Bahagia itu Menemukan Sudut Pa(n)dang

Standar

Profil 2

Saat Tersungkur Barangkali Itulah Saat Kita Punya Sudut Pandang Baru…

Seorang teman membicarakan dengan penuh prihatin berita duka dari teman lain perihal bisnisnya yang gagal akibat penipuan. Ia membayangkan betapa terpuruknya si teman yang ia bicarakan saat ini.  Saya mendengarkan dengan seksama bagaiamana akhirnya kegagalan itu berimbas pada terjualnya aset aset pribadi yang dulu keluarga kecil mereka itu mengumpulkan dengan susah payah.

Dalam kesempatan yang lain saya bertemu dengan teman yang dibicarakan ini namun di luar dugaan ternyata teman yang ini tidak berduka cita.  Dengan penuh semangat ia menceritakan bagaiamana ia mengelola kebangkrutan itu dan bagaimana ia memetik pelajaran yang ia sebut hikmah. Memang aset-aset yang telah ia miliki sebelumnya terpaksa ia jual dan ia memulai bisnis baru dari nol.  Ia bahagia bahwa Alloh memberinya kebangkrutan itu melihat dengan jelas,  membuka mata dengan sudut pandang baru,  bahwa ada banyak hal yang lupa ia syukuri selama ini.

Ia mulai betutur dengan sistematis bahwa ia mulai melihat anak-anaknya tumbuh luar biasa baik dimana sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan.  Ia mulai menghayati betapa Alloh memberi suami setia dan sabar dalam situasi sedemikian sulit.  Ia mulai menikmati hangatnya keluarga besar yang menerimanya secara ikhlas tanpa embel2 kekayaan seperti sebelumnya. Dan ia bahkan menceritakan bagaimana tetangga dan pembantu2nya ihlas dipotong upahnya lebih rendah namun tetap setia bekerja untuk dia.  Hanya beberapa yang bersikap negatif dan menghinakan sehingga ia menyadari bahwa inilah cara Alloh memilah orang2 munafik disekitanya yang seperti semut mengerubuti gula.  Saat manisnya habis semut semut akan pergi.

Ia juga bersyukur bahwa kebangkrutannya itu memberinya sikap sensitif terhadap sumber sumber baru yang potensial produktif.  Selain itu ia juga mulai “tidak meletakkan telur dalam satu keranjang secara terukur”. Jujur saya terperangah dengan penjelasnnya sumber2 ekonomi baru yang ia maksud ternyata lebih prospektif daripada apa yang telah hilang.  Ia bilang bahwa segalanya milik Alloh saat Alloh mau ambil ya kita harus ihlas barangkali untuk digantikan yang lebih berkah. Ia mengingatkan makna inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sayapun berfikir bahwa telinga saya hampir terkecoh oleh pendapat bahwa ia terpuruk oleh kegagalan dan pada situasi yang menderita. Nyatanya teman saya ini jauh lebih bahagia dalam apa yang disebut keterpurukan yang menyedihkan.  Nyatanya saya melihat yang terjadi adalah berkah dalam bencana. Ia tidak sedih melainkan ia bahagia.

Jadi bersama kesulitan alloh berikan kemudahan (inna ma’al usri yusro)  mungkin adalah dalam bentuk awal bagaiamana kita menemukan sudut pandang yang baik dan benar serta menghadirkan Alloh sebagai bentuk kehambaan kita.

Saya jadi ingat seorang sahabat zaman masa remaja yang beberapa waktu lalu saya singgahi untuk ziarah haji.  Tanpa bermaksud ghibah disini tanpa saya sebut nama melainkan mutiara hikmah semata dari sahabat saya ini.

Sahabat saya ini di waktu sebelumnya saya singgahi di rumah sakit karena anaknya opname. Dengan sangat sedih ia bercerita tentang perilaku suaminya yang tergoda wanita lain dari kalangan yang kurang baik.  Sebenarnya andaikan itu wanita “biasa” maka ia ihlas suaminya menikah yang kedua.  Saya ikut menangis waktu itu dan mengatakan bahwa saya tak sanggup memberi nasehat sebab mungkin saya pun tak mampu menghadapi. Hanya ada dalam alquran dalam situsi begini saya hanya harus berkata tetaplah bersabar dan penuh cinta kasih (watashouw bisshobri watashouw bil marhamah).

Saat ziarah terakhir itu Agak kaget saya melihat perubahan dari sahabat saya ini mulai dari secara fisik hingga caranya berbicara dan menyatakan pendapat.  Secara fisik iamakin cantik dan cara bicaranya makin luwes bahkan saya bilang mempesona. Apa yang terjadi padamu sahabatku?  Gimana kabar wanita itu…?

Ia memulai tuturnya dari bahwa seminggu lalu telah menelfon wanita itu untuk pamit berangkat haji dan berterimakasih atas kehadiran wanita itu telah membuatnya berubah.  Ia mulai belajar bersolek dan berdandan yang baik.  Ia mulai belajar bergaul dan bahkan berbisnis jual beli tanah meskipun motivasi awalnya takut tak punya sumber ekonomi dari suami akibat hadirnya wanita lain.  Ia mulai belajar menggunakan gadgetnya untuk membuka cakrawala. Bahkan ia mulai mempersilahkan suaminya bersama wanita itu dengan syarat syarat kepatutan norma masyarakat dan keabsahan serta kebenaran perilaku berdasarkan syariat.  Ternyata justru itu membuat wanita itu pergi dari suami sahabatku ini. Yakni saat ia pasrah dan ihlas serta tawakkal.

Saat jatuh tersungkur kita memandang dari bawah.  Kita melihat segalanya dengan berbeda. Barangkali bersama jatuh itu Alloh memberi rezeki dari sudut pandang baru…

Memaknai bahagia

Jadi apakah seseorang berbahagia ataukah bersedih?  Orang lain tak akan bisa mengukur dengan presisi bagaiamana seseorang bersedih atau berbahagia atas sesuatu.  Namun jika kita sensitif pada diri sendiri kita akan bertemu dengan fakta orang miskin belum tentu merasa kekuarangan dan orang kaya belum tentu merasa berkecukupan. Orang sehat belum tentu merasa kuat dan orang sakit belum tentu merasa lemah.  Orang berpangkat belum tentu berkuasa menentukan kehendaknya sendiri dan orang rendahan belum tentu bisa diatur atur penguasa.

Barangkali begitulah jika segala sesuatu dilihat dari sudut pandang lebih hakikat dari tujuan segala sesuatu. Jadi apakah kita  bahagia?

Jangan-jangan kita telah sepihak subjektif menaruh bahagia itu dalam standardisasi tanpa hakikat sehingga kita salah memandang ke dalam diri kita maupun orang lain.

Mari kita, khususnya saya,  meletakkan sudut pandang dengan benar sehingga menjadi “sudut Padang” yang membuat hidup kita terang benderang…  Alfatihah.

Mojokerto,  29 september 2016

Maratul Makhmudah.  Ibu Rumah Tangga.

Di Rumah makan M’riah Kota Mojokerto  sambil nunggu suami diskusi dengan sahabat2nya di Forum Peduli Bangsa

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s