keluarga serta tanggungjawab keluarga terhadap pondok. Saya banyak berfikir dan berdiskusi dengan suami saya atas segala resiko dan konsekwensinya dan bismillah saya putuskan menerima permintaan ibuk. Tentu ada banyak sikap tidak percaya atas keputusan saya mengingat yang mereka lihat adalah saya yang tampak ambisius terhadap karir (sebenarnya lebih tepat tampak serius terhadap pekerjaan) dan punya segudang aktifitas di luar rumah juga apresiasi publik yang lumayan luas. “Apa gak eman?” itu pertanyaan umum yang disampaikan pada saya.

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Sungguh alhamdulillah saya senantiasa menghormati posisi perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga awalnya mungkin berat bagi saya. disini tak ada yang namanya prestasi apalagi apresiasi. Disini tak ada gaji/honor berdasarkan masa tugas maupun beban kinerja dan posisi  apalagi borang akreditasi. Disini juga tak ada hal istimewa seperti menjadi narasumber  yang kemudian secara asik saya upload buat jempol yang banyak dari face booker. Disini tak ada kemegahan dan tepuk tangan atas hal istimewa yang kita berhasil selesaiakan. Disni juga tak ada penghargaan untuk inovasi yang kita buat. Disini segala sesuatu berbeda.

Kebaikan dan kebahagiaan dalam posisi ibu rumah tangga adalah ketika pagi hari bangun tidur kita sudah mulai berfikir menjadikan  apa yang kita fikirkan itu konkrit segera. Kamar rapih, rumah bersih, masakan tersedia, suami terseyum bahagia, anak berangkat sekolah senang dan beres, melihat bayiku sudah tertawa, serta mungkin hal tambahan buat saya adalah jam 3 dini hari sudah membangunkan para santri putri untuk berjamaah qiyamullail kemudian mengaji surat waqiah dan al-mulk hingga jamaah shubuh dilanjut mengaji klasikal.

Menjadi ibu rumah tangga lebih konkrit sebab tak butuh rekomendasi berjarak waktu seperti hasil penelitan di kampus. Rekomendasi bagi ibu fumah tangga berarti segera lakukan saat ini juga. Road Map Penelitian mungkin berlangsung tahunan namun Road Map seorang ibu rumah tangga berlangsung menit bahkan detik. Menjadi ibu rumah tangga jauuuh lebih kompleks dimana tahapan urusan berlangsung lebih cepat daripada urusan-urusan ilmiah yang memiliki metodologi ilmiah. Jadi kata siapa menjadi ibu rumah tangga tak butuh pinter-pinter amat…? Ibu rumah tangga itu pastilah pinter karena bertumpuk-tumpuk urusan mereka bisa selesaikan sehari-hari dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Menjadi ibu rumah tangga juga  berarti harus bersikap strategis. Dengan sumber daya yang kadang terbatas seorang ibu rumah tangga harus bisa mengatur agar semuanya cukup terakomodasi. Bayangkan jika disaat yang sama suami dan anak-anak memanggil untuk minta bantuan atau sekedar bertanya ini itu ditambah jika terdengar bayinya menangis. Seorang ibu rumah tangga pasti akan cepat mengambil keputusan prioritas mana yang akan didahulukan lalu bergeser bergerak ke mana untuk langkah berikutnya. Rumit bukan?  rumit buat pembaca yang buka ibu rumah tangga padahal ini baru contoh kecil. Jadi Ibu Rumah Tangga tidak mudah.

Tak ada jam kerja sebagai ibu rumah tangga. Sepanjang waktu adalah jam kerja 24 jam. Bahkan andaikan bisa sehari lebih dari 24 Jam maka sebesar itulah jam kerja para ibu rumah tangga. Maka beruntunglah saya yang sejak dulu bersikap bahwa hidup adalah pengabdian. Ini era baru pengabdian hidup sebagai ibu rumah tangga.

Alhamdulillah ala kulli hal… Suami baik, anak-anak baik, keluarga besar yang amat sangat baik, lingkungan sosial baik, dan segala sesuatu yang tak bisa kusebut juga baik. Semoga Alloh SWT sentiasa ridlo pada hidup kita semuanya dimanapun posisi kita. Amiin….

Kak Nay Mondok Juga Akhirnya…

Standar

13962692_1080754745306509_1227309429162709118_nTentang Prestasi Dan Bakat Yang Dikhawatirkan Tak Terfasilitasi

Sungguh dulu saya sangat takut membayangkan kedua anakku mondok semua. membayangkan betapa kesepiannya saya tanpa kedua anakku yang tengil, lucu, sholihah dan banyak akal ini. Terlebih saat itu saya masih tinggal di sebuah perumahan yang relatif lengang di sebuah kota tanpa sanak saudara di sini, kota malang, kota yang tanpa sanak saudara.

Kak Nay sangat aktif di sekolah. Dia banyak sekali memiliki prestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non akademik. Di bidang akademik kak nay pernah mengharumkan nama sekolahnya dengan meraih juara 1 olympiade sains bidang bahasa inggris se provinsi Jawa Timur yang waktu final tingkat nasionalnya diselenggarakan di UGM Yogyakarta bersamaan waktunya dengan jadwal masuk pondok pesantren pilihannya yakni almunawwariyyah sudimoro bululawang malang. Karena itu kak nay secara ihlas tidak berangkat ke yogya untuk mengikuti final nasional.

Di bidang non akademik Kak Nay banyak sekali memiliki piala dari berbagai cabang perlombaan dari berbagai instansi penyelenggara di berbagai tingkatan khususnya di bidang kemampuan komunikasi seperti  presenter radio, presenter televisi, ceramah agama/pildacil, story telling, juga menyanyi dalam group paduan suara. Kak Nay juga beberapa kali menjadi presenter tamu acara anak-anak di Radio Kosmonita Malang saat dia duduk di kelas 5 SD. Selain itu Kak Nay juga aktif menulis buku komik dan komik pertamanya akan segera diterbitkan.

Kebanyakan teman-temanku yang tau “reputasi” Kak Nay ini menyatakan “eman” atau “sayang” atau khawatir atas rencana kak nay melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Umumnya alasan mereka adalah khawatir kemampuan akademik dan juga bakatnya akan tidak berkembang dengan baik dengan alasan bahwa kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan di Pondok Pesantren tidak mampu bersaing dengan sekolah umumnya yang ada di luar khususnya di Kota Malang. Bahkan ada juga kawan saya  yang secara jelas menyatakan bahwa jika kak nay mondok dia khawatir kelak kak nay tak akan bisa memiliki karir yang baik.

Awalnya komentar beberapa teman tentang “eman” sama Kak Nay sempat membuat saya berfikir apakah potensi dan bakat kak nay akan “terpupus” dan justru tidak berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Sebagai seorang ibu saya sempat merenung berkali-kali tentang bagaimana saya harus mengambil keputtusan untuk jenjang pendidikan lanjut bagi anak gadis pertamaku ini. Selain banyak merenung saya juga memilih beberapa orang sukses dan bijaksana (versi saya) di sekitar saya untuk saya ajak berdiskusi tentang Kak Nay yang bagi saya adalah seorang anak yang tentu saja berkah hidup. Sebagai berkah hidup saya berusahan menjaganya dan memberinya yang terbaik.

Beberapa catatan penting dari nasehat berbagai pihak itu saya rekam baik-baik dalam ingatan saya antara lain:

  1. ketika kita memilih jalan pendidikan agama Alloh untuk anak-anak kita maka yakinlah Alloh yang menjaga dan mengatur kebaikan untuk anak kita di dunia dan akhirat.
  2. kalau anak kita menjaga al-quran maka alquran akan menjaganya.
  3. karir yang baik bukan semata didapat dari ijazah/sekolah yang baik justru dari kepribadian yang baik.
  4. mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. jika sekolah untuk dapat pekerjaan itu adalah niat sekolah yang salah. sementara niat yang salah berarti segala hal yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam niat itu maka otomatis juga salah. artinya sepanjang jalan dilalui adalah salah atau bahasa lainnya adalah tersesat.
  5. kenapa banyak orang berfikir kalau punya anak cerdas dan berprestasi maka jangan dipondokkan? sementara kalau anaknya bebal nakal dan menyusahkan maka sebaiknya dipomdokkan saja? itu adalah pikiran yang salah tentang pondok pesantren sebagai bengkel moral dimana orang tua ketika tak mampu mendidik lalu diserahkan pada kiai.. Justru seharusnya kalau anak berpotensi positif maka berilah lingkungan yang positif yakni pondok pesantren.
  6. anak yang mondok akan memiliki bekal yang baik untuk berbakti dengan cara berbakti sesuai aturan Alloh SWT. Bukan hanya baik namun juga benar secara agama.
  7. dst.

Ternyata setelah berhasil memondokkan mengatasi pergolakan batin memondokkan mbak ninid kecil saya masih juga mengalam pergolakan batin saat memondokkan kakaknya. Hanya saja kali ini lebih banyak aspek rasionalnya. mungkin karena kak nay lebih “cukup umur” dibanding adeknya yakni mbak ninid kecil saat berangkat mondok.

Masalah Berikutnya: Gagal Mendapat Formulir Dalam Antrean

Sebenarnya masalah ini sudah saya bayangkan mengingat pengalaman dan pernyataan beberapa wali santri lain yang bercerita tentang sulitnya mendapatkan formulir untuk masuk ke pesantren ini. Di bagian lain blog ini telah saya ceritakan sulitnya formulir masuk pondok pesantren ini  dalam judul anakku mondok. Setelah bagian ini akan sedikit saya ulas lagi.

Hari antrean formulir itu saya berangkat jauh lebih pagi dari biasanya yakni jam 6 pagi. namun ternyata antrian untuk formulir itu telah terbentuk semenjak bakda subuh. Selain itu yang mengantri kebanyakan bapak-bapak dan tentu saja wajah-wajah mereka “tampak waspada” dan “siap berebut”. Tentu saja saya yang perempuan serta bertubuh ramping (cie….) tak berdaya melihat pemandangan tersebut dimana tak sampai 20 menit formulir telah habis.

Sedih..? iya banget. Saya sangat sedih sebab berfikir bahwa ternyata saya tak mampu berusaha sendiri untuk memuliakan anak saya belajar di tempat yang menurut saya sangat baik. Selain itu saya juga sedih sebab merasa kurang bersyukur dimana tahun sebelumnya anakku Mbak Ninid kecil mendapatkan formulir tersebut tanpa antri sama sekali. Hari itu saya menangis pada Kak Nay seraya minta maaf pada kak nay. Di Luar dugaanku Kak nay menjawab:”Sudahlah Umi jangan sedih… dimanapun aku mondok aku akan berusaha jadi anak yang baik dan selalu sayang umi…”. Pagi itu aku termehek-mehek pasrah pada alloh SWT sekaligus bersyukur atas sikap Kak Nay  sampai ketika suara WA (Whatsapp) berdenting-denting dari HP di tanganku. Tiba-tiba aku tersadar suatu peluang…

Saya lalu menelfon seorang sahabat lama yang ketika berkontestasi di pilkada lokal berkali-kali minta bantuan saya baik urusan lobi ke DPP Partai induk yang bersangkutan untuk kepentingan rekomendasi  maupun dalam hal pemenangan di tingkatan basis. Ya Alhamdulillah yang bersangkutan menang/berhasil dalam pilkada tersebut. Kebetulan saya tahu yang bersangkutan rumahnya tidak jauh dari sini dan saya juga tahu yang bersangkutan sering “sowan” baik sebagai tamu undangan pejabat lokal maupun “sowan” sebagai santri ke pesantren ini. Dan alhamdulillah telpon saya langsung dianngkat dengan sapaan:”Assalamualaikum, Sedang dimana ini neng?” saya jawab:”Di Sudimoro Almunawwariyyah?”. Beliau bertanya lagi: “Ngapain? antri formulir tah? ” “Iya..”   “Sudah gak usah antri nanti saya sowan ke situ saya mintakan formulir. Ini saya masih di bandara jakarta nanti turun malang langsung saya ke situ sebelum pulang. Formulirnya nanti saya antar ke rumah njenengan di Riverside”. Alhamdulillah…  padahal saya bukan sedang antri tapi sedang hampir putus asa sebab tak kebagian formulir.

Beberapa hari kemudian formulir telah sampai di tangan saya.. penuh takjub saya pandangi formulir itu. Betapa mudahnya Alloh memberi solusi dari jalan yang tak pernah disangka-sangka…  sungguh rezeki tiada tiara.

Tentang terbatasnya formulir: Dialog saya dengan pengasuh setahun yang lalu

Dialog ini setahun lalu ketika pertama kali saya datang untuk mendaftarakan ninid tanpa formulir sebab dihantarkan via telfon langsung pada pengasuh Kyai maftuh Said oleh Guru Kami Kyai Said Khumaidi Lamongan. Saya datang pada hari ahad yang kemudian baru saya tahu istilahnya adalah hari sambangan. Di hari itu via telpon abah yai Said bilang supaya langsung menemui beliau di masjid. Dan saya lihat kerumunan orang tua wali santri penuh takdzim pada sesosok yang dari jauh tampak begitu berwibawa berbicara pada mereka di serambi samping masjid pondok tersebut..

Saya segera membaur dalam kerumunan tersebut dan beliau langsung menerima saya dengan sapaan:”Ini dari mana (asalnya)?” Segera saya menjawab dan menjelaskan hal ihwal kedatangan saya serta tak lupa menyampaikan salam dari abah yai said. Di luar dugaan saya (sebab saya belum paham situasi sulitnya mendapat formulit tersebut) beliau berkata pada semua bahwa beliau menerima anak saya sebab titipan sahabat beliau. Agak bingung saya mulai memperhatikan wajah-wajah para wali santri dan mulai memahami dan menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan mereka ini sedang memohon mendapatkan formulir tersebut namun sudah tidak tersedia lagi. Anakku (Mbak Ninid) juga sebenarnya tidak diberi formulir melainkan hanya secarik kertas yang ditulis langung dengan tangan oleh Pak Kiai dan ditujukan pada pengurus.

Dengan agak penasaran saya bertanya pada beliau:”Pak yai kenapa tidak diterima semua saja..?” Beliau menjawab:”kalau saya terima semua itu berarti saya kurang memulikan para santri sebab fasilitas yang tersedia tidak cukup untuk menerima semua. Saya kan harus melayani santri sebaik-baiknya….”. Dengan masih penasaran saya bertanya kembali:”Pak yai kenapa tidak diterima semua lalu di test saja sehingga semua mendapat kesempatan yang sama untuk bisa diterima di pondon pesantren ini…?” Di luar dugaan saya belaiau bertanya lagi:”Di test itu maksudnya dipilih yang pintar? atau saya memilih santri yang masuk sini adalah yang pintar dan bisa menjawab soal testnya…?” Dengan agak galau saya menjawab iya. lalu beliau menjelaskan:”Semua orang tua ingin anaknya jadi pintar, ngerti dan alim. Kalau Kiai mikirnya milih anak santri yang pintar lalu yang meminterkan bocah bodoh siapa..? Mosok Kiai tego ninggal umat bodoh…? Test disini ya cukup itu saja: dapat formulir. Kalau berhasil mendapat formulir ya berarti lulus test masuk. Untuk dapat formulir itu berarti Alloh SWT yang memilih bagaimana anak dapat formulir. Biar Alloh SWT saja yang memilih santri untuk saya. Biar Alloh saja yang mengatur siapa yang mendapat formulir serta bagaiamana caranya. Tugas saya sebagai kiai yang minterno semua santri baik yang sudah asli pinter maupun yang bodoh….”.

Pagi itu saya takjub dengan jawaban beliau yang begitu mendalam rasa pengabdiannya sebagai seorang Kiai. Sungguh pagi itu adalah dialog terbaik sepanjang masa yang pernah saya alami dimana saya menemukan kedalaman budi pekerti makrifatulloh dan keluasan pikiran dari seorang hamba Alloh SWT terpilih di zaman ini. Saya bersyukur bertemu dengan seorang manusia sedemikian layak untuk dihormati. Dan dari hari ke hari saya semakin banyak melihat serta mendengar, terutama dari suami saya, tentang keutamaan ahlak serta pemikiran beliau sebagai seorang Kiai di zaman ini. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan kesehatan dan kesejahteraan untuk beliau agar panjang umur dan membina semakin banyak generasi qur’ani yang memberkahkan bumi nusantara ini. amiin…