Category Archives: Malang Kota Kita

MENIKMATI MALANG KOTA SELFIE

Standar

Early warning ya.. bahwa tulisaan ini agak baper alias bawa perasaan. Saya mulai menetap di Kota Malang sejak akhir tahun 2009. Motivasi awalnya adalah berkumpul dengan keluarga secara lengkap. Namun motivasi berikutnya adalah tanggungjawab moral sebagai pendidik (cie…) yakni dosen di FISIP Universitas Brawijaya.  Itu membuat saya bertahan manakala alasan awal ternyata bukanlah alasan yang relevan secara harfiah, hehehe…  Jujur saja saya hampir menyerah berputus asa dan ingin meninggalkan kota malang namun Kiai Saya berdiskusi dengan saya dalam sebuah kesempatan di Madinah agar saya tetap disini dengan banyak alasan dhohir yang rasional maupun alasan bathin yang butuh keyakinan atau kepercayaan pada do’a serta memperkuat tawakkal. Saya putuskan percaya, bersabar dan bertawakkal disini jauh dari keluarga asaal serta tak ada sanak saudara.

Meninggalkan keluarga besar di Lamongan beserta status saya disana sebagai anggota DPRD 2004-2009, wiraswasta, serta anak keluarga lumayan terpandang secara ekonomi dan sosial politik  membuat saya merasakan hal “berbeda”.  Kota ini mengajari saya tentang menjadi bukan siapa-siapa dalam tatanan masyarakat di sini, tidak punya siapa-siapa dan tentu saja sesekali juga tidak punya uang hehehe….  Sesuatu yang hampir tak pernah terjadi pada saya di KOta kelahiran saya. Disini saya bukan hanya belajar berempati tapi mersakan secara langsung bagaimana itu miskin, bagaimana itu lemah tanpa daya tawar terhadap penguasaa, bagaimana itu dihinakan statusnya, serta tentu saja menghadapi berbagai fitnah sendirian… iya, sendirian. Hikmah besarnya adalah saya juga belajar makna kebersamaan sebab mengalami kesendirian.

Saya mulai belajar mencintai kota ini dengan berusaha tulus tanpa pamrih untuk mahasiswa dan tidak memperhitungkan apapun untuk mereka sebagai bagian dari pekerjaan. Jadi mereka bukan pekerjaan saya melainkan bagian dari diri saya. Lalu saya lanjutkan dengan mulai bersedia mengisi kegiatan-kegiatan diskusi ilmiah maupun non ilmiah bahkan pengajian-pengajian tak berbayar tentu saja. Sebagai peserta maupun penceramah. Hingga pada suatu waktu saya bertemu dengan masyarakat Dusun Jeruk Kecamatan Lawang Kabupaten Malang yang minus ekonomi dan pendidikan. Secara geografis Kota Malang memang di tengah-tengah kabupten Malang sehingga rumah saya yang ada di perbatasan yakni Arjosari tidak jauh dari wilayah kec Lawang dan Singosari. Kembali ke Dusun Jeruk, anak-anak mereka berjalan sejauh +-5 KM tiap harinya untuk mengakses pendidikan dasar. Sebuah percakapan saya denga Kamituwo dusun tersebut yang membuat saya merenung mendalam. “Saya heran dusun jauh diatas bukit gini kok banyak anak kecilnya padahal akses pendidikan daan lainnya susah.” kamituwo dusun itu menjawab:”Njenengan niku dos pundi toch bu  (Ibu itu bagaimana sich?)… Ya karena letak kami terpelosok jauh dari segala macaam maka hiburan kamai masyarakat sini ya cuman itu; bikin anak..”. Waktu itu kami tertawa terbahak namun sebenarnya sayaa berfikir tentang bagaimana seharusnya negara memikirkan mereka. Berbekal pengetahuan dan skill saya selaku dosen yang pernah berkecimpung dalam politik dan pemerintahan secara praktis saya mulai menggagas pendirian TK dan PAUD yang kemudian diberinama Roudlotussalaf. Pada bagian lain akan saya ceritakan liku-liku pendirian sekoklah ini. Kita kembali ke Kota Malang. Namun disini saya menikmati indahnya dicintai masyarakat. Sesuatu yang indah dan saya tinggalkan di Kota Kelahiran saya.

Anak saya Kak Nay ternaya lebih dahulu melakukan ini. Maksud saya adalah menghayati dan  mencintai kota ini. Dia hafal lebih banyak rute “jalan tikus” kota malang sebab naik mobil antar jemput sekolah dengan segudang rute alternatif menembus kemacetan. Ia juga banyak tahu dari diskusi di sekolah maupun lainnya hal-hal apa saja yang bisa di nikmati di Kota ini. Mulai dari kuliner, tempat wisata, perbelanjaan hingga tentu saja lokasi selfie. Kak Nay membuktikan kecintaannya pada kota ini dengan dua hal yang mencengangkan buat saya: Ia memenangkan lomba surat untuk walikota yang diselenggarakan Bappeda Kota Malang dan juga membuat buku komik yang meskipun bercerita tentang kisah kanak-kanaknya  bersaudara dengan adiknya juga mengulas Kota Malang sebagai setting lokasi komik tersebut.

Saya mulai menuruti rute-rute kuliner yang direkomendasi Kak Nay, mengantanya menikmati wisata lokal, dan mulai mengunjungi teman-teman lama. Ajaib.. Mengunjungi teman lama memberiku spirit luar biasa. TEman-teman lama ini menjadi keluarga dalam artian non harfiah sebab mereka inilah yang kemuddian berlaku seperti keluarga bagi saya. Ini membuat saya merenungi makna silaturrachim dan menghayatinya sebagaimana hikmah yang diajarkan kanjeng nabi muhammad  SAW dalam agama saya: islam.

Disisi lain Kota ini selain indah sejuk nyaman juga sangat ramah pada pendatang. Tidak sulit bagi pendatang untuk berbagai makanan, belanja yang murah, beli rumah dengan berbagai pilihan bahkan kredit kendaraan amat sangat mudah. Dan yang terkini tentu saja kota ini sangat memfasilitasi bagai pendatang macam saya untuk menikmatinya secara kekinian: selfie.

Capture-capture selfie yang diupload di medsos adalah hal kekinian yang menciptakan beberapa hal positif buat pendatang yang mulai menghayati dan mencintai kota ini sebagai pilihan hidup: pertama, saya menerima support dan dukungan moral dan do’a dari teman-teman medsos tentang betapa kota malang itu indah dan pilihan yang baik sebagai tenpat tinggal. sungguh menguatkan bukan? kedua, saya menerima banyak pandangan dan pendapat tentang pendidikan anak-anak saya lebih terjamin disini dibanding tempat manapun di Jatim. Yang ini tentu saja masih bisa diperdebatkan terlebih ternyata anak kedua saya, ninid, memilih mondok dan belajar menghafal alqur’an disini. Mengharukan…   ketiga, saya mendapat banyak hal baru yang bisa dianggap petualangan hidup. sesuatu yang benar-benar baru dalam kehidupan saya yang pasti tidak saya rasakan di kampung halaman sana. tentang kebijaksanaan hidup. keempat, astaga…   saya dan kediaman saya diam-diam  menjadi “tujuan minggat” dari teman-teman untuk sejenak melepaskan penat hidup masalah mereka  sekaligus “hotel gratis” kolega sahabat dan keluarga yang berlibur ke malang. Ternyata posting-posting saya tentang menghadapi masalah hidup itu membuat beberapa dari mereka mempercayakan masalah mereka untuk didiskusikan dengan saya sekaligus mungkin juga menginap  yang melepaskan penat dan frustasi sebab di rumah saya tidak ada sungkan karena tidak ada keluarga selain anak-anak yang masih kecil. Disini saya merasa bersyukur ternyata dalam kemelut masalah hidup kita bisa saja menjadi secercah cahaya untuk orang lain yang menghadapi masalah serupa. Bersyukur di tengah fitnah yang mencoba menghancurkan integritas diri saya ternyata diam-diam Alloh mempercayakan tangisan teman-teman ini pada pendapat saya…  Mereka ini percaya pada saya untuk sesuatu yang mungkin sangat mereka rahasiakan dari dunia.   Dan saya berbaik sangka demikian pula secara rahasia Alloh menaruh kepercayaan pada diri saya untuk suatu hal baik di masa mendatang yang masih ia rahasikan pada dunia. Terimakasih untuk cinta yang mulai tumbuh pada kota ini.  Manakah nikmat Tuhanmu yang Engkau dustakan?

Ngalam… I’m in love.

IMG_1559[1].JPG

 

 

 

 

Iklan