Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 2 Kebanggaan berikut dirasakan para alumninya.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_nMenjadi santri berarti memupuk banyak kenangan kebersamaan.  Menjadi santri juga berarti memupuk segudang pengalaman. Istimewanya adalah hampir setiap hal yang sehari hari dilakukan memiliki alasan mengapa dilakukan. Misalnya bangun sepertiga malam yang akhir,  membaca wirid tertentu secara istiqomah, bahkan juga hal hal kecil seperti merapikan sandal teman-teman sekamar. Hal tersebut memupuk kesadaran tentang pembiasaan hal-hal yang baik berdasarkan ajaran agama islam serta petunjuk bijaksana dari para kiai.

Sikap hidup di pondok pesantren juga memupuk hal-hal positif yang kebanyakan mulai bisa dirasakan justru saat telah lulus dari pondok atau istilahnya sudah boyong. Berikut beberapa catatan yang umumnya dirasakan para alumni.

1. Hidup Sederhana. Mana bisa di pondok tidak hidup sederhana? Semuanya terbatas. Meskipun anak orang kaya juga tidak otomatis bisa bermewah-mewah sebab segalanya serba terbatas dan kadang memang dibatasi.  Saking sederhananya mungkin jika dilihat awam akan mengatakan: ini sederhana apa mengenaskan?  😂😂.  Santri putri biasanya masih lebih tertib dan teratur membatasi diri soal sederhana ini agar tidak menjadi mengenaskan.  Namun tidak demikian santri putra.  Pernah kawan santri putra cerita bahwa mereka makan mie rame rame di menggunakan bak cucian buat merendam mie pakai air panas sebab jumlah mie banyak dan tidak ada wadah tersedia. Dalam bahasa santri putra itu disebut: kreatif! Bukan mengenaskan sahabat…

Terbiasa hidup sederhana di pondok menyebabkan umumnya para alumni pondok tidak kagok untuk hidup sederhana meskipun banyak diabtara mereka yg secara ekonomi berkecukupan atau bahkan kaya raya.  Di tengah maraknya gaya hidup hedonisme yang ditopang prestisiusnya media sosial kaum hedonis menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah.  Instagram, path,  twitter, fb dan lainnya banyak diisi postingan plesiran, makan makanan mewah hingga penampilan mahal berhastag OOTD alias Outfit Of The Day yang pamer merk baju, sepatu tas hingga pernik2 penampilan lainnya menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah sebab tidak tampil “gaul” dan tidak juga “up date”.

2. Mengelola kepemimpinan dan organisasi santri.  Kalau njenengan mondoknya agak lama sedikit saja hampir pasti memiliki pengalaman sebagai pengurus.  Ini adalah pengalaman istimewa dimana santri senior biasanya menjadi pengurus pondok dan ikut mengelola pondok sesuai bidangnya masing-masing. Bidang yang paling istimewa adalah keamanan. Hampir semua santri tidak ada yang tidak ingat siapa pengurus keamanan pondok. Tahu mengapa? Keamanan ini yang paling aktif “obrak obrak” pada jadwal jamaah, ngaji,  ro’an dan lainnya.  Serta tentu saja keamanan ini yg bagian menghukum kalau ada santri melakukan pelanggaran. Itulah kenapa santri yg memegang tampuk amanah sebagai keamanan adalah yang paling disegani juga paling ditakuti.

Tentu banyak bidang selain keamanan seperti pendidikan yg ngurus ngaji atau diniyah, da’wah yang ngurus belajar khitobah,  kebersihan yang ngurus pondok bebas sampah,  dan lainnya.  Diatas bidang bidang itu ada pengurus harian atau pengurus inti yang bertanggung jawab pada keseluruhan pondok yang umumnya terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.  Tanggungjawab yang diemban ini menjadikan para pengurus pondok terbiasa memimpin serta trampil mengelola organisasi. Karena itu tidak heran banyak alumni pondok yang tampil sebagai pemimpin formal maupun informal di tengah masyarakat baik putra maupun putri.  Tidak sedikit teman saya jadi kepala desa, anggota dpr,  camat,  birokrat maupun pengusaha termasuk yang perempuan. Saya punya teman perempuan santri di kecamatan senori tuban yang jadi kepala desa.  Ada juga yang jadi anggota dpr ri dan berkiprah aktif di struktur partai.  Saya sendiri pernah jadi anggota dprd sebelum kemudian memutuskan menjadi dosen dan lalu fokus sebagai ibi rumah tangga dan guru ngaji saja di rumah.

Saya yakin bahwa salah satu pondasi kepemimpinan para alumni pondok pesantren itu terbentuk semenjak menjadi santri di pondok.

3. Tidak takut rezeki sebab Alloh telah menjamin rezeki manusia.  Mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. Demikian taklimul mutaallim, kitab wajib para santri ttg etika pelajar/santri, mengajarkan.  Santri mengaji dan sekolah tidaklah berorientasi hendak mendapatkan pekerjaan atau profesi  apa melainkan tekun belajar dan beribadah semata mata dengan niat mencari ridlo Alloh, menghilangkan kebodohan,  dan menegakkan agama islam.

Namun demikian faktanya para santri memiliki beragam profesi. Baik sebagai pegawai negeri,  swasta,  petani,  pedagang pengusaha dll.  Perhatikanlah mereka semua di profesinya masing masing adalah orang yang sadar bahwa rezeki sudah diatur Alloh.

Teman-teman saya yang alumni pondok banyak yg berdagang dan saya lihat begitu enjoy dengan profesinya.  Jaringan kerja perdagangannya juga bertambah kuat manakala bersentuhan dengan sesama alumni baik sebagai konsumen maupun jaringan distribusi perdagangan. Ya,  banyak teman banyak rezeki adalah salah satu esensi silaturrahim.

Fakta juga bahwa tidak sedikit teman aaya alumni pondok yang dulunya sekolah agama ijazah “setengah” nunut namun malah jadi PNS.  Tentu paling banyak adalah berprofesi sebagai guru. Sebuah profesi mulia dengan tuntan kadar keikhlasan yg harus tinggi sebab konon umunya gajinya masih rendah meski beberapa sudah “katut” sertifikasi. Santri sudah biasa ihlas sahabat…

Bersambung…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s