Monthly Archives: September 2016

Bahagia itu Menemukan Sudut Pa(n)dang

Standar

Profil 2

Saat Tersungkur Barangkali Itulah Saat Kita Punya Sudut Pandang Baru…

Seorang teman membicarakan dengan penuh prihatin berita duka dari teman lain perihal bisnisnya yang gagal akibat penipuan. Ia membayangkan betapa terpuruknya si teman yang ia bicarakan saat ini.  Saya mendengarkan dengan seksama bagaiamana akhirnya kegagalan itu berimbas pada terjualnya aset aset pribadi yang dulu keluarga kecil mereka itu mengumpulkan dengan susah payah.

Dalam kesempatan yang lain saya bertemu dengan teman yang dibicarakan ini namun di luar dugaan ternyata teman yang ini tidak berduka cita.  Dengan penuh semangat ia menceritakan bagaiamana ia mengelola kebangkrutan itu dan bagaimana ia memetik pelajaran yang ia sebut hikmah. Memang aset-aset yang telah ia miliki sebelumnya terpaksa ia jual dan ia memulai bisnis baru dari nol.  Ia bahagia bahwa Alloh memberinya kebangkrutan itu melihat dengan jelas,  membuka mata dengan sudut pandang baru,  bahwa ada banyak hal yang lupa ia syukuri selama ini.

Ia mulai betutur dengan sistematis bahwa ia mulai melihat anak-anaknya tumbuh luar biasa baik dimana sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan.  Ia mulai menghayati betapa Alloh memberi suami setia dan sabar dalam situasi sedemikian sulit.  Ia mulai menikmati hangatnya keluarga besar yang menerimanya secara ikhlas tanpa embel2 kekayaan seperti sebelumnya. Dan ia bahkan menceritakan bagaimana tetangga dan pembantu2nya ihlas dipotong upahnya lebih rendah namun tetap setia bekerja untuk dia.  Hanya beberapa yang bersikap negatif dan menghinakan sehingga ia menyadari bahwa inilah cara Alloh memilah orang2 munafik disekitanya yang seperti semut mengerubuti gula.  Saat manisnya habis semut semut akan pergi.

Ia juga bersyukur bahwa kebangkrutannya itu memberinya sikap sensitif terhadap sumber sumber baru yang potensial produktif.  Selain itu ia juga mulai “tidak meletakkan telur dalam satu keranjang secara terukur”. Jujur saya terperangah dengan penjelasnnya sumber2 ekonomi baru yang ia maksud ternyata lebih prospektif daripada apa yang telah hilang.  Ia bilang bahwa segalanya milik Alloh saat Alloh mau ambil ya kita harus ihlas barangkali untuk digantikan yang lebih berkah. Ia mengingatkan makna inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sayapun berfikir bahwa telinga saya hampir terkecoh oleh pendapat bahwa ia terpuruk oleh kegagalan dan pada situasi yang menderita. Nyatanya teman saya ini jauh lebih bahagia dalam apa yang disebut keterpurukan yang menyedihkan.  Nyatanya saya melihat yang terjadi adalah berkah dalam bencana. Ia tidak sedih melainkan ia bahagia.

Jadi bersama kesulitan alloh berikan kemudahan (inna ma’al usri yusro)  mungkin adalah dalam bentuk awal bagaiamana kita menemukan sudut pandang yang baik dan benar serta menghadirkan Alloh sebagai bentuk kehambaan kita.

Saya jadi ingat seorang sahabat zaman masa remaja yang beberapa waktu lalu saya singgahi untuk ziarah haji.  Tanpa bermaksud ghibah disini tanpa saya sebut nama melainkan mutiara hikmah semata dari sahabat saya ini.

Sahabat saya ini di waktu sebelumnya saya singgahi di rumah sakit karena anaknya opname. Dengan sangat sedih ia bercerita tentang perilaku suaminya yang tergoda wanita lain dari kalangan yang kurang baik.  Sebenarnya andaikan itu wanita “biasa” maka ia ihlas suaminya menikah yang kedua.  Saya ikut menangis waktu itu dan mengatakan bahwa saya tak sanggup memberi nasehat sebab mungkin saya pun tak mampu menghadapi. Hanya ada dalam alquran dalam situsi begini saya hanya harus berkata tetaplah bersabar dan penuh cinta kasih (watashouw bisshobri watashouw bil marhamah).

Saat ziarah terakhir itu Agak kaget saya melihat perubahan dari sahabat saya ini mulai dari secara fisik hingga caranya berbicara dan menyatakan pendapat.  Secara fisik iamakin cantik dan cara bicaranya makin luwes bahkan saya bilang mempesona. Apa yang terjadi padamu sahabatku?  Gimana kabar wanita itu…?

Ia memulai tuturnya dari bahwa seminggu lalu telah menelfon wanita itu untuk pamit berangkat haji dan berterimakasih atas kehadiran wanita itu telah membuatnya berubah.  Ia mulai belajar bersolek dan berdandan yang baik.  Ia mulai belajar bergaul dan bahkan berbisnis jual beli tanah meskipun motivasi awalnya takut tak punya sumber ekonomi dari suami akibat hadirnya wanita lain.  Ia mulai belajar menggunakan gadgetnya untuk membuka cakrawala. Bahkan ia mulai mempersilahkan suaminya bersama wanita itu dengan syarat syarat kepatutan norma masyarakat dan keabsahan serta kebenaran perilaku berdasarkan syariat.  Ternyata justru itu membuat wanita itu pergi dari suami sahabatku ini. Yakni saat ia pasrah dan ihlas serta tawakkal.

Saat jatuh tersungkur kita memandang dari bawah.  Kita melihat segalanya dengan berbeda. Barangkali bersama jatuh itu Alloh memberi rezeki dari sudut pandang baru…

Memaknai bahagia

Jadi apakah seseorang berbahagia ataukah bersedih?  Orang lain tak akan bisa mengukur dengan presisi bagaiamana seseorang bersedih atau berbahagia atas sesuatu.  Namun jika kita sensitif pada diri sendiri kita akan bertemu dengan fakta orang miskin belum tentu merasa kekuarangan dan orang kaya belum tentu merasa berkecukupan. Orang sehat belum tentu merasa kuat dan orang sakit belum tentu merasa lemah.  Orang berpangkat belum tentu berkuasa menentukan kehendaknya sendiri dan orang rendahan belum tentu bisa diatur atur penguasa.

Barangkali begitulah jika segala sesuatu dilihat dari sudut pandang lebih hakikat dari tujuan segala sesuatu. Jadi apakah kita  bahagia?

Jangan-jangan kita telah sepihak subjektif menaruh bahagia itu dalam standardisasi tanpa hakikat sehingga kita salah memandang ke dalam diri kita maupun orang lain.

Mari kita, khususnya saya,  meletakkan sudut pandang dengan benar sehingga menjadi “sudut Padang” yang membuat hidup kita terang benderang…  Alfatihah.

Mojokerto,  29 september 2016

Maratul Makhmudah.  Ibu Rumah Tangga.

Di Rumah makan M’riah Kota Mojokerto  sambil nunggu suami diskusi dengan sahabat2nya di Forum Peduli Bangsa

 

 

 

 

 

Iklan

Sahabatku, barangkali hidup ini seperti mengeja surat alfatihah…

Standar

Profil 2Setiap muslim pasti bisa merapal surat al fatihah ini. Bukan hanya karena ia surat pembukaan dalam alqur’an melainkan juga dalam shalat kita surat ini kita baca tiap rakaatnya.

Dalam banyak kesempatan surat ini juga menjadi pamungkas doa untuk hasilnya maksud-maksud tertentu. Di masa lalu bahkan surat ini dibaca dengan penuh keyakinan oleh “wong tuwo” dan menjadi sugesti ketika ditiupkan di air minum hingga menyembuhkan si sakit.

Bismillah dan kaki kita melangkah

Sahabatku, ingatkah engkau pernah kau alami suatu masa dimana kau ambil keputusan besar yang menurut banyak orang sungguh sangat beresiko namun tetap kau lakukan dengan berbagai alasan dan argumentasimu. Lalu ketika kau mulai lakoni malah engkau lupa dengan berbagai alasan dan argumentasimu itu. Bagimu alasan apapun tak lagi penting selain ayo jalani aja. Beginilah hidup. Pilihan kita adalah terus berjalan dimana kita telah mulai dengan keyakinan. Begitulah kita tandai keyakinan itu dengan bismillah…

Sahabatku, waktu itu aku tanyakan tahukah engkau perbedaan orang berani dan orang nekat? orang berani berhitung sebelum melangkan dan orang nekat hanya berbekal yakin meski tau kemungkinannya kecil…  Kamu menjawab bahwa aku perlu belajar tentang iman dan tasawwuf. Bagaimana iman yang berarti percaya itu jauh lebih kuat dari akal pikiran kita. Bagaimana mungkin kau hendak mengadu antara akal yang terbatas dari si pemberani dengan keimanan yang adalah kekuatan tanpa batas dari orang yang kamu sebut nekat? Sungguh aku berberat hati menerima penjelasanmu dengan berkata baiklah… Jika kau butuh pundakku maka aku selalu menjadi sahabatmu.

Ternyata hari ini kita saling membutuhkan pundakmu-pundakku tanpa harus menjelaskan apa masalahmu… kita bisa tertawa dan menangis bersama untuk kemudian kembali bahagia tanpa harus tau mengapa. Sepertinya itu adalah bagian dari bismillah….

Segala Puji Bagi Alloh..

Sahabatku, begitu banyak yang telah terjadi dalam dekade terlewati persabatan kita. Bersyukur bagi kita bukan hanya tentang kesenangan dan kenikmatan. Begitu kesengsaraan dan kesedihan yang pernah menimpa kita ternanyata adalah sebuah pintu yang memaksa kita masuk dalam suatu sudut pandang baru. Betapa itu juga adalah tempaan yang menguatkan kita dan menjadikan kita berdiri demikian kokoh dimana orang berfikir seharusnya kita roboh. Bahkan dalam situasi penuh fitnah kita pernah  saling mengingatkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah dosa bagi pelakunya lebih kejam dari dosanya pembunuhan sebab fitnah membunuh berkali-kali. sedangkan pembunuhan membunuh hanya sekali. Namun percayalah bahwa kita yang tertimpa fitnah bukannya mati namun makin hidup dan semakin bersinar… Fitnah tak akan pernah benar-benar membunuh kita… Maka bukankah kita layak berkata alhamdulillah? Sebagaimana setelah bismillah lalu melangkah maka katakanlah alhamdulillah untuk segala onak dan duri yang harus kita lewati..

Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang..

Sahabatku ternayata kemudian kita mengerti makna kebersamaan… Yakni tak harus tubuhku dan tubuhmu saling bertemu. Bahkan cukuplah saat aku sedih tetiba datang SMS mu menyatakan rindu dan doa.. Atau saat kau ingat aku tetiba aku menelfonmu dan sekedar bertanya makan apa hari ini? Demikianlah kita mengerti kebersamaan… Maka bagaimana kita mengingkari kebersamaan ini bukan hanya kita namun kehadiranNya… Kita merenung dan tercenung saat menyadari bahwa saat kita diberi masalah sebenarnya kita juga Ia beri solusi. Kita hanya perlu lebih mendengarNya yang ada di hati.. Kita hanya perlu lebih bersabar mengikuti petunjukNya… Sungguh kasih dan sayang mencipatakan kebersamaan maka bagaiaman mungkin kita mengingkari yang maha pengasih lagi maha penyayang berarti maha kebersamaan bukan…

Pemilik Hari Akhir..

Kita pada saatnya akan membuktikan ini… Bahwa Ia benar-benar ada dan adalah pemilik di hari ini… Hari akhir….

Beribadah dan Memohon Pertolongan…

Sahabatku, hidup kamu bilang adalah ibadah. 100% hanya untuk beribadah. Aku bilang memangnya kamu gak bekerja gak makan? kau bilang bekerja dan makan juga ibadah. Aku ingat suatu hari kukatakan sesuatu yang tidak baik saat aku dalam situasi terdzalimi lalu kau tampar pipiku dan kau bilang hati hati ucapanmu dikabulkan karena kamu terdzalimi. Berkatalah yang bagus dan memohonlah yang bagus… Doa yang jelek itu jika terkabulpun kamu tak akan bahagia. Buat apa…?

Sahabatku maka kita mulai berdebat tentang memohon pertolongan dan beribadah. Apa salahnya minta kaya agar dermawan, minta jabatan agar banyak membantu, minta cerdas cendekia agar banyak meluruskan orang tersesat dst.. Pada suatu titik kita ketemu bahwa seharusnya kita berdoa untuk memohon pertolongan Alloh agar senantiasa maksimal beribadah pada posisi terbaik yang Alloh pilihkan untuk kita; entah kaya atau miskin pangkat atau melarat dan seterusnya. Kita tak tau mana yang terbaik untuk kita… Hari itu kita menemukan bijaksananya berdoa.

Sahabatku ternayata hingga hari ini kita sering mengevaluasi betapa “kedonyan-nya” isi pikiran kita, hati kita bahkan ibadah kita. Sulit ternayata… Dan kita jadi punya celetukan yang sumbernya dari “ocehan”mu: “Yo ngunu kui urip kakaean fiqh kurang tasawuf….”. Lalu kita tertawa… Mentertawakan kenaifan kita sendiri…

Maka Tunjukkanlah kami jalan yang lurus…

Naif ya naif.. Orang naif ya harus memohon pada yang maha kuasa atas jalan yang lurus..

Bagaiamana Jalan Yang Lurus Itu..?

Yang Alloh ridlo… jalan orang yang engkau (Alloh) beri nikmat bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan manusia yang sesat. Begitulah kita tak lagi ribut hendak jadi apa dan bagaimana melakoni hidup. Dan argumentasi maupun alasan telah hilang itu mungkin semoga karena ini.. yakni pasrah pada jalan kenikamatan versi Dia..

Sahabatku kita pernah punya impian sederhana saat remaja dan menjadi tak sederhana saat menjelang dewasa dengan bernagai ambisi kita.. Dan sekarang kita telah merasa demikian tua dan letih dalam ketidaksederhanaan… Dan kita mulai Menyederhanakan jalan hidup kita dengan satu kalimat “terserah yang Maha Kuasa”…

Iya sahabatku… Aku setuju. Dan aku bahagia lupa pada alasan-alasan itu. Aku setuju kita sederhanakan dalam kalimat itu:” Terserah Alloh Yang Maha Kuasa…”

Alfatihah.

 

Ayah kita adalah nahkoda dan ibuk kita ka’bah

Standar

13775958_1063283173720333_8497288857349120904_n

14249703_1104201442961839_1986560524183551749_o

ANAK-ANAK ZAMAN TETAP ADALAH ANAK ORANG TUANYA

Ungkapan Kahlil Gibran tentang anak anak kita bukanlah anak kita melainkan anak anak zaman sungguh sangat terkenal.  Bahwa kita orang tua bagaikan busur tempat anak anak panah yang hidup diluncurkan. Perhatikanlah bahwa orang tua adalah busurnya.  Tetap saja dalam zaman apapun anak anak itu meluncur dari sebuah busur yang semestinya busur berkualitas dengan kekuatan daya tarik kesadaran pemanah akan meluncurkan anak panah yang tepat sasaran.

Artinya orang tua yang sadar zaman harusnya akan melepaskan anak-anak zaman yang relevan.  Orang tua berkualitas harusnya akan melepaskan anak anak panah berkualitas. Orang tua baik melepas anak anak baik. Juga orang tua yang bervisi kuat anak melepaskan anak anak yang hebat.

Sebagai busur dari anak panah hidup itu sudahkah kita senantiasa meningkatkan kualitas kita menjadi busur yang kuat?

MENGINGAT SEORANG AYAH DARI KAMPUNG

Semasa hidup beliau kami  memanggil ayah kami dengan sebutan abah. Abah kami orang kampung. Tamat sekolah PGA (pendidikan guru agama)  Abah kami hanya sebentar saja jadi guru sebab fokus di pertanian dan perdagangan.  Selebihnya seumur hidup beliau “ngramut” sekolah madrasah di kampung  yang dahulu didirikan oleh pendahulu beliau.  Kakek dan buyut kami. Saat ini “ngramut” itu dilanjutkan oleh adek abah,  paklek kami. Disamping itu abah aktif di kepengurusan NU ditingkatan  MWC hingga PC.

Abah kami orang yang selalu bersikap sederhana, berfikir cepat dan bertindak sangat taktis strategis.  Ala kampung tentu saja.  Saat telah dewasa ini kami banyak diskusi ketika pulang kampung tentang pikiran-pikiran abah kami.  Apa saja yang pernah beliau katakan juga apa apa yang beliau inginkan.

Semasa kami kecil di kampung banyak orang dewasa yang berbicara tentang sekolah di sekolah negeri agar jadi pegawai. Artinya sekolah kampung kami yang madrasah ibtidaiyah maarif pula itu diserang supaya tidak laku.  Dituduh tak akan mampu menjadikan lulusannya sebagai pegawai terutama pegawai negeri. Serangan tersebut utamanya banyak datang dari kalangan keluarga pegawai negeri,  birokrasi, tentara,  polisi dan umumnya pendukung orde baru (loh sori nyinggung politik.  Oke lupakan soal orde baru ini fokus lagi ke abah dan sekolah madrasah).

“Serangan mental” tersebut juga dirasakan oleh kami anak-anak abah. Kakak saya mengenang salah pahamnya tentang pegawai sebagai suatu jabatan dengan privilige luar biasa sehingga orang hebat adalah pegawai. Pegawai adalah orang hebat luar biasa.  Kebetulah ada proyek normalisasi sungai / pengerukan depan rumah dan ada “Kapal Keruk” di sana. Tentu anak-anak kecil di kampung yang “udik” ini semuanya takjub melihat kapal keruk demikian besar diatas sungai depan rumah kami. Anak-anak penasaran ini tentu saja dilarang masuk oleh pegawainya dan ada tulisan tertera:”DILARANG MASUK KECUALI PEGAWAI!”. Kakak saya membayangkan para pegawai (pegawai apapun) memang istimewa hingga boleh masuk ke kapal keruk itu, hehehehe…. Salah paham ini karena secara mental sering mendapat omongan tentang orang hebat adalah pegawai. Dan anak-anak madrasah tidak mungkin bisa jadi pegawai.

Suatu ketika kami anak-anak kecil yang salah paham ini bertanya kepada abah tentang omongan orang bahwa kita kelak tidak mungkin jadi pegawai karena sekolah madrasah. Abah kami menjawab:”Abah memang menyekolahkan kalian bukan buat jadi pegawai atau pekerjaan apapun. Abah menyekolahkan kalian karena demikianlah perintah Alloh dan Rosululloh. Supaya kalian berilmu, tidak bodoh dan kelak bermanfaat untuk ummat islam umumnya.” Kami makin tidak mengerti kok abah tidak ingin kita hebat dan jadi pegawai sehingga boleh masuk kapal keruk yang keren itu. Duch!

Namun sebagai hiburannya Abah mendaftarkan sekolah ganda buat kami, pagi sekolah SD Negeri siang sekolah madrasah. Namun karena  ujian akhirnya bersamaan  ya ikut madrasah aja, hehehehe…  Ijazahnya ikut ijazah madrasah ya..  Minimal tau oh gitu toch sekolahnya SD Negeri.. Sekolahnya para calon pegawai, hehehehe….

Waktu itu kami makin tak mengerti ketika Abah memutuskan kami semua mondok seraya berpesan bahwa mondok supaya punya bekal ilmu agama dan hidup penuh berkah dan sementara  orang-orang itu berkata:”anak dipondokkan mau jadi apa..  Makin tak bisa jadi pegawai aja.. Mending juga sekolah SMP Negeri nanti bisa dapat pekerjaan bagus dan jadi pegawai.”. Pegawai itu apa sich…  Kami makin jadi anak-anak kecil yang minder dengan anak-anaknya pegawai, hehehehe…  Abah benar-benar tak peduli soal gak bisa jadi pegawai itu.

Abah memondokkan kami di beberapa pesantren baik kami singgah sebemtar maupun lumayan lama. Beberapa yang kami pernah mondok antara lain: cacak di langitan wetan, gading malang dan alhikam malang saat kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Saya sendiri pernah puasa mondok romadhon di langitan wetan lalu masuk MTsN tambak beras hingga lulus MMA kemudian kuliah di unair. Adek saya yang laki-laki waktu kecil mondok di sedayu gresik namun tak lama. Kemudian melanjutkan MTsN di Tambakberas dilanjutkan MA Program Khusus keagamaan di Denanyar Jombang kemudian kuliah di UIN Jakarta. Adekku ini lulusan terbaik  UIN Jakarta  dizamannya.  Adek perempuanku sempat mondok di Suci gresik kemudian lanjut di lamongan dan kemudia SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Dia melanjtkan kuliah di Universitas Brawijaya di fakultas yang sama dengan kakak pertama yakni Fakultas Hukum. Adek bungsu saya mondok di tambakberas kemudian SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Saat ini masih kuliah di Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang.

Apakah hari ini kami tak bisa jadi pegawai? Sebenarnya saat ini kami juga tak peduli soal jadi pegawai itu. Kakak pertama saat ini seorang hakim. Saya sendiri pernah jadi anggota DPRD, menjadi pengurus parpol, menjadi dosen di universitas negeri hingga memutuskan jadi ibu rumah tangga saja. Adek laki-laki saya berkhidmat untuk masyarakat di kepenguran pusat sebuah parpol yang berbasis konstituen kuat dan memiliki posisi penting di sebuah kementrian. Adek perempuan saya jadi pegawai (hehehehe… ini yang “sukses jadi pegawai”) di sebuah Bank Syariah dan yang bungsu maish kuliah.

Soal pekerjaan sebenarnya Abah pernah berpesan pada kami agar tak meninggalkan berdagang. Jadi apapun boleh namun sebaiknya punya sumber ekonomi perdagangan sebab berkah ekonomi sebagian besarnya dari perdagangan begitu pesan beliau.

Saat Abah kami meninggal kami mulai merasakan benar bahwa selama ini abah menjalankan arah seperti seorang nahkoda kapal di tengah bahtera. Beliau yang mengarahkan kemana perahu berjalan di tengah gelombang. Visi atau pandangan kedepan seorang ayah ini kami rasa tak cukup tergantikan oleh kami yang berlima ini. Ya, kehilangan seorang ayah seperti kapal kehilangan nahkodanya. Semoga mendapat tempat terbaik disisiNya. Alfatihah.

 

DAN IBUK KITA BAGAI KA’BAH

Mungkin pelajaran memahami cintapun butuh di mengerti sejalan waktu. Saat suara ibu terdengar serak menahan isak ketika berkata:”aku kangen kalian… “. Saya teringat tahun 1999 saya membatalkan keinginan kuliah di al azhar ketika ibu berkata: “kamu kecil sudah mondok lalu mau kuliah ke luar negeri terus pulang di bawa orang sebab menikah. Kapan jadi anakku…? “. Saya bersyukur akhirnya kuliah di universitas airlangga dan sering pulang serta paling banyak menemani ibu ketika saat itu bbrp kali jatuh sakit namun alhamdulillah kemudian sehat hingga hari ini. Setelah lulus kuliah juga masih bersama abah dan ibu sambil menjadi anggota dprd dan kuliah s2 di almamater yang sama.
Setelah Abah wafat dan kami telah tinggal berjauhan dari rumah kampung halaman kami makin sering pulang dan intens berkomunikasi satu sama lain meskipun terbatas pada WA group dan telpon-telponan. Makin umur bertambah makin kami mengerti maknanya bersaudara.Yakni ketika merindukan makan bersama sambil sekedar guyonan dan gojlok-gojlokan.  Yakni  ketika bersedih dan merindukan masa kecil yang nakal bersama saudara. Yakni ketika terbayang pertengkaran-pertengkaran kecil yang tetap saling menyayangi. Yakni ketika berlomba merayu dan menghibur ibuk kami hingga tertawa bersama. Ya Ibuk kami menjadi fokus kami semua.
Ibuk kami selalu galau saat kami kecil dan berprestasi di berbagai bidang seperti cerdas cermat, puisi, pidato, dan lainnya. Beliau selalu bertanya mengapa tak ada yang menang lomba qiroah atau sholawat? Bahkan ikut lombanya saja tak ada yang mau.. Sementara beliau selalu bertanya kenapa tak ada yang seperti ibuk dan adek-adek beliau suka ngaji alquran dan semasa muda mereka banyak diminta qiroah di acara-acara publik sebagai pembuka acara. Jadi memang lomba apapun ibu akan bertanya kapan ikut lomba qiro’ah? hahahaha…. Adakah diantara kami yang Pede ikut qiro’ah? hingga saat ini tidak ada. Jadi cukuplah hafal surat yasin sudah membuat ibuk bahagia.. Kata beliau setidaknya kalian bisa tahlilan buat orang tua dan kakek buyut kalian.
Wisata kuliner mungkin hal lazim buat kami bersaudara. Namun tetap saja kita merindukan ayam kampung kelo kuning buatan ibuk yang tak tersamai apapun lezatnya. Juga pecel bandeng panggang. Juga sambal terasinya. Juga omelanya karena tak segera mandi saat bangun tidur malah setelah sholat sudah sibuk makan-makan. Begitulah merindukan ibuk.
Dan seorang ibu adalah sebuah rumah. Yakni tempat kami meletakkan rindu dan sehingga hati kami tak mampu tak menengoknya pun sekedar menanyakan kabarnya. Mungkin juga seorang ibu seperti kakbah dimana kemanapun kau berputar berkeliling dunia ia tetap porosnya. Poros dimana kau katakan: “aku pulang bu.. ” dengan sepenuh hatimu… Atau sebaliknya kau katakan dengan pilu saat ia harus bertirakat sabar ihlas untuk anak perempuannya yang berkata:”maafkan aku ibu.. Lebaran idul adha ini aku tidak bisa pulang… “. Ya, tirakat seorang ibu adalah mengihlaskan anak perempuannya untuk keluarganya. Namun tetap saja ibu adalah rumah tempat kita mengatakan pulang. Ibu bagaikan baitulloh tempat kita berputar kemanapun dan ia porosnya. Saat makin tua begini barulah bisa dengan mendalam menghayati nasehat rosululloh tentang ibu dan surga kita… Alhamdulillah untuk keberadaan surga dunia kita..

 

Tuanku Bagaimana kujelaskan bahwa aku rindu…?

Standar

14316860_1123455391069111_6249185088446704244_n.jpg40980_121907544524572_5540955_n.jpg

Rindu ini

Rindu ini adalah saat kupejamkan mata dan begitu nyata tampak diriku berada disana bersama tubuh letih bahagia. Di depan pintu rumahMu yang kadang menghanyutkan diriku dalam pusaran berjejak jejak ritmis kaki dalam berbagai warna.

Rindu ini adalah saat basah air mata duduk tanpa sela bersama jutaan manusia yang hening penuh cinta. Di sebuah padang gersang namun begitu sejuk di mata.

Rindu ini adalah saat berjalan di suatu senja bersama suatu kebersamaan ajaib.. Ya Engkau bersama kami yang menunduk mencari kerikil-kerikil dan selepasnya merebahkan penat serasa  memandangi langit dan kerlip gemintangnya tampak sesekali di tengah gerimis kecil nan sejuk.

Rindu ini adalah Memuji kebesaranMu dalam gerak perlahan hingga mencapai tembok itu dan kami bisikkan namaMu Bismillahi Allahu Akbar.

Rindu ini adalah memandangi tenda tenda putih beraroma manusiawinya kami…  Yang telah Engkau ciptakan dalam bentuk yang sempurna namun sekaligus bisa lebih rendah martabatnya dibanding binatang…

Rindu ini adalah selalu ingin kembali ke rumahMu yang saat kupandangi masih juga rindu…  Yang belum kutinggalkan pun sudah rindu…  Yang saat kupamitipun membuncah rindu…

Rindu ini adalah menggenangnya bayangan ibrahim ismail dan hajar dalam kekuatan iman dan kelembutan kasih sayang…  Dalam kesejukan yang mengalir di tenggorokanku… Dan letih kakiku berlari lari kecil diantara dua bukit itu…

Rindu ini adalah tersimpannya bunyi gunting memotong sedikit rambutku dan kutangisi tanpa alasan…  Antara lega bahagia dan resah kapankah ini kesempatan ini terulang untukku…

Rindu ini adalah saat ruangan 7 x 12 berkarpet hijau itu basah oleh sujudku yang lemah…  Seakan tak rela mengapa hanya sekecil ini hingga kau bisikkan bahwa itu hakekatnya seluas cakrawala…  Hingga tak kurisaukan lagi jarak ruang dan waktu untuk hadirnya pemilik taman surgawi itu…

Rindu itu adalah aroma awraq bercampur  debu-debu beterbangan di waktu asar… Saat kaki ini melangga merengsek mendekatinya yang menyimpan jasad  manusia termulia… Hanya mendekatinya saja begitu bahagia…

Rindu ini adalah melihat wajah wajah dalam berbagai warna namun dalam garis ekspresi yang sama: rindu…

Rindu ini adalah melihat kaki kaki dalam berbagai warna bergerak berputar  begitu harmoni: rindu…

Rindu ini adalah panasnya matahari dan semilirnya angin menerpa kulitku hingga kurasakan keringatku menjadi penyejuk dalam  senyuman perjumpaan…

Rindu ini adalah terbayang bulan purnama  diatas kubah hijau itu… Seraya berkata engkau bagai purnama Tuanku engkau juga bagai matahari…

Rindu ini adalah saat tiada habisnya kukatakan Tuanku aku ada disisi jasad engkau… Adakah engkau melihatku….  Oh Tuanku berabad jarak darimu namun engkau tak pernah meninggalkanku…

Rindu ini adalah saat selalu kukatan aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu….  Aku sungguh-sungguh rindu…  Aku tak pernah bisa berhenti rindu….

Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Standar
Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Siang itu ada paket dari ensiklopbee yakni penerbit buku ensiklopedia bergambar untuk anak anak.  Karena saya pindah ikut suami maka alamat pengirimanan kupindahkan ke alamat rumah suami.  Dan karena saya penghuni baru maka saya berfikir biar pak pos tidak kesulitan mencariku maka kububuhkan nama suamiku dibelakang nama alamat post untukku: mahmudah fahrurrozi. Dan paket itu diterima suami saya dengan bingung memandang paket itu  sejenak kemudian  tertawa kecil.  Dan kemudian aku sadar aku bahwa kami telah saling “mencuri”.

JODOH ADALAH RAHASIA ALLOH,  JATUH CINTA ADALAH TAKDIR DAN MENIKAH ADALAH NASIB YANG DIPERJUANGKAN OLEH ORANG YANG JATUH CINTA

Tak terbayangkan kami saling mengenal hanya hanya saling tahu katanya-katanya dari teman-teman tentang diri kami masing-masing dan facebooknya juga twitternya. Bertemu fisik sebentar sekedar kenalan lalu bertemu lagi seminggu kemdian hanya dalam tempo 10 hari berikutnya  kami menikah.  Hanya seperti itu saja.  Begitu simpelnya… Begitu sederhananya.

Tidak simpel atau tidak sederhana adalah ragam respon yang kami terima.  Bahkan ada salah satu respon yang terus berkembang hingga sekarang namun buat apa resah?  Ini kisah cinta kita (cie…).  Ini hidup kita.  Ini keputusan yang kita pilih bersama sebagai pribadi dewasa yang sama sama sadar.  Kami menjalani dengan bahagia..  (hehehe jujur ding,  saya sedikit resah. Sedikiiiiit..).

Kisah kita mulai berkomunikasi personal bermula dari dua hal. Pertama karena saya akan ada syuting di lokasi lembaga abah (demikian kami  menyebut suami saya)  kedua karena  abah mengkonfirmasi keberadaan seseorang yang mengaku sahabat saya dan menawarkan “banyak hal baru” buat abah.  Dan kebetulan itu palsu alias sama sekali bukan sahabat sebab bertemu sekali saja tidak pernah. Selain itu abah bukan orang pertama yang konfirmasi soal orang ini.  Sebelumnya pernah ada juga yg konfirmasi ke saya.  Tapi saya tak berani mengatakan orang itu penipu. Saya hanya mengatakan bukan sahabat saya dan saya tidak ikut bertanggung jawab atas apapun apalagi jika sampai mengarah pada hal serius.  Rupanya hal ini membuat kita diskusi serius lagi berlanjut guyon tidak serius lalu berkembang serius lagi. Sampai muncul statement:  Kayaknya kita cocok, gimana kalau kita menikah saja.  Ehehehehe…

Tau lagu jawa gak yang bunyinya gini: mo mo romo ono maling…  Berdenting denting isi kepalaku bernyanyi mo mo romo ono maling…  Hehehe..  Gak tau?  Tanya mbah google+.

Abah duda 5 anak karena istri beliau terdahulu wafat  dan saya janda 2 anak bercerai krn itu pilihan  terbaik saat itu. Artinya status kami memang sama sama “terbuka”. Kita akhirnya ketemuan di restoran di belakang rumah dalam kompleks perumahan saya sebab itu tempat umum dan beliau ada perjalan ke surabaya dimana lokasi ini adalah jalur perjalanannya. Disitu kita berkenalan dan banyak guyon berbagai hal yang ternyata kami ketahui bersama.  Soal partai sebagai “rumah lama” kami yang kebetulan sama,  soal humor-humor pesantren, soal tokoh2 panutan kami dan soal soal kecil lainya.

Dua hari berikutnya saya ada perjalanan ke semarang untuk komgres ilmu politik bersama Adipi di Semarang mulai tanggal 2-5 Juni 2016 dan disela selanya yakni tanggal 3 juni pagi buta saya berangkat ke bandara semarang terbang ke Jakarta menuju Universitas Indonesia  untuk registrasi dan penerimaan formal administratif mahasiswa baru S3 UI.  Sorenya langsung balik ke Semarang lagi melanjutkan acara.  Ya,  status saya adalah mahasiswi S3 UI saat berkenalan dengan abah.  Dan saya sudah merencakan hijrah ke jakarta untuk menjalani kuliah s3. Masuk UI tidak mudah sahabatku… Seleksinya cukup membuat saya terpaksa belajar Tes Potensi Akademik, Toefl dan menulis proposal desertasi serta menghadapi majlis penguji untuk mempertanggungjawabkan proposal tersebut.

Saya bertemu lagi dengan abah di tanggal 7 Juni dalam buka puasa bersama kolega abah di rumah makan agis. Ya itu sdh masuk bulan ramadhan dan disitulah kami bicara serius tentang menikah. Ya ada kolega dekat abah yang hadir itu mensupport kami untuk menikah saja.  Sebenarnya saya agak jengah sih sebab agak “sensi” sayamikir ini teman-teman abah kok kayak panitia seleksi atau dewan juri yang habis sidang pengambilan keputusan aja…

Akhirnya setelah bicara dengan orang-orang terdekat masing-masing kami bersepakat menikah di tanggal 2 Juli 2016 dirumah keluarga saya Lamongan.  Namun beberapa hari kemudian abah menelfon menyampaikan permintaan ibunda beliau agar pernikahan dipercepat tanggal 17 Juni di ndalem ibunda agar beliau bisa menyaksikan langsung mengingat secara fisik (kesehatan) tak mungkin keluar kota.  Yang beliau maksud adalah menikah secara agama sehingga yang tanggal 2 Juli tetap diselenggarakan di Lamongan.

Kami membahas hal ini serius mengingat ini permintaan seorang ibu.  Usia ibu sudah sangat sepuh serta abah terbiasa patuh pada ibu.  Berbagai kemungkinan masalah kami bahas dan kami putuskan mengabulkan permintaan ibu dengan membuat akad nikah ini di kalangan terbatas. Tidak diumumkan mengingat kami sudah pamit ke banyak pihak bahwa akan menikah di tanggal 2 Juli dan itu sudaj cukup mengagetkan banyak pihak.  Toh dari 17 juni menuju 2 Juli adalah waktu yang relatif singkat.

Tanggal 17 juni hari akad nikah itu sebenarnya jadwal saya telah tersusun padat. Terjadwal Saya syuting sebagai host program sobo pondok di UB TV kebetulan di pondok pesantren yang diasuh sahabat sekolah di tambakberas yakni Gus Muhammad dan istrinya yang juga sahabat saya semasa remaja di tambakberas yakni inayatur rosyidah yakni pesantren darul falah areng areng Batu.   Saya tak mungkin membatalkan syuting.  Jadilah saya tetap syuting dan meskipun belum tuntas saya sudahi pada jam 2 siang untuk  berangkat menikah.  Iya sahabat,  saya berangkat menikah kayak berangkat maen.  Tak sempat ganti baju,  tak sempat mandi,  tak sempat renew make up selain sisa syuting seharian itu…  Mungkin saya ini satu satunya pengantin yang tak sempat mandi saat akan akad nikah, hehehe…  (lebay ya?).  Demi takzim kami pada permintaan ibunda.

Namun sahabatku…  Waktu itu relatif.  Yang kita fikir singkat ternyata begitu cepatnya menyebarkan berita pernikahan kami dan sempat membingungkan keluarga besar serta sahabat dan kolega  yang sudah kita pamiti penyelenggaraan di tanggal 2 Juli. Kepalang basah ya sudah mandi sekali..  Kami mulai mengkonfirmasi agar tidak tersebar dan berkembang menjadi fitnah.  Apakah tak ada fitnah..?  InsyaAlloh tidak ada…  Hanya menyisakan sedikit salah faham saja.  Sedikiiit saja, hehehe…

Hikmahnya adalah pernikahan kami pada tanggal 2 Juli semakin membahagiakan serta melegakan banyak pihak yang selama ini peduli pada masing masimg dari kami.  Semua tersenyum bahagia pada kami hari itu.. Tentu saja kecuali yang bertahan memilih salah paham dan atau  paham yang salah,  hehehehe….

Kami merenungi bersama tentang jodoh.  Bagaimana saya yang sekian tahun menjanda “mbulet” selalu tiap ada yang melamar dan bagaimana beliau banyak menerima  “banyak kandidat istri” dari sahabat sahabatnya dan jalur lainnya ternyata berubah pikiran saat sebentar saja bertemu saya. Sedemikian juga abah berfikir begitulah taqdir beroperasi  manakala abah merencanakan umroh akhir ramadhan namun paspornya hilang ketlisut entah dimana sehingga abah tidak bisa daftar berangkat umroh.  Untuk mengurus paspor baru karena hilang butuh waktu lama.  Dan begitulah ternyata akhir ramadhan adalah waktu yg Alloh tentukan untuk kami menikah.  Lucunya paspor itu muncul begitu saja terlihat di laci padahal abah merasa sudah memeriksa laci itu sebelumnya namun tak menemukan paspornya.  Jodoh memang rahasia ilahi.

Kami juga sering merenungi bersama bagaimana kami bertemu dan hati kami menjadi begitu saling bertaut dalam waktu begitu singkatnya. Kami menyimpulkan ini adalah takdir. Hanya Alloh yang mampu meletakkan perasaan menerima satu sama lain dalam berbagai kerumitan masing-masing. Hanya Alloh yang mampu membuat kami berpikir bukan hanya secara rasional untuk membuat kami saling mengalah untuk jalan hidup bersama yang baru. Jalan yang saling melapangkan satu sama lain meski dalam rangka itu kita saling berkorban.  Hanya kekuatan Alloh yang hanya Alloh yang mampu membuat segalanya menjadi mudah jalannya untuk sesuatu yang umumnya rumit.  Ya,  jatuh cinta itu kekuatan takdir.  Hanya takdirnya yang mampu saling mentautkan dua hati.

Kami juga sesekali sambil guyon maupun serius merenengi bagaimana masing dari kami meyakinkan diri sendiri atas pilihan ini,  meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan dan sekaligus bagaimana kami mengelola support pihak lain yang mendukung sekaligus mengelola penolakan pihak lain dalam berbagai motif mereka.  Dan kami berkesimpulan inilah perjuangan. Takdir kita adalah jatuh cinta sebab itu kekuatan Alloh dan kita memperjuangkannya menjadi sebuah ikatan suci pernikahan.

DAN BENARLAH KATA BIJAK BANYAK ORANG : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

Entah siapa yang memulai mengucapkan kalimat ini sehingga ini menjadi kalimat umum untuk pasangan yang baru menikah.

Kami menyadari betul bahwa kita bisa lega berkata alhamdulillah kita akhirnya menjadi pasangan halal dalam akad yang sesuai ridlo Alloh.  Namun sebenarnya ini adalah awal dari hidup baru dan bukan akhirnya.  Akhir itu mungkin hanya sekedar akhir sebuah periode menuju satu periode lain. Ya untuk alhamdulillah sekaligus ini adalah bismillah.  Bismillahirrohmanirrochim. Surabaya, 8 September 2016.

 

Mengapa Kita Harus Menghormati Para janda?

Standar

Sahabatku, Sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini namun takut. Kenapa sekarang tidak takut? Sebab sekarang sudah tidak berstatus janda. Menyandang status janda lalu menulis  yang terkesan  keluh kesah menjadi janda rentan menjadi fitnah. Terutama anggapan berusaha caper alias cari perhatian. Atau pikiran negatif yang terstigma secara umum seolah minta digodain.

Sebenarnya ada banyak perempuan berstatus janda, artis pula,  yang sudah sangat lama survive dan luar biasa dalam tulisan-tulisan mereka namun tentu saja saya ini bukan jenis mereka. saya ini jenis yang biasa-biasa saja. Jadi mau nulis saja takut dan banyak pertimbangan ini itu. Saya takut mengaku janda waktu itu. Takut tak siap menghadapi respon balik yang harus saya hadapi. Saya lebih banyak menghindar jika ditanya status. Kebanyakan saya menghindar dengan mengatakan bahwa saya ibu rumah tangga dengan dua anak.  Maklum saya perempuan biasa dalam hal ini. Saya perempuan penakut soal ini…

Tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda

Semua perempuan bermimpi indah tentang kehidupan percintaan dan rumah tangganya. Itu adalah alasan kenapa Cinderella Story  dan segudang tokoh-tokoh perempuan pendamba cinta sejati  besutan disney tak lekang zaman. Happily ever after.

Dalam kehidupan nyata ternyata banyak sekali tidak berlaku demikian.  Dongeng yang selalu diakhiri dengan : begitulah akhirnya mereka berbahagia selamanya biasanya dikatakan pada titik pernikahan dari tokoh-tokoh dongeng. Di kehidupan nyata justru segala sesuatu bermula dari situ. Sesuatu yang umumnya dikatakan selamat menempuh hidup baru.

Namanya juga hidup baru maka segala sesuatu berbeda. Ada yang kemudian berhasil mewujudkan berbahagia selamanya namun tidak sedikit yang terpaksa gagal yang berujung pada perceraian. Dari sinilah sebuah pengalaman hidup berharga ingin saya share. Yakni bagaimana merasakan langsung status tersebut menjadi kekuatan sekaligus menjadi begitu banyak cobaan dan hambatan. Ala kulli hal, saya bersyukur atas segala hikmah yang saya terima dalam hal ini. Segala kekuatan yang tumbuh dari mengalami hal ini. Segala pengalaman hidup yang menjadi khazanah kebijaksanaan buat diri saya karena hal ini.

Namun bagaimanapun tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda. Jika kemudian ada perempuan mengalami keadaan harus menanggung status tersebut dalam periode hidupnya maka percayalah: mereka perempuan tangguh. Mereka tak pernah berdoa menjadi janda namun ketika itu harus dihadapi maka tak ada pilihan selain dihadapi. Apapun masalahnya baik itu suami meninggal maupun bercerai sama-sama status tersebut menyisakan sudut perih yang sulit dinafikan. Baik akibat stigma masyarakat maupun beratnya perjuangan untuk survive disini.

Saya melihat banyak kawan-kawan maupun bukan kawan yang ia adalah janda tampak begitu tangguh menghadapi hidup. Saya melihat mereka pantang menyerah. Saya melihat mereka menjadi kreatif. Terutama kreatif dalam menggali sumber-sumber ekonomi. Jujur memang ada juga yang kemudian memilih jalan pintas soal rezeki dari arah yang kurang layak.. Misalnya masuk kehidupan gemerlap malam. Dan itu tidak banyak. Dan itu dilakukan juga bahkan oleh yang bersuami dengan dukungan suaminya. Juga dilakukan perempuan yang  status KTPnya belum pernah menikah. Namun status janda seolah adalah alasan dan stigma dari kelakuan negatif. Itu salah satu ketidak adilan stigma yang harus ditanggung mereka. Dan saya pernah mengalami.

Di Tempat Yang Baikpun…

Saya bersyukur saat menjalani masa menjadi janda itu bekerja di kampus. Sebuah lingkungan baik dimana penghuninya mengemban tridharma yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian bagi para dosennya, mengemban pelayanan tridharma bagi para pegawainya dan mengemban tugas  mengembangkan diri sebaik baiknya. Artinya semua orang disini punya tugas baik yang diemban. Sebuah institusi yang harusnya penuh kebaikan.

Benarkah semuanya sebaik itu? Secara umum memang baik. Hampir semuanya disini memandang orang bukanlah dari statusnya seperti kekayaan, jabatan, kekuatan, asal usul, dan juga status perkawinan. saya bilang hampir semuanya. Artinya memang adalah disini orang-orang yang selalu bersikap negatif terhadap saya karena status saya. Hal tersebut dilakukan baik dalam ungkapan lisan maupun sikap. Bahkan pernah beberapa kali status saya tersebut dijadikan dalih menyerang secara pribadi. Saya jadi membayangkan bagaimana para janda yang bekerja di tempat-tempat dimana ideologi patriarkhi begitu berkuasa. Bekerja ditempat sebaik ini saja masih saya alami..

Saya tidak hendak menceritakan siapa pelakunya namun hendak mencoba merenungi bagaimana orang yang bertitel S3 yang artinya mengenyam pendidikan formal sampai jenjang tertinggi masih bersikap seperti itu. Beberapa statementnya yang membuat saya tertawa miris. Tapi percayalah sebenarnya saya menjawab statemennya tersebut secara selayaknya perempuan terpelajar. Berikut beberapa statement yang saya catat dalam lembaran diary saya:

  1. “Dudo karo rondo iku regane seje. Lek dudo iku koyok anduk dicentelno pager lak ono wae sing ngeleles. Tapi rondo loh sopo sing arep. Contohne mbak Muda iku loh masio ayu sopo sing arep.. Buktine sampe saikoi gak payu rabi….” (Terj: Duda dan janda itu nilainya beda. Duda itu bagaikan handuk jelek sekalipun yang diaturh di pagar ada saja yang mau ngambil. Sementara janda siapa yang mau. Contohnya mbak muda itu meskipun cantik siapa yang mau.. Buktinya sampai sekarang ya belum ada yang menikahi). Tenang sahabat sekalian.. Saya menjawab bahwa yang menikahi janda yang menurut sampean ndak laku ini besok orang beriman yang berakhlaq baik sebagaimana akhlaqnya rosululloh yang mencintai dengan penuh penghormatan pada seorang janda bernama Khadijah. Rosululloh pasti tidak pernah membandingkan para janda tak lebih baik dari handuk bekas. Benar gak bahwa yang beriman pada Alloh dan Rosululloh tidak mungkin menghina status janda yang disandang seorang perempuan?
  2. “Lek janda yo pacarane ngawur wae wong wes gak perawan. Susah percoyo rondo iku pacaran baik-baik. Maneh nek ono sing ngejak yo gelam-gelem wae mesti”. (Terj: Kalau janda ya cara pacarannya ngawur aja kan sudah tidak perawan. Susah untuk percaya bahwa janda itu pacarannya secara baik-baik. Kalau ada yang ngajakin ya pasti mau-mau aja.”. Tenang sahabat saya menanggapi begini: “wow jadi sudah berapa janda mau diajakin sama bapak..?” dia menjawab:”ya gak ada..”. Saya menanggapi:”Jadi dari total populasi janda yang kelakuan semuanya kayak gitu satupun gak ada yang mau sama bapak? Gimana kok total populasi tak terepresentasi oleh sampel…? Kasihan njenengan pak kok gak ada janda yang mau diajakin sama panjenengan…..”. Mungkin sahabat bertanya yang ngomong kayak gitu dosen? iya dosen.. Dan bergelar doktor, hehehehe..
  3. “Susah percaya pada integritas seorang dosen yang Janda. Seorang perempuan jadi janda pasti karena tidak berintegritas”. Lhoh…? Sudah yang ini sengaja tidak saya tanggapi. Saya tak mau berdebat dengan logika tidak waras. Saya mau menjaga akal sehat saja, hehehehe….
  4. “Itu mbak muda banyak punya proyek dan sering ngisi kegiatan di ormas dan pemda-pemda pasti karena memanfaatkan statusnya yang janda. Kan para pejabat itu naksir-naksir gitu trus ngundang biar ada alasan ketemuan..”. Hahhhh? Yang ini juga tidak saya tanggapi. Maklum aja yang bersangkutan saya lihat di curriculum vitaenya dalam beberapa tahun terakhir ternyata memang tak pernah mendapat undangan bicara dalam forum-forum publik kecuali dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang panitia sekaligus narasumbernya adalah dirinya sendiri. Kayaknya ini jenis dosen jagoan kandang yang mentalnya terintimidasi oleh status janda. Atau sedang bermimpi disamperin janda-janda yang menurutnya pada “arepan” (mau-mau aja) sama siapapun tapi tak kunjung ada, ahai… kasihan…
  5. “Makanya cari istri itu yang bodoh-bodoh aja yang penting cantik. Biar rumah tangga kita aman. Kalau punya istri pinter nanti malah minta cerai dan banyak tuntutan kayak teman-teman kita dosen-dosen perempuan yang janda-janda itu..” Saya menghela nafas panjang soal ini. Bagaimana seorang terpelajar menginginkan ibu yang bodoh bagi anaknya. Atau secara tidak langsung dia menceritakan bahwa istrinya adalah perempuan bodoh yang ia pilih untuk dinikahi. Logika rusak…
  6. Saat bersikap ramah dibilangnya kita naksir dia. Saat kita tegas dan apalagi galak gak lama kemudian terdengar kasak-kusuk: Jalak dia! Janda Galak!.
  7. Pernah pada suatu hari sedang ngobrol seorang teman cerita bahwa salah satu kolega kita baru saja menjada sebab bercerai dengan suaminya. Dan saya heran ketika melihat wajah salah satu kolega tiba-tiba berbinar-binar bahagia seraya berkata:”waaah…  kok aku baru tau”. Saya tak habis pikir melihat hal itu. Sungguh siang itu ingin sekali kubisikkan sebuah kalimat indah penuh makna pada bapak itu:”Pak… koen pikir lek ono rondo mesti arep raimu…. istighfar pak, nyebut, iling umur…” Dan hari itu hal ini saya posting di Facebook.

 

Tingginya Status Jenjang Pendidikan Tak Otomatis Berarti Tingginya Kemuliaan Akhlaq Seseorang

Seorang profesor maupun doktor mungkin lebih pandai dari yang bukan bergelar serupa namun bukan berarti akhlaq mereka lebih mulia. Sangat saya sayangkan ketika saya bertemu dengan kejadian-kejadian di atas justru oleh orang-orang bergelar tinggi.

Banyak kesempatan saya menjumpai kemuliaan akhlaq (termasuk di kampus) justru datang dari orang-orang sederhana, jabatannya biasa saja, tidak bertitel tinggi, atau bahkan anak-anak muda (mahasiswa) yang melihat lebih tulus dari apa yang mereka rasakan langsung.

Cara orang menyikapi status perempuan yang janda menurut saya adalah salah satu indikator dari kemuliaan akhlaq seseorang. Stigma dan stereotype yang dilekatkan masyarakat terhadap janda adalah cobaan bagi semua orang. Cobaan dalam artian apakah seseorang mampu berfikir dan bersikap bijaksana untuk tidak ikut-ikutan bersikap negatif.

Apa yang difikirkan tentang janda ini memang seringkali mudah ditangkap. Perhatikanlah dalam banyak group WA menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok. Jujur saja termasuk pernah terjadi dalam WA Group dosen. Artinya sekelompok orang berpendidikanpun tak bebas dari terseret perilaku salah kaprah ini. Salah yang jelas jelas salah namun kaprah di kalangan masyarakat. Bagaimana mungkin mengaku beriman pada rosululloh yang memuliakan dan bahkan mencintai seorang janda bernama khadijah sementara kalian menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok bahkan posting-posting porno?