Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Standar
Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Siang itu ada paket dari ensiklopbee yakni penerbit buku ensiklopedia bergambar untuk anak anak.  Karena saya pindah ikut suami maka alamat pengirimanan kupindahkan ke alamat rumah suami.  Dan karena saya penghuni baru maka saya berfikir biar pak pos tidak kesulitan mencariku maka kububuhkan nama suamiku dibelakang nama alamat post untukku: mahmudah fahrurrozi. Dan paket itu diterima suami saya dengan bingung memandang paket itu  sejenak kemudian  tertawa kecil.  Dan kemudian aku sadar aku bahwa kami telah saling “mencuri”.

JODOH ADALAH RAHASIA ALLOH,  JATUH CINTA ADALAH TAKDIR DAN MENIKAH ADALAH NASIB YANG DIPERJUANGKAN OLEH ORANG YANG JATUH CINTA

Tak terbayangkan kami saling mengenal hanya hanya saling tahu katanya-katanya dari teman-teman tentang diri kami masing-masing dan facebooknya juga twitternya. Bertemu fisik sebentar sekedar kenalan lalu bertemu lagi seminggu kemdian hanya dalam tempo 10 hari berikutnya  kami menikah.  Hanya seperti itu saja.  Begitu simpelnya… Begitu sederhananya.

Tidak simpel atau tidak sederhana adalah ragam respon yang kami terima.  Bahkan ada salah satu respon yang terus berkembang hingga sekarang namun buat apa resah?  Ini kisah cinta kita (cie…).  Ini hidup kita.  Ini keputusan yang kita pilih bersama sebagai pribadi dewasa yang sama sama sadar.  Kami menjalani dengan bahagia..  (hehehe jujur ding,  saya sedikit resah. Sedikiiiiit..).

Kisah kita mulai berkomunikasi personal bermula dari dua hal. Pertama karena saya akan ada syuting di lokasi lembaga abah (demikian kami  menyebut suami saya)  kedua karena  abah mengkonfirmasi keberadaan seseorang yang mengaku sahabat saya dan menawarkan “banyak hal baru” buat abah.  Dan kebetulan itu palsu alias sama sekali bukan sahabat sebab bertemu sekali saja tidak pernah. Selain itu abah bukan orang pertama yang konfirmasi soal orang ini.  Sebelumnya pernah ada juga yg konfirmasi ke saya.  Tapi saya tak berani mengatakan orang itu penipu. Saya hanya mengatakan bukan sahabat saya dan saya tidak ikut bertanggung jawab atas apapun apalagi jika sampai mengarah pada hal serius.  Rupanya hal ini membuat kita diskusi serius lagi berlanjut guyon tidak serius lalu berkembang serius lagi. Sampai muncul statement:  Kayaknya kita cocok, gimana kalau kita menikah saja.  Ehehehehe…

Tau lagu jawa gak yang bunyinya gini: mo mo romo ono maling…  Berdenting denting isi kepalaku bernyanyi mo mo romo ono maling…  Hehehe..  Gak tau?  Tanya mbah google+.

Abah duda 5 anak karena istri beliau terdahulu wafat  dan saya janda 2 anak bercerai krn itu pilihan  terbaik saat itu. Artinya status kami memang sama sama “terbuka”. Kita akhirnya ketemuan di restoran di belakang rumah dalam kompleks perumahan saya sebab itu tempat umum dan beliau ada perjalan ke surabaya dimana lokasi ini adalah jalur perjalanannya. Disitu kita berkenalan dan banyak guyon berbagai hal yang ternyata kami ketahui bersama.  Soal partai sebagai “rumah lama” kami yang kebetulan sama,  soal humor-humor pesantren, soal tokoh2 panutan kami dan soal soal kecil lainya.

Dua hari berikutnya saya ada perjalanan ke semarang untuk komgres ilmu politik bersama Adipi di Semarang mulai tanggal 2-5 Juni 2016 dan disela selanya yakni tanggal 3 juni pagi buta saya berangkat ke bandara semarang terbang ke Jakarta menuju Universitas Indonesia  untuk registrasi dan penerimaan formal administratif mahasiswa baru S3 UI.  Sorenya langsung balik ke Semarang lagi melanjutkan acara.  Ya,  status saya adalah mahasiswi S3 UI saat berkenalan dengan abah.  Dan saya sudah merencakan hijrah ke jakarta untuk menjalani kuliah s3. Masuk UI tidak mudah sahabatku… Seleksinya cukup membuat saya terpaksa belajar Tes Potensi Akademik, Toefl dan menulis proposal desertasi serta menghadapi majlis penguji untuk mempertanggungjawabkan proposal tersebut.

Saya bertemu lagi dengan abah di tanggal 7 Juni dalam buka puasa bersama kolega abah di rumah makan agis. Ya itu sdh masuk bulan ramadhan dan disitulah kami bicara serius tentang menikah. Ya ada kolega dekat abah yang hadir itu mensupport kami untuk menikah saja.  Sebenarnya saya agak jengah sih sebab agak “sensi” sayamikir ini teman-teman abah kok kayak panitia seleksi atau dewan juri yang habis sidang pengambilan keputusan aja…

Akhirnya setelah bicara dengan orang-orang terdekat masing-masing kami bersepakat menikah di tanggal 2 Juli 2016 dirumah keluarga saya Lamongan.  Namun beberapa hari kemudian abah menelfon menyampaikan permintaan ibunda beliau agar pernikahan dipercepat tanggal 17 Juni di ndalem ibunda agar beliau bisa menyaksikan langsung mengingat secara fisik (kesehatan) tak mungkin keluar kota.  Yang beliau maksud adalah menikah secara agama sehingga yang tanggal 2 Juli tetap diselenggarakan di Lamongan.

Kami membahas hal ini serius mengingat ini permintaan seorang ibu.  Usia ibu sudah sangat sepuh serta abah terbiasa patuh pada ibu.  Berbagai kemungkinan masalah kami bahas dan kami putuskan mengabulkan permintaan ibu dengan membuat akad nikah ini di kalangan terbatas. Tidak diumumkan mengingat kami sudah pamit ke banyak pihak bahwa akan menikah di tanggal 2 Juli dan itu sudaj cukup mengagetkan banyak pihak.  Toh dari 17 juni menuju 2 Juli adalah waktu yang relatif singkat.

Tanggal 17 juni hari akad nikah itu sebenarnya jadwal saya telah tersusun padat. Terjadwal Saya syuting sebagai host program sobo pondok di UB TV kebetulan di pondok pesantren yang diasuh sahabat sekolah di tambakberas yakni Gus Muhammad dan istrinya yang juga sahabat saya semasa remaja di tambakberas yakni inayatur rosyidah yakni pesantren darul falah areng areng Batu.   Saya tak mungkin membatalkan syuting.  Jadilah saya tetap syuting dan meskipun belum tuntas saya sudahi pada jam 2 siang untuk  berangkat menikah.  Iya sahabat,  saya berangkat menikah kayak berangkat maen.  Tak sempat ganti baju,  tak sempat mandi,  tak sempat renew make up selain sisa syuting seharian itu…  Mungkin saya ini satu satunya pengantin yang tak sempat mandi saat akan akad nikah, hehehe…  (lebay ya?).  Demi takzim kami pada permintaan ibunda.

Namun sahabatku…  Waktu itu relatif.  Yang kita fikir singkat ternyata begitu cepatnya menyebarkan berita pernikahan kami dan sempat membingungkan keluarga besar serta sahabat dan kolega  yang sudah kita pamiti penyelenggaraan di tanggal 2 Juli. Kepalang basah ya sudah mandi sekali..  Kami mulai mengkonfirmasi agar tidak tersebar dan berkembang menjadi fitnah.  Apakah tak ada fitnah..?  InsyaAlloh tidak ada…  Hanya menyisakan sedikit salah faham saja.  Sedikiiit saja, hehehe…

Hikmahnya adalah pernikahan kami pada tanggal 2 Juli semakin membahagiakan serta melegakan banyak pihak yang selama ini peduli pada masing masimg dari kami.  Semua tersenyum bahagia pada kami hari itu.. Tentu saja kecuali yang bertahan memilih salah paham dan atau  paham yang salah,  hehehehe….

Kami merenungi bersama tentang jodoh.  Bagaimana saya yang sekian tahun menjanda “mbulet” selalu tiap ada yang melamar dan bagaimana beliau banyak menerima  “banyak kandidat istri” dari sahabat sahabatnya dan jalur lainnya ternyata berubah pikiran saat sebentar saja bertemu saya. Sedemikian juga abah berfikir begitulah taqdir beroperasi  manakala abah merencanakan umroh akhir ramadhan namun paspornya hilang ketlisut entah dimana sehingga abah tidak bisa daftar berangkat umroh.  Untuk mengurus paspor baru karena hilang butuh waktu lama.  Dan begitulah ternyata akhir ramadhan adalah waktu yg Alloh tentukan untuk kami menikah.  Lucunya paspor itu muncul begitu saja terlihat di laci padahal abah merasa sudah memeriksa laci itu sebelumnya namun tak menemukan paspornya.  Jodoh memang rahasia ilahi.

Kami juga sering merenungi bersama bagaimana kami bertemu dan hati kami menjadi begitu saling bertaut dalam waktu begitu singkatnya. Kami menyimpulkan ini adalah takdir. Hanya Alloh yang mampu meletakkan perasaan menerima satu sama lain dalam berbagai kerumitan masing-masing. Hanya Alloh yang mampu membuat kami berpikir bukan hanya secara rasional untuk membuat kami saling mengalah untuk jalan hidup bersama yang baru. Jalan yang saling melapangkan satu sama lain meski dalam rangka itu kita saling berkorban.  Hanya kekuatan Alloh yang hanya Alloh yang mampu membuat segalanya menjadi mudah jalannya untuk sesuatu yang umumnya rumit.  Ya,  jatuh cinta itu kekuatan takdir.  Hanya takdirnya yang mampu saling mentautkan dua hati.

Kami juga sesekali sambil guyon maupun serius merenengi bagaimana masing dari kami meyakinkan diri sendiri atas pilihan ini,  meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan dan sekaligus bagaimana kami mengelola support pihak lain yang mendukung sekaligus mengelola penolakan pihak lain dalam berbagai motif mereka.  Dan kami berkesimpulan inilah perjuangan. Takdir kita adalah jatuh cinta sebab itu kekuatan Alloh dan kita memperjuangkannya menjadi sebuah ikatan suci pernikahan.

DAN BENARLAH KATA BIJAK BANYAK ORANG : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

Entah siapa yang memulai mengucapkan kalimat ini sehingga ini menjadi kalimat umum untuk pasangan yang baru menikah.

Kami menyadari betul bahwa kita bisa lega berkata alhamdulillah kita akhirnya menjadi pasangan halal dalam akad yang sesuai ridlo Alloh.  Namun sebenarnya ini adalah awal dari hidup baru dan bukan akhirnya.  Akhir itu mungkin hanya sekedar akhir sebuah periode menuju satu periode lain. Ya untuk alhamdulillah sekaligus ini adalah bismillah.  Bismillahirrohmanirrochim. Surabaya, 8 September 2016.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s