Category Archives: Muhasabah

Fitnah Yang Menghidupkan Dan Fitnah Yang membunuh

Standar

Profil 2

Video Viral  chat yang ditudingkan bersumber dari seorang wanita cantik dan seorang pemimpin ormas islam membuat saya ingin menuliskan kembali renungan diri saya bertahun lalu saya merasa sangat terpuruk dalam situasi penuh fitnah. Tulisan ini tak hendak menghakimi siapapun sebab ini semacam bicara pada diri sendiri.  Jadi ini renungan pribadi.  Jika ada hal baiknya monggo diambil jika ada buruknya maafkan dan abaikan kelemahan serta kebodohan saya…

Apa itu fitnah?

Sebenarnya saya tidak ingin terjebak pada pembahasan definitif soal fitnah adalah bla bla bla…  Namun bolehlah sedikit kita ta’rif secara umum.  Kita mafhum secara awam bahwa fitnah adalah tuduhan tidak benar yang disangkakan atau ditudingkan pada seseorang yang mengakibatkan orang tersebut menyalami kerugian dalam berbagai jenis.  Namun sebenarnya  kalau kita menilik lebih jernih soal fitnah ini dalam pembahasan islam maka kita juga akan bertemu dengan petunjuk Alloh tentang fitnah yang perlu “mengernyitkan dahi” sejenak: innama amwalukum wa awladukum fitnah.  Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah.  Nah loh..  Kalau harta okelah tapi kok anak-anak yg kita lahirkan juga fitnah…?  Maka fitnah disini berarti juga cobaan bukan…?  Bisa juga berarti amanah untuk bersikap benar sesuai tuntunan bukan…?  Kanapa ini saya sampaikan.  Agar bisa masuk ke alam logika berikutnya dari tulisan pendek ini.

Dua sisi fitnah: Korban Dan Pelaku

Sering kita mendengar bahwa fitnah itu lebih kejam dibanding pembunuhan. Mengapa demikian?  Sebab fitnah itu membunuh berkali-kali.  Sebaran fitnah itu bisa mengakibatkan beragam ekspresi dari banyak pihak / orang mulai dari level ringan seperti mencibir hingga level berat seperti beneran membunuh korban fitnah ini.  Karena itulah fitnah bisa membuat orang terbunuh berkali-kali: terbunuh nama baiknya,  terbunuh harga dirinya,  terbunuh kehormatan keluarga atau keturunannya hingga membahayakan keselamatan jiwa pada level terbunuh nyawanya… Nah,   Lebih kejam bukan? Sungguh lebih kejam dari sekedar terbunuh bagi seorang korban fitnah.

Namun tidak selalu korban fitnah terbunuh secara fisik kan?  Mari kita lihat dengan jernih dari sudut pandang lain.  Manakala seseorang tertimpa fitnah lalu kemudian ia menghadapi dengan tegar,  menjernihkan dengan jelas dan membuktikan dengan sungguh-sungguh atas kebenaran maka sesungguhnya fitnah itu bukan membunuh melainkan membuat hidupnya semakin hidup.  La yukallifullohu nafsan illa wus’aha, Alloh tidak membebani sesuatu melainkan sesuai kemampuan,  bukankah demikian? Banyak kisah sepanjang perjalanan  ummat dimana orang besar semakin besar saat terpapar fitnah namun juga ada orang besar dan “habis” karena fitnah.  Saya ingin mengambil contoh besar bayangkan fitnah yg ditanggung bunda Maryam yg suci  saat Hamil Isa Al Masih.  Jelas Bunda Maryam tidak berzinah namun bagaimana menjelaskannya pada manusia biasa di kala itu…? Dan Bunda Maryam hanya diam saja serta menunjuka bayi tersebut.  Lalu kita ke contoh yang agak kontekstual seorang pejabat yang tampak sangat religius secara fisik tertangkap tangan dalam OTT KPK RI berkata:”Saya tertimpa fitnah…  Ini cobaan besar buat saya sekeluarga… ” Begitulah manusia tertimpa fitnah dan manusia yang merasa tertimpa fitnah.  Fitnah tersebut harus dihadapi sesuai levelnya: fitnah isu/gosip ya tabayyun/klarifikasi, fitnah mengandung unsusr hukum ya harus pembuktian bersih dari sangkaan/tuduhan, fitnah beresiko pada keselamatan ya harus prioritas menghindari resiko tersebut,  fitnah pada integritas ya harus dibuktikan pada kinerja serta seiring waktu dalam perilaku serta bagaimana dengan fitnah yang pada level ambang batas rasionalitas kemanusiaan…?  Bergurulah pada Bunda Maryam: Diam dalam kesabaran serta tawakkal meminta Allohlah yang menjernihkan…    Ini level paling “mengerikan”….  Dalam artian membutuhkan keimanan super kuat. Dan banyak orang besar kita kenal dalam sejarah adalah orang-orang yang lolos karena integritasnya saat menghadapi “pembunuhan” bersumber fitnah.

Sekarang lebih kejam dibanding pembunuhan pada sisi pelaku.  Menurut saya disinilah konteks yang lebih penting.  Yakni Dosa!.  Maksudnya dosa yang harus ditanggung pelaku fitnah adalah dosa yang lebih kejam/lebih besar dari sekedar suatu pembunuhan.  Sebab pelaku fitnah berarti pelaku pembunuhan berkali kali.  Iya,  berkali kali sebanyak efek dari fitnah itu “membunuh” korban mulai dari membunuh nama baik,  harga diri,  harkat martabat hingga keselamatan nyawa korban beserta keluarganya.  Tuh,  kejam dan berat kan dosa yang harus ditanggung…?  Karena itu hati-hatilah jangan terlibat fitnah.  Oiya,  bagaimana yang terlibat…?  Misalnya hanya terlibat kasak kusuk…?  Sahabatku…  Begitulah fitnah bekerja.. Kasak kusuk itulah yang memperbesar dan memperlebar efek fitnah…  😰😰😰 ini baru fitnah-fitnah sekitaran  kita padahal Alloh SWT mengingatkan kelak ada fitnah besar yakni Fitnah Dajjal…  Semoga kita semua sekeluarga diselamatkan Alloh dari segala fitnah khususnya finah yang membawa pada segala jenis kekufuran.  Amiin…

Salam hangat penuh cinta

Mar’atul Makhmudah.  Ibu Rumahtangga di Kabupaten Malang.

 

 

 

 

Iklan

Patah Hati Itu Baik.. Jangan Terlarut Bersedih

Standar

Profil 2

Siapa tak pernah patah hati?

Hampir semua orang pernah patah hati. Tentu dalam kadarnya masing-masing.  Entah kenapa dalam minggu ini banyak teman saya yang mengalami patah hati hingga beberapa dari mereka memutuskan berjalan menuju perceraian.

Sebenarnya patah hati adalah masalah biasa.  Sebagaimana masalah-masalah yang lainnya dimana kita bisa menyelesaikan secara rasional dan terarah. Namun kecenderungan orang jika mengahadapi masalah  yang melibatkan urusan hati maka penyelesaian secara jalur rasional seakan sulit ditempuh. Pembenarannya adalah : urusan hati itu sulit! Atau ada juga yang mengatakan : Hati dan logika tidak bisa dipaksakan sama.

Hati untuk mengingat pikiran untuk melupakan.

Kita terlalu sering berada pada posisi yang salah soal melupakan.  Hati sebenarnya untuk mengingat sedangkan pikiran untuk melupakan.  Loh bukan kebalik?  Bukan.  Hati itu untuk mengingat sedangkan pikiran untuk melupakan.  Mari sejenak kita renungkan saat orang mengatakan:”waduh saya lupa! ” kemana tangannya menunjuk?  Ke kening/kepala tempat pikiran ataukah je dada tempat hati bersemayam?  Sebaliknya kalau ada orang berkata:”Aku selalu mengingatmu…! ”  Atau:”aku selalu mengenang saat-saat itu… ” kemana tangannya menunjuk?  Ke dada ataukah kepala?  Orang secara refleks mengatakan lupa di kepalanya namun mengatakan ingat di dadanya.  Dan jangan lupa refleks itu adalah ekspresi jujur…

Sekarang mari kita mengenang sebuah ayat yang sangat terkenal:”alaa bidzikrillahi tatmainnul quluub.. ” yang artinya ketahauilah bahwa dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang. Artinya hati itu untuk mengingat..  Dan yang menenangkan hati adalah mengisinya dengan Alloh..  Isi hati adalah ingatan atau bahasa lainnya: dzikr.  Jadi kalau hati kita patah bagaimanakah…?  Mungkin struktur atau konstruksi hati kita ada yang salah.. Harusnya hati tidak patah..  Mungkin ini saatnya introspeksi untuk membangun ingatan (dzikr)  dalam hati kita dengan lebih banyak Alloh daripada makhluknya yang fana.  Apalagi harta dan benda-benda duniawiyah.

Dengan kata lain kalau kita mengalami patah hati maka itu baik..  Alloh memberi kita kesempatan untuk sadar dan mengintrospeksi berapa besar kadar ingatan  (dzikr)  dalam hati kita padaNya?  Saya lebih percaya bahwa Watak dasar hati adalah tenang   bukannya watak dasar hati adalah membolak balik atau tidak tenang.  Ketidak tenangan atau bolak-balik itu berasal dari sesuatu yang seharusya tidak hadir atau kehadirannya tidak mengalahkan kehadiran Alloh.  Sebagaimana sesuatu yang seharusnya tidak ada maka timbul reaksi biologis alamiah untuk menolak dan itu menimbulkan anomali.  Seperti orang sakit yang kesakitan itu karena ada yg tidak seharusnya/tidak wajar yang mengganggu tubuhnya entah itu virus,  bakteri,  jamur maupun lainnya. Untuk sembuh dari sakit kita harus mengusir sesuatu yg tidak wajar ada dalam tubuh kita tersebut.  Bisa dengan minum obat,  terapi bahkan operasi.

Untuk sembuh dari patah hati..?  Mungkin dengan mulai menggunakan pikiran dan hati dengan benar.  Pikiran untuk melupakan sesuatu atau bisa juga seorang doski yg bikin sakit dan menggunakan hati untuk banyak mengingat Alloh agar tidak sakit akibat kepatahan tersebut. Berfikir tentang menerima kenyataan, apa yang sebenarnya terbaik dan bagaimana  doski itu sesuatu yang seharusnya tidak menjadi sumber kesakitan.

Mudah bicara coba ngerasain sendiri…?  Emang enak…!?!

Ya memang berat.  Memang sangat tidak enak.  Memang benar mudah bicara susah saat beneran menghadapi.  Apakah saya pernah patah hati..?  Iya,  sangat… Hal terberat yang pernah saya alami ketika patah hati adalah: menjaga akal sehat!!!  Menjaga jiwa tetap jernih!!!  Karena itu saya  bisa bicara eh menulis ini.  Dan saya rasakan bahwa peran sahabat-sahabat yang baik dan menjernihkan (bukannya makin memperkeruh)  sangatlah penting. Jika sahabatmu patah hati maka ambillah peran terbaikmu untuk mendamaikan hatinya..   Semoga semua yang sedang patah hati segera pulih terekonstruksi menjadi hati yang tak mudah patah lagi..  Aamiin..

Love you all sahabat-sahabatku… Profil 2

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 3 Hal hal yang dirasakan para alumni pondok pesantren.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan pernah tinggal di pondok pesantren sebagai santri…?  Maka seumur hidup njenengan tetaplah seorang santri. Long life education sebagai mainstream pemikiran modern tentang  pendidikan bukanlah hal baru buat santri. Rasulullah SAW telah mengakatakan pada kita tentang uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi yakni menuntut ilmu semenjak dalam buaian bunda hingga kelak ke liang lahat.

Clifford Geertz yang mengkodifikasi struktur masyarakat jawa dalam santri,  priyayi dan abangan sebenarnya hendak merujuk santri sebagai sekelompok masyarakat yang menggunakan kaidah kaodah dan nilai nilai agama islam dalam perilaku hidupnya.  Keberadaan kelompok santri ini sangat ditopang oleh keberadaan pondok pesantren dengan para kiainya yang melestarikan kelompok sosial bernama santri ini.

Dan sejarah bangsa ini telah menunjukkan bahwa kekuatan kaum santri sebagai penopang pondasi kebangsaan telah terwujud jauh sebelum indonesia didirikan.  Adapun hari santri yang ditetapkan tanggal 22 oktober adalah momentum politik yang merujuk pada satu kejadian heroik dari jawa timur yakni resolusi jihad. Ini adalah supremasi kaum santri atas kemerdekaan bangsa. Resolusi jihad tersebut terbukti menggelorakan semangat bangsa hingga pecah kejadian besar 10 november di surabaya sebagai tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan.

Jadi santri bukan hanya tentang sekelompok masyarakat yang hidup dengan nilai nilai agama melainkan juga sekelompok penting masyarakat bangsa Indonesia yang berjuang untuk kejayaan bangsa ini.

Berikut adalah lanjutan tulisan sebelumnya tentang bagaimana para alumni layak bangga menjadi seorang Santri:

4. Mazaltu tholiban.  Selamanya kita adalah santri. Alumni juga tetap seorang santri.  Seumur hidup ia menjadi santri.

Saat sudah lulus dari pondok dan mulai melanjutkan jenjang pendidikan maupun mulai bekerja menikah dan lainnya,  kenangan belajar di pondok mungkin belum terlalu kuat dirasakan mempengaruhi seorang alumni.  Namun saat hidup terus berjalan dan berbagai cobaan serta tantangan menerpa justru disitulah muncul berbagai ingatan atas nasehat dari kiai maupun ajaran ajaran di pondok saat mengaji.

Karena itu wajar sering ada terbit kerinduan masa masa mondok meskipun sebenarnya waktu mondok “ndablek”, males ngaji pun males jamaah. Biasanya terbit rindu ini sambil menyesal kenapa dulu kurang rajin mengaji dan belajar.  Yah,  penyesalan emang selalu datang terlambat sebab kalau datang diawal namanya bukan penyesalan melainkan pendaftaran  😄😄..

Begitulah kami para alumni masih akan datang lagi untuk ngaji sejenak pas haflah,  datang curhat minta nasehat ke kiai atau keluarganya, datang mibta didoakan,  datang sekedar reoni tertawa bersama kawan2 santri senasib di zamannya,  nyicipi makanan di warung favorit yg dulu serasa terlezat sedunia dan menyadari sebenarnya rasanya biasa biasa saja.  Dulu begitu lezatnya mungkin karena belum paham makna lezat sesungguhnya dimana saat ini telah makan di warung atau restoran yang sebenar benarnya memaknai lezat 😂😂… Misalnya jika njenengan santri tambakberas era 90 an maka njenengan akan insyaf bahwa bakso pak thing bukaanlah yg terlezat sedunia meski dulu penuh perjuangan buat menikmati dg diam diam jam kosong lari ke situ atau super antri di jam normal.. Apalagi kalau pernah  mampir ke malang dan sudah ketemu rasanya bakso presiden,  bakso bakar pahlawan trip,  bakso kota cak man dan bahkan bakso bakso tepi jalan di kota malang yang ampun ampin lezat beneran semuanya,  hahaha…  Pak Thing?  Ya Bakso Pak Thing itu rasa kenangan….  Makanya tetap istimewa meski telah sadar itu biasa biasa saja…  😊

5. Banyak teman banyak saudara.  Termasuk banyak yang bisa diprospek besanan.

Iya,  besanan.  Saat umur bertambah kita beranak pinak maka pembahasan kita tak lagi kuliah dimana, kerja apa, pacaran atau nikah sama siapa namun anakmu usia berapa dan sudah siap nikahin anak atau sudah ada jodohnyakah anakmu…?.

Sebagai santri tentu ada perasaan ingin melestarikan kesantrian ini hingga anak cucu dengan memastikan punya mantu yg berasal dari keluarga santri.  Agar ngerti berbakti pada orang tua sebagaimana ajaran agama.  Perilaku srhari hari juga pakai agama.  Setidaknya pernah ngaji kitabutthoharoh biar tau betul hadats kecil dan hadats besar,  ahahahaiii. 😉😉😉… Kelak punya cucu juga diajari ilmu agama.

Ini nyata loh..  Guyonan alumni menjelang tua gini galau galau soal anak anak yang beranjak remaja dan dunia remaja saat ini sungguh merisaukan. Jadi jodohnya anak mulai dipikir dengan ngelirik ngelirik anaknya teman sesama santri buat diambil mantu 😄😄😂

6. Saling mengingatkan,  saling mendukung dan saling mendoakan. Karena punya nilai hidup sama tentang peran doa maka para alumni guyub soal saling ini: mengingatkan,  mendukung dan mendoakan…  Bahkan saling ijazah doa apa yg paling ces pleng buat ini buat itu.. 😄😄

Waktu mondok paling seru soal doa mesti tentang doa mahabbah dan doa tolak mahabbah.  Apa itu doa mahabbah…?  Kalau santri ndak usah dijelaskan hahaha…  Kalau njenengan bukan santri tanyakan yang santri deh…

 

Bersambung…

 

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 2 Kebanggaan berikut dirasakan para alumninya.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_nMenjadi santri berarti memupuk banyak kenangan kebersamaan.  Menjadi santri juga berarti memupuk segudang pengalaman. Istimewanya adalah hampir setiap hal yang sehari hari dilakukan memiliki alasan mengapa dilakukan. Misalnya bangun sepertiga malam yang akhir,  membaca wirid tertentu secara istiqomah, bahkan juga hal hal kecil seperti merapikan sandal teman-teman sekamar. Hal tersebut memupuk kesadaran tentang pembiasaan hal-hal yang baik berdasarkan ajaran agama islam serta petunjuk bijaksana dari para kiai.

Sikap hidup di pondok pesantren juga memupuk hal-hal positif yang kebanyakan mulai bisa dirasakan justru saat telah lulus dari pondok atau istilahnya sudah boyong. Berikut beberapa catatan yang umumnya dirasakan para alumni.

1. Hidup Sederhana. Mana bisa di pondok tidak hidup sederhana? Semuanya terbatas. Meskipun anak orang kaya juga tidak otomatis bisa bermewah-mewah sebab segalanya serba terbatas dan kadang memang dibatasi.  Saking sederhananya mungkin jika dilihat awam akan mengatakan: ini sederhana apa mengenaskan?  😂😂.  Santri putri biasanya masih lebih tertib dan teratur membatasi diri soal sederhana ini agar tidak menjadi mengenaskan.  Namun tidak demikian santri putra.  Pernah kawan santri putra cerita bahwa mereka makan mie rame rame di menggunakan bak cucian buat merendam mie pakai air panas sebab jumlah mie banyak dan tidak ada wadah tersedia. Dalam bahasa santri putra itu disebut: kreatif! Bukan mengenaskan sahabat…

Terbiasa hidup sederhana di pondok menyebabkan umumnya para alumni pondok tidak kagok untuk hidup sederhana meskipun banyak diabtara mereka yg secara ekonomi berkecukupan atau bahkan kaya raya.  Di tengah maraknya gaya hidup hedonisme yang ditopang prestisiusnya media sosial kaum hedonis menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah.  Instagram, path,  twitter, fb dan lainnya banyak diisi postingan plesiran, makan makanan mewah hingga penampilan mahal berhastag OOTD alias Outfit Of The Day yang pamer merk baju, sepatu tas hingga pernik2 penampilan lainnya menjadikan hidup sederhana bukanlah hal yang mudah sebab tidak tampil “gaul” dan tidak juga “up date”.

2. Mengelola kepemimpinan dan organisasi santri.  Kalau njenengan mondoknya agak lama sedikit saja hampir pasti memiliki pengalaman sebagai pengurus.  Ini adalah pengalaman istimewa dimana santri senior biasanya menjadi pengurus pondok dan ikut mengelola pondok sesuai bidangnya masing-masing. Bidang yang paling istimewa adalah keamanan. Hampir semua santri tidak ada yang tidak ingat siapa pengurus keamanan pondok. Tahu mengapa? Keamanan ini yang paling aktif “obrak obrak” pada jadwal jamaah, ngaji,  ro’an dan lainnya.  Serta tentu saja keamanan ini yg bagian menghukum kalau ada santri melakukan pelanggaran. Itulah kenapa santri yg memegang tampuk amanah sebagai keamanan adalah yang paling disegani juga paling ditakuti.

Tentu banyak bidang selain keamanan seperti pendidikan yg ngurus ngaji atau diniyah, da’wah yang ngurus belajar khitobah,  kebersihan yang ngurus pondok bebas sampah,  dan lainnya.  Diatas bidang bidang itu ada pengurus harian atau pengurus inti yang bertanggung jawab pada keseluruhan pondok yang umumnya terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara.  Tanggungjawab yang diemban ini menjadikan para pengurus pondok terbiasa memimpin serta trampil mengelola organisasi. Karena itu tidak heran banyak alumni pondok yang tampil sebagai pemimpin formal maupun informal di tengah masyarakat baik putra maupun putri.  Tidak sedikit teman saya jadi kepala desa, anggota dpr,  camat,  birokrat maupun pengusaha termasuk yang perempuan. Saya punya teman perempuan santri di kecamatan senori tuban yang jadi kepala desa.  Ada juga yang jadi anggota dpr ri dan berkiprah aktif di struktur partai.  Saya sendiri pernah jadi anggota dprd sebelum kemudian memutuskan menjadi dosen dan lalu fokus sebagai ibi rumah tangga dan guru ngaji saja di rumah.

Saya yakin bahwa salah satu pondasi kepemimpinan para alumni pondok pesantren itu terbentuk semenjak menjadi santri di pondok.

3. Tidak takut rezeki sebab Alloh telah menjamin rezeki manusia.  Mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. Demikian taklimul mutaallim, kitab wajib para santri ttg etika pelajar/santri, mengajarkan.  Santri mengaji dan sekolah tidaklah berorientasi hendak mendapatkan pekerjaan atau profesi  apa melainkan tekun belajar dan beribadah semata mata dengan niat mencari ridlo Alloh, menghilangkan kebodohan,  dan menegakkan agama islam.

Namun demikian faktanya para santri memiliki beragam profesi. Baik sebagai pegawai negeri,  swasta,  petani,  pedagang pengusaha dll.  Perhatikanlah mereka semua di profesinya masing masing adalah orang yang sadar bahwa rezeki sudah diatur Alloh.

Teman-teman saya yang alumni pondok banyak yg berdagang dan saya lihat begitu enjoy dengan profesinya.  Jaringan kerja perdagangannya juga bertambah kuat manakala bersentuhan dengan sesama alumni baik sebagai konsumen maupun jaringan distribusi perdagangan. Ya,  banyak teman banyak rezeki adalah salah satu esensi silaturrahim.

Fakta juga bahwa tidak sedikit teman aaya alumni pondok yang dulunya sekolah agama ijazah “setengah” nunut namun malah jadi PNS.  Tentu paling banyak adalah berprofesi sebagai guru. Sebuah profesi mulia dengan tuntan kadar keikhlasan yg harus tinggi sebab konon umunya gajinya masih rendah meski beberapa sudah “katut” sertifikasi. Santri sudah biasa ihlas sahabat…

Bersambung…

 

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 1

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan santri…?

Kalau njenengan santri mungkin pernah mengalami kebingungan di awal masa mondok tentang buat apa menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan.  Njenengan juga mungkin juga pernah mengalami kebingungan menulis huruf g,  ng, dan ny dalam hijaiyah ala jawa atau yang disebut pegon.  Njenengan mungkin juga pernah tertidur di depan kamar mandi saat mengantri jelang subuh.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi satu krupuk dicuil cuil dinikmati bersama.  Njenengan mungkin juga pernah tanpa merasa nelangsa sedikitpun membuat mie instan dengan cukup direndam pakai air panas.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi bantal tidur kruntelan dengan bahagia tanpa terlalu mikir bahwa semua belum mandi.  Njenengan mungkin juga pernah mengalami pengalaman eksotis khas bernama “gudiken” serta “gudiken berjamaah” alias satu kamar saling ketularan gudiken. Kadang juga flu bareng bareng bersahut sahutan saat ngaji atau jamaah sholat, hihihi…  Njenengan santri berarti mengerti apa itu ditakzir,  hihihi…  Menjadi santri berarti mengalami masa berhasil beradaptasi. Berhasil beradaptasi berarti menjadi pribadi yang penuh toleransi.

Menjadi santri memang berarti memiliki segudang pengalaman berbagi.  Berbagi ilmu dalam belajar bersama,  berbagi makanan meski hanya sebiji krupuk dibagi bagi,  berbagi kesenangan dengan bergantian baca majalah dll,  bahkan berbagi kesabaran dengan menikmati penyakit ringan bertular-tularan.  Jadi siapa kelompok masyarakat yang paling memahami berbagi? Itu adalah kaum santri. Jadi menjadi santri itu tahu benar seni berbagi.

Pesantren atau masayarakat biasa menyebut pondok ini adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya memberi pengalaman akademik seperti umumnya sekolah. Pondok memiliki kode etik khas yang bukan hanya tertulis sebagai peraturan namun juga nilai hidup yanh disebut keberkahan atau barokah.   Pondok juga berbeda dalam mengukur bagaimana seorang santri dikatakan berhasil. Santri yang sukses bukan hanya kekayaan maupun pangkat jabatannya melainkan bagaimana ia dinilai bermanfaat hidupnya bagi masyarakat sekitar sebagai hakikat dari “keberkahan hidup”. Dan keberkahan ini diyakini didapat bukan dari nilai rapot melainkan perilaku yang diridloi para pengasuh atau guru dan kiai2. Menjadi santri berarti bersikap baik agar meraih barokah.

Disaat sekolah sekolah di luar membanggakan alumninya pada kekayaan dan jabatan,  pondok pesantren masih mempertanyakan alumninya apakah telah “berbuat” kebaikan yang layak dalam hidupnya sebagai seorang santri.  Jadi seorang santri berarti menjadi seseorang yang berani meraih sukses bukan hanya dengan ukuran materi.

Masih banyak alasan mengapa harus bangga menjadi seorang santri.

 

 

 

 

 

 

Mengapa orang berkata padamu: Sudah sukses ya sekarang….

Standar

Profil 2

Kemarin via inbox seorang kawan lama dari masa remaja yang dulu sering mem-bully saya baik secara serius maupun secara guyon menyapa dengan ucapan selamat atas kesuksesan hidup. Entahlah mengapa dimatanya saya ini “enak buat dikerjain”. Tiga tahun kami tetap berteman meskipun menjengkelkan banget. Hehehehe..

Dalam banyak kesempatan saya juga bertemu kawan lama dan mereka berkomentar:”wah sudah sukses ya kamu sekarang… “. Atau:”Saya dengar dirimu sudah sukses …”. Terkadang juga:”beruntung sekali kamu sukses…”. Benarkah saya sukses..??  Saya justru tidak merasa demikian. Atau minimal jika pembicaraan itu lebih detil maka seringkali saya tidak sepakat dengan apa yang dia maksud dengan sukses.

MENGAPA INDIKATOR SUKSES BERKUTAT PADA CAPAIAN HARTA, PANGKAT, JABATAN, PEKERJAAN, DAN STATUS SOSIAL…?

Faktanya demikian. Saat orang berkata padamu “wah sudah sukses ya sekarang…” maka yang mereka sedang maksud dan sedang lihat adalah capaian hal hal diatas.  Mungkin karena hal itu yang paling mudah dilihat orang lain.  Mungkin juga karena umumnya itu adalah yang diinginkan banyak orang namun akan sangat menyedihkan jika itu adalah tujuan hidup dari seseorang.

Saya sendiri merasa bahwa banyak sekali episode kegagalan dalam hidup saya. Jika diurai dalam satu tulisan perbandingan maka bukan mustahil gagal itu tak lebih banyak dari berhasil pada apa yang saya tuju.  Episode kegagalan tersebut mungkin tak terdengar atau juga mungkin tak terlihat di mata mereka.  Atau juga mungkin sebenarnya tahu dan diam2 mereka mendoakan kebaikan bagi kita,hehehe…

Capaian atas harta,  pangkat, jabatan maupun status sosial bukanlah sesuatu yang tiba tiba didapat seseorang kecuali jika itu terkait warisan leluhurnya.  Disamping itu menurut saya capaian tersebut bukanlah indikasi mutlak dari suksesnya seseorang. Banyak orang yang terlihat sukses dengan indikator diatas namun sebenarnya menuai banyak kegagalan yang bukan kegagalan biasa melainkan kegagalan besar. Artinya banyak sisi yang kita mesti melihat dengan bijaksana.

MELIHAT DENGAN BIJAKSANA TENTANG SUKSES

Tidak ada orang yang mutlak sukses sebagaimana tidak ada orang yang mutlak gagal dalam hidupnya. Kita hanya perlu bijaksana untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kegagalan dan juga memiliki kesuksesan. Bijaksana ini membuat hati kita damai baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kita perlu menempatkan diri dalam posisi melihat orang lain secara baik.  Mata yang baik adalah mata yang memandang dengan keluhuran budi.

Sukses ini mari kita lihat di “medan perang”nya masing-masing. Seorang ibu tumah tangga tak akan tampak sukses jika kita bandingkan haryanya dengan seorang direktris kaya raya bergaji puluhan juta.  Namun coba juga dibalik bahwa seorang direktris ini tak lebih sukses mendedikasikan penuh waktunya untuk keluarganya dimana yang paling terbatas di dunia ini adalah waktu. Semua orang memiliki sumberdaya waktu yang sama dalam satu hari yakni 24 jam. Seorang guru ngaji mungkin tampak tak sukses jika kita bandingkan hartanya sebagai guru ngaji dengan hartanya seorang profesor. Jika jika dilihat lebih adil bagaimana murid-murid mereka masing masin on progress sebagai manusia yang berguna bagi sesama maka apakah si guru ngaji adalah orang yang gagal…?

Indikator yang baik disusun dari kategori yang relevan. Demikianlah secara ilmiah juga para peneliti membuat indikator secara relevan untuk menjadi ilmiah.  Jika indikator tidak relevan maka itu mirip dengan kita percaya pada “survey pesanan” untuk memblow up seorang calon atau kontestan pilkada dimana indikator tidak relevan itu sebenarnya menghasilkan hasil survey yang cacat metodologi dan otomatis cacat hasil.

Kalau secara ilmiah saja pemyusunan indikator harus relevan mengapa kita harus membebani kesuksesan orang selalu dengan indikator harta pangkat jabatan status…?  Kata pramudya ananta beraikaplah adil sejak dalam pikiran.

Mungkin demikianlah sebaiknya kita melihat terhadap orang lain.  Yakni bahwa tak ada orang mutlak sukses pun tak ada orang mutlak gagal.  Di medan juangnya masing masing merrka menoreh sukses.

ORANG SUKSES ADALAH ORANG YANG MENGELOLA KEGAGALAN

Sekarang melihat kedalam atau bahasa kerennya introspeksi. Karena tak ada yg mutlak sukses maka tiap orang menoreh episode kegagalan.  Bahkan banyak kegagalan.

Banyak kisah sorang pengusaha sukses seperti om bob sadino mendahului kegagalan menerpanya namun ia tetap bangkit berusaha.  Banyak kisah seorang penemu harus ratusan kali gagal hingga menemukan formula terbaik yang dimanfaatkan secara luas.  Thomas alfa edison ratusan kali gagal sebelum akhirnya lampu pijar menerangi malam kita hingga hari ini.

Maka apalah orang biasa seperti diri kita ini…  Kegagalan adalah hal biasa.  Namun orang sukses adalah orang yang mengelola kegagalan. Alhamdulillah bahwa kegagalan pada hakekatnya menguatkan jiwa kita dan rasa tawakkal kita pada Alloh.  Dan kesuksesan pada hakekatnya untuk memperbesar rasa syukur kita pada Alloh SWT.

Tulungagung, 13 oktober 2016.

Hormat saya,

Maratul Makhmudah

 

Bahagia itu Menemukan Sudut Pa(n)dang

Standar

Profil 2

Saat Tersungkur Barangkali Itulah Saat Kita Punya Sudut Pandang Baru…

Seorang teman membicarakan dengan penuh prihatin berita duka dari teman lain perihal bisnisnya yang gagal akibat penipuan. Ia membayangkan betapa terpuruknya si teman yang ia bicarakan saat ini.  Saya mendengarkan dengan seksama bagaiamana akhirnya kegagalan itu berimbas pada terjualnya aset aset pribadi yang dulu keluarga kecil mereka itu mengumpulkan dengan susah payah.

Dalam kesempatan yang lain saya bertemu dengan teman yang dibicarakan ini namun di luar dugaan ternyata teman yang ini tidak berduka cita.  Dengan penuh semangat ia menceritakan bagaiamana ia mengelola kebangkrutan itu dan bagaimana ia memetik pelajaran yang ia sebut hikmah. Memang aset-aset yang telah ia miliki sebelumnya terpaksa ia jual dan ia memulai bisnis baru dari nol.  Ia bahagia bahwa Alloh memberinya kebangkrutan itu melihat dengan jelas,  membuka mata dengan sudut pandang baru,  bahwa ada banyak hal yang lupa ia syukuri selama ini.

Ia mulai betutur dengan sistematis bahwa ia mulai melihat anak-anaknya tumbuh luar biasa baik dimana sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan.  Ia mulai menghayati betapa Alloh memberi suami setia dan sabar dalam situasi sedemikian sulit.  Ia mulai menikmati hangatnya keluarga besar yang menerimanya secara ikhlas tanpa embel2 kekayaan seperti sebelumnya. Dan ia bahkan menceritakan bagaimana tetangga dan pembantu2nya ihlas dipotong upahnya lebih rendah namun tetap setia bekerja untuk dia.  Hanya beberapa yang bersikap negatif dan menghinakan sehingga ia menyadari bahwa inilah cara Alloh memilah orang2 munafik disekitanya yang seperti semut mengerubuti gula.  Saat manisnya habis semut semut akan pergi.

Ia juga bersyukur bahwa kebangkrutannya itu memberinya sikap sensitif terhadap sumber sumber baru yang potensial produktif.  Selain itu ia juga mulai “tidak meletakkan telur dalam satu keranjang secara terukur”. Jujur saya terperangah dengan penjelasnnya sumber2 ekonomi baru yang ia maksud ternyata lebih prospektif daripada apa yang telah hilang.  Ia bilang bahwa segalanya milik Alloh saat Alloh mau ambil ya kita harus ihlas barangkali untuk digantikan yang lebih berkah. Ia mengingatkan makna inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sayapun berfikir bahwa telinga saya hampir terkecoh oleh pendapat bahwa ia terpuruk oleh kegagalan dan pada situasi yang menderita. Nyatanya teman saya ini jauh lebih bahagia dalam apa yang disebut keterpurukan yang menyedihkan.  Nyatanya saya melihat yang terjadi adalah berkah dalam bencana. Ia tidak sedih melainkan ia bahagia.

Jadi bersama kesulitan alloh berikan kemudahan (inna ma’al usri yusro)  mungkin adalah dalam bentuk awal bagaiamana kita menemukan sudut pandang yang baik dan benar serta menghadirkan Alloh sebagai bentuk kehambaan kita.

Saya jadi ingat seorang sahabat zaman masa remaja yang beberapa waktu lalu saya singgahi untuk ziarah haji.  Tanpa bermaksud ghibah disini tanpa saya sebut nama melainkan mutiara hikmah semata dari sahabat saya ini.

Sahabat saya ini di waktu sebelumnya saya singgahi di rumah sakit karena anaknya opname. Dengan sangat sedih ia bercerita tentang perilaku suaminya yang tergoda wanita lain dari kalangan yang kurang baik.  Sebenarnya andaikan itu wanita “biasa” maka ia ihlas suaminya menikah yang kedua.  Saya ikut menangis waktu itu dan mengatakan bahwa saya tak sanggup memberi nasehat sebab mungkin saya pun tak mampu menghadapi. Hanya ada dalam alquran dalam situsi begini saya hanya harus berkata tetaplah bersabar dan penuh cinta kasih (watashouw bisshobri watashouw bil marhamah).

Saat ziarah terakhir itu Agak kaget saya melihat perubahan dari sahabat saya ini mulai dari secara fisik hingga caranya berbicara dan menyatakan pendapat.  Secara fisik iamakin cantik dan cara bicaranya makin luwes bahkan saya bilang mempesona. Apa yang terjadi padamu sahabatku?  Gimana kabar wanita itu…?

Ia memulai tuturnya dari bahwa seminggu lalu telah menelfon wanita itu untuk pamit berangkat haji dan berterimakasih atas kehadiran wanita itu telah membuatnya berubah.  Ia mulai belajar bersolek dan berdandan yang baik.  Ia mulai belajar bergaul dan bahkan berbisnis jual beli tanah meskipun motivasi awalnya takut tak punya sumber ekonomi dari suami akibat hadirnya wanita lain.  Ia mulai belajar menggunakan gadgetnya untuk membuka cakrawala. Bahkan ia mulai mempersilahkan suaminya bersama wanita itu dengan syarat syarat kepatutan norma masyarakat dan keabsahan serta kebenaran perilaku berdasarkan syariat.  Ternyata justru itu membuat wanita itu pergi dari suami sahabatku ini. Yakni saat ia pasrah dan ihlas serta tawakkal.

Saat jatuh tersungkur kita memandang dari bawah.  Kita melihat segalanya dengan berbeda. Barangkali bersama jatuh itu Alloh memberi rezeki dari sudut pandang baru…

Memaknai bahagia

Jadi apakah seseorang berbahagia ataukah bersedih?  Orang lain tak akan bisa mengukur dengan presisi bagaiamana seseorang bersedih atau berbahagia atas sesuatu.  Namun jika kita sensitif pada diri sendiri kita akan bertemu dengan fakta orang miskin belum tentu merasa kekuarangan dan orang kaya belum tentu merasa berkecukupan. Orang sehat belum tentu merasa kuat dan orang sakit belum tentu merasa lemah.  Orang berpangkat belum tentu berkuasa menentukan kehendaknya sendiri dan orang rendahan belum tentu bisa diatur atur penguasa.

Barangkali begitulah jika segala sesuatu dilihat dari sudut pandang lebih hakikat dari tujuan segala sesuatu. Jadi apakah kita  bahagia?

Jangan-jangan kita telah sepihak subjektif menaruh bahagia itu dalam standardisasi tanpa hakikat sehingga kita salah memandang ke dalam diri kita maupun orang lain.

Mari kita, khususnya saya,  meletakkan sudut pandang dengan benar sehingga menjadi “sudut Padang” yang membuat hidup kita terang benderang…  Alfatihah.

Mojokerto,  29 september 2016

Maratul Makhmudah.  Ibu Rumah Tangga.

Di Rumah makan M’riah Kota Mojokerto  sambil nunggu suami diskusi dengan sahabat2nya di Forum Peduli Bangsa

 

 

 

 

 

Sahabatku, barangkali hidup ini seperti mengeja surat alfatihah…

Standar

Profil 2Setiap muslim pasti bisa merapal surat al fatihah ini. Bukan hanya karena ia surat pembukaan dalam alqur’an melainkan juga dalam shalat kita surat ini kita baca tiap rakaatnya.

Dalam banyak kesempatan surat ini juga menjadi pamungkas doa untuk hasilnya maksud-maksud tertentu. Di masa lalu bahkan surat ini dibaca dengan penuh keyakinan oleh “wong tuwo” dan menjadi sugesti ketika ditiupkan di air minum hingga menyembuhkan si sakit.

Bismillah dan kaki kita melangkah

Sahabatku, ingatkah engkau pernah kau alami suatu masa dimana kau ambil keputusan besar yang menurut banyak orang sungguh sangat beresiko namun tetap kau lakukan dengan berbagai alasan dan argumentasimu. Lalu ketika kau mulai lakoni malah engkau lupa dengan berbagai alasan dan argumentasimu itu. Bagimu alasan apapun tak lagi penting selain ayo jalani aja. Beginilah hidup. Pilihan kita adalah terus berjalan dimana kita telah mulai dengan keyakinan. Begitulah kita tandai keyakinan itu dengan bismillah…

Sahabatku, waktu itu aku tanyakan tahukah engkau perbedaan orang berani dan orang nekat? orang berani berhitung sebelum melangkan dan orang nekat hanya berbekal yakin meski tau kemungkinannya kecil…  Kamu menjawab bahwa aku perlu belajar tentang iman dan tasawwuf. Bagaimana iman yang berarti percaya itu jauh lebih kuat dari akal pikiran kita. Bagaimana mungkin kau hendak mengadu antara akal yang terbatas dari si pemberani dengan keimanan yang adalah kekuatan tanpa batas dari orang yang kamu sebut nekat? Sungguh aku berberat hati menerima penjelasanmu dengan berkata baiklah… Jika kau butuh pundakku maka aku selalu menjadi sahabatmu.

Ternyata hari ini kita saling membutuhkan pundakmu-pundakku tanpa harus menjelaskan apa masalahmu… kita bisa tertawa dan menangis bersama untuk kemudian kembali bahagia tanpa harus tau mengapa. Sepertinya itu adalah bagian dari bismillah….

Segala Puji Bagi Alloh..

Sahabatku, begitu banyak yang telah terjadi dalam dekade terlewati persabatan kita. Bersyukur bagi kita bukan hanya tentang kesenangan dan kenikmatan. Begitu kesengsaraan dan kesedihan yang pernah menimpa kita ternanyata adalah sebuah pintu yang memaksa kita masuk dalam suatu sudut pandang baru. Betapa itu juga adalah tempaan yang menguatkan kita dan menjadikan kita berdiri demikian kokoh dimana orang berfikir seharusnya kita roboh. Bahkan dalam situasi penuh fitnah kita pernah  saling mengingatkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah dosa bagi pelakunya lebih kejam dari dosanya pembunuhan sebab fitnah membunuh berkali-kali. sedangkan pembunuhan membunuh hanya sekali. Namun percayalah bahwa kita yang tertimpa fitnah bukannya mati namun makin hidup dan semakin bersinar… Fitnah tak akan pernah benar-benar membunuh kita… Maka bukankah kita layak berkata alhamdulillah? Sebagaimana setelah bismillah lalu melangkah maka katakanlah alhamdulillah untuk segala onak dan duri yang harus kita lewati..

Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang..

Sahabatku ternayata kemudian kita mengerti makna kebersamaan… Yakni tak harus tubuhku dan tubuhmu saling bertemu. Bahkan cukuplah saat aku sedih tetiba datang SMS mu menyatakan rindu dan doa.. Atau saat kau ingat aku tetiba aku menelfonmu dan sekedar bertanya makan apa hari ini? Demikianlah kita mengerti kebersamaan… Maka bagaimana kita mengingkari kebersamaan ini bukan hanya kita namun kehadiranNya… Kita merenung dan tercenung saat menyadari bahwa saat kita diberi masalah sebenarnya kita juga Ia beri solusi. Kita hanya perlu lebih mendengarNya yang ada di hati.. Kita hanya perlu lebih bersabar mengikuti petunjukNya… Sungguh kasih dan sayang mencipatakan kebersamaan maka bagaiaman mungkin kita mengingkari yang maha pengasih lagi maha penyayang berarti maha kebersamaan bukan…

Pemilik Hari Akhir..

Kita pada saatnya akan membuktikan ini… Bahwa Ia benar-benar ada dan adalah pemilik di hari ini… Hari akhir….

Beribadah dan Memohon Pertolongan…

Sahabatku, hidup kamu bilang adalah ibadah. 100% hanya untuk beribadah. Aku bilang memangnya kamu gak bekerja gak makan? kau bilang bekerja dan makan juga ibadah. Aku ingat suatu hari kukatakan sesuatu yang tidak baik saat aku dalam situasi terdzalimi lalu kau tampar pipiku dan kau bilang hati hati ucapanmu dikabulkan karena kamu terdzalimi. Berkatalah yang bagus dan memohonlah yang bagus… Doa yang jelek itu jika terkabulpun kamu tak akan bahagia. Buat apa…?

Sahabatku maka kita mulai berdebat tentang memohon pertolongan dan beribadah. Apa salahnya minta kaya agar dermawan, minta jabatan agar banyak membantu, minta cerdas cendekia agar banyak meluruskan orang tersesat dst.. Pada suatu titik kita ketemu bahwa seharusnya kita berdoa untuk memohon pertolongan Alloh agar senantiasa maksimal beribadah pada posisi terbaik yang Alloh pilihkan untuk kita; entah kaya atau miskin pangkat atau melarat dan seterusnya. Kita tak tau mana yang terbaik untuk kita… Hari itu kita menemukan bijaksananya berdoa.

Sahabatku ternayata hingga hari ini kita sering mengevaluasi betapa “kedonyan-nya” isi pikiran kita, hati kita bahkan ibadah kita. Sulit ternayata… Dan kita jadi punya celetukan yang sumbernya dari “ocehan”mu: “Yo ngunu kui urip kakaean fiqh kurang tasawuf….”. Lalu kita tertawa… Mentertawakan kenaifan kita sendiri…

Maka Tunjukkanlah kami jalan yang lurus…

Naif ya naif.. Orang naif ya harus memohon pada yang maha kuasa atas jalan yang lurus..

Bagaiamana Jalan Yang Lurus Itu..?

Yang Alloh ridlo… jalan orang yang engkau (Alloh) beri nikmat bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan manusia yang sesat. Begitulah kita tak lagi ribut hendak jadi apa dan bagaimana melakoni hidup. Dan argumentasi maupun alasan telah hilang itu mungkin semoga karena ini.. yakni pasrah pada jalan kenikamatan versi Dia..

Sahabatku kita pernah punya impian sederhana saat remaja dan menjadi tak sederhana saat menjelang dewasa dengan bernagai ambisi kita.. Dan sekarang kita telah merasa demikian tua dan letih dalam ketidaksederhanaan… Dan kita mulai Menyederhanakan jalan hidup kita dengan satu kalimat “terserah yang Maha Kuasa”…

Iya sahabatku… Aku setuju. Dan aku bahagia lupa pada alasan-alasan itu. Aku setuju kita sederhanakan dalam kalimat itu:” Terserah Alloh Yang Maha Kuasa…”

Alfatihah.

 

Tuanku Bagaimana kujelaskan bahwa aku rindu…?

Standar

14316860_1123455391069111_6249185088446704244_n.jpg40980_121907544524572_5540955_n.jpg

Rindu ini

Rindu ini adalah saat kupejamkan mata dan begitu nyata tampak diriku berada disana bersama tubuh letih bahagia. Di depan pintu rumahMu yang kadang menghanyutkan diriku dalam pusaran berjejak jejak ritmis kaki dalam berbagai warna.

Rindu ini adalah saat basah air mata duduk tanpa sela bersama jutaan manusia yang hening penuh cinta. Di sebuah padang gersang namun begitu sejuk di mata.

Rindu ini adalah saat berjalan di suatu senja bersama suatu kebersamaan ajaib.. Ya Engkau bersama kami yang menunduk mencari kerikil-kerikil dan selepasnya merebahkan penat serasa  memandangi langit dan kerlip gemintangnya tampak sesekali di tengah gerimis kecil nan sejuk.

Rindu ini adalah Memuji kebesaranMu dalam gerak perlahan hingga mencapai tembok itu dan kami bisikkan namaMu Bismillahi Allahu Akbar.

Rindu ini adalah memandangi tenda tenda putih beraroma manusiawinya kami…  Yang telah Engkau ciptakan dalam bentuk yang sempurna namun sekaligus bisa lebih rendah martabatnya dibanding binatang…

Rindu ini adalah selalu ingin kembali ke rumahMu yang saat kupandangi masih juga rindu…  Yang belum kutinggalkan pun sudah rindu…  Yang saat kupamitipun membuncah rindu…

Rindu ini adalah menggenangnya bayangan ibrahim ismail dan hajar dalam kekuatan iman dan kelembutan kasih sayang…  Dalam kesejukan yang mengalir di tenggorokanku… Dan letih kakiku berlari lari kecil diantara dua bukit itu…

Rindu ini adalah tersimpannya bunyi gunting memotong sedikit rambutku dan kutangisi tanpa alasan…  Antara lega bahagia dan resah kapankah ini kesempatan ini terulang untukku…

Rindu ini adalah saat ruangan 7 x 12 berkarpet hijau itu basah oleh sujudku yang lemah…  Seakan tak rela mengapa hanya sekecil ini hingga kau bisikkan bahwa itu hakekatnya seluas cakrawala…  Hingga tak kurisaukan lagi jarak ruang dan waktu untuk hadirnya pemilik taman surgawi itu…

Rindu itu adalah aroma awraq bercampur  debu-debu beterbangan di waktu asar… Saat kaki ini melangga merengsek mendekatinya yang menyimpan jasad  manusia termulia… Hanya mendekatinya saja begitu bahagia…

Rindu ini adalah melihat wajah wajah dalam berbagai warna namun dalam garis ekspresi yang sama: rindu…

Rindu ini adalah melihat kaki kaki dalam berbagai warna bergerak berputar  begitu harmoni: rindu…

Rindu ini adalah panasnya matahari dan semilirnya angin menerpa kulitku hingga kurasakan keringatku menjadi penyejuk dalam  senyuman perjumpaan…

Rindu ini adalah terbayang bulan purnama  diatas kubah hijau itu… Seraya berkata engkau bagai purnama Tuanku engkau juga bagai matahari…

Rindu ini adalah saat tiada habisnya kukatakan Tuanku aku ada disisi jasad engkau… Adakah engkau melihatku….  Oh Tuanku berabad jarak darimu namun engkau tak pernah meninggalkanku…

Rindu ini adalah saat selalu kukatan aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu….  Aku sungguh-sungguh rindu…  Aku tak pernah bisa berhenti rindu….

Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Standar
Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Siang itu ada paket dari ensiklopbee yakni penerbit buku ensiklopedia bergambar untuk anak anak.  Karena saya pindah ikut suami maka alamat pengirimanan kupindahkan ke alamat rumah suami.  Dan karena saya penghuni baru maka saya berfikir biar pak pos tidak kesulitan mencariku maka kububuhkan nama suamiku dibelakang nama alamat post untukku: mahmudah fahrurrozi. Dan paket itu diterima suami saya dengan bingung memandang paket itu  sejenak kemudian  tertawa kecil.  Dan kemudian aku sadar aku bahwa kami telah saling “mencuri”.

JODOH ADALAH RAHASIA ALLOH,  JATUH CINTA ADALAH TAKDIR DAN MENIKAH ADALAH NASIB YANG DIPERJUANGKAN OLEH ORANG YANG JATUH CINTA

Tak terbayangkan kami saling mengenal hanya hanya saling tahu katanya-katanya dari teman-teman tentang diri kami masing-masing dan facebooknya juga twitternya. Bertemu fisik sebentar sekedar kenalan lalu bertemu lagi seminggu kemdian hanya dalam tempo 10 hari berikutnya  kami menikah.  Hanya seperti itu saja.  Begitu simpelnya… Begitu sederhananya.

Tidak simpel atau tidak sederhana adalah ragam respon yang kami terima.  Bahkan ada salah satu respon yang terus berkembang hingga sekarang namun buat apa resah?  Ini kisah cinta kita (cie…).  Ini hidup kita.  Ini keputusan yang kita pilih bersama sebagai pribadi dewasa yang sama sama sadar.  Kami menjalani dengan bahagia..  (hehehe jujur ding,  saya sedikit resah. Sedikiiiiit..).

Kisah kita mulai berkomunikasi personal bermula dari dua hal. Pertama karena saya akan ada syuting di lokasi lembaga abah (demikian kami  menyebut suami saya)  kedua karena  abah mengkonfirmasi keberadaan seseorang yang mengaku sahabat saya dan menawarkan “banyak hal baru” buat abah.  Dan kebetulan itu palsu alias sama sekali bukan sahabat sebab bertemu sekali saja tidak pernah. Selain itu abah bukan orang pertama yang konfirmasi soal orang ini.  Sebelumnya pernah ada juga yg konfirmasi ke saya.  Tapi saya tak berani mengatakan orang itu penipu. Saya hanya mengatakan bukan sahabat saya dan saya tidak ikut bertanggung jawab atas apapun apalagi jika sampai mengarah pada hal serius.  Rupanya hal ini membuat kita diskusi serius lagi berlanjut guyon tidak serius lalu berkembang serius lagi. Sampai muncul statement:  Kayaknya kita cocok, gimana kalau kita menikah saja.  Ehehehehe…

Tau lagu jawa gak yang bunyinya gini: mo mo romo ono maling…  Berdenting denting isi kepalaku bernyanyi mo mo romo ono maling…  Hehehe..  Gak tau?  Tanya mbah google+.

Abah duda 5 anak karena istri beliau terdahulu wafat  dan saya janda 2 anak bercerai krn itu pilihan  terbaik saat itu. Artinya status kami memang sama sama “terbuka”. Kita akhirnya ketemuan di restoran di belakang rumah dalam kompleks perumahan saya sebab itu tempat umum dan beliau ada perjalan ke surabaya dimana lokasi ini adalah jalur perjalanannya. Disitu kita berkenalan dan banyak guyon berbagai hal yang ternyata kami ketahui bersama.  Soal partai sebagai “rumah lama” kami yang kebetulan sama,  soal humor-humor pesantren, soal tokoh2 panutan kami dan soal soal kecil lainya.

Dua hari berikutnya saya ada perjalanan ke semarang untuk komgres ilmu politik bersama Adipi di Semarang mulai tanggal 2-5 Juni 2016 dan disela selanya yakni tanggal 3 juni pagi buta saya berangkat ke bandara semarang terbang ke Jakarta menuju Universitas Indonesia  untuk registrasi dan penerimaan formal administratif mahasiswa baru S3 UI.  Sorenya langsung balik ke Semarang lagi melanjutkan acara.  Ya,  status saya adalah mahasiswi S3 UI saat berkenalan dengan abah.  Dan saya sudah merencakan hijrah ke jakarta untuk menjalani kuliah s3. Masuk UI tidak mudah sahabatku… Seleksinya cukup membuat saya terpaksa belajar Tes Potensi Akademik, Toefl dan menulis proposal desertasi serta menghadapi majlis penguji untuk mempertanggungjawabkan proposal tersebut.

Saya bertemu lagi dengan abah di tanggal 7 Juni dalam buka puasa bersama kolega abah di rumah makan agis. Ya itu sdh masuk bulan ramadhan dan disitulah kami bicara serius tentang menikah. Ya ada kolega dekat abah yang hadir itu mensupport kami untuk menikah saja.  Sebenarnya saya agak jengah sih sebab agak “sensi” sayamikir ini teman-teman abah kok kayak panitia seleksi atau dewan juri yang habis sidang pengambilan keputusan aja…

Akhirnya setelah bicara dengan orang-orang terdekat masing-masing kami bersepakat menikah di tanggal 2 Juli 2016 dirumah keluarga saya Lamongan.  Namun beberapa hari kemudian abah menelfon menyampaikan permintaan ibunda beliau agar pernikahan dipercepat tanggal 17 Juni di ndalem ibunda agar beliau bisa menyaksikan langsung mengingat secara fisik (kesehatan) tak mungkin keluar kota.  Yang beliau maksud adalah menikah secara agama sehingga yang tanggal 2 Juli tetap diselenggarakan di Lamongan.

Kami membahas hal ini serius mengingat ini permintaan seorang ibu.  Usia ibu sudah sangat sepuh serta abah terbiasa patuh pada ibu.  Berbagai kemungkinan masalah kami bahas dan kami putuskan mengabulkan permintaan ibu dengan membuat akad nikah ini di kalangan terbatas. Tidak diumumkan mengingat kami sudah pamit ke banyak pihak bahwa akan menikah di tanggal 2 Juli dan itu sudaj cukup mengagetkan banyak pihak.  Toh dari 17 juni menuju 2 Juli adalah waktu yang relatif singkat.

Tanggal 17 juni hari akad nikah itu sebenarnya jadwal saya telah tersusun padat. Terjadwal Saya syuting sebagai host program sobo pondok di UB TV kebetulan di pondok pesantren yang diasuh sahabat sekolah di tambakberas yakni Gus Muhammad dan istrinya yang juga sahabat saya semasa remaja di tambakberas yakni inayatur rosyidah yakni pesantren darul falah areng areng Batu.   Saya tak mungkin membatalkan syuting.  Jadilah saya tetap syuting dan meskipun belum tuntas saya sudahi pada jam 2 siang untuk  berangkat menikah.  Iya sahabat,  saya berangkat menikah kayak berangkat maen.  Tak sempat ganti baju,  tak sempat mandi,  tak sempat renew make up selain sisa syuting seharian itu…  Mungkin saya ini satu satunya pengantin yang tak sempat mandi saat akan akad nikah, hehehe…  (lebay ya?).  Demi takzim kami pada permintaan ibunda.

Namun sahabatku…  Waktu itu relatif.  Yang kita fikir singkat ternyata begitu cepatnya menyebarkan berita pernikahan kami dan sempat membingungkan keluarga besar serta sahabat dan kolega  yang sudah kita pamiti penyelenggaraan di tanggal 2 Juli. Kepalang basah ya sudah mandi sekali..  Kami mulai mengkonfirmasi agar tidak tersebar dan berkembang menjadi fitnah.  Apakah tak ada fitnah..?  InsyaAlloh tidak ada…  Hanya menyisakan sedikit salah faham saja.  Sedikiiit saja, hehehe…

Hikmahnya adalah pernikahan kami pada tanggal 2 Juli semakin membahagiakan serta melegakan banyak pihak yang selama ini peduli pada masing masimg dari kami.  Semua tersenyum bahagia pada kami hari itu.. Tentu saja kecuali yang bertahan memilih salah paham dan atau  paham yang salah,  hehehehe….

Kami merenungi bersama tentang jodoh.  Bagaimana saya yang sekian tahun menjanda “mbulet” selalu tiap ada yang melamar dan bagaimana beliau banyak menerima  “banyak kandidat istri” dari sahabat sahabatnya dan jalur lainnya ternyata berubah pikiran saat sebentar saja bertemu saya. Sedemikian juga abah berfikir begitulah taqdir beroperasi  manakala abah merencanakan umroh akhir ramadhan namun paspornya hilang ketlisut entah dimana sehingga abah tidak bisa daftar berangkat umroh.  Untuk mengurus paspor baru karena hilang butuh waktu lama.  Dan begitulah ternyata akhir ramadhan adalah waktu yg Alloh tentukan untuk kami menikah.  Lucunya paspor itu muncul begitu saja terlihat di laci padahal abah merasa sudah memeriksa laci itu sebelumnya namun tak menemukan paspornya.  Jodoh memang rahasia ilahi.

Kami juga sering merenungi bersama bagaimana kami bertemu dan hati kami menjadi begitu saling bertaut dalam waktu begitu singkatnya. Kami menyimpulkan ini adalah takdir. Hanya Alloh yang mampu meletakkan perasaan menerima satu sama lain dalam berbagai kerumitan masing-masing. Hanya Alloh yang mampu membuat kami berpikir bukan hanya secara rasional untuk membuat kami saling mengalah untuk jalan hidup bersama yang baru. Jalan yang saling melapangkan satu sama lain meski dalam rangka itu kita saling berkorban.  Hanya kekuatan Alloh yang hanya Alloh yang mampu membuat segalanya menjadi mudah jalannya untuk sesuatu yang umumnya rumit.  Ya,  jatuh cinta itu kekuatan takdir.  Hanya takdirnya yang mampu saling mentautkan dua hati.

Kami juga sesekali sambil guyon maupun serius merenengi bagaimana masing dari kami meyakinkan diri sendiri atas pilihan ini,  meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan dan sekaligus bagaimana kami mengelola support pihak lain yang mendukung sekaligus mengelola penolakan pihak lain dalam berbagai motif mereka.  Dan kami berkesimpulan inilah perjuangan. Takdir kita adalah jatuh cinta sebab itu kekuatan Alloh dan kita memperjuangkannya menjadi sebuah ikatan suci pernikahan.

DAN BENARLAH KATA BIJAK BANYAK ORANG : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

Entah siapa yang memulai mengucapkan kalimat ini sehingga ini menjadi kalimat umum untuk pasangan yang baru menikah.

Kami menyadari betul bahwa kita bisa lega berkata alhamdulillah kita akhirnya menjadi pasangan halal dalam akad yang sesuai ridlo Alloh.  Namun sebenarnya ini adalah awal dari hidup baru dan bukan akhirnya.  Akhir itu mungkin hanya sekedar akhir sebuah periode menuju satu periode lain. Ya untuk alhamdulillah sekaligus ini adalah bismillah.  Bismillahirrohmanirrochim. Surabaya, 8 September 2016.