Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 1

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan santri…?

Kalau njenengan santri mungkin pernah mengalami kebingungan di awal masa mondok tentang buat apa menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan.  Njenengan juga mungkin juga pernah mengalami kebingungan menulis huruf g,  ng, dan ny dalam hijaiyah ala jawa atau yang disebut pegon.  Njenengan mungkin juga pernah tertidur di depan kamar mandi saat mengantri jelang subuh.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi satu krupuk dicuil cuil dinikmati bersama.  Njenengan mungkin juga pernah tanpa merasa nelangsa sedikitpun membuat mie instan dengan cukup direndam pakai air panas.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi bantal tidur kruntelan dengan bahagia tanpa terlalu mikir bahwa semua belum mandi.  Njenengan mungkin juga pernah mengalami pengalaman eksotis khas bernama “gudiken” serta “gudiken berjamaah” alias satu kamar saling ketularan gudiken. Kadang juga flu bareng bareng bersahut sahutan saat ngaji atau jamaah sholat, hihihi…  Njenengan santri berarti mengerti apa itu ditakzir,  hihihi…  Menjadi santri berarti mengalami masa berhasil beradaptasi. Berhasil beradaptasi berarti menjadi pribadi yang penuh toleransi.

Menjadi santri memang berarti memiliki segudang pengalaman berbagi.  Berbagi ilmu dalam belajar bersama,  berbagi makanan meski hanya sebiji krupuk dibagi bagi,  berbagi kesenangan dengan bergantian baca majalah dll,  bahkan berbagi kesabaran dengan menikmati penyakit ringan bertular-tularan.  Jadi siapa kelompok masyarakat yang paling memahami berbagi? Itu adalah kaum santri. Jadi menjadi santri itu tahu benar seni berbagi.

Pesantren atau masayarakat biasa menyebut pondok ini adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya memberi pengalaman akademik seperti umumnya sekolah. Pondok memiliki kode etik khas yang bukan hanya tertulis sebagai peraturan namun juga nilai hidup yanh disebut keberkahan atau barokah.   Pondok juga berbeda dalam mengukur bagaimana seorang santri dikatakan berhasil. Santri yang sukses bukan hanya kekayaan maupun pangkat jabatannya melainkan bagaimana ia dinilai bermanfaat hidupnya bagi masyarakat sekitar sebagai hakikat dari “keberkahan hidup”. Dan keberkahan ini diyakini didapat bukan dari nilai rapot melainkan perilaku yang diridloi para pengasuh atau guru dan kiai2. Menjadi santri berarti bersikap baik agar meraih barokah.

Disaat sekolah sekolah di luar membanggakan alumninya pada kekayaan dan jabatan,  pondok pesantren masih mempertanyakan alumninya apakah telah “berbuat” kebaikan yang layak dalam hidupnya sebagai seorang santri.  Jadi seorang santri berarti menjadi seseorang yang berani meraih sukses bukan hanya dengan ukuran materi.

Masih banyak alasan mengapa harus bangga menjadi seorang santri.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s