Tuanku Bagaimana kujelaskan bahwa aku rindu…?

Standar

14316860_1123455391069111_6249185088446704244_n.jpg40980_121907544524572_5540955_n.jpg

Rindu ini

Rindu ini adalah saat kupejamkan mata dan begitu nyata tampak diriku berada disana bersama tubuh letih bahagia. Di depan pintu rumahMu yang kadang menghanyutkan diriku dalam pusaran berjejak jejak ritmis kaki dalam berbagai warna.

Rindu ini adalah saat basah air mata duduk tanpa sela bersama jutaan manusia yang hening penuh cinta. Di sebuah padang gersang namun begitu sejuk di mata.

Rindu ini adalah saat berjalan di suatu senja bersama suatu kebersamaan ajaib.. Ya Engkau bersama kami yang menunduk mencari kerikil-kerikil dan selepasnya merebahkan penat serasa  memandangi langit dan kerlip gemintangnya tampak sesekali di tengah gerimis kecil nan sejuk.

Rindu ini adalah Memuji kebesaranMu dalam gerak perlahan hingga mencapai tembok itu dan kami bisikkan namaMu Bismillahi Allahu Akbar.

Rindu ini adalah memandangi tenda tenda putih beraroma manusiawinya kami…  Yang telah Engkau ciptakan dalam bentuk yang sempurna namun sekaligus bisa lebih rendah martabatnya dibanding binatang…

Rindu ini adalah selalu ingin kembali ke rumahMu yang saat kupandangi masih juga rindu…  Yang belum kutinggalkan pun sudah rindu…  Yang saat kupamitipun membuncah rindu…

Rindu ini adalah menggenangnya bayangan ibrahim ismail dan hajar dalam kekuatan iman dan kelembutan kasih sayang…  Dalam kesejukan yang mengalir di tenggorokanku… Dan letih kakiku berlari lari kecil diantara dua bukit itu…

Rindu ini adalah tersimpannya bunyi gunting memotong sedikit rambutku dan kutangisi tanpa alasan…  Antara lega bahagia dan resah kapankah ini kesempatan ini terulang untukku…

Rindu ini adalah saat ruangan 7 x 12 berkarpet hijau itu basah oleh sujudku yang lemah…  Seakan tak rela mengapa hanya sekecil ini hingga kau bisikkan bahwa itu hakekatnya seluas cakrawala…  Hingga tak kurisaukan lagi jarak ruang dan waktu untuk hadirnya pemilik taman surgawi itu…

Rindu itu adalah aroma awraq bercampur  debu-debu beterbangan di waktu asar… Saat kaki ini melangga merengsek mendekatinya yang menyimpan jasad  manusia termulia… Hanya mendekatinya saja begitu bahagia…

Rindu ini adalah melihat wajah wajah dalam berbagai warna namun dalam garis ekspresi yang sama: rindu…

Rindu ini adalah melihat kaki kaki dalam berbagai warna bergerak berputar  begitu harmoni: rindu…

Rindu ini adalah panasnya matahari dan semilirnya angin menerpa kulitku hingga kurasakan keringatku menjadi penyejuk dalam  senyuman perjumpaan…

Rindu ini adalah terbayang bulan purnama  diatas kubah hijau itu… Seraya berkata engkau bagai purnama Tuanku engkau juga bagai matahari…

Rindu ini adalah saat tiada habisnya kukatakan Tuanku aku ada disisi jasad engkau… Adakah engkau melihatku….  Oh Tuanku berabad jarak darimu namun engkau tak pernah meninggalkanku…

Rindu ini adalah saat selalu kukatan aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu….  Aku sungguh-sungguh rindu…  Aku tak pernah bisa berhenti rindu….

Iklan

One response »

  1. Ping-balik: Tuanku, Bagaimana Kujelaskan Bahwa Aku Rindu – Cintaka Nusantara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s