Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 3 Hal hal yang dirasakan para alumni pondok pesantren.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan pernah tinggal di pondok pesantren sebagai santri…?  Maka seumur hidup njenengan tetaplah seorang santri. Long life education sebagai mainstream pemikiran modern tentang  pendidikan bukanlah hal baru buat santri. Rasulullah SAW telah mengakatakan pada kita tentang uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi yakni menuntut ilmu semenjak dalam buaian bunda hingga kelak ke liang lahat.

Clifford Geertz yang mengkodifikasi struktur masyarakat jawa dalam santri,  priyayi dan abangan sebenarnya hendak merujuk santri sebagai sekelompok masyarakat yang menggunakan kaidah kaodah dan nilai nilai agama islam dalam perilaku hidupnya.  Keberadaan kelompok santri ini sangat ditopang oleh keberadaan pondok pesantren dengan para kiainya yang melestarikan kelompok sosial bernama santri ini.

Dan sejarah bangsa ini telah menunjukkan bahwa kekuatan kaum santri sebagai penopang pondasi kebangsaan telah terwujud jauh sebelum indonesia didirikan.  Adapun hari santri yang ditetapkan tanggal 22 oktober adalah momentum politik yang merujuk pada satu kejadian heroik dari jawa timur yakni resolusi jihad. Ini adalah supremasi kaum santri atas kemerdekaan bangsa. Resolusi jihad tersebut terbukti menggelorakan semangat bangsa hingga pecah kejadian besar 10 november di surabaya sebagai tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan.

Jadi santri bukan hanya tentang sekelompok masyarakat yang hidup dengan nilai nilai agama melainkan juga sekelompok penting masyarakat bangsa Indonesia yang berjuang untuk kejayaan bangsa ini.

Berikut adalah lanjutan tulisan sebelumnya tentang bagaimana para alumni layak bangga menjadi seorang Santri:

4. Mazaltu tholiban.  Selamanya kita adalah santri. Alumni juga tetap seorang santri.  Seumur hidup ia menjadi santri.

Saat sudah lulus dari pondok dan mulai melanjutkan jenjang pendidikan maupun mulai bekerja menikah dan lainnya,  kenangan belajar di pondok mungkin belum terlalu kuat dirasakan mempengaruhi seorang alumni.  Namun saat hidup terus berjalan dan berbagai cobaan serta tantangan menerpa justru disitulah muncul berbagai ingatan atas nasehat dari kiai maupun ajaran ajaran di pondok saat mengaji.

Karena itu wajar sering ada terbit kerinduan masa masa mondok meskipun sebenarnya waktu mondok “ndablek”, males ngaji pun males jamaah. Biasanya terbit rindu ini sambil menyesal kenapa dulu kurang rajin mengaji dan belajar.  Yah,  penyesalan emang selalu datang terlambat sebab kalau datang diawal namanya bukan penyesalan melainkan pendaftaran  😄😄..

Begitulah kami para alumni masih akan datang lagi untuk ngaji sejenak pas haflah,  datang curhat minta nasehat ke kiai atau keluarganya, datang mibta didoakan,  datang sekedar reoni tertawa bersama kawan2 santri senasib di zamannya,  nyicipi makanan di warung favorit yg dulu serasa terlezat sedunia dan menyadari sebenarnya rasanya biasa biasa saja.  Dulu begitu lezatnya mungkin karena belum paham makna lezat sesungguhnya dimana saat ini telah makan di warung atau restoran yang sebenar benarnya memaknai lezat 😂😂… Misalnya jika njenengan santri tambakberas era 90 an maka njenengan akan insyaf bahwa bakso pak thing bukaanlah yg terlezat sedunia meski dulu penuh perjuangan buat menikmati dg diam diam jam kosong lari ke situ atau super antri di jam normal.. Apalagi kalau pernah  mampir ke malang dan sudah ketemu rasanya bakso presiden,  bakso bakar pahlawan trip,  bakso kota cak man dan bahkan bakso bakso tepi jalan di kota malang yang ampun ampin lezat beneran semuanya,  hahaha…  Pak Thing?  Ya Bakso Pak Thing itu rasa kenangan….  Makanya tetap istimewa meski telah sadar itu biasa biasa saja…  😊

5. Banyak teman banyak saudara.  Termasuk banyak yang bisa diprospek besanan.

Iya,  besanan.  Saat umur bertambah kita beranak pinak maka pembahasan kita tak lagi kuliah dimana, kerja apa, pacaran atau nikah sama siapa namun anakmu usia berapa dan sudah siap nikahin anak atau sudah ada jodohnyakah anakmu…?.

Sebagai santri tentu ada perasaan ingin melestarikan kesantrian ini hingga anak cucu dengan memastikan punya mantu yg berasal dari keluarga santri.  Agar ngerti berbakti pada orang tua sebagaimana ajaran agama.  Perilaku srhari hari juga pakai agama.  Setidaknya pernah ngaji kitabutthoharoh biar tau betul hadats kecil dan hadats besar,  ahahahaiii. 😉😉😉… Kelak punya cucu juga diajari ilmu agama.

Ini nyata loh..  Guyonan alumni menjelang tua gini galau galau soal anak anak yang beranjak remaja dan dunia remaja saat ini sungguh merisaukan. Jadi jodohnya anak mulai dipikir dengan ngelirik ngelirik anaknya teman sesama santri buat diambil mantu 😄😄😂

6. Saling mengingatkan,  saling mendukung dan saling mendoakan. Karena punya nilai hidup sama tentang peran doa maka para alumni guyub soal saling ini: mengingatkan,  mendukung dan mendoakan…  Bahkan saling ijazah doa apa yg paling ces pleng buat ini buat itu.. 😄😄

Waktu mondok paling seru soal doa mesti tentang doa mahabbah dan doa tolak mahabbah.  Apa itu doa mahabbah…?  Kalau santri ndak usah dijelaskan hahaha…  Kalau njenengan bukan santri tanyakan yang santri deh…

 

Bersambung…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s