Mengapa Kita Harus Menghormati Para janda?

Standar

Sahabatku, Sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini namun takut. Kenapa sekarang tidak takut? Sebab sekarang sudah tidak berstatus janda. Menyandang status janda lalu menulis  yang terkesan  keluh kesah menjadi janda rentan menjadi fitnah. Terutama anggapan berusaha caper alias cari perhatian. Atau pikiran negatif yang terstigma secara umum seolah minta digodain.

Sebenarnya ada banyak perempuan berstatus janda, artis pula,  yang sudah sangat lama survive dan luar biasa dalam tulisan-tulisan mereka namun tentu saja saya ini bukan jenis mereka. saya ini jenis yang biasa-biasa saja. Jadi mau nulis saja takut dan banyak pertimbangan ini itu. Saya takut mengaku janda waktu itu. Takut tak siap menghadapi respon balik yang harus saya hadapi. Saya lebih banyak menghindar jika ditanya status. Kebanyakan saya menghindar dengan mengatakan bahwa saya ibu rumah tangga dengan dua anak.  Maklum saya perempuan biasa dalam hal ini. Saya perempuan penakut soal ini…

Tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda

Semua perempuan bermimpi indah tentang kehidupan percintaan dan rumah tangganya. Itu adalah alasan kenapa Cinderella Story  dan segudang tokoh-tokoh perempuan pendamba cinta sejati  besutan disney tak lekang zaman. Happily ever after.

Dalam kehidupan nyata ternyata banyak sekali tidak berlaku demikian.  Dongeng yang selalu diakhiri dengan : begitulah akhirnya mereka berbahagia selamanya biasanya dikatakan pada titik pernikahan dari tokoh-tokoh dongeng. Di kehidupan nyata justru segala sesuatu bermula dari situ. Sesuatu yang umumnya dikatakan selamat menempuh hidup baru.

Namanya juga hidup baru maka segala sesuatu berbeda. Ada yang kemudian berhasil mewujudkan berbahagia selamanya namun tidak sedikit yang terpaksa gagal yang berujung pada perceraian. Dari sinilah sebuah pengalaman hidup berharga ingin saya share. Yakni bagaimana merasakan langsung status tersebut menjadi kekuatan sekaligus menjadi begitu banyak cobaan dan hambatan. Ala kulli hal, saya bersyukur atas segala hikmah yang saya terima dalam hal ini. Segala kekuatan yang tumbuh dari mengalami hal ini. Segala pengalaman hidup yang menjadi khazanah kebijaksanaan buat diri saya karena hal ini.

Namun bagaimanapun tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda. Jika kemudian ada perempuan mengalami keadaan harus menanggung status tersebut dalam periode hidupnya maka percayalah: mereka perempuan tangguh. Mereka tak pernah berdoa menjadi janda namun ketika itu harus dihadapi maka tak ada pilihan selain dihadapi. Apapun masalahnya baik itu suami meninggal maupun bercerai sama-sama status tersebut menyisakan sudut perih yang sulit dinafikan. Baik akibat stigma masyarakat maupun beratnya perjuangan untuk survive disini.

Saya melihat banyak kawan-kawan maupun bukan kawan yang ia adalah janda tampak begitu tangguh menghadapi hidup. Saya melihat mereka pantang menyerah. Saya melihat mereka menjadi kreatif. Terutama kreatif dalam menggali sumber-sumber ekonomi. Jujur memang ada juga yang kemudian memilih jalan pintas soal rezeki dari arah yang kurang layak.. Misalnya masuk kehidupan gemerlap malam. Dan itu tidak banyak. Dan itu dilakukan juga bahkan oleh yang bersuami dengan dukungan suaminya. Juga dilakukan perempuan yang  status KTPnya belum pernah menikah. Namun status janda seolah adalah alasan dan stigma dari kelakuan negatif. Itu salah satu ketidak adilan stigma yang harus ditanggung mereka. Dan saya pernah mengalami.

Di Tempat Yang Baikpun…

Saya bersyukur saat menjalani masa menjadi janda itu bekerja di kampus. Sebuah lingkungan baik dimana penghuninya mengemban tridharma yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian bagi para dosennya, mengemban pelayanan tridharma bagi para pegawainya dan mengemban tugas  mengembangkan diri sebaik baiknya. Artinya semua orang disini punya tugas baik yang diemban. Sebuah institusi yang harusnya penuh kebaikan.

Benarkah semuanya sebaik itu? Secara umum memang baik. Hampir semuanya disini memandang orang bukanlah dari statusnya seperti kekayaan, jabatan, kekuatan, asal usul, dan juga status perkawinan. saya bilang hampir semuanya. Artinya memang adalah disini orang-orang yang selalu bersikap negatif terhadap saya karena status saya. Hal tersebut dilakukan baik dalam ungkapan lisan maupun sikap. Bahkan pernah beberapa kali status saya tersebut dijadikan dalih menyerang secara pribadi. Saya jadi membayangkan bagaimana para janda yang bekerja di tempat-tempat dimana ideologi patriarkhi begitu berkuasa. Bekerja ditempat sebaik ini saja masih saya alami..

Saya tidak hendak menceritakan siapa pelakunya namun hendak mencoba merenungi bagaimana orang yang bertitel S3 yang artinya mengenyam pendidikan formal sampai jenjang tertinggi masih bersikap seperti itu. Beberapa statementnya yang membuat saya tertawa miris. Tapi percayalah sebenarnya saya menjawab statemennya tersebut secara selayaknya perempuan terpelajar. Berikut beberapa statement yang saya catat dalam lembaran diary saya:

  1. “Dudo karo rondo iku regane seje. Lek dudo iku koyok anduk dicentelno pager lak ono wae sing ngeleles. Tapi rondo loh sopo sing arep. Contohne mbak Muda iku loh masio ayu sopo sing arep.. Buktine sampe saikoi gak payu rabi….” (Terj: Duda dan janda itu nilainya beda. Duda itu bagaikan handuk jelek sekalipun yang diaturh di pagar ada saja yang mau ngambil. Sementara janda siapa yang mau. Contohnya mbak muda itu meskipun cantik siapa yang mau.. Buktinya sampai sekarang ya belum ada yang menikahi). Tenang sahabat sekalian.. Saya menjawab bahwa yang menikahi janda yang menurut sampean ndak laku ini besok orang beriman yang berakhlaq baik sebagaimana akhlaqnya rosululloh yang mencintai dengan penuh penghormatan pada seorang janda bernama Khadijah. Rosululloh pasti tidak pernah membandingkan para janda tak lebih baik dari handuk bekas. Benar gak bahwa yang beriman pada Alloh dan Rosululloh tidak mungkin menghina status janda yang disandang seorang perempuan?
  2. “Lek janda yo pacarane ngawur wae wong wes gak perawan. Susah percoyo rondo iku pacaran baik-baik. Maneh nek ono sing ngejak yo gelam-gelem wae mesti”. (Terj: Kalau janda ya cara pacarannya ngawur aja kan sudah tidak perawan. Susah untuk percaya bahwa janda itu pacarannya secara baik-baik. Kalau ada yang ngajakin ya pasti mau-mau aja.”. Tenang sahabat saya menanggapi begini: “wow jadi sudah berapa janda mau diajakin sama bapak..?” dia menjawab:”ya gak ada..”. Saya menanggapi:”Jadi dari total populasi janda yang kelakuan semuanya kayak gitu satupun gak ada yang mau sama bapak? Gimana kok total populasi tak terepresentasi oleh sampel…? Kasihan njenengan pak kok gak ada janda yang mau diajakin sama panjenengan…..”. Mungkin sahabat bertanya yang ngomong kayak gitu dosen? iya dosen.. Dan bergelar doktor, hehehehe..
  3. “Susah percaya pada integritas seorang dosen yang Janda. Seorang perempuan jadi janda pasti karena tidak berintegritas”. Lhoh…? Sudah yang ini sengaja tidak saya tanggapi. Saya tak mau berdebat dengan logika tidak waras. Saya mau menjaga akal sehat saja, hehehehe….
  4. “Itu mbak muda banyak punya proyek dan sering ngisi kegiatan di ormas dan pemda-pemda pasti karena memanfaatkan statusnya yang janda. Kan para pejabat itu naksir-naksir gitu trus ngundang biar ada alasan ketemuan..”. Hahhhh? Yang ini juga tidak saya tanggapi. Maklum aja yang bersangkutan saya lihat di curriculum vitaenya dalam beberapa tahun terakhir ternyata memang tak pernah mendapat undangan bicara dalam forum-forum publik kecuali dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang panitia sekaligus narasumbernya adalah dirinya sendiri. Kayaknya ini jenis dosen jagoan kandang yang mentalnya terintimidasi oleh status janda. Atau sedang bermimpi disamperin janda-janda yang menurutnya pada “arepan” (mau-mau aja) sama siapapun tapi tak kunjung ada, ahai… kasihan…
  5. “Makanya cari istri itu yang bodoh-bodoh aja yang penting cantik. Biar rumah tangga kita aman. Kalau punya istri pinter nanti malah minta cerai dan banyak tuntutan kayak teman-teman kita dosen-dosen perempuan yang janda-janda itu..” Saya menghela nafas panjang soal ini. Bagaimana seorang terpelajar menginginkan ibu yang bodoh bagi anaknya. Atau secara tidak langsung dia menceritakan bahwa istrinya adalah perempuan bodoh yang ia pilih untuk dinikahi. Logika rusak…
  6. Saat bersikap ramah dibilangnya kita naksir dia. Saat kita tegas dan apalagi galak gak lama kemudian terdengar kasak-kusuk: Jalak dia! Janda Galak!.
  7. Pernah pada suatu hari sedang ngobrol seorang teman cerita bahwa salah satu kolega kita baru saja menjada sebab bercerai dengan suaminya. Dan saya heran ketika melihat wajah salah satu kolega tiba-tiba berbinar-binar bahagia seraya berkata:”waaah…  kok aku baru tau”. Saya tak habis pikir melihat hal itu. Sungguh siang itu ingin sekali kubisikkan sebuah kalimat indah penuh makna pada bapak itu:”Pak… koen pikir lek ono rondo mesti arep raimu…. istighfar pak, nyebut, iling umur…” Dan hari itu hal ini saya posting di Facebook.

 

Tingginya Status Jenjang Pendidikan Tak Otomatis Berarti Tingginya Kemuliaan Akhlaq Seseorang

Seorang profesor maupun doktor mungkin lebih pandai dari yang bukan bergelar serupa namun bukan berarti akhlaq mereka lebih mulia. Sangat saya sayangkan ketika saya bertemu dengan kejadian-kejadian di atas justru oleh orang-orang bergelar tinggi.

Banyak kesempatan saya menjumpai kemuliaan akhlaq (termasuk di kampus) justru datang dari orang-orang sederhana, jabatannya biasa saja, tidak bertitel tinggi, atau bahkan anak-anak muda (mahasiswa) yang melihat lebih tulus dari apa yang mereka rasakan langsung.

Cara orang menyikapi status perempuan yang janda menurut saya adalah salah satu indikator dari kemuliaan akhlaq seseorang. Stigma dan stereotype yang dilekatkan masyarakat terhadap janda adalah cobaan bagi semua orang. Cobaan dalam artian apakah seseorang mampu berfikir dan bersikap bijaksana untuk tidak ikut-ikutan bersikap negatif.

Apa yang difikirkan tentang janda ini memang seringkali mudah ditangkap. Perhatikanlah dalam banyak group WA menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok. Jujur saja termasuk pernah terjadi dalam WA Group dosen. Artinya sekelompok orang berpendidikanpun tak bebas dari terseret perilaku salah kaprah ini. Salah yang jelas jelas salah namun kaprah di kalangan masyarakat. Bagaimana mungkin mengaku beriman pada rosululloh yang memuliakan dan bahkan mencintai seorang janda bernama khadijah sementara kalian menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok bahkan posting-posting porno?

 

Iklan

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s