Monthly Archives: Oktober 2016

Mereka menyebut kami “Mbak Muallimat”: Catatan kenangan untuk hari santri

Standar

photogrid_1477007464724 From Tambakberas With Love

Ini tulisan kenangan. Yang namanya kenangan ya romantislah,  hehehe…

Madrasah Muallimat ini adalah tempat sekolah saya di lingkungan pondok pesantren tambakberas yang kondang karena banyak kehebatan pengasuhnya khususnya  mbah pengasuh kami yang adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Madrasah ini bernama Muallimin Muallimat Atas (MMA)  dan Muallimin Muallimat Pertama (MMP).  Sebenarnya MMP dan MMA ini satu paket tak terpisah.  Karena itu sering juga ditulis madrasah muallimin muallimat 6 tahun. Begitulah nama  yang kami kenal dari sekolah kami.

Nama formal madrasah ini sebenarnya Madrasah Menengah Atas (MMA).  Itu bentuk ikhtiar yg dilakukan sejalan dengan aturan pendidikan nasional agar bisa terdaftar dan kita punya ijazah. Sabab musabab lainnya adalah sekolah ini 6 (enam) tahun sehingga 3 (tiga)  tahun awal secara formal disebut Madrasah Menengah Pertama  (MMP)  yang secara formal setara SMP. Kok secara formal lagi…?  Iya,  jangan dikira yang masuk MMP ini setara usia MMP..  Dibawah nanti dijelaskan 😄😄😄

Madrasah tempat kami sekolah ini memiliki banyak keunikan.  Pertama,  kurikulumnya 60% (atau 70% ya 😉) adalah agama berbasis kitab salaf dan sisanya baru umum. Kedua,  hampir semua kiai dan gus tambakberas  bereputasi keilmuwan ngajar disini. Ini kebanggaan tersendiri. Bahkan Gus Dur juga pernah punya sejarah menjadi kepala sekolah sebentar  disini dan istri beliau bu nyai sinta juga pernah sekolah disini.  Tapi ini saya belum pernah verifikasi langsung hehehe…  Intinya para alumni itu bangga bahwa ini sekolahnya banyak tokoh hebat di kalangan NU. Nah itu adalah keistimewaan ketiga.  Iya,  banyak tokoh mulai dari level kampung hingga nadional adalah alumni sekolah ini.  Meskipun ini adalah sekolah yang kuat tradisi keilmuwan islam secara tradisional ala pesantren namun faktanya alumninya sukses ada di berbagai sektor profesional maupun informal. Keempat,  secara penampilan fisik juga khas.  Sekolah disini berarti tidak pakai sepatu sebab masuk kelas ngebak/nyeker/tanpa alas kaki.  Jilbab yang kami pakai adalah minang.  Terbuat dari kain memanjang yang berpola khas. Kalau upacara kami tidak berbaris-baris melainkan duduk duduk di area pelataran dan kadang depan kelas. Kelima,  untuk masuk kesini tidak mudah namun bukan sulit.  Tidak mudah sebab harus menaklukkan perasaan apakah siap lebih umur (ini penghalusan dari kata tua)  di pondok. Masuk muallimat kebanyakan berasal dari MI khusus di tambakberas yg juga telah konsentrasi ilmu agama.  Jika bukan lulusan MI tersebut jangan dikira bisa masuk. Kalau tak lulus tes maka siap siaplah masuk MI lagi,  hehehe…  Saya dengar sekarang sudah ada kelas persiapan. Jika anda sudah lulus SMP/MTs jangan dikira bisa masuk MMA.  Anda harus tes yg jika tak lulus maka siap siaplah masuk MMP meskipun sudah berijazah SMP.  Nah,  harus siap “lebih berumur” di pondok kalau sekolah muallimat. Emang tesnya apa sich?  Alquran, Setor hafalan alfiyah dan baca kitab kuning gundulan sahabat…  😉😉. Keenam: sekolah ini adalah pencetak para pengurus,  ustadz dan ustadzah di semua kompleks pondok pesantren di lingkungan pesantren Bahrul Ulum Tambak beras.  Dengan kata lain keberlangsungan sistem pengajian beserta ketersediaan ustadz ustadzah di komplek pondok2 dibawah yayasan besar bahrul ulum ini diamankan oleh sekolah muallimin muallimat ini. Dengan kata lain santri yang sekolah disini dianggap lebih mumpuni secara keilmuan pesantren dan memiliki kelayakan mengajar di pondok maupun lainnya dimana kata muallimin muallimat sendiri memang merujuk pada makna guru.

Sungguh keberadaan madrasah ini adalah pemikiran luar biasa dari masyayikh tambak beras.  Tambakberas menyediakan sekolah semua tingkatan pendidikan negeri maupun swasta sambil terus mereproduksi ustadz ustadzah melalui madrasah muallimin muallimat untuk membantu para pengasuk mengajar di madrasah diniyah pondoknya.  Di tengah situasi banyak pondok lain yang “ngajinya kalah” sama sekolah formalnya sehingga pondoknya “berasa kos-kosan”,  tambak beras menjaga keseimbangan ketersediaan guru ngaji kitab kuning salafi tradisional  dengan sekolah khusus ini meskipun sekolah formalnya baik yg negeri maupun swasta terus bergerak makin modern dan maju.

Karena kelebihan kelebihan diatas (catat ya..  Termasuk: kelebihan usia!😂) menjadikan seragam kami lebih penting daripada nama kami.  Tak heran dalam banyak kesempatan di pondok,  bahkan sekedar pas ngantri beli bakso, kami dipanggil: “Mbak Muallimat”. Sementara hampir tak pernah kudengar ada panggilan:”Mbak Aliyah”, “Mbak SMA”, “Mbak Tsanawiyah”, apalagi “Mbak SMP”.

Ya, disamping kelebihan usia,  anggapan mumpuni secara keilmuwan,  juga penampilan fisik kami memang khas dengan penutup kepala bernama minang seperti dalam gambar diatas. Minang ini adalah jenis penutup kepala muslimah dari masa lampau.  Agak kuno bin ketinggalan zaman.  Alih alih menggunakan jilbab kekinian sebagaimana umumnya penutup kepala muslimah Indonesia kontemporer sekolah kalo  ini malah melestarikan penutup kepala kuno bernama minang ini.   Mungkin karena masyayikh kami sangat berpegang teguh pada qoidah: almuhafadzoh ala qodimissholih wal ahdlu bil jadidil aslah.

Iklan

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 3 Hal hal yang dirasakan para alumni pondok pesantren.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan pernah tinggal di pondok pesantren sebagai santri…?  Maka seumur hidup njenengan tetaplah seorang santri. Long life education sebagai mainstream pemikiran modern tentang  pendidikan bukanlah hal baru buat santri. Rasulullah SAW telah mengakatakan pada kita tentang uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi yakni menuntut ilmu semenjak dalam buaian bunda hingga kelak ke liang lahat.

Clifford Geertz yang mengkodifikasi struktur masyarakat jawa dalam santri,  priyayi dan abangan sebenarnya hendak merujuk santri sebagai sekelompok masyarakat yang menggunakan kaidah kaodah dan nilai nilai agama islam dalam perilaku hidupnya.  Keberadaan kelompok santri ini sangat ditopang oleh keberadaan pondok pesantren dengan para kiainya yang melestarikan kelompok sosial bernama santri ini.

Dan sejarah bangsa ini telah menunjukkan bahwa kekuatan kaum santri sebagai penopang pondasi kebangsaan telah terwujud jauh sebelum indonesia didirikan.  Adapun hari santri yang ditetapkan tanggal 22 oktober adalah momentum politik yang merujuk pada satu kejadian heroik dari jawa timur yakni resolusi jihad. Ini adalah supremasi kaum santri atas kemerdekaan bangsa. Resolusi jihad tersebut terbukti menggelorakan semangat bangsa hingga pecah kejadian besar 10 november di surabaya sebagai tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan.

Jadi santri bukan hanya tentang sekelompok masyarakat yang hidup dengan nilai nilai agama melainkan juga sekelompok penting masyarakat bangsa Indonesia yang berjuang untuk kejayaan bangsa ini.

Berikut adalah lanjutan tulisan sebelumnya tentang bagaimana para alumni layak bangga menjadi seorang Santri:

4. Mazaltu tholiban.  Selamanya kita adalah santri. Alumni juga tetap seorang santri.  Seumur hidup ia menjadi santri.

Saat sudah lulus dari pondok dan mulai melanjutkan jenjang pendidikan maupun mulai bekerja menikah dan lainnya,  kenangan belajar di pondok mungkin belum terlalu kuat dirasakan mempengaruhi seorang alumni.  Namun saat hidup terus berjalan dan berbagai cobaan serta tantangan menerpa justru disitulah muncul berbagai ingatan atas nasehat dari kiai maupun ajaran ajaran di pondok saat mengaji.

Karena itu wajar sering ada terbit kerinduan masa masa mondok meskipun sebenarnya waktu mondok “ndablek”, males ngaji pun males jamaah. Biasanya terbit rindu ini sambil menyesal kenapa dulu kurang rajin mengaji dan belajar.  Yah,  penyesalan emang selalu datang terlambat sebab kalau datang diawal namanya bukan penyesalan melainkan pendaftaran  😄😄..

Begitulah kami para alumni masih akan datang lagi untuk ngaji sejenak pas haflah,  datang curhat minta nasehat ke kiai atau keluarganya, datang mibta didoakan,  datang sekedar reoni tertawa bersama kawan2 santri senasib di zamannya,  nyicipi makanan di warung favorit yg dulu serasa terlezat sedunia dan menyadari sebenarnya rasanya biasa biasa saja.  Dulu begitu lezatnya mungkin karena belum paham makna lezat sesungguhnya dimana saat ini telah makan di warung atau restoran yang sebenar benarnya memaknai lezat 😂😂… Misalnya jika njenengan santri tambakberas era 90 an maka njenengan akan insyaf bahwa bakso pak thing bukaanlah yg terlezat sedunia meski dulu penuh perjuangan buat menikmati dg diam diam jam kosong lari ke situ atau super antri di jam normal.. Apalagi kalau pernah  mampir ke malang dan sudah ketemu rasanya bakso presiden,  bakso bakar pahlawan trip,  bakso kota cak man dan bahkan bakso bakso tepi jalan di kota malang yang ampun ampin lezat beneran semuanya,  hahaha…  Pak Thing?  Ya Bakso Pak Thing itu rasa kenangan….  Makanya tetap istimewa meski telah sadar itu biasa biasa saja…  😊

5. Banyak teman banyak saudara.  Termasuk banyak yang bisa diprospek besanan.

Iya,  besanan.  Saat umur bertambah kita beranak pinak maka pembahasan kita tak lagi kuliah dimana, kerja apa, pacaran atau nikah sama siapa namun anakmu usia berapa dan sudah siap nikahin anak atau sudah ada jodohnyakah anakmu…?.

Sebagai santri tentu ada perasaan ingin melestarikan kesantrian ini hingga anak cucu dengan memastikan punya mantu yg berasal dari keluarga santri.  Agar ngerti berbakti pada orang tua sebagaimana ajaran agama.  Perilaku srhari hari juga pakai agama.  Setidaknya pernah ngaji kitabutthoharoh biar tau betul hadats kecil dan hadats besar,  ahahahaiii. 😉😉😉… Kelak punya cucu juga diajari ilmu agama.

Ini nyata loh..  Guyonan alumni menjelang tua gini galau galau soal anak anak yang beranjak remaja dan dunia remaja saat ini sungguh merisaukan. Jadi jodohnya anak mulai dipikir dengan ngelirik ngelirik anaknya teman sesama santri buat diambil mantu 😄😄😂

6. Saling mengingatkan,  saling mendukung dan saling mendoakan. Karena punya nilai hidup sama tentang peran doa maka para alumni guyub soal saling ini: mengingatkan,  mendukung dan mendoakan…  Bahkan saling ijazah doa apa yg paling ces pleng buat ini buat itu.. 😄😄

Waktu mondok paling seru soal doa mesti tentang doa mahabbah dan doa tolak mahabbah.  Apa itu doa mahabbah…?  Kalau santri ndak usah dijelaskan hahaha…  Kalau njenengan bukan santri tanyakan yang santri deh…

 

Bersambung…

 

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 2 Kebanggaan berikut dirasakan para alumninya.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_nMenjadi santri berarti memupuk banyak kenangan kebersamaan.  Menjadi santri juga berarti memupuk segudang pengalaman. Istimewanya adalah hampir setiap hal yang sehari hari dilakukan memiliki alasan mengapa dilakukan. Misalnya bangun sepertiga malam yang akhir,  membaca wirid tertentu secara istiqomah, bahkan juga hal hal kecil seperti merapikan sandal teman-teman sekamar. Hal tersebut memupuk kesadaran tentang pembiasaan hal-hal yang baik berdasarkan ajaran agama islam serta petunjuk bijaksana dari para kiai.

Sikap hidup di pondok pesantren juga memupuk hal-hal positif yang kebanyakan mulai bisa dirasakan justru saat telah lulus dari pondok atau istilahnya sudah boyong. Berikut beberapa catatan yang umumnya dirasakan para alumni.

1. Hidup Sederhana. Mana bisa di pondok tidak hidup sederhana? Semuanya terbatas. Meskipun anak orang kaya juga tidak otomatis bisa bermewah-mewah sebab segalanya serba terbatas dan kadang memang dibatasi.  Saking sederhananya mungkin jika dilihat awam akan mengatakan: ini sederhana apa mengenaskan?  😂😂.  Santri putri biasanya masih lebih tertib dan teratur membatasi diri soal sederhana ini agar tidak menjadi mengenaskan.  Namun tidak demikian santri putra.  Pernah kawan santri putra cerita bahwa mereka makan mie rame rame di menggunakan bak cucian buat merendam mie pakai air panas sebab jumlah mie banyak dan tidak ada wadah tersedia. Dalam bahasa santri putra itu disebut: kreatif! Bukan mengenaskan sahabat…

Terbiasa hidup sederhana di pondok menyebabkan umumnya para alumni pondok tidak kagok untuk hidup sederhana meskipun banyak diabtara mereka yg secara ekonomi berkecukupan atau bahkan kaya raya.  Di tengah maraknya gaya hidup hedonisme yang ditopang prestisiusnya media sosial kaum hedonis menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah.  Instagram, path,  twitter, fb dan lainnya banyak diisi postingan plesiran, makan makanan mewah hingga penampilan mahal berhastag OOTD alias Outfit Of The Day yang pamer merk baju, sepatu tas hingga pernik2 penampilan lainnya menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah sebab tidak tampil “gaul” dan tidak juga “up date”.

2. Mengelola kepemimpinan dan organisasi santri.  Kalau njenengan mondoknya agak lama sedikit saja hampir pasti memiliki pengalaman sebagai pengurus.  Ini adalah pengalaman istimewa dimana santri senior biasanya menjadi pengurus pondok dan ikut mengelola pondok sesuai bidangnya masing-masing. Bidang yang paling istimewa adalah keamanan. Hampir semua santri tidak ada yang tidak ingat siapa pengurus keamanan pondok. Tahu mengapa? Keamanan ini yang paling aktif “obrak obrak” pada jadwal jamaah, ngaji,  ro’an dan lainnya.  Serta tentu saja keamanan ini yg bagian menghukum kalau ada santri melakukan pelanggaran. Itulah kenapa santri yg memegang tampuk amanah sebagai keamanan adalah yang paling disegani juga paling ditakuti.

Tentu banyak bidang selain keamanan seperti pendidikan yg ngurus ngaji atau diniyah, da’wah yang ngurus belajar khitobah,  kebersihan yang ngurus pondok bebas sampah,  dan lainnya.  Diatas bidang bidang itu ada pengurus harian atau pengurus inti yang bertanggung jawab pada keseluruhan pondok yang umumnya terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.  Tanggungjawab yang diemban ini menjadikan para pengurus pondok terbiasa memimpin serta trampil mengelola organisasi. Karena itu tidak heran banyak alumni pondok yang tampil sebagai pemimpin formal maupun informal di tengah masyarakat baik putra maupun putri.  Tidak sedikit teman saya jadi kepala desa, anggota dpr,  camat,  birokrat maupun pengusaha termasuk yang perempuan. Saya punya teman perempuan santri di kecamatan senori tuban yang jadi kepala desa.  Ada juga yang jadi anggota dpr ri dan berkiprah aktif di struktur partai.  Saya sendiri pernah jadi anggota dprd sebelum kemudian memutuskan menjadi dosen dan lalu fokus sebagai ibi rumah tangga dan guru ngaji saja di rumah.

Saya yakin bahwa salah satu pondasi kepemimpinan para alumni pondok pesantren itu terbentuk semenjak menjadi santri di pondok.

3. Tidak takut rezeki sebab Alloh telah menjamin rezeki manusia.  Mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. Demikian taklimul mutaallim, kitab wajib para santri ttg etika pelajar/santri, mengajarkan.  Santri mengaji dan sekolah tidaklah berorientasi hendak mendapatkan pekerjaan atau profesi  apa melainkan tekun belajar dan beribadah semata mata dengan niat mencari ridlo Alloh, menghilangkan kebodohan,  dan menegakkan agama islam.

Namun demikian faktanya para santri memiliki beragam profesi. Baik sebagai pegawai negeri,  swasta,  petani,  pedagang pengusaha dll.  Perhatikanlah mereka semua di profesinya masing masing adalah orang yang sadar bahwa rezeki sudah diatur Alloh.

Teman-teman saya yang alumni pondok banyak yg berdagang dan saya lihat begitu enjoy dengan profesinya.  Jaringan kerja perdagangannya juga bertambah kuat manakala bersentuhan dengan sesama alumni baik sebagai konsumen maupun jaringan distribusi perdagangan. Ya,  banyak teman banyak rezeki adalah salah satu esensi silaturrahim.

Fakta juga bahwa tidak sedikit teman aaya alumni pondok yang dulunya sekolah agama ijazah “setengah” nunut namun malah jadi PNS.  Tentu paling banyak adalah berprofesi sebagai guru. Sebuah profesi mulia dengan tuntan kadar keikhlasan yg harus tinggi sebab konon umunya gajinya masih rendah meski beberapa sudah “katut” sertifikasi. Santri sudah biasa ihlas sahabat…

Bersambung…

 

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 1

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan santri…?

Kalau njenengan santri mungkin pernah mengalami kebingungan di awal masa mondok tentang buat apa menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan.  Njenengan juga mungkin juga pernah mengalami kebingungan menulis huruf g,  ng, dan ny dalam hijaiyah ala jawa atau yang disebut pegon.  Njenengan mungkin juga pernah tertidur di depan kamar mandi saat mengantri jelang subuh.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi satu krupuk dicuil cuil dinikmati bersama.  Njenengan mungkin juga pernah tanpa merasa nelangsa sedikitpun membuat mie instan dengan cukup direndam pakai air panas.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi bantal tidur kruntelan dengan bahagia tanpa terlalu mikir bahwa semua belum mandi.  Njenengan mungkin juga pernah mengalami pengalaman eksotis khas bernama “gudiken” serta “gudiken berjamaah” alias satu kamar saling ketularan gudiken. Kadang juga flu bareng bareng bersahut sahutan saat ngaji atau jamaah sholat, hihihi…  Njenengan santri berarti mengerti apa itu ditakzir,  hihihi…  Menjadi santri berarti mengalami masa berhasil beradaptasi. Berhasil beradaptasi berarti menjadi pribadi yang penuh toleransi.

Menjadi santri memang berarti memiliki segudang pengalaman berbagi.  Berbagi ilmu dalam belajar bersama,  berbagi makanan meski hanya sebiji krupuk dibagi bagi,  berbagi kesenangan dengan bergantian baca majalah dll,  bahkan berbagi kesabaran dengan menikmati penyakit ringan bertular-tularan.  Jadi siapa kelompok masyarakat yang paling memahami berbagi? Itu adalah kaum santri. Jadi menjadi santri itu tahu benar seni berbagi.

Pesantren atau masayarakat biasa menyebut pondok ini adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya memberi pengalaman akademik seperti umumnya sekolah. Pondok memiliki kode etik khas yang bukan hanya tertulis sebagai peraturan namun juga nilai hidup yanh disebut keberkahan atau barokah.   Pondok juga berbeda dalam mengukur bagaimana seorang santri dikatakan berhasil. Santri yang sukses bukan hanya kekayaan maupun pangkat jabatannya melainkan bagaimana ia dinilai bermanfaat hidupnya bagi masyarakat sekitar sebagai hakikat dari “keberkahan hidup”. Dan keberkahan ini diyakini didapat bukan dari nilai rapot melainkan perilaku yang diridloi para pengasuh atau guru dan kiai2. Menjadi santri berarti bersikap baik agar meraih barokah.

Disaat sekolah sekolah di luar membanggakan alumninya pada kekayaan dan jabatan,  pondok pesantren masih mempertanyakan alumninya apakah telah “berbuat” kebaikan yang layak dalam hidupnya sebagai seorang santri.  Jadi seorang santri berarti menjadi seseorang yang berani meraih sukses bukan hanya dengan ukuran materi.

Masih banyak alasan mengapa harus bangga menjadi seorang santri.

 

 

 

 

 

 

Mengapa orang berkata padamu: Sudah sukses ya sekarang….

Standar

Profil 2

Kemarin via inbox seorang kawan lama dari masa remaja yang dulu sering mem-bully saya baik secara serius maupun secara guyon menyapa dengan ucapan selamat atas kesuksesan hidup. Entahlah mengapa dimatanya saya ini “enak buat dikerjain”. Tiga tahun kami tetap berteman meskipun menjengkelkan banget. Hehehehe..

Dalam banyak kesempatan saya juga bertemu kawan lama dan mereka berkomentar:”wah sudah sukses ya kamu sekarang… “. Atau:”Saya dengar dirimu sudah sukses …”. Terkadang juga:”beruntung sekali kamu sukses…”. Benarkah saya sukses..??  Saya justru tidak merasa demikian. Atau minimal jika pembicaraan itu lebih detil maka seringkali saya tidak sepakat dengan apa yang dia maksud dengan sukses.

MENGAPA INDIKATOR SUKSES BERKUTAT PADA CAPAIAN HARTA, PANGKAT, JABATAN, PEKERJAAN, DAN STATUS SOSIAL…?

Faktanya demikian. Saat orang berkata padamu “wah sudah sukses ya sekarang…” maka yang mereka sedang maksud dan sedang lihat adalah capaian hal hal diatas.  Mungkin karena hal itu yang paling mudah dilihat orang lain.  Mungkin juga karena umumnya itu adalah yang diinginkan banyak orang namun akan sangat menyedihkan jika itu adalah tujuan hidup dari seseorang.

Saya sendiri merasa bahwa banyak sekali episode kegagalan dalam hidup saya. Jika diurai dalam satu tulisan perbandingan maka bukan mustahil gagal itu tak lebih banyak dari berhasil pada apa yang saya tuju.  Episode kegagalan tersebut mungkin tak terdengar atau juga mungkin tak terlihat di mata mereka.  Atau juga mungkin sebenarnya tahu dan diam2 mereka mendoakan kebaikan bagi kita,hehehe…

Capaian atas harta,  pangkat, jabatan maupun status sosial bukanlah sesuatu yang tiba tiba didapat seseorang kecuali jika itu terkait warisan leluhurnya.  Disamping itu menurut saya capaian tersebut bukanlah indikasi mutlak dari suksesnya seseorang. Banyak orang yang terlihat sukses dengan indikator diatas namun sebenarnya menuai banyak kegagalan yang bukan kegagalan biasa melainkan kegagalan besar. Artinya banyak sisi yang kita mesti melihat dengan bijaksana.

MELIHAT DENGAN BIJAKSANA TENTANG SUKSES

Tidak ada orang yang mutlak sukses sebagaimana tidak ada orang yang mutlak gagal dalam hidupnya. Kita hanya perlu bijaksana untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kegagalan dan juga memiliki kesuksesan. Bijaksana ini membuat hati kita damai baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kita perlu menempatkan diri dalam posisi melihat orang lain secara baik.  Mata yang baik adalah mata yang memandang dengan keluhuran budi.

Sukses ini mari kita lihat di “medan perang”nya masing-masing. Seorang ibu tumah tangga tak akan tampak sukses jika kita bandingkan haryanya dengan seorang direktris kaya raya bergaji puluhan juta.  Namun coba juga dibalik bahwa seorang direktris ini tak lebih sukses mendedikasikan penuh waktunya untuk keluarganya dimana yang paling terbatas di dunia ini adalah waktu. Semua orang memiliki sumberdaya waktu yang sama dalam satu hari yakni 24 jam. Seorang guru ngaji mungkin tampak tak sukses jika kita bandingkan hartanya sebagai guru ngaji dengan hartanya seorang profesor. Jika jika dilihat lebih adil bagaimana murid-murid mereka masing masin on progress sebagai manusia yang berguna bagi sesama maka apakah si guru ngaji adalah orang yang gagal…?

Indikator yang baik disusun dari kategori yang relevan. Demikianlah secara ilmiah juga para peneliti membuat indikator secara relevan untuk menjadi ilmiah.  Jika indikator tidak relevan maka itu mirip dengan kita percaya pada “survey pesanan” untuk memblow up seorang calon atau kontestan pilkada dimana indikator tidak relevan itu sebenarnya menghasilkan hasil survey yang cacat metodologi dan otomatis cacat hasil.

Kalau secara ilmiah saja pemyusunan indikator harus relevan mengapa kita harus membebani kesuksesan orang selalu dengan indikator harta pangkat jabatan status…?  Kata pramudya ananta beraikaplah adil sejak dalam pikiran.

Mungkin demikianlah sebaiknya kita melihat terhadap orang lain.  Yakni bahwa tak ada orang mutlak sukses pun tak ada orang mutlak gagal.  Di medan juangnya masing masing merrka menoreh sukses.

ORANG SUKSES ADALAH ORANG YANG MENGELOLA KEGAGALAN

Sekarang melihat kedalam atau bahasa kerennya introspeksi. Karena tak ada yg mutlak sukses maka tiap orang menoreh episode kegagalan.  Bahkan banyak kegagalan.

Banyak kisah sorang pengusaha sukses seperti om bob sadino mendahului kegagalan menerpanya namun ia tetap bangkit berusaha.  Banyak kisah seorang penemu harus ratusan kali gagal hingga menemukan formula terbaik yang dimanfaatkan secara luas.  Thomas alfa edison ratusan kali gagal sebelum akhirnya lampu pijar menerangi malam kita hingga hari ini.

Maka apalah orang biasa seperti diri kita ini…  Kegagalan adalah hal biasa.  Namun orang sukses adalah orang yang mengelola kegagalan. Alhamdulillah bahwa kegagalan pada hakekatnya menguatkan jiwa kita dan rasa tawakkal kita pada Alloh.  Dan kesuksesan pada hakekatnya untuk memperbesar rasa syukur kita pada Alloh SWT.

Tulungagung, 13 oktober 2016.

Hormat saya,

Maratul Makhmudah