Monthly Archives: April 2017

Cobaan terberat bagi ibu yang anaknya mondok adalah: Keteguhan Hati

Standar

Profil 2

Tulisan saya ini sebenarnya semi curhat. Tapi mengingat curhat sejenis ini terdahulu yakni saat harus melepas anak saya, mbak ninid kecil, diusia 7 tahun mondok ternyata memberi banyak pengertian dan juga saling menguatkan sesama ibu yang memilih pendidikan pesantren untuk anaknya maka saya posting.

Hanya satu harapan saya dalam menulis soal “memondokkan” anak yakni bermanfaat untuk sesama ibu. Amiin.

ANAKKU SAKIT

Saat hari sambangan minggu lalu kutemukan mbak ninid kecil dalam keadaan demam, matanya merah,  gusinya juga sangat merah dan batuk. Dihidungnya ada sedikit darah kering yg saya perkirakan ia mimisan. Tapi dia sangat ceria. Waktu kupeluk dengan sangat haru seraya bertanya:”mbak ninid sakit ya… Kita pulang ya sayang.. Izin dulu istirahat di rumah…” dia malah menjawab:”enggak umi aku nggak sakit… Kalau pulang nanti ngajinya ketinggalan….” 😢😢😢😢

Padahal pikiran emaknya ini sudah “horor banget”. Jangan2 demam berdarah atau tipes… Ya Alloh… Hati dan pikiran sudah ketakutan ndak karuan. Kok sampai begini dia gak sambat sakit.

Akhirnya kami izin pulang beberapa hari agar  mendapat perawatan medis secukupnya. Saya baga ke UGD hari itu mengingat harinya adalah minggu dimana dokter praktik tutup. Ternyata dari hasil lab alhamdulillah negatif DB maupun types. Hanya saja leukositnya tergolong rendah sehingga harus total istirahat, minum obat dan makan yg cukup. Dokter juga mengizinkan pulang tidak harus opname tapi dalam pengawasan jika terjadi mimisan yang lebih intens atau panasnya tak terkendali maka harus kembali ke rumah sakit.

Alhamdulillah di rumah si kecil sholihahku ini bisa makan dengan baik meski tidak banyak (memang dasarnya tidak suka makan) dan juga tidur nyenyak tiap habis minum obat. Hari ke tiga sudah tidak demam, matanya sudah jernih, tidak mimisan dan gusinya tidak  merah meradang lagi namun batuk belum sembuh tapi sudah berkurang jauh. Kulitnya juga tampak segar kembali.

REMUK REDAMNYA DUNIA BATINKU

Tiap malam selama empat hari sejak itu saya tak bisa tidur. Rebah disisinya dengan waspada penuh. Padahal tiap bangun tidur mbak ninid kecilku ini ceria bertanya ummi kok tidur disini..? Kadang dia bangun untuk minum air yg kusediakan dalam botol disebelah bantalnya. Atau karena ingin pipis sebab sangat banyak minum.

Memandang wajahnya hatiku rasa remuk redam. Perasaan bersalah sebagai seorang ibu kok tidak di rumah saja dia sehingga bisa kuawasi langsung tiap hari. Kenapa tidak saya boyongkan saja nggak usah mondok lagi. Sekolah dan ngaji di rumah saja toh juga bisa. Saya mengajar banyak anak orang lain mengaji kenapa tidak saya ajari sendiri anak saya…? Apakah saya ini ibuk yang baik… Dst. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiranku.

Sesekali saya pindah ke kamar menemui suami dan berurai air mata saya curhat ingin mboyongkan saja anakku ini. Suamiku menasehati tentang sabar dan sebuah pertanyaan:”apakah hanya ummi yang anaknya mondok? Apakah ibunya teman2 ninid juga memboyong anaknya kalau sakit? Kalau orang lain (ibu2) bisa mengendalikan hati dan pikirannya apakah itu begitu sulit buat ummi….? Dulu kan ummi sudah mikir dan memutuskan soal mondok ini apakah hendak putus asa oleh hal ini…”.

Apakah itu bisa saya terima begitu saja? Tidak. Hatiku masih remuk redam… Melihat anak sakit ternyata lebih berat daripada menanggung rasa sakit itu sendiri. Saya percaya bahwa tiap ibu merasakan hal yang saya rasakan. Bahwa melihat anak sakit itu lebih sakit daripada saat diri kita sakit…. 😰

MENJERNIHKAN PIKIRAN DAN HATI

Sambil memandangi tubuh kecil anakku ini saya berusaha berfikir dengan jernih. Menjernihkan hati tentang tujuan awal kenapa dulu saya putuskan ia mondok, mengingat-ingat dengan baik bagaimana nasehat2 terbaik yang bisa saya jadikan pegangan. Selain mengenang sejarah ia mondok di usia sedini ini (ada di tulisan terdahulu dalam web ini) saya ingat kitab taklim , yang merupakan kitab pegangan umumnya santri, bahwa kesuksesan seorang pelajar berasal dari tiga pihak: kesungguhan santri itu sendiri, kesungguhan gurunya, dan kesungguhan orang tuanya. Anakku ini kesungguhan batinnya soal mondok tidak bisa saya ragukan, para pengasuhnya di pondok juga begitu sungguh2 terbukti ia ngajinya sudah sangat lancar meski belum sempurna, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah saya orang tuanya bersungguh-sungguh….?

Ini membuat saya makin trenyuh makin remuk redam.  Jadi yang layak dipertanyakan hanyalah saya…? Iya hanya saya… Tentang kesungguhan saya…

Tidak mudah mengendalikan air mata saat mengalami hal ini. Tidak mudah mengendalikan perasaan saat mengalami hal ini. Namun dalam menuju suatu tujuan apapun memang tak mungkin tanpa aral melintang. Untuk lulus menjadi pribadi yang teguh pada tujuan, tidak mudah patah arang, tidak mudah berbelok atau berhenti di jalan terjal pastilah tidak mudah.

Menjadi seorang ibu berarti memberinya yang terbaik. Dan memberi yang terbaik tidak selalu indah dan menyenangkan…  Bismillah semoga saya selalu menjadi seorang ibu yang tegar dalam menyayangi anak-anak saya dengan kebaikan sejati dan diridloi Alloh SWT. Amiin….

 

 

 

 

Iklan

Tips bepergian ke luar negeri dalam keadaan hamil

Standar

IMG20170404173126

Pengalaman ini saya tulis buat menjadi gambaran bagi bumil yang terpaksa (maupun tidak terpaksa 😜) bepergian ke luar negeri ataupun bepergian naik pesawat. Tentu banyak hal yang jadi pertanyaan dan kekhawatiran. Bagaimanapun kehamilan adalah masa-masa istimewa yang harus dijaga dengan baik.

Rencana umroh, rihlah ke mesir dan kehamilan.

Kehamilan saya ini bagi saya adalah berkah. Usia saya sudah 35 dan saya kira  sudah  tidak akan punya anak lagi. Alhamdulillah Alloh masih memberi kepercayaan memiliki anak lagi. Tentu kami sangat bahagia dan berupaya menjaga dengan baik.

Sementara itu kami merencakan umroh sangat jauh hari dan mestinya kami berangkat di bulan desember tahun lalu. Namun karena suatu hal kami terpaksa memundurkan rencana tersebut hingga akhir maret-awal april tahun ini. Tidak kami sangka ternyata saya sedang hamil dengan usia kehamilan 4,5 bulan saat berangkat umroh dan rihlah ini. Mulailah saya browsing2 dan konsultasi2 baik dengan dokter, agen perjalanan, teman2 yg biasa jadi pendamping jamaah umroh dsb. Prinsipnya mengumpulkan informasi sebanyaknya.

Beberapa hal spesifik yg saya siapkan dalam rangka perjalanan dalam keadaan hamil ini antara lain

1. Dokumen.

Persiapkan surat keterangan sehat dari dokter. Jika merasa perlu bawalah surat tersebut ke biro penterjemah bahasa asing resmi untuk mendapat salinanya dalam bahasa negara tujuan kita. Buat apa? Surat ini akan ditanyakan oleh maskapai penerbangan yg kita pakai baik penerbangan domestik maupun penerbangan antar negara dan juga loket imigrasi kadang menanyakan saat kita terlihat sedang hamil oleh petugas.

Secara umum mereka ini tidak mempermasalahkan kok. Apalagi pihak maskapai mereka butuh tau ini karena mereka mempersiapkan segala resiko penerbangan yang membawa penumpang hamil. Jadi bukan untuk mempersulit justru sedang memfasilitasi dengan baik. Karena itu saat check in jangan lupa laporkan kehamilan sehat ini ke petugas maskapai. Mungkin mereka akan meminta kita menandatangani dokumen2 keadaan kesehatan kita juga.

2. Persiapan fisik.

Pastikan diri kita dan janin kita sehat. Tanyakan pada dokter spesialis kandungan kepercayaan kita tentang apakah memungkinkan buat kita melakukan perjalanan ini. Dokter akan menganalisis dan memberi nasehat medis serta mungkin juga bekal obat2an penting.  Namun selain obat dokter pwesiapkan juga obat2an umum ya kayak minyak angin, kayu putih, vick vaporub atau sejenisnya, in haler, obat batuk dst. Saya mengalami alergi kulit gara2 makan ayam goreng(yg biasanya baik2 saja) sewaktu di madinah. Untunglah ada bedak cair caladin di bekal obat suami.

Disamping itu saya juga mempersiapkan beberap hal lainnya yakni korset hamil buat mengantisipasi dipakai pada perjalanan di darat pada wilayah bergelombang. Banyak kok tersedia di toko2 perlengkapan wanita. Saya beli kebetulan di gerai sorex MOG Malang.

Oiya untuk kenyamanan gantilah celana dalam yang khusus untuk hamil jadi ada wadah perut buncit kita agar tetap hangat dan nyaman.  Saya juga mempersiapkan BH yang satu ukuran lebih besar dari mengantisipasi usia kehamilan segini biasanya memang bertambah gemuk dan juga bertambah ukuran. Alhamdulillah sdh antisipasi ini dan terjadi. Maklum kalau jalan2 kan jadi doyan makan.

Ngomong2 soal doyan makan maka jika ada makanan khusus selama kehamilan termasuk susu khusus ibu hamil maka  bawalah yg agak banyak dengan packing se-ergonomis mungkin sebab di luar negeri mungkin tidak mudah mendapatnya.

3. Komunikasi pra perjalanan dengan kawan seperjalanan.

Saya bepergian dengan suami saja. Kami tidak menggunakan travel maupun jamaah ziarah umroh sebab saat merencanakan, membayar tiket dan juga booking hotel kami lakukan secara mandiri serta berniat jadi petualangan berdua saja. Semi-semi honeymoon lah 😜..  Gak taunya ternyata sudah keadaan hamil… 😂😂

Karenanya kami mendiskusikan segala kemungkinan termasuk kemungkinan jika salah satu dari kita capek trus pake bad mood alias uring2an, hahaha…    Jadi kami membuat kesepakatan apa dan bagaimananya. Pokoknya dijaga juga secara psikologis agar tetap senantiasa menyenangkan.

4. Jika situasi darurat.

Pastikan tau lokasi RS terdekat di tiap tujuan kita beserta nomor kontak gawat daruratnya. Lebih afdhol kita hubungi sahabat terdekat dg lokasi2 tujuan kita agar jika sewaktu waktu butuh tanya ini itu mereka juga akan membantu sebab tahu keberadaan kita di lokasi tujuan kita beserta keadaan kita yg sedang hamil.

Alhamdulillah perjalanan kami aman, nyaman, damai, menyenangkan dan bahagia.

Oke.. Semoga njenengan juga demikian. 😘😘😘… IMG_20170325_094345