Monthly Archives: Januari 2017

Fitnah Yang Menghidupkan Dan Fitnah Yang membunuh

Standar

Profil 2

Video Viral  chat yang ditudingkan bersumber dari seorang wanita cantik dan seorang pemimpin ormas islam membuat saya ingin menuliskan kembali renungan diri saya bertahun lalu saya merasa sangat terpuruk dalam situasi penuh fitnah. Tulisan ini tak hendak menghakimi siapapun sebab ini semacam bicara pada diri sendiri.  Jadi ini renungan pribadi.  Jika ada hal baiknya monggo diambil jika ada buruknya maafkan dan abaikan kelemahan serta kebodohan saya…

Apa itu fitnah?

Sebenarnya saya tidak ingin terjebak pada pembahasan definitif soal fitnah adalah bla bla bla…  Namun bolehlah sedikit kita ta’rif secara umum.  Kita mafhum secara awam bahwa fitnah adalah tuduhan tidak benar yang disangkakan atau ditudingkan pada seseorang yang mengakibatkan orang tersebut menyalami kerugian dalam berbagai jenis.  Namun sebenarnya  kalau kita menilik lebih jernih soal fitnah ini dalam pembahasan islam maka kita juga akan bertemu dengan petunjuk Alloh tentang fitnah yang perlu “mengernyitkan dahi” sejenak: innama amwalukum wa awladukum fitnah.  Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah.  Nah loh..  Kalau harta okelah tapi kok anak-anak yg kita lahirkan juga fitnah…?  Maka fitnah disini berarti juga cobaan bukan…?  Bisa juga berarti amanah untuk bersikap benar sesuai tuntunan bukan…?  Kanapa ini saya sampaikan.  Agar bisa masuk ke alam logika berikutnya dari tulisan pendek ini.

Dua sisi fitnah: Korban Dan Pelaku

Sering kita mendengar bahwa fitnah itu lebih kejam dibanding pembunuhan. Mengapa demikian?  Sebab fitnah itu membunuh berkali-kali.  Sebaran fitnah itu bisa mengakibatkan beragam ekspresi dari banyak pihak / orang mulai dari level ringan seperti mencibir hingga level berat seperti beneran membunuh korban fitnah ini.  Karena itulah fitnah bisa membuat orang terbunuh berkali-kali: terbunuh nama baiknya,  terbunuh harga dirinya,  terbunuh kehormatan keluarga atau keturunannya hingga membahayakan keselamatan jiwa pada level terbunuh nyawanya… Nah,   Lebih kejam bukan? Sungguh lebih kejam dari sekedar terbunuh bagi seorang korban fitnah.

Namun tidak selalu korban fitnah terbunuh secara fisik kan?  Mari kita lihat dengan jernih dari sudut pandang lain.  Manakala seseorang tertimpa fitnah lalu kemudian ia menghadapi dengan tegar,  menjernihkan dengan jelas dan membuktikan dengan sungguh-sungguh atas kebenaran maka sesungguhnya fitnah itu bukan membunuh melainkan membuat hidupnya semakin hidup.  La yukallifullohu nafsan illa wus’aha, Alloh tidak membebani sesuatu melainkan sesuai kemampuan,  bukankah demikian? Banyak kisah sepanjang perjalanan  ummat dimana orang besar semakin besar saat terpapar fitnah namun juga ada orang besar dan “habis” karena fitnah.  Saya ingin mengambil contoh besar bayangkan fitnah yg ditanggung bunda Maryam yg suci  saat Hamil Isa Al Masih.  Jelas Bunda Maryam tidak berzinah namun bagaimana menjelaskannya pada manusia biasa di kala itu…? Dan Bunda Maryam hanya diam saja serta menunjuka bayi tersebut.  Lalu kita ke contoh yang agak kontekstual seorang pejabat yang tampak sangat religius secara fisik tertangkap tangan dalam OTT KPK RI berkata:”Saya tertimpa fitnah…  Ini cobaan besar buat saya sekeluarga… ” Begitulah manusia tertimpa fitnah dan manusia yang merasa tertimpa fitnah.  Fitnah tersebut harus dihadapi sesuai levelnya: fitnah isu/gosip ya tabayyun/klarifikasi, fitnah mengandung unsusr hukum ya harus pembuktian bersih dari sangkaan/tuduhan, fitnah beresiko pada keselamatan ya harus prioritas menghindari resiko tersebut,  fitnah pada integritas ya harus dibuktikan pada kinerja serta seiring waktu dalam perilaku serta bagaimana dengan fitnah yang pada level ambang batas rasionalitas kemanusiaan…?  Bergurulah pada Bunda Maryam: Diam dalam kesabaran serta tawakkal meminta Allohlah yang menjernihkan…    Ini level paling “mengerikan”….  Dalam artian membutuhkan keimanan super kuat. Dan banyak orang besar kita kenal dalam sejarah adalah orang-orang yang lolos karena integritasnya saat menghadapi “pembunuhan” bersumber fitnah.

Sekarang lebih kejam dibanding pembunuhan pada sisi pelaku.  Menurut saya disinilah konteks yang lebih penting.  Yakni Dosa!.  Maksudnya dosa yang harus ditanggung pelaku fitnah adalah dosa yang lebih kejam/lebih besar dari sekedar suatu pembunuhan.  Sebab pelaku fitnah berarti pelaku pembunuhan berkali kali.  Iya,  berkali kali sebanyak efek dari fitnah itu “membunuh” korban mulai dari membunuh nama baik,  harga diri,  harkat martabat hingga keselamatan nyawa korban beserta keluarganya.  Tuh,  kejam dan berat kan dosa yang harus ditanggung…?  Karena itu hati-hatilah jangan terlibat fitnah.  Oiya,  bagaimana yang terlibat…?  Misalnya hanya terlibat kasak kusuk…?  Sahabatku…  Begitulah fitnah bekerja.. Kasak kusuk itulah yang memperbesar dan memperlebar efek fitnah…  😰😰😰 ini baru fitnah-fitnah sekitaran  kita padahal Alloh SWT mengingatkan kelak ada fitnah besar yakni Fitnah Dajjal…  Semoga kita semua sekeluarga diselamatkan Alloh dari segala fitnah khususnya finah yang membawa pada segala jenis kekufuran.  Amiin…

Salam hangat penuh cinta

Mar’atul Makhmudah.  Ibu Rumahtangga di Kabupaten Malang.

 

 

 

 

Iklan

Patah Hati Itu Baik.. Jangan Terlarut Bersedih

Standar

Profil 2

Siapa tak pernah patah hati?

Hampir semua orang pernah patah hati. Tentu dalam kadarnya masing-masing.  Entah kenapa dalam minggu ini banyak teman saya yang mengalami patah hati hingga beberapa dari mereka memutuskan berjalan menuju perceraian.

Sebenarnya patah hati adalah masalah biasa.  Sebagaimana masalah-masalah yang lainnya dimana kita bisa menyelesaikan secara rasional dan terarah. Namun kecenderungan orang jika mengahadapi masalah  yang melibatkan urusan hati maka penyelesaian secara jalur rasional seakan sulit ditempuh. Pembenarannya adalah : urusan hati itu sulit! Atau ada juga yang mengatakan : Hati dan logika tidak bisa dipaksakan sama.

Hati untuk mengingat pikiran untuk melupakan.

Kita terlalu sering berada pada posisi yang salah soal melupakan.  Hati sebenarnya untuk mengingat sedangkan pikiran untuk melupakan.  Loh bukan kebalik?  Bukan.  Hati itu untuk mengingat sedangkan pikiran untuk melupakan.  Mari sejenak kita renungkan saat orang mengatakan:”waduh saya lupa! ” kemana tangannya menunjuk?  Ke kening/kepala tempat pikiran ataukah je dada tempat hati bersemayam?  Sebaliknya kalau ada orang berkata:”Aku selalu mengingatmu…! ”  Atau:”aku selalu mengenang saat-saat itu… ” kemana tangannya menunjuk?  Ke dada ataukah kepala?  Orang secara refleks mengatakan lupa di kepalanya namun mengatakan ingat di dadanya.  Dan jangan lupa refleks itu adalah ekspresi jujur…

Sekarang mari kita mengenang sebuah ayat yang sangat terkenal:”alaa bidzikrillahi tatmainnul quluub.. ” yang artinya ketahauilah bahwa dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang. Artinya hati itu untuk mengingat..  Dan yang menenangkan hati adalah mengisinya dengan Alloh..  Isi hati adalah ingatan atau bahasa lainnya: dzikr.  Jadi kalau hati kita patah bagaimanakah…?  Mungkin struktur atau konstruksi hati kita ada yang salah.. Harusnya hati tidak patah..  Mungkin ini saatnya introspeksi untuk membangun ingatan (dzikr)  dalam hati kita dengan lebih banyak Alloh daripada makhluknya yang fana.  Apalagi harta dan benda-benda duniawiyah.

Dengan kata lain kalau kita mengalami patah hati maka itu baik..  Alloh memberi kita kesempatan untuk sadar dan mengintrospeksi berapa besar kadar ingatan  (dzikr)  dalam hati kita padaNya?  Saya lebih percaya bahwa Watak dasar hati adalah tenang   bukannya watak dasar hati adalah membolak balik atau tidak tenang.  Ketidak tenangan atau bolak-balik itu berasal dari sesuatu yang seharusya tidak hadir atau kehadirannya tidak mengalahkan kehadiran Alloh.  Sebagaimana sesuatu yang seharusnya tidak ada maka timbul reaksi biologis alamiah untuk menolak dan itu menimbulkan anomali.  Seperti orang sakit yang kesakitan itu karena ada yg tidak seharusnya/tidak wajar yang mengganggu tubuhnya entah itu virus,  bakteri,  jamur maupun lainnya. Untuk sembuh dari sakit kita harus mengusir sesuatu yg tidak wajar ada dalam tubuh kita tersebut.  Bisa dengan minum obat,  terapi bahkan operasi.

Untuk sembuh dari patah hati..?  Mungkin dengan mulai menggunakan pikiran dan hati dengan benar.  Pikiran untuk melupakan sesuatu atau bisa juga seorang doski yg bikin sakit dan menggunakan hati untuk banyak mengingat Alloh agar tidak sakit akibat kepatahan tersebut. Berfikir tentang menerima kenyataan, apa yang sebenarnya terbaik dan bagaimana  doski itu sesuatu yang seharusnya tidak menjadi sumber kesakitan.

Mudah bicara coba ngerasain sendiri…?  Emang enak…!?!

Ya memang berat.  Memang sangat tidak enak.  Memang benar mudah bicara susah saat beneran menghadapi.  Apakah saya pernah patah hati..?  Iya,  sangat… Hal terberat yang pernah saya alami ketika patah hati adalah: menjaga akal sehat!!!  Menjaga jiwa tetap jernih!!!  Karena itu saya  bisa bicara eh menulis ini.  Dan saya rasakan bahwa peran sahabat-sahabat yang baik dan menjernihkan (bukannya makin memperkeruh)  sangatlah penting. Jika sahabatmu patah hati maka ambillah peran terbaikmu untuk mendamaikan hatinya..   Semoga semua yang sedang patah hati segera pulih terekonstruksi menjadi hati yang tak mudah patah lagi..  Aamiin..

Love you all sahabat-sahabatku… Profil 2