Ayah kita adalah nahkoda dan ibuk kita ka’bah

Standar

13775958_1063283173720333_8497288857349120904_n

14249703_1104201442961839_1986560524183551749_o

ANAK-ANAK ZAMAN TETAP ADALAH ANAK ORANG TUANYA

Ungkapan Kahlil Gibran tentang anak anak kita bukanlah anak kita melainkan anak anak zaman sungguh sangat terkenal.  Bahwa kita orang tua bagaikan busur tempat anak anak panah yang hidup diluncurkan. Perhatikanlah bahwa orang tua adalah busurnya.  Tetap saja dalam zaman apapun anak anak itu meluncur dari sebuah busur yang semestinya busur berkualitas dengan kekuatan daya tarik kesadaran pemanah akan meluncurkan anak panah yang tepat sasaran.

Artinya orang tua yang sadar zaman harusnya akan melepaskan anak-anak zaman yang relevan.  Orang tua berkualitas harusnya akan melepaskan anak anak panah berkualitas. Orang tua baik melepas anak anak baik. Juga orang tua yang bervisi kuat anak melepaskan anak anak yang hebat.

Sebagai busur dari anak panah hidup itu sudahkah kita senantiasa meningkatkan kualitas kita menjadi busur yang kuat?

MENGINGAT SEORANG AYAH DARI KAMPUNG

Semasa hidup beliau kami  memanggil ayah kami dengan sebutan abah. Abah kami orang kampung. Tamat sekolah PGA (pendidikan guru agama)  Abah kami hanya sebentar saja jadi guru sebab fokus di pertanian dan perdagangan.  Selebihnya seumur hidup beliau “ngramut” sekolah madrasah di kampung  yang dahulu didirikan oleh pendahulu beliau.  Kakek dan buyut kami. Saat ini “ngramut” itu dilanjutkan oleh adek abah,  paklek kami. Disamping itu abah aktif di kepengurusan NU ditingkatan  MWC hingga PC.

Abah kami orang yang selalu bersikap sederhana, berfikir cepat dan bertindak sangat taktis strategis.  Ala kampung tentu saja.  Saat telah dewasa ini kami banyak diskusi ketika pulang kampung tentang pikiran-pikiran abah kami.  Apa saja yang pernah beliau katakan juga apa apa yang beliau inginkan.

Semasa kami kecil di kampung banyak orang dewasa yang berbicara tentang sekolah di sekolah negeri agar jadi pegawai. Artinya sekolah kampung kami yang madrasah ibtidaiyah maarif pula itu diserang supaya tidak laku.  Dituduh tak akan mampu menjadikan lulusannya sebagai pegawai terutama pegawai negeri. Serangan tersebut utamanya banyak datang dari kalangan keluarga pegawai negeri,  birokrasi, tentara,  polisi dan umumnya pendukung orde baru (loh sori nyinggung politik.  Oke lupakan soal orde baru ini fokus lagi ke abah dan sekolah madrasah).

“Serangan mental” tersebut juga dirasakan oleh kami anak-anak abah. Kakak saya mengenang salah pahamnya tentang pegawai sebagai suatu jabatan dengan privilige luar biasa sehingga orang hebat adalah pegawai. Pegawai adalah orang hebat luar biasa.  Kebetulah ada proyek normalisasi sungai / pengerukan depan rumah dan ada “Kapal Keruk” di sana. Tentu anak-anak kecil di kampung yang “udik” ini semuanya takjub melihat kapal keruk demikian besar diatas sungai depan rumah kami. Anak-anak penasaran ini tentu saja dilarang masuk oleh pegawainya dan ada tulisan tertera:”DILARANG MASUK KECUALI PEGAWAI!”. Kakak saya membayangkan para pegawai (pegawai apapun) memang istimewa hingga boleh masuk ke kapal keruk itu, hehehehe…. Salah paham ini karena secara mental sering mendapat omongan tentang orang hebat adalah pegawai. Dan anak-anak madrasah tidak mungkin bisa jadi pegawai.

Suatu ketika kami anak-anak kecil yang salah paham ini bertanya kepada abah tentang omongan orang bahwa kita kelak tidak mungkin jadi pegawai karena sekolah madrasah. Abah kami menjawab:”Abah memang menyekolahkan kalian bukan buat jadi pegawai atau pekerjaan apapun. Abah menyekolahkan kalian karena demikianlah perintah Alloh dan Rosululloh. Supaya kalian berilmu, tidak bodoh dan kelak bermanfaat untuk ummat islam umumnya.” Kami makin tidak mengerti kok abah tidak ingin kita hebat dan jadi pegawai sehingga boleh masuk kapal keruk yang keren itu. Duch!

Namun sebagai hiburannya Abah mendaftarkan sekolah ganda buat kami, pagi sekolah SD Negeri siang sekolah madrasah. Namun karena  ujian akhirnya bersamaan  ya ikut madrasah aja, hehehehe…  Ijazahnya ikut ijazah madrasah ya..  Minimal tau oh gitu toch sekolahnya SD Negeri.. Sekolahnya para calon pegawai, hehehehe….

Waktu itu kami makin tak mengerti ketika Abah memutuskan kami semua mondok seraya berpesan bahwa mondok supaya punya bekal ilmu agama dan hidup penuh berkah dan sementara  orang-orang itu berkata:”anak dipondokkan mau jadi apa..  Makin tak bisa jadi pegawai aja.. Mending juga sekolah SMP Negeri nanti bisa dapat pekerjaan bagus dan jadi pegawai.”. Pegawai itu apa sich…  Kami makin jadi anak-anak kecil yang minder dengan anak-anaknya pegawai, hehehehe…  Abah benar-benar tak peduli soal gak bisa jadi pegawai itu.

Abah memondokkan kami di beberapa pesantren baik kami singgah sebemtar maupun lumayan lama. Beberapa yang kami pernah mondok antara lain: cacak di langitan wetan, gading malang dan alhikam malang saat kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Saya sendiri pernah puasa mondok romadhon di langitan wetan lalu masuk MTsN tambak beras hingga lulus MMA kemudian kuliah di unair. Adek saya yang laki-laki waktu kecil mondok di sedayu gresik namun tak lama. Kemudian melanjutkan MTsN di Tambakberas dilanjutkan MA Program Khusus keagamaan di Denanyar Jombang kemudian kuliah di UIN Jakarta. Adekku ini lulusan terbaik  UIN Jakarta  dizamannya.  Adek perempuanku sempat mondok di Suci gresik kemudian lanjut di lamongan dan kemudia SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Dia melanjtkan kuliah di Universitas Brawijaya di fakultas yang sama dengan kakak pertama yakni Fakultas Hukum. Adek bungsu saya mondok di tambakberas kemudian SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Saat ini masih kuliah di Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang.

Apakah hari ini kami tak bisa jadi pegawai? Sebenarnya saat ini kami juga tak peduli soal jadi pegawai itu. Kakak pertama saat ini seorang hakim. Saya sendiri pernah jadi anggota DPRD, menjadi pengurus parpol, menjadi dosen di universitas negeri hingga memutuskan jadi ibu rumah tangga saja. Adek laki-laki saya berkhidmat untuk masyarakat di kepenguran pusat sebuah parpol yang berbasis konstituen kuat dan memiliki posisi penting di sebuah kementrian. Adek perempuan saya jadi pegawai (hehehehe… ini yang “sukses jadi pegawai”) di sebuah Bank Syariah dan yang bungsu maish kuliah.

Soal pekerjaan sebenarnya Abah pernah berpesan pada kami agar tak meninggalkan berdagang. Jadi apapun boleh namun sebaiknya punya sumber ekonomi perdagangan sebab berkah ekonomi sebagian besarnya dari perdagangan begitu pesan beliau.

Saat Abah kami meninggal kami mulai merasakan benar bahwa selama ini abah menjalankan arah seperti seorang nahkoda kapal di tengah bahtera. Beliau yang mengarahkan kemana perahu berjalan di tengah gelombang. Visi atau pandangan kedepan seorang ayah ini kami rasa tak cukup tergantikan oleh kami yang berlima ini. Ya, kehilangan seorang ayah seperti kapal kehilangan nahkodanya. Semoga mendapat tempat terbaik disisiNya. Alfatihah.

 

DAN IBUK KITA BAGAI KA’BAH

Mungkin pelajaran memahami cintapun butuh di mengerti sejalan waktu. Saat suara ibu terdengar serak menahan isak ketika berkata:”aku kangen kalian… “. Saya teringat tahun 1999 saya membatalkan keinginan kuliah di al azhar ketika ibu berkata: “kamu kecil sudah mondok lalu mau kuliah ke luar negeri terus pulang di bawa orang sebab menikah. Kapan jadi anakku…? “. Saya bersyukur akhirnya kuliah di universitas airlangga dan sering pulang serta paling banyak menemani ibu ketika saat itu bbrp kali jatuh sakit namun alhamdulillah kemudian sehat hingga hari ini. Setelah lulus kuliah juga masih bersama abah dan ibu sambil menjadi anggota dprd dan kuliah s2 di almamater yang sama.
Setelah Abah wafat dan kami telah tinggal berjauhan dari rumah kampung halaman kami makin sering pulang dan intens berkomunikasi satu sama lain meskipun terbatas pada WA group dan telpon-telponan. Makin umur bertambah makin kami mengerti maknanya bersaudara.Yakni ketika merindukan makan bersama sambil sekedar guyonan dan gojlok-gojlokan.  Yakni  ketika bersedih dan merindukan masa kecil yang nakal bersama saudara. Yakni ketika terbayang pertengkaran-pertengkaran kecil yang tetap saling menyayangi. Yakni ketika berlomba merayu dan menghibur ibuk kami hingga tertawa bersama. Ya Ibuk kami menjadi fokus kami semua.
Ibuk kami selalu galau saat kami kecil dan berprestasi di berbagai bidang seperti cerdas cermat, puisi, pidato, dan lainnya. Beliau selalu bertanya mengapa tak ada yang menang lomba qiroah atau sholawat? Bahkan ikut lombanya saja tak ada yang mau.. Sementara beliau selalu bertanya kenapa tak ada yang seperti ibuk dan adek-adek beliau suka ngaji alquran dan semasa muda mereka banyak diminta qiroah di acara-acara publik sebagai pembuka acara. Jadi memang lomba apapun ibu akan bertanya kapan ikut lomba qiro’ah? hahahaha…. Adakah diantara kami yang Pede ikut qiro’ah? hingga saat ini tidak ada. Jadi cukuplah hafal surat yasin sudah membuat ibuk bahagia.. Kata beliau setidaknya kalian bisa tahlilan buat orang tua dan kakek buyut kalian.
Wisata kuliner mungkin hal lazim buat kami bersaudara. Namun tetap saja kita merindukan ayam kampung kelo kuning buatan ibuk yang tak tersamai apapun lezatnya. Juga pecel bandeng panggang. Juga sambal terasinya. Juga omelanya karena tak segera mandi saat bangun tidur malah setelah sholat sudah sibuk makan-makan. Begitulah merindukan ibuk.
Dan seorang ibu adalah sebuah rumah. Yakni tempat kami meletakkan rindu dan sehingga hati kami tak mampu tak menengoknya pun sekedar menanyakan kabarnya. Mungkin juga seorang ibu seperti kakbah dimana kemanapun kau berputar berkeliling dunia ia tetap porosnya. Poros dimana kau katakan: “aku pulang bu.. ” dengan sepenuh hatimu… Atau sebaliknya kau katakan dengan pilu saat ia harus bertirakat sabar ihlas untuk anak perempuannya yang berkata:”maafkan aku ibu.. Lebaran idul adha ini aku tidak bisa pulang… “. Ya, tirakat seorang ibu adalah mengihlaskan anak perempuannya untuk keluarganya. Namun tetap saja ibu adalah rumah tempat kita mengatakan pulang. Ibu bagaikan baitulloh tempat kita berputar kemanapun dan ia porosnya. Saat makin tua begini barulah bisa dengan mendalam menghayati nasehat rosululloh tentang ibu dan surga kita… Alhamdulillah untuk keberadaan surga dunia kita..

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s