Meneladani Mbah Yai Anwar Nur Pendiri Pondok Pesantren Annur I Bululawang Kabupaten Malang

Standar

Mbah Yai Anwar

Meneladani Mbah Yai Anwar Pendiri Pondok Pesantren Annur Bululawang Malang

  1. Masa Muda Mbah Yai Anwar

Sosok Mbah Yai Anwar muda adalah seorang pemuda yang sangat gemar balajar ilmu agama dan tekun beribadah. Hal ini dapat kita rasakan dari semangat beliau untuk mendalami ilmu agama dari beberapa kiai di beberapa pesantren antara lain Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo untuk mengaji pada Kyai Chozin dan Kyai Hasyim disini.  Masih di Sidoarjo beliau juga mengaji dari Kiai Zarkasyi Sono Buduran Sidoarjo. Kemudian mengaji pula  Pesantren Sidogiri Pasuruan. Sebelum  memulai mendalami ilmu agama dan beberapa pesantren tersebut sebenarnya beliau juga telah mendapatkan pendidikan agama serta Al-quran dari abah beliau langsung di tempat kelahiran beliau  dan juga oleh Paman Beliau Kiai Fathulloh  Umar Desa Bladu  Kecamatan Gending  Kabupaten  Probolinggo. Ayahanda beliau juga adalah seorang Kiai bernama Nur Daim. Nama ayahanda beliau inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama pesantren ini yakni Annur.

Selama mondok ini Mbah Yai sangat menaati perintah dari Kiai. Hingga suatu saat ketika telah dirasa cukup ilmu oleh Sang Guru di Pondok Pesantren Sidogiri,  beliau mendapatkan petunjuk dari guru beliau agar berjalan kaki  ke selatan sambil terus mengamalkan ilmu kepada masyarakat. Maka berjalanlah Kiai Anwar muda ini kearah selatan hingga tiba di daerah Bululawang  Kabupaten Malang.

Disini beliau dengan tekun mengajar ilmu agama pada masyarakat.  Selain mengajar beliau juga gigih bekerja dengan meracik jamu untuk membantu masyarakat yang sakit sekaligus juga menjadi  sumber penghidupan beliau sebagai seorang perantau.  Meracik jamu ini ternyata bukan hanya untuk penghidupan dan juga membuat beliau berinteraksi dan mendapatkan kepercayaan di hati masyarakat Bululawang.

Profil beliau yang sederhana tercermin dalam diri beliau sehari hari. Pakaian yang beliau miliki kebanyakan polos berwarna putih dan jika ada warna lain adalah hijau polos. Beliau tidak memiliki pakaian batik  maupun yang bermotif apalagi yang mencerminkan kemewahan seperti bordiran dan sutra. Bahkan sajadah beliaupun berwarna putih. Sehari-hari sangat pendiam dan yang banyak keluar dari mulut beliau adalah lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan pengajian kitab-kitab saja.

Seorang warga Bululawang yang kaya raya  melihat  kesalehan serta  ketekunan Mbah Yai Anwar  muda hatinya terpikat hingga mengambilnya sebagai menantu untuk putrinya yang bernama Marwiyah. Mertua Mbah Yai Anwar ini bernama Haji Hasan. Pernikahan ini dilangsungkan sekitar tahun 1935 dan ini adalah tonggak awal keberadaan Mbah Yai Anwar sebagai warga yang memiliki keluarga besar di wilayah Bululawang.  Kampung tempat tinggal beliau ini, yang saat ini adalah lokasi dari Pondok Pesantren Annur, terkenal sebagai tempat tinggal orang-orang kaya sehingga terkenal dengan sebutan “Kampung Kaji”. Dinamakan demikian sebab hamper semua penghuninya telah melaksanakan ibadah haji yang menandakan kekayaan dan kemakmuran ekonomi sebab pada masa tersebut bisa melaksanaan ibadah haji bukan hal yang biasa.

Musholla Cikal Bakal Pondok Pesantren Annur

Setelah menikah ini Mbah yai Anwar muda  yang telah mendapat kepercayaan di hati masyarakat ini menerima waqaf tanah untuk kemudia dibangun musholla dan beberapa bidak kamar yang dipersiapkan untuk ditinggali santri. Untuk kebutuhan hidup beliau juga disediakan tanah pertanian seluas 2 hektar.  Secara istiqomah beliau merawat kepercayaan masyarakat ini sembari terus mendidik santri. Masyarakat semakin menaruh kepercayaan pada beliau sehingga santrinya terus bertambah banyak.

Peresmian formal baru dilakukan pada tahun 1942 dan beliau memberi nama Pondok Pesantren Annur yang diambil dari nama ayahanda beliau. Pada masa ini beliau hanya mendidik para santri putra saja hingga tahun 1960 saat putri beliau pulang dari mondok di Jombang barulah mulai menerima santri putri. Putri beliau ini adalah Ibu Nyai Hajjah Zubaidah yang saat tulisan  ini dibuat masing mengasuh Pondok  Pesantren Putri Annur 1.

Jumlah anak beliau adalah tujuh yang terdiri dari empat orang putra dan tiga orang putri. Kesemuanya mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Annur dan tersebar di Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Pasuruan. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Badruddin Anwar. Pendiri Pesantren Annur II Bululawang Malang yang lokasinya bersebelahan saja dengan Pondok Annur I. Tepatnya di sisi selatan.
  2. Nyai Hj. Zubaidah Anwar. Pendiri Pondok Putri Annur I dimana dimasa sebelumnya hanya ada santri putra saja. Bersama suami beliau yakni KH Burhanuddin Hamid memulai perjuangan mendirikan sekolah formal pertama di lingkungan Pesantren Annur yakni Madrasah Tsanawiyah Annur.
  3. Qusyairi Anwar yakni Pendiri Pondok Pesantren Annur III yang lokasinya juga bersebelahan dengan Pondok Annur I. Tepatnya di sisi timur.
  4. Nyai Hj. Marhumah Anwar yakni pendiri Pondok Pesantren Annur Tempeh Kabupaten Lumajang.
  5. KH Mudhofar. Beliau bersama Kyai Badruddin Anwar, Kakak sulung beliau, mendirikan Pondok Pesantren Annur II.
  6. Gus Halim Anwar. Beliau semasa hidupnya bersama keluarga tinggal lingkungan dalam Pondok Induk Annur I dan turut merawat para santri disini.
  7. Nyai Hj. Lailatun Nuroniyah yakni Pendiri Pondok Pesantren Annur Assalafi yang berlokasi di Kejayan Pasuruan.

 

Seiring perkembangan zaman Pondok Pesantren Annur juga mulai mengembangkan Lembaga Pendidikan Formal. Inisiator dari berdirinya sekolah formal ini adalah Buya Burhanuddin Hamid yakni menantu Mbah Yai Anwar  yang merupakan suami dari Ibu Nyai Hajjah Zubaidah. Sekolah pertama yang didirikan ini adalah Madrasah Tsanawiyah. Berturut turut kemudian sekolah formal di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Annur didirikan antara lain Madrasah Aliyah, SMP, SMA, dan MI.  Prestasi serta posisi pondok pesantren Annur yang senantiasa tanggap pada perkembangan zaman di dunia pendidikan ini menyebabkan Pemerintah Kabupaten Malang sebagai “Pilot Project Pondok Pesantren” atau percontohan pondok pesantren.

Santri terus bertambah dan berdirinya Pondok Pesantren Annur 2 juga Annur 3 di lingkungan wilayah Bululawang sebagai putra-putra beliau yang juga mengembangkan Pondok Pesantren dalam satu naungan yayasan sehingga Bululawang ini turut termasyhur sebagai wilayah santri.

Wirausahawan yang dermawan, wira’i serta istiqomah

Meskipun beliau seorang kiai namun untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga beliau tetap bekerja. Bisnis pembuatan jamu racikan yang telah beliau rintis sejak remaja santri yang berkelana itu terus dikembangkan sebagai industri rumah tangga. Disamping itu tanah pertanian milik Bu Nyai Marwiyah yang putri seorang kaya raya sebenarnya lebih dari cukup dann bisa dikatakan rumah tangga beliau ini berkecukupan secara ekonomi. Namun demikian sikap pribadi beliau sangat dermawan serta wira’i.

Diceritakan oleh putra-putri beliau bahwa jika Mbah Yai dalam perjalanan  tak sekalipun beliau berkenan makan di warung. Beliau hanya berkenan makan bekal dari rumah. Bahkan saat melakukan perjalanan beberapa hari ke Madura beliau memilih tetap berada dalam kendaraan saat yang lain makan di warung.

Perihal sikap istiqomah beliau telah menjadi kenangan yang sangat mendalam bukan hanya di benak para santri namun juga dalam ingatan masyarakat. Beliau istiqomah mengimami langsung jama’ah bersama para santri, istiqomah khataman al-qur’an setiap dua hari serta senantiasa membaca wirid juga  istiqomah menjalankan sholat tahajut dengan terlebih dahulu mandi “kungkum” di kamar mandi khusus yang saat ini masih dirawat dengan baik di ndalem kasepuhan beliau.

Sikap istiqomah shalat berjama’ah ini juga ada dalam ingatan masyarakat Bululawang terutama soal keteguhan beliau berpegang pada “jam matahari” atau “bincret” dalam penentuan waktu shalat. Dari jam itu kemudian beliau membunyikan klonengan penanda waktu shalat. Klonengan mbah yai anwar inilah yang senantiasa ditunggu masyarakat Bululawang sebagai penanda waktu shalat. Hingga masjid jamik Bululawang pun menjadikan klonengan Mbah Yai Anwar ini sebagai penunjuk waktu shalat. Saat ini jam matahari itu terjaga di Pondok Pesantren Annur 2 sedangkat klonengannya dipindahkan di Pondok Pesantren Annur 3.

 Kepemimpinan Publik

Mbah Yai Anwar juga memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi terhadap kepentingan masyarakat, bangsa dan juga negara. Beliau  tidak lepas tangan urusan masyarakat salah satunya adalah aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama’ secara formal.  Beliau pernah menjabat sebagai mustasyar PC NU Kabupaten Malang.

Kecintaan beliau pada NU juga tampak dari sikap beliau yang mendoring para santri untuk mencintai NU. Salah satu murid beliau yang sangat terkenal yakni KH Hasyim MUzadi alm yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU ternyata memulai karirnya memimpin di NU dari mulai menjadi pimpinan PAC Anshor Bululawang pada saat masih menjadi santri beliau di Pondok Pesantren Annur ini.

Pada masa pemberontakan G 30 S/ PKI beliau juga menjadi rujukan banyak santri untuk menggembleng fisik  maupun olah kanuragan dalam situasi yang penuh fitnah tersebut.  Sebelum itu di era  pendudukan Jepang dimana kehidupan sangat sulit para santri banyak yang pulang namun tersisas beberapa santri yang memutuskan tidak pulang sehingga masalah penghidupan sepenuhnya ikut pada Mbah Yai.  Demikian pula di  masa Agresi Militer Belanda tahun 1947-1948  para santri kembali terpaksa pulang. Bahkan Mbah Nyai Marwiyah, istri beliau, dipulangkan oleh Mbah Nyai ke Desa Ganjaran Kecamatan Gondanglegi tempat keluarga besar Mbah Nyai berasal. Mbah Yai anwar sendiri bersama beberapa santri senior bergabung dengan pasukan gerilyawan yang berpindah-pindah tinggalnya antara Gondanglegi, Krebet maupun Bululawang. Demikianlah Mbah Yai mengambil posisi dengan sangat jelas dalam mengejawantahkan Hubbul Wathon Minal Iman.

Wafatnya Mbah Yai Anwar

Mbah Yai Anwar wafat pada tahun 1992 dan dimakamkan di pesarean Pondok Pesantren Annur 1. Ujaran beliau yang sangat terkenal dan menjadi inspirasi dari para santri beliau  untuk turut mengajar dan mengabdikan diri mendidik masyarakat dengan ajaran islam yakni:”monggo nderek-nderek nyetah sholihin sholihat”.  Semoga kita semua bisa meneladani peri kehidupan beliau yang sungguh mulia ini. Amiin.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s