Category Archives: Parenting Adventure

Cobaan terberat bagi ibu yang anaknya mondok adalah: Keteguhan Hati

Standar

Profil 2

Tulisan saya ini sebenarnya semi curhat. Tapi mengingat curhat sejenis ini terdahulu yakni saat harus melepas anak saya, mbak ninid kecil, diusia 7 tahun mondok ternyata memberi banyak pengertian dan juga saling menguatkan sesama ibu yang memilih pendidikan pesantren untuk anaknya maka saya posting.

Hanya satu harapan saya dalam menulis soal “memondokkan” anak yakni bermanfaat untuk sesama ibu. Amiin.

ANAKKU SAKIT

Saat hari sambangan minggu lalu kutemukan mbak ninid kecil dalam keadaan demam, matanya merah,  gusinya juga sangat merah dan batuk. Dihidungnya ada sedikit darah kering yg saya perkirakan ia mimisan. Tapi dia sangat ceria. Waktu kupeluk dengan sangat haru seraya bertanya:”mbak ninid sakit ya… Kita pulang ya sayang.. Izin dulu istirahat di rumah…” dia malah menjawab:”enggak umi aku nggak sakit… Kalau pulang nanti ngajinya ketinggalan….” 😢😢😢😢

Padahal pikiran emaknya ini sudah “horor banget”. Jangan2 demam berdarah atau tipes… Ya Alloh… Hati dan pikiran sudah ketakutan ndak karuan. Kok sampai begini dia gak sambat sakit.

Akhirnya kami izin pulang beberapa hari agar  mendapat perawatan medis secukupnya. Saya baga ke UGD hari itu mengingat harinya adalah minggu dimana dokter praktik tutup. Ternyata dari hasil lab alhamdulillah negatif DB maupun types. Hanya saja leukositnya tergolong rendah sehingga harus total istirahat, minum obat dan makan yg cukup. Dokter juga mengizinkan pulang tidak harus opname tapi dalam pengawasan jika terjadi mimisan yang lebih intens atau panasnya tak terkendali maka harus kembali ke rumah sakit.

Alhamdulillah di rumah si kecil sholihahku ini bisa makan dengan baik meski tidak banyak (memang dasarnya tidak suka makan) dan juga tidur nyenyak tiap habis minum obat. Hari ke tiga sudah tidak demam, matanya sudah jernih, tidak mimisan dan gusinya tidak  merah meradang lagi namun batuk belum sembuh tapi sudah berkurang jauh. Kulitnya juga tampak segar kembali.

REMUK REDAMNYA DUNIA BATINKU

Tiap malam selama empat hari sejak itu saya tak bisa tidur. Rebah disisinya dengan waspada penuh. Padahal tiap bangun tidur mbak ninid kecilku ini ceria bertanya ummi kok tidur disini..? Kadang dia bangun untuk minum air yg kusediakan dalam botol disebelah bantalnya. Atau karena ingin pipis sebab sangat banyak minum.

Memandang wajahnya hatiku rasa remuk redam. Perasaan bersalah sebagai seorang ibu kok tidak di rumah saja dia sehingga bisa kuawasi langsung tiap hari. Kenapa tidak saya boyongkan saja nggak usah mondok lagi. Sekolah dan ngaji di rumah saja toh juga bisa. Saya mengajar banyak anak orang lain mengaji kenapa tidak saya ajari sendiri anak saya…? Apakah saya ini ibuk yang baik… Dst. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiranku.

Sesekali saya pindah ke kamar menemui suami dan berurai air mata saya curhat ingin mboyongkan saja anakku ini. Suamiku menasehati tentang sabar dan sebuah pertanyaan:”apakah hanya ummi yang anaknya mondok? Apakah ibunya teman2 ninid juga memboyong anaknya kalau sakit? Kalau orang lain (ibu2) bisa mengendalikan hati dan pikirannya apakah itu begitu sulit buat ummi….? Dulu kan ummi sudah mikir dan memutuskan soal mondok ini apakah hendak putus asa oleh hal ini…”.

Apakah itu bisa saya terima begitu saja? Tidak. Hatiku masih remuk redam… Melihat anak sakit ternyata lebih berat daripada menanggung rasa sakit itu sendiri. Saya percaya bahwa tiap ibu merasakan hal yang saya rasakan. Bahwa melihat anak sakit itu lebih sakit daripada saat diri kita sakit…. 😰

MENJERNIHKAN PIKIRAN DAN HATI

Sambil memandangi tubuh kecil anakku ini saya berusaha berfikir dengan jernih. Menjernihkan hati tentang tujuan awal kenapa dulu saya putuskan ia mondok, mengingat-ingat dengan baik bagaimana nasehat2 terbaik yang bisa saya jadikan pegangan. Selain mengenang sejarah ia mondok di usia sedini ini (ada di tulisan terdahulu dalam web ini) saya ingat kitab taklim , yang merupakan kitab pegangan umumnya santri, bahwa kesuksesan seorang pelajar berasal dari tiga pihak: kesungguhan santri itu sendiri, kesungguhan gurunya, dan kesungguhan orang tuanya. Anakku ini kesungguhan batinnya soal mondok tidak bisa saya ragukan, para pengasuhnya di pondok juga begitu sungguh2 terbukti ia ngajinya sudah sangat lancar meski belum sempurna, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah saya orang tuanya bersungguh-sungguh….?

Ini membuat saya makin trenyuh makin remuk redam.  Jadi yang layak dipertanyakan hanyalah saya…? Iya hanya saya… Tentang kesungguhan saya…

Tidak mudah mengendalikan air mata saat mengalami hal ini. Tidak mudah mengendalikan perasaan saat mengalami hal ini. Namun dalam menuju suatu tujuan apapun memang tak mungkin tanpa aral melintang. Untuk lulus menjadi pribadi yang teguh pada tujuan, tidak mudah patah arang, tidak mudah berbelok atau berhenti di jalan terjal pastilah tidak mudah.

Menjadi seorang ibu berarti memberinya yang terbaik. Dan memberi yang terbaik tidak selalu indah dan menyenangkan…  Bismillah semoga saya selalu menjadi seorang ibu yang tegar dalam menyayangi anak-anak saya dengan kebaikan sejati dan diridloi Alloh SWT. Amiin….

 

 

 

 

Iklan

Mereka menyebut kami “Mbak Muallimat”: Catatan kenangan untuk hari santri

Standar

photogrid_1477007464724 From Tambakberas With Love

Ini tulisan kenangan. Yang namanya kenangan ya romantislah,  hehehe…

Madrasah Muallimat ini adalah tempat sekolah saya di lingkungan pondok pesantren tambakberas yang kondang karena banyak kehebatan pengasuhnya khususnya  mbah pengasuh kami yang adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Madrasah ini bernama Muallimin Muallimat Atas (MMA)  dan Muallimin Muallimat Pertama (MMP).  Sebenarnya MMP dan MMA ini satu paket tak terpisah.  Karena itu sering juga ditulis madrasah muallimin muallimat 6 tahun. Begitulah nama  yang kami kenal dari sekolah kami.

Nama formal madrasah ini sebenarnya Madrasah Menengah Atas (MMA).  Itu bentuk ikhtiar yg dilakukan sejalan dengan aturan pendidikan nasional agar bisa terdaftar dan kita punya ijazah. Sabab musabab lainnya adalah sekolah ini 6 (enam) tahun sehingga 3 (tiga)  tahun awal secara formal disebut Madrasah Menengah Pertama  (MMP)  yang secara formal setara SMP. Kok secara formal lagi…?  Iya,  jangan dikira yang masuk MMP ini setara usia MMP..  Dibawah nanti dijelaskan 😄😄😄

Madrasah tempat kami sekolah ini memiliki banyak keunikan.  Pertama,  kurikulumnya 60% (atau 70% ya 😉) adalah agama berbasis kitab salaf dan sisanya baru umum. Kedua,  hampir semua kiai dan gus tambakberas  bereputasi keilmuwan ngajar disini. Ini kebanggaan tersendiri. Bahkan Gus Dur juga pernah punya sejarah menjadi kepala sekolah sebentar  disini dan istri beliau bu nyai sinta juga pernah sekolah disini.  Tapi ini saya belum pernah verifikasi langsung hehehe…  Intinya para alumni itu bangga bahwa ini sekolahnya banyak tokoh hebat di kalangan NU. Nah itu adalah keistimewaan ketiga.  Iya,  banyak tokoh mulai dari level kampung hingga nadional adalah alumni sekolah ini.  Meskipun ini adalah sekolah yang kuat tradisi keilmuwan islam secara tradisional ala pesantren namun faktanya alumninya sukses ada di berbagai sektor profesional maupun informal. Keempat,  secara penampilan fisik juga khas.  Sekolah disini berarti tidak pakai sepatu sebab masuk kelas ngebak/nyeker/tanpa alas kaki.  Jilbab yang kami pakai adalah minang.  Terbuat dari kain memanjang yang berpola khas. Kalau upacara kami tidak berbaris-baris melainkan duduk duduk di area pelataran dan kadang depan kelas. Kelima,  untuk masuk kesini tidak mudah namun bukan sulit.  Tidak mudah sebab harus menaklukkan perasaan apakah siap lebih umur (ini penghalusan dari kata tua)  di pondok. Masuk muallimat kebanyakan berasal dari MI khusus di tambakberas yg juga telah konsentrasi ilmu agama.  Jika bukan lulusan MI tersebut jangan dikira bisa masuk. Kalau tak lulus tes maka siap siaplah masuk MI lagi,  hehehe…  Saya dengar sekarang sudah ada kelas persiapan. Jika anda sudah lulus SMP/MTs jangan dikira bisa masuk MMA.  Anda harus tes yg jika tak lulus maka siap siaplah masuk MMP meskipun sudah berijazah SMP.  Nah,  harus siap “lebih berumur” di pondok kalau sekolah muallimat. Emang tesnya apa sich?  Alquran, Setor hafalan alfiyah dan baca kitab kuning gundulan sahabat…  😉😉. Keenam: sekolah ini adalah pencetak para pengurus,  ustadz dan ustadzah di semua kompleks pondok pesantren di lingkungan pesantren Bahrul Ulum Tambak beras.  Dengan kata lain keberlangsungan sistem pengajian beserta ketersediaan ustadz ustadzah di komplek pondok2 dibawah yayasan besar bahrul ulum ini diamankan oleh sekolah muallimin muallimat ini. Dengan kata lain santri yang sekolah disini dianggap lebih mumpuni secara keilmuan pesantren dan memiliki kelayakan mengajar di pondok maupun lainnya dimana kata muallimin muallimat sendiri memang merujuk pada makna guru.

Sungguh keberadaan madrasah ini adalah pemikiran luar biasa dari masyayikh tambak beras.  Tambakberas menyediakan sekolah semua tingkatan pendidikan negeri maupun swasta sambil terus mereproduksi ustadz ustadzah melalui madrasah muallimin muallimat untuk membantu para pengasuk mengajar di madrasah diniyah pondoknya.  Di tengah situasi banyak pondok lain yang “ngajinya kalah” sama sekolah formalnya sehingga pondoknya “berasa kos-kosan”,  tambak beras menjaga keseimbangan ketersediaan guru ngaji kitab kuning salafi tradisional  dengan sekolah khusus ini meskipun sekolah formalnya baik yg negeri maupun swasta terus bergerak makin modern dan maju.

Karena kelebihan kelebihan diatas (catat ya..  Termasuk: kelebihan usia!😂) menjadikan seragam kami lebih penting daripada nama kami.  Tak heran dalam banyak kesempatan di pondok,  bahkan sekedar pas ngantri beli bakso, kami dipanggil: “Mbak Muallimat”. Sementara hampir tak pernah kudengar ada panggilan:”Mbak Aliyah”, “Mbak SMA”, “Mbak Tsanawiyah”, apalagi “Mbak SMP”.

Ya, disamping kelebihan usia,  anggapan mumpuni secara keilmuwan,  juga penampilan fisik kami memang khas dengan penutup kepala bernama minang seperti dalam gambar diatas. Minang ini adalah jenis penutup kepala muslimah dari masa lampau.  Agak kuno bin ketinggalan zaman.  Alih alih menggunakan jilbab kekinian sebagaimana umumnya penutup kepala muslimah Indonesia kontemporer sekolah kalo  ini malah melestarikan penutup kepala kuno bernama minang ini.   Mungkin karena masyayikh kami sangat berpegang teguh pada qoidah: almuhafadzoh ala qodimissholih wal ahdlu bil jadidil aslah.

Ayah kita adalah nahkoda dan ibuk kita ka’bah

Standar

13775958_1063283173720333_8497288857349120904_n

14249703_1104201442961839_1986560524183551749_o

ANAK-ANAK ZAMAN TETAP ADALAH ANAK ORANG TUANYA

Ungkapan Kahlil Gibran tentang anak anak kita bukanlah anak kita melainkan anak anak zaman sungguh sangat terkenal.  Bahwa kita orang tua bagaikan busur tempat anak anak panah yang hidup diluncurkan. Perhatikanlah bahwa orang tua adalah busurnya.  Tetap saja dalam zaman apapun anak anak itu meluncur dari sebuah busur yang semestinya busur berkualitas dengan kekuatan daya tarik kesadaran pemanah akan meluncurkan anak panah yang tepat sasaran.

Artinya orang tua yang sadar zaman harusnya akan melepaskan anak-anak zaman yang relevan.  Orang tua berkualitas harusnya akan melepaskan anak anak panah berkualitas. Orang tua baik melepas anak anak baik. Juga orang tua yang bervisi kuat anak melepaskan anak anak yang hebat.

Sebagai busur dari anak panah hidup itu sudahkah kita senantiasa meningkatkan kualitas kita menjadi busur yang kuat?

MENGINGAT SEORANG AYAH DARI KAMPUNG

Semasa hidup beliau kami  memanggil ayah kami dengan sebutan abah. Abah kami orang kampung. Tamat sekolah PGA (pendidikan guru agama)  Abah kami hanya sebentar saja jadi guru sebab fokus di pertanian dan perdagangan.  Selebihnya seumur hidup beliau “ngramut” sekolah madrasah di kampung  yang dahulu didirikan oleh pendahulu beliau.  Kakek dan buyut kami. Saat ini “ngramut” itu dilanjutkan oleh adek abah,  paklek kami. Disamping itu abah aktif di kepengurusan NU ditingkatan  MWC hingga PC.

Abah kami orang yang selalu bersikap sederhana, berfikir cepat dan bertindak sangat taktis strategis.  Ala kampung tentu saja.  Saat telah dewasa ini kami banyak diskusi ketika pulang kampung tentang pikiran-pikiran abah kami.  Apa saja yang pernah beliau katakan juga apa apa yang beliau inginkan.

Semasa kami kecil di kampung banyak orang dewasa yang berbicara tentang sekolah di sekolah negeri agar jadi pegawai. Artinya sekolah kampung kami yang madrasah ibtidaiyah maarif pula itu diserang supaya tidak laku.  Dituduh tak akan mampu menjadikan lulusannya sebagai pegawai terutama pegawai negeri. Serangan tersebut utamanya banyak datang dari kalangan keluarga pegawai negeri,  birokrasi, tentara,  polisi dan umumnya pendukung orde baru (loh sori nyinggung politik.  Oke lupakan soal orde baru ini fokus lagi ke abah dan sekolah madrasah).

“Serangan mental” tersebut juga dirasakan oleh kami anak-anak abah. Kakak saya mengenang salah pahamnya tentang pegawai sebagai suatu jabatan dengan privilige luar biasa sehingga orang hebat adalah pegawai. Pegawai adalah orang hebat luar biasa.  Kebetulah ada proyek normalisasi sungai / pengerukan depan rumah dan ada “Kapal Keruk” di sana. Tentu anak-anak kecil di kampung yang “udik” ini semuanya takjub melihat kapal keruk demikian besar diatas sungai depan rumah kami. Anak-anak penasaran ini tentu saja dilarang masuk oleh pegawainya dan ada tulisan tertera:”DILARANG MASUK KECUALI PEGAWAI!”. Kakak saya membayangkan para pegawai (pegawai apapun) memang istimewa hingga boleh masuk ke kapal keruk itu, hehehehe…. Salah paham ini karena secara mental sering mendapat omongan tentang orang hebat adalah pegawai. Dan anak-anak madrasah tidak mungkin bisa jadi pegawai.

Suatu ketika kami anak-anak kecil yang salah paham ini bertanya kepada abah tentang omongan orang bahwa kita kelak tidak mungkin jadi pegawai karena sekolah madrasah. Abah kami menjawab:”Abah memang menyekolahkan kalian bukan buat jadi pegawai atau pekerjaan apapun. Abah menyekolahkan kalian karena demikianlah perintah Alloh dan Rosululloh. Supaya kalian berilmu, tidak bodoh dan kelak bermanfaat untuk ummat islam umumnya.” Kami makin tidak mengerti kok abah tidak ingin kita hebat dan jadi pegawai sehingga boleh masuk kapal keruk yang keren itu. Duch!

Namun sebagai hiburannya Abah mendaftarkan sekolah ganda buat kami, pagi sekolah SD Negeri siang sekolah madrasah. Namun karena  ujian akhirnya bersamaan  ya ikut madrasah aja, hehehehe…  Ijazahnya ikut ijazah madrasah ya..  Minimal tau oh gitu toch sekolahnya SD Negeri.. Sekolahnya para calon pegawai, hehehehe….

Waktu itu kami makin tak mengerti ketika Abah memutuskan kami semua mondok seraya berpesan bahwa mondok supaya punya bekal ilmu agama dan hidup penuh berkah dan sementara  orang-orang itu berkata:”anak dipondokkan mau jadi apa..  Makin tak bisa jadi pegawai aja.. Mending juga sekolah SMP Negeri nanti bisa dapat pekerjaan bagus dan jadi pegawai.”. Pegawai itu apa sich…  Kami makin jadi anak-anak kecil yang minder dengan anak-anaknya pegawai, hehehehe…  Abah benar-benar tak peduli soal gak bisa jadi pegawai itu.

Abah memondokkan kami di beberapa pesantren baik kami singgah sebemtar maupun lumayan lama. Beberapa yang kami pernah mondok antara lain: cacak di langitan wetan, gading malang dan alhikam malang saat kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Saya sendiri pernah puasa mondok romadhon di langitan wetan lalu masuk MTsN tambak beras hingga lulus MMA kemudian kuliah di unair. Adek saya yang laki-laki waktu kecil mondok di sedayu gresik namun tak lama. Kemudian melanjutkan MTsN di Tambakberas dilanjutkan MA Program Khusus keagamaan di Denanyar Jombang kemudian kuliah di UIN Jakarta. Adekku ini lulusan terbaik  UIN Jakarta  dizamannya.  Adek perempuanku sempat mondok di Suci gresik kemudian lanjut di lamongan dan kemudia SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Dia melanjtkan kuliah di Universitas Brawijaya di fakultas yang sama dengan kakak pertama yakni Fakultas Hukum. Adek bungsu saya mondok di tambakberas kemudian SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Saat ini masih kuliah di Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang.

Apakah hari ini kami tak bisa jadi pegawai? Sebenarnya saat ini kami juga tak peduli soal jadi pegawai itu. Kakak pertama saat ini seorang hakim. Saya sendiri pernah jadi anggota DPRD, menjadi pengurus parpol, menjadi dosen di universitas negeri hingga memutuskan jadi ibu rumah tangga saja. Adek laki-laki saya berkhidmat untuk masyarakat di kepenguran pusat sebuah parpol yang berbasis konstituen kuat dan memiliki posisi penting di sebuah kementrian. Adek perempuan saya jadi pegawai (hehehehe… ini yang “sukses jadi pegawai”) di sebuah Bank Syariah dan yang bungsu maish kuliah.

Soal pekerjaan sebenarnya Abah pernah berpesan pada kami agar tak meninggalkan berdagang. Jadi apapun boleh namun sebaiknya punya sumber ekonomi perdagangan sebab berkah ekonomi sebagian besarnya dari perdagangan begitu pesan beliau.

Saat Abah kami meninggal kami mulai merasakan benar bahwa selama ini abah menjalankan arah seperti seorang nahkoda kapal di tengah bahtera. Beliau yang mengarahkan kemana perahu berjalan di tengah gelombang. Visi atau pandangan kedepan seorang ayah ini kami rasa tak cukup tergantikan oleh kami yang berlima ini. Ya, kehilangan seorang ayah seperti kapal kehilangan nahkodanya. Semoga mendapat tempat terbaik disisiNya. Alfatihah.

 

DAN IBUK KITA BAGAI KA’BAH

Mungkin pelajaran memahami cintapun butuh di mengerti sejalan waktu. Saat suara ibu terdengar serak menahan isak ketika berkata:”aku kangen kalian… “. Saya teringat tahun 1999 saya membatalkan keinginan kuliah di al azhar ketika ibu berkata: “kamu kecil sudah mondok lalu mau kuliah ke luar negeri terus pulang di bawa orang sebab menikah. Kapan jadi anakku…? “. Saya bersyukur akhirnya kuliah di universitas airlangga dan sering pulang serta paling banyak menemani ibu ketika saat itu bbrp kali jatuh sakit namun alhamdulillah kemudian sehat hingga hari ini. Setelah lulus kuliah juga masih bersama abah dan ibu sambil menjadi anggota dprd dan kuliah s2 di almamater yang sama.
Setelah Abah wafat dan kami telah tinggal berjauhan dari rumah kampung halaman kami makin sering pulang dan intens berkomunikasi satu sama lain meskipun terbatas pada WA group dan telpon-telponan. Makin umur bertambah makin kami mengerti maknanya bersaudara.Yakni ketika merindukan makan bersama sambil sekedar guyonan dan gojlok-gojlokan.  Yakni  ketika bersedih dan merindukan masa kecil yang nakal bersama saudara. Yakni ketika terbayang pertengkaran-pertengkaran kecil yang tetap saling menyayangi. Yakni ketika berlomba merayu dan menghibur ibuk kami hingga tertawa bersama. Ya Ibuk kami menjadi fokus kami semua.
Ibuk kami selalu galau saat kami kecil dan berprestasi di berbagai bidang seperti cerdas cermat, puisi, pidato, dan lainnya. Beliau selalu bertanya mengapa tak ada yang menang lomba qiroah atau sholawat? Bahkan ikut lombanya saja tak ada yang mau.. Sementara beliau selalu bertanya kenapa tak ada yang seperti ibuk dan adek-adek beliau suka ngaji alquran dan semasa muda mereka banyak diminta qiroah di acara-acara publik sebagai pembuka acara. Jadi memang lomba apapun ibu akan bertanya kapan ikut lomba qiro’ah? hahahaha…. Adakah diantara kami yang Pede ikut qiro’ah? hingga saat ini tidak ada. Jadi cukuplah hafal surat yasin sudah membuat ibuk bahagia.. Kata beliau setidaknya kalian bisa tahlilan buat orang tua dan kakek buyut kalian.
Wisata kuliner mungkin hal lazim buat kami bersaudara. Namun tetap saja kita merindukan ayam kampung kelo kuning buatan ibuk yang tak tersamai apapun lezatnya. Juga pecel bandeng panggang. Juga sambal terasinya. Juga omelanya karena tak segera mandi saat bangun tidur malah setelah sholat sudah sibuk makan-makan. Begitulah merindukan ibuk.
Dan seorang ibu adalah sebuah rumah. Yakni tempat kami meletakkan rindu dan sehingga hati kami tak mampu tak menengoknya pun sekedar menanyakan kabarnya. Mungkin juga seorang ibu seperti kakbah dimana kemanapun kau berputar berkeliling dunia ia tetap porosnya. Poros dimana kau katakan: “aku pulang bu.. ” dengan sepenuh hatimu… Atau sebaliknya kau katakan dengan pilu saat ia harus bertirakat sabar ihlas untuk anak perempuannya yang berkata:”maafkan aku ibu.. Lebaran idul adha ini aku tidak bisa pulang… “. Ya, tirakat seorang ibu adalah mengihlaskan anak perempuannya untuk keluarganya. Namun tetap saja ibu adalah rumah tempat kita mengatakan pulang. Ibu bagaikan baitulloh tempat kita berputar kemanapun dan ia porosnya. Saat makin tua begini barulah bisa dengan mendalam menghayati nasehat rosululloh tentang ibu dan surga kita… Alhamdulillah untuk keberadaan surga dunia kita..

 

Kak Nay Mondok Juga Akhirnya…

Standar

13962692_1080754745306509_1227309429162709118_nTentang Prestasi Dan Bakat Yang Dikhawatirkan Tak Terfasilitasi

Sungguh dulu saya sangat takut membayangkan kedua anakku mondok semua. membayangkan betapa kesepiannya saya tanpa kedua anakku yang tengil, lucu, sholihah dan banyak akal ini. Terlebih saat itu saya masih tinggal di sebuah perumahan yang relatif lengang di sebuah kota tanpa sanak saudara di sini, kota malang, kota yang tanpa sanak saudara.

Kak Nay sangat aktif di sekolah. Dia banyak sekali memiliki prestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non akademik. Di bidang akademik kak nay pernah mengharumkan nama sekolahnya dengan meraih juara 1 olympiade sains bidang bahasa inggris se provinsi Jawa Timur yang waktu final tingkat nasionalnya diselenggarakan di UGM Yogyakarta bersamaan waktunya dengan jadwal masuk pondok pesantren pilihannya yakni almunawwariyyah sudimoro bululawang malang. Karena itu kak nay secara ihlas tidak berangkat ke yogya untuk mengikuti final nasional.

Di bidang non akademik Kak Nay banyak sekali memiliki piala dari berbagai cabang perlombaan dari berbagai instansi penyelenggara di berbagai tingkatan khususnya di bidang kemampuan komunikasi seperti  presenter radio, presenter televisi, ceramah agama/pildacil, story telling, juga menyanyi dalam group paduan suara. Kak Nay juga beberapa kali menjadi presenter tamu acara anak-anak di Radio Kosmonita Malang saat dia duduk di kelas 5 SD. Selain itu Kak Nay juga aktif menulis buku komik dan komik pertamanya akan segera diterbitkan.

Kebanyakan teman-temanku yang tau “reputasi” Kak Nay ini menyatakan “eman” atau “sayang” atau khawatir atas rencana kak nay melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Umumnya alasan mereka adalah khawatir kemampuan akademik dan juga bakatnya akan tidak berkembang dengan baik dengan alasan bahwa kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan di Pondok Pesantren tidak mampu bersaing dengan sekolah umumnya yang ada di luar khususnya di Kota Malang. Bahkan ada juga kawan saya  yang secara jelas menyatakan bahwa jika kak nay mondok dia khawatir kelak kak nay tak akan bisa memiliki karir yang baik.

Awalnya komentar beberapa teman tentang “eman” sama Kak Nay sempat membuat saya berfikir apakah potensi dan bakat kak nay akan “terpupus” dan justru tidak berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Sebagai seorang ibu saya sempat merenung berkali-kali tentang bagaimana saya harus mengambil keputtusan untuk jenjang pendidikan lanjut bagi anak gadis pertamaku ini. Selain banyak merenung saya juga memilih beberapa orang sukses dan bijaksana (versi saya) di sekitar saya untuk saya ajak berdiskusi tentang Kak Nay yang bagi saya adalah seorang anak yang tentu saja berkah hidup. Sebagai berkah hidup saya berusahan menjaganya dan memberinya yang terbaik.

Beberapa catatan penting dari nasehat berbagai pihak itu saya rekam baik-baik dalam ingatan saya antara lain:

  1. ketika kita memilih jalan pendidikan agama Alloh untuk anak-anak kita maka yakinlah Alloh yang menjaga dan mengatur kebaikan untuk anak kita di dunia dan akhirat.
  2. kalau anak kita menjaga al-quran maka alquran akan menjaganya.
  3. karir yang baik bukan semata didapat dari ijazah/sekolah yang baik justru dari kepribadian yang baik.
  4. mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. jika sekolah untuk dapat pekerjaan itu adalah niat sekolah yang salah. sementara niat yang salah berarti segala hal yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam niat itu maka otomatis juga salah. artinya sepanjang jalan dilalui adalah salah atau bahasa lainnya adalah tersesat.
  5. kenapa banyak orang berfikir kalau punya anak cerdas dan berprestasi maka jangan dipondokkan? sementara kalau anaknya bebal nakal dan menyusahkan maka sebaiknya dipomdokkan saja? itu adalah pikiran yang salah tentang pondok pesantren sebagai bengkel moral dimana orang tua ketika tak mampu mendidik lalu diserahkan pada kiai.. Justru seharusnya kalau anak berpotensi positif maka berilah lingkungan yang positif yakni pondok pesantren.
  6. anak yang mondok akan memiliki bekal yang baik untuk berbakti dengan cara berbakti sesuai aturan Alloh SWT. Bukan hanya baik namun juga benar secara agama.
  7. dst.

Ternyata setelah berhasil memondokkan mengatasi pergolakan batin memondokkan mbak ninid kecil saya masih juga mengalam pergolakan batin saat memondokkan kakaknya. Hanya saja kali ini lebih banyak aspek rasionalnya. mungkin karena kak nay lebih “cukup umur” dibanding adeknya yakni mbak ninid kecil saat berangkat mondok.

Masalah Berikutnya: Gagal Mendapat Formulir Dalam Antrean

Sebenarnya masalah ini sudah saya bayangkan mengingat pengalaman dan pernyataan beberapa wali santri lain yang bercerita tentang sulitnya mendapatkan formulir untuk masuk ke pesantren ini. Di bagian lain blog ini telah saya ceritakan sulitnya formulir masuk pondok pesantren ini  dalam judul anakku mondok. Setelah bagian ini akan sedikit saya ulas lagi.

Hari antrean formulir itu saya berangkat jauh lebih pagi dari biasanya yakni jam 6 pagi. namun ternyata antrian untuk formulir itu telah terbentuk semenjak bakda subuh. Selain itu yang mengantri kebanyakan bapak-bapak dan tentu saja wajah-wajah mereka “tampak waspada” dan “siap berebut”. Tentu saja saya yang perempuan serta bertubuh ramping (cie….) tak berdaya melihat pemandangan tersebut dimana tak sampai 20 menit formulir telah habis.

Sedih..? iya banget. Saya sangat sedih sebab berfikir bahwa ternyata saya tak mampu berusaha sendiri untuk memuliakan anak saya belajar di tempat yang menurut saya sangat baik. Selain itu saya juga sedih sebab merasa kurang bersyukur dimana tahun sebelumnya anakku Mbak Ninid kecil mendapatkan formulir tersebut tanpa antri sama sekali. Hari itu saya menangis pada Kak Nay seraya minta maaf pada kak nay. Di Luar dugaanku Kak nay menjawab:”Sudahlah Umi jangan sedih… dimanapun aku mondok aku akan berusaha jadi anak yang baik dan selalu sayang umi…”. Pagi itu aku termehek-mehek pasrah pada alloh SWT sekaligus bersyukur atas sikap Kak Nay  sampai ketika suara WA (Whatsapp) berdenting-denting dari HP di tanganku. Tiba-tiba aku tersadar suatu peluang…

Saya lalu menelfon seorang sahabat lama yang ketika berkontestasi di pilkada lokal berkali-kali minta bantuan saya baik urusan lobi ke DPP Partai induk yang bersangkutan untuk kepentingan rekomendasi  maupun dalam hal pemenangan di tingkatan basis. Ya Alhamdulillah yang bersangkutan menang/berhasil dalam pilkada tersebut. Kebetulan saya tahu yang bersangkutan rumahnya tidak jauh dari sini dan saya juga tahu yang bersangkutan sering “sowan” baik sebagai tamu undangan pejabat lokal maupun “sowan” sebagai santri ke pesantren ini. Dan alhamdulillah telpon saya langsung dianngkat dengan sapaan:”Assalamualaikum, Sedang dimana ini neng?” saya jawab:”Di Sudimoro Almunawwariyyah?”. Beliau bertanya lagi: “Ngapain? antri formulir tah? ” “Iya..”   “Sudah gak usah antri nanti saya sowan ke situ saya mintakan formulir. Ini saya masih di bandara jakarta nanti turun malang langsung saya ke situ sebelum pulang. Formulirnya nanti saya antar ke rumah njenengan di Riverside”. Alhamdulillah…  padahal saya bukan sedang antri tapi sedang hampir putus asa sebab tak kebagian formulir.

Beberapa hari kemudian formulir telah sampai di tangan saya.. penuh takjub saya pandangi formulir itu. Betapa mudahnya Alloh memberi solusi dari jalan yang tak pernah disangka-sangka…  sungguh rezeki tiada tiara.

Tentang terbatasnya formulir: Dialog saya dengan pengasuh setahun yang lalu

Dialog ini setahun lalu ketika pertama kali saya datang untuk mendaftarakan ninid tanpa formulir sebab dihantarkan via telfon langsung pada pengasuh Kyai maftuh Said oleh Guru Kami Kyai Said Khumaidi Lamongan. Saya datang pada hari ahad yang kemudian baru saya tahu istilahnya adalah hari sambangan. Di hari itu via telpon abah yai Said bilang supaya langsung menemui beliau di masjid. Dan saya lihat kerumunan orang tua wali santri penuh takdzim pada sesosok yang dari jauh tampak begitu berwibawa berbicara pada mereka di serambi samping masjid pondok tersebut..

Saya segera membaur dalam kerumunan tersebut dan beliau langsung menerima saya dengan sapaan:”Ini dari mana (asalnya)?” Segera saya menjawab dan menjelaskan hal ihwal kedatangan saya serta tak lupa menyampaikan salam dari abah yai said. Di luar dugaan saya (sebab saya belum paham situasi sulitnya mendapat formulit tersebut) beliau berkata pada semua bahwa beliau menerima anak saya sebab titipan sahabat beliau. Agak bingung saya mulai memperhatikan wajah-wajah para wali santri dan mulai memahami dan menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan mereka ini sedang memohon mendapatkan formulir tersebut namun sudah tidak tersedia lagi. Anakku (Mbak Ninid) juga sebenarnya tidak diberi formulir melainkan hanya secarik kertas yang ditulis langung dengan tangan oleh Pak Kiai dan ditujukan pada pengurus.

Dengan agak penasaran saya bertanya pada beliau:”Pak yai kenapa tidak diterima semua saja..?” Beliau menjawab:”kalau saya terima semua itu berarti saya kurang memulikan para santri sebab fasilitas yang tersedia tidak cukup untuk menerima semua. Saya kan harus melayani santri sebaik-baiknya….”. Dengan masih penasaran saya bertanya kembali:”Pak yai kenapa tidak diterima semua lalu di test saja sehingga semua mendapat kesempatan yang sama untuk bisa diterima di pondon pesantren ini…?” Di luar dugaan saya belaiau bertanya lagi:”Di test itu maksudnya dipilih yang pintar? atau saya memilih santri yang masuk sini adalah yang pintar dan bisa menjawab soal testnya…?” Dengan agak galau saya menjawab iya. lalu beliau menjelaskan:”Semua orang tua ingin anaknya jadi pintar, ngerti dan alim. Kalau Kiai mikirnya milih anak santri yang pintar lalu yang meminterkan bocah bodoh siapa..? Mosok Kiai tego ninggal umat bodoh…? Test disini ya cukup itu saja: dapat formulir. Kalau berhasil mendapat formulir ya berarti lulus test masuk. Untuk dapat formulir itu berarti Alloh SWT yang memilih bagaimana anak dapat formulir. Biar Alloh SWT saja yang memilih santri untuk saya. Biar Alloh saja yang mengatur siapa yang mendapat formulir serta bagaiamana caranya. Tugas saya sebagai kiai yang minterno semua santri baik yang sudah asli pinter maupun yang bodoh….”.

Pagi itu saya takjub dengan jawaban beliau yang begitu mendalam rasa pengabdiannya sebagai seorang Kiai. Sungguh pagi itu adalah dialog terbaik sepanjang masa yang pernah saya alami dimana saya menemukan kedalaman budi pekerti makrifatulloh dan keluasan pikiran dari seorang hamba Alloh SWT terpilih di zaman ini. Saya bersyukur bertemu dengan seorang manusia sedemikian layak untuk dihormati. Dan dari hari ke hari saya semakin banyak melihat serta mendengar, terutama dari suami saya, tentang keutamaan ahlak serta pemikiran beliau sebagai seorang Kiai di zaman ini. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan kesehatan dan kesejahteraan untuk beliau agar panjang umur dan membina semakin banyak generasi qur’ani yang memberkahkan bumi nusantara ini. amiin…

 

 

Mbak Ninid jadi imam..

Standar

*Cerita Di Hari Sambangan

“Umi, sekarang aku Sdh tidak pernah lagi sholat Dhuhur sambil ketiduran..”. Begitu ia mengawali ceritanya hari ini. Hari ini hari sambangan yakni hari ia boleh dijenguk keluarga sampai jam 5 sore. Jadi ia kubawa pulang dan kukembalikan petang hari ke pondoknya. “Wah hebat sekali akhirnya mbak Ninid berhasil mengerti sholat itu harus serius menghayati bacaannya… Alhamdulillah”. “Bukan gitu Umi.. Masalahnya sekarang aku ditunjuk sebagai Imam untuk sholat Dhuhur biar gak tidur pas sholat….”. *Umi’e langsung ngakak… Memang kalau Dhuhur Ninid terbiasa tidur siang jadi ngantuk nya justru pas Dhuhur itu. Dan kebetulan untuk Dhuhur sholatnya jamaah di kamar karena pulang sekolah. Nggak apa apa nak Umi tetap bangga pada ngantu’anmu itu… Semoga ngantu’anmu itu selalu memberkahi hidupmu juga… Tak henti2 aku ketawa hingga malam ini tiap ingat percakapan itu.

Foto Maratul Makhmudah.
Masalah dan solusi
Saya sungguh tak membayangkan bahwa ia dijadikan pemimpin sholat jamaan (imam) oleh teman2nya itu bukan karena prestasi namun supaya tidak jadi masalah. Sebagai ibu tentu saya paham masalah tersebut. Mbak Ninid kecil ini memang sering tertidur ditengah sholat juga tertidur di tengah membaca maupun tertidur di tengah ngaji. Bahkan sampai hari ini kalau dia pulang dan sulit disuruh tidur makan akan saya ajak ngaji ayat-ayat panjang dari surat panjang dimana saya tau dia akan tertidur di tengah-tengahnya.
Terbayang dalam pikiranku bagaimana ia berjuang menahan kantuknya yang hebat dan terus berusaha bertahan untuk fokus menyelesaikan sholatnya dengan baik tanpa tertidur. Sungguh itu solusi kanak-kanak yang didasari pikiran sederhana sebagai teman. hehehehe….
Hari itu juga bercerita tentang evaluasi mengaji al-qur’annya yang dipandang kurang memuaskan untuk tajwidnya. Ya wajarlah memang membaca sesuai tajwid itu bukan perkara mudah untuk usianya. Sebagai Ibu saya hanya mampu bilang “Tetap semangat ya sayang….”.

Do’a anak-anak yang mengancam kita para orang tua…

Standar

“Ya Alloh… Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku sebagaimana mereka mengasihiku di masa kecilku..” Malam itu adalah maghrib yang syahdu.  Anakku, Mbak Ninid kecil, membaca do’a ini sehabis shalat dalam bahasa Indonesia sambil mengerling mata tengil padaku. Dia memang sering tengil dengan logika-logika cerdas yang tengil. Mukanya terlihat semacam percampuran antara cerdas, polos, benar sekaligus nggregetno meskipun benar.. Itulah yang saya sebut tengil.

Tiba-tiba saya merasa do’a itu adalah warning. Doa tersebut adalah ancaman! Simaklah baik-baik. Do’a itu adalah peringatan bahwa anak-anak  kita dibimbing Alloh melalui Al Qur’an dalam doa tersebut agar kita mengasihi mereka saat mereka kecil. Kasih sayang kita saat mereka kecil ini  akan jadi ukuran dalam do’a dalam mereka seumur hidup mereka untuk kita. Mereka memohon Alloh SWT menyayangi kita seperti kita menyayangi mereka saat mereka kecil… Kamaa robbayani shoghiroo… Hati-hatilah sahabat. Sekali lagi hati-hatilah sahabat…  Anak-anak kita mendoakan kita, seumur hidup mereka, agar Alloh mengasihi kita sebagaimana kita mengasihi mereka saat mereka kecil…

Pertanyaan besarnya adalah ada apa dengan anak-anak kita saat mereka masih kecil? Kenapa Alloh SWT menyelipkan persyaratan berlakunya do’a anak kita untuk kita itu adalah senilai kasih sayang kita pada mereka saat mereka masih kecil? Dan itu berlaku seumur hidup hingga kita wafat…? Bagaimana jika kita orang tua tidak menyayangi saat mereka kecil? Bagaimana jika kita “khilaf” di masa kecil mereka dan baru tersadar saat mereka sudah besar dan atau tak tersadar hingga wafat tanpa pernah mencurahkan kasih sayang pada anak-anak kita…? Lalu saat mereka kecil itu berarti mulai kapan hingga usia berapa? MasyaAlloh….  Alloh SWT demikian detil dalam kebijaksanaanNya… Subhanalloh wal hamdulillah…

ADA APA DENGAN MASA KECIL MANUSIA?

Pernah mendengar lagu nasida ria zaman dulu:”belajar di waktu kecil bagai melukis di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai melukis diatas air…”

Memang pembahasan kita bukan tentang belajar namun lagu diatas bisa memberi kita gambaran bagaimana masa kecil itu adalah masa yang sangat penting. Masa dimana seperti mengukir diatas batu yang berarti akan sangat membekas seumur hidup seorang anak.

Beberapa catatan penting dari banyak hal yang saya baca tentang masa kecil anak kita adalah sebagai berikut:

  1. Alloh SWT dan kanjeng nabi Muhammad SAW memerintahkan kita untuk berbuat baik pada anak-anak kita sebab anak-anak adalah titipan/amanah Alloh dan tidak semua orang diberi amanah ini. lihat suar Assyura 49-50. Bahkan Alloh menjamin rezeki anak-anak kita dalam al-an’am 151 sebab saat kita memiliki anak maka Alloh menanggung rezeki untuk kita dan anak kita. Secara lebih tegas lagi agar ibu menyusui dan ayahnya memberi makan dan pakaian pada ibunya anak secara baik serta mewariskan harta secara baik pula dalam dimana Alloh menegaskan sifatnya yang Maha Melihat dalam hal ini melalui surat Al-Baqoroh ayat 233 :

    وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {البقرة: 233}

    Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah: 233).

  2. Masa kecil anak-anak adalah dasar dari watak, sikap, cara berfikir dan berperilaku. Ini banyak dibuktikan oleh studi-studi ilmu psikologi yang salah satunya saya copy melalui sebuah link dibawah tulisan ini.
  3. Masa kecil adalah periode emas pertumbuhan yang membutuhkan sentuhan kasih sayang untuk menstimulasi otak serta emosi.
  4. Dan tentu saja anak-anak adalah makhluk yang lemah secara fisik maupun psikis sehingga kasih sayang itu juga berarti perlindungan dari segala sesuatu di luar diri anak tersebut yang belum mereka pahami karena mereka masih kecil.

Semua hal diatas adalah beberapa alasan yang bisa saya kemukakan untuk kita bisa memahami betapa pentingnya kasih sayang kita pada anak-anak kita sehingga Alloh SWT memberikan pertanda yang tegas dalam do’a tersebut bahwa kasih sayang itulah yang jadi ukuran dalam do’a anak-anak kita untuk kita untuk kasih sayang Alloh SWT pada kita.. Subhanalloh betapa indahnya cara Alloh mengingatkan serta menghargai kasih sayang kita pada anak-anak…

Saat anak kita mendoakan kita tidakkah ada yang merasa terancam bahwa kita masih kurang baik dalam cara kita menyayangi anak-anak kita…? Ingatlah Alloh akan menyayangi kita sebagaimana atau sederajat dengan cara kita menyayangi anak-anak kita….

bagaimana dengan orang tua yang dzalim pada anaknya sendiri?

baiklah…

Banyak kasus orang tua menelantarkan anaknya. Banyak kasus karena bercerai salah seorang dari orang tua anak (dan entahlah kenapa kebanyakan ini dilakukan seorang ayah…) kemudian mengabaikan kewajiban terhadap anak-anak bahkan ada pula yang menggelapkan harta bersama maupun harta yang merupakan hak anaknya…

Mari kita kaji sejenak do’a: “Ya tuhan ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku serta sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka menyayangiku di masa kecilku…”

Dalam ilmu mantiq atau ilmu logika di kenal mafhum muwafaqoh dan mafhum mukholafah yang ini juga menjadi salah satu metode memahami hukum dalam usul fiqh maupun fiqh praktisnya. Secara praktisnya mafhum muwafaqoh yakni kesesuaian makna dari suatu lafadz. Artinya dalam do’a tersebut secara sesuai anak-anak kita memohonkan ampun untuk kita serta memohon agar Alloh menyayangi kita sebagaimana kita menyayangi mereka saat mereka kecil. Ini sederhana sekali yakni tentang sesuai lafadz. Lalu mafhum muwafaqoh berarti kita bisa berfikir bagaimana jika orang tua tidak menyayangi anaknya? Bagaimana jika orang tua tidak memenuhi hak anak-anaknya? Bagaimana jika justru ada orang tua yang dzalim terhadap hak anak-anaknya bahkan menggelapkan hak anak-anaknya…? Cobalah berfikir secara mukholafah dari kalimat dalam doa tersebut berikut ini:”..sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecilku…”. Dan syarat sayang yang sepadan sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecilku itu bukanlah ide anak kita, Itu adalah arahan langsung dari Alloh SWT melalui Al-qur’an dimana do’a tersebut abadi dalam alqur’an. Lihatlah surat Al-Isro’ ayat 24 yang menjadi sumber do’a tersebut…

Jadi….  Kita para orang tua janganlah menuntut anak kita berbakti pada kita sebelum kita telah yakin menunaikan kewajiban kita serta menunaikan dengan baik hak-hak mereka.  Semoga kita menjadi orang tua yang baik dan sangat baiiiiik kasih sayang kita pada anak-anak kita sehingga Allohpun menyayangi kita sepadan dengan kasih sayang kita pada mereka. Wallahu a’lam bisshawaab.

Semoga bermanfaat….

foto 2(1).JPGfoto 1(1).JPG

 

 

 

 

 

Berikut saya copy pendapat serupa pendapat saya ini dalam perspektif berbeda dari situs  http://umymijerf.blogspot.co.id/2012/08/hubungan-pengalaman-masa-kecil-dengan.html

ScienceDaily (2 Agustus 2012).
Hubungan sosial yang baik ternyata lebih berperan dalam menentukan kesuksesan seseorang ketika dewasa dari pada kemampuan akademik.

Menurut Professor Craig Olsson dari Deakin University dan Murdoch Children Research Institute di Australia, dan rekan-rekannya, hubungan sosial yang positif di masa kecil dan remaja merupakan kunci kesuksesan kelak ketika dewasa. Sebaliknya, prestasi akademik tampaknya memiliki pengaruh yang kecil terhadap kesuksesan seseorang kelak ketika dewasa.

Kita sudah mengetahui tentang bagaimana aspek masa kanak-kanak dan perkembangan remaja, seperti nilai akademik dan sosial- emosional. Disini ada keterkaitan antara didikan yang positif, keterlibatan sosial terhadap tingkat kepercayaan diri.

Sebuah studi di Selandia baru yang dilakukan oleh Olsson dan tim-nya menganalisis data  804 orang selama 32 tahun, yang berpartisipasi dalam Studi Dunedin Multidisiplin dan Pengembangan Kesehatan (DMHDS). Mereka meneliti prestasi akademik dan sosial masa kecil terhadap perkembangan ketika dewasa.

Secara khusus, mereka mengukur hubungan antara keadaan keluarga di masa kecil, hubungan sosial di masa kecil, perkembangan bahasa di masa kecil, hubungan sosial di masa remaja, prestasi akademik di masa remaja, dan kesuksesan di masa dewasa. Hubungan sosial di masa kanak-kanak diperoleh dari hubungan dengan orang tua dan guru, pergaulan, dan tingkat kepercayaan diri pada anak. Keterikatan sosial pada masa remaja ditunjukkan dari orang tua, teman sebaya, sekolah, orang-orang terdekat, serta partisipasi dalam kelompok pemuda dan olah raga.

Para peneliti menemukan hubungan erat dari masa kanak-kanak, hubungan sosial saat remaja dengan kesuksesan ketika dewasa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hubungan sosial yang positif dari kecil sampai dewasa. Disisi lain, dari segi perkembangan bahasa dengan prestasi akademik menunjukkan kurang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan dan kebahagiaan seseorang ketika dewasa.

Menyikapi Tes IQ: Lebih penting tetap selalu memotivasi anak….

Standar

 

Beberapa hari lalu Kak Nay pulang sekolah dengan bangga membawa hasil tes IQ nya yang menurut skala IQ(wechsler) tergolong diatas rata-rata yakni senilai 113. Skala ini membuat beberapa kategori mulai dari Moron (50-59), Borderline (60-79), Lambat belajar (80-89), Rata-rata bawah (90-99), rata-rata (100-104), Rata-rata atas (105-109), Diatas rata-rata (110-119), Superior (120-129), Berbakat (130-139) dan jenius untuk diatas 140. Tentu sebagai ibu saya tetap bersyukur atas hasil tersebut namun terasa ada yang kurang pas dalam hati dan pikiran saya atas rasa bangga yang tersirat di wajah anandaku tercinta…

Saya bertanya apakah kak Nay bangga dengan perolehan tes IQ tersebut? Ia menjawab bahwa menurut teman-temannya hasil testnya itu keren. Adakah temannya yang hasil testnya kurang memuaskan. Ia jawab ada. Bagaimana sikap anak tersebut? Ia jawab sedih. Bukannya hasil tes ini rahasia? Ia menjawab bahwa memang tertulis rahasia tapi semua temannya saling sharing, saling lihat, hasil tes tersebut. Begitulah anak-anak..

Siang itu saya berdiskusi dengan kakak bahwa hasil tes IQ tersebut tidaklah menjadi satu-satunya ukuran dari keberhasilan seorang anak di masa depan sebagaimana IP (Indeks Prestasi) yang mengukur prestasi akademik mahasiswa juga bukan satu-satunya ukuran dari keberhasilan seorang mahasiswa di masa depan. Ada banyak faktor yang menjadi pendorong keberhasilan seseorang di masa mendatang seperti kerja keras, belajar yang tekun, berdoa dengan sungguh-sungguh, kreatif, pandai membaca peluang, membangun relasi yang banyak dengan berbagai pihak dan lain sebagainya. Artinya, anak yang hasil test nya kurang memuaskan tersebut tetap saja punya peluang besar untuk menjadi pribadi sukses di masa mendatang.

SETIAP ANAK ISTIMEWA

Seingat saya ini bukan satu-satunya tes masuk ke sekolah di mana lembaga tertentu mengajukan proposal kerjasama untuk tes-tes yang mengukur kepribadian, intelegensia, bakat, bahkan ramalan masa depan. Saya ingat dulu juga pernah ada test finger print saya lupa istilahnya dimana dilakukan prediksi berdasarkan teori tertentu dari finger print seorang anak disisi mana bakat dan kemampuan anak itu menonjol. Saya sudah mencari dokumen hasil tes ini milik Mbak Ninid semasa masih TK dan saya ingat hasilnya Mbak Ninid seimbang otak kanan dan kirinya sama-sama aktif. Memang waktu itu Si Ninid bisa menulis dengan tangan kanan dan sekaligus tangan kiri. Bahkan dia bisa menulis bersamaan tangan kanan dan kirinya. Namun jujur saya tidak terlalu menganggap penting tes-tes tersebut. Bagi saya tes-tes tersebut hanyalah hore-horenya anak-anak sekolah.

Test-test tersebut di satu sisi ini menawarkan “prediksi” dari potensi anak agar potensi-potensi telah dikenali sehingga akan lebih mudah mengarahkan anak sesuai bakatnya. Di sisi lain ukuran-ukuran dalam test tersebut justru berpotensi juga untuk  menjudgemen kemampuan anak-anak dalam batasan-batasan kategori hasil test tersebut.  Menurut saya jika disikapi secara kurang bijaksana maka akan berbahaya dan justru kontraproduktif sebab mengungkung pikiran dan kreatifitas anak dalam skor tersebut.

Saya percaya bahwa manusia adalah makhluk belajar dimana Alloh SWT memberi potensi yang relatif sama untuk dikembangkan. PBeberapa potensi tersebut antara lain:

  1. Potensi utama adalah potensi fitrah yakni terlahir sebagai manusia dg jiwa yang suci (yuuladu ala fitroh). Karenanya kita mesti yakin bahwa pada dasarnya tiap manusia itu baik.  Nabi bersabda dalam sebuah hadits: kullu mauludin yuuladu ala fitroh. Maka otomatis anak-anak kita pun pada dasarnya adalah anak-anak yang baik.
  2. Potensi Mengembangkan diri.  Dalam sebuah ayat yang sangat terkenal tentang penciptaan manusia di firmankan oleh Alloh SWT melalui alquran: wallahu akhrojakum mim butuuni ummahatikum la ta’lamuna syaia wa ja’ala lakumussam’a wal abshooro wal af’idah laallakum tasykuruun (an-nahl: 78). Disini kita ditunjukkan bahwa saat kita lahir kita semua tidak tau apa-apa namun Alloh SWT membekali kita fungsi pendengaran, penglihatan, dan  akal budi supaya kita bersyukur. Ini mencerminkan manusia mengembangkan dirinya dari fungsi-fungsi tersebut bahkan jika salah satu fungsi tersebut tidak maksimal akibat ketulian atau kebutaan ternyata akal budi ini bisa tetap dikembangkan dengan metode-metode tertentu. Disinilah kita bisa menumpukan keyakinan bahwa IQ, EQ, SQ dan Q Q yang lainnya itu bertumbuh seiring bagaimana manusia memaksimalkan potensi tersebut.
  3. Potensi posisi sebagai kholifah terhadap alam/lingkungan. Disini manusia bisa memaksimalkan potensi sebagai kholifah yang menjaga melindungi serta mengembangkan kebaikan di dunia namun jika potensi ini berkembang secara salah juga bisa menjadi perusak. Ada dua dalil yang menunjukkan potensi saling berbenturan ini yakni wa idz qoola robbuka lil malaikati inni jaailun fil ardli kholifah VS dhoharol fasadu fil barri wal bahri bima kasabat aydinnaas.

Artinya, selama manusia masih hidup segala potensi itu bisa ditumbuhkan dan dikembangkan sejalan dengan pemikiran dan bagaimana lingkungan kondusif diciptakan untuk mendukung hal-hal tersebut diatas.

MAKA BIJAKSANA MENYIKAPI BERBAGAI TES ITU PENTING…

Dasar pemikiran qur’an dan hadits diatas penting untuk keseluruhan periode kita menjadi orang tua yang berkewajiban mendidik anak-anak kita. Catatan penting dari kejadian ini bagi saya adalah:

  1. Jangan jadikan hasil test IQ (maupun test lainnya) sebagai patokan dari pikiran kita dalam mendidik anak-anak kita. Itu hanyalah indikasi manusiawi yang sangat mungkin salah. Lebih baik kembali pada dasar bahwa semua anak ponya potensi yang besar sebagaimana ayat dan hadits diatas.
  2. Tetap menghargai tes tersebut sebagai buah karya dari pemikiran tertentu dalam suatu disiplin ilmu tertentu khususnya (mungkin) psikologi.
  3. Percaya bahwa hasil-hasil test itupun juga dipengaruhi oleh lingkungan dan usaha belajar anak-anak kita.
  4. Tetap memberikan semangat dan menghargai berbagai hasil test dari semua teman-temannya tersebut.

Semoga sharing ini bermanfaat….  Aamiin…..

Anakku Mondok… (Pengalaman bagaimana memondokkan anak)

Standar

Keterpautan usia kedua anak saya lumayan jauh juga yakni 5 tahun. jadi kak Nay kelas naik kelas 6 maka adeknya, mbak ninid (begitu kami biasa memanggil), baru masuk kelas 1 SD. Sisi positif dari jarak yang lumayan jauh itu adalah kakaknya sudah cukup memahami bagaimana “ngemong” seorang adik dan dari sisi pengasuhan juga saya lebih bisa longgar karena hal tersebut.

Mondok atau sekolah dengan tinggal di asrama pesantren di usia pendidikan dasar adalah tradisi keluarga kami. jadi saya dan seluruh saudara saya pernah mengenyam pendidikan pondok pesantren. Kakakku mondok di langitan wetan tuban dan alhikam malang saat kuliah di universitas brawijaya. Saya sendiri mondok di Bahrul Ulum Tambakberas sewaktu smp-sma. Adekku berturut-turut modok di Mambaul Maarif Denanyar Jombang dan Darul Ulum Peterongan Jombang. Jadi mondok adalah tradisi keluarga kami.

Tantangan bagi saya kemudian adalah bagaimana nanti saya harus memondokkan anak-anakku. Itu sungguh membuat saya berfikir bagaimana caranya agar mereka nantinya kerasan di pondok. Jadi mulailah saya banyak bercerita tentang pondok pesantren dan apa saja yang para santri lakukan sehari hari serta mengapa itu dilakukan. Saya juga mulai menceritakan pengalaman-pengalaman konyol di pondok serta penglaman-pengalaman spesifik yang hanya dialami santri pondok.

Dalam kesempatan tertentu anak-anak juga saya ajak jalan-jalan ke beberapa pondok. Sekedar membuat mereka paham bagaimana bentuk dan rupa dari pondok itu. Saat itu mbak ninid kecil masih TK. Targetku sebenarnya adalah membuat Kak Nay mulai menyukai pondok dan terbangun kesadaran tentang pentingnya sekolah di pondok. Tak dinyana justru adeknya yang masih TK itu minta sekolah di pondok saat lulus TK. Artinya di usia 6 tahun dan masih kelas 1 SD. Tentu saja saya berat hati. Meskipun tidak bilang jangan tapi juga tidak bilang iya. Menjelang lulus TK BSS, mbak ninid kecil ini saya daftarkan di SD BSS dan telah lolos tes.

Selang beberapa minggu kemudian Alloh memberi saya kesempatan menjalankan ibadah umroh. Dalam perjalanan tersebut saya bercerita pada guru saya tentang anak-anak yang ternyata guru saya ini sangat berminat tentang cerita saya soal Mbak Ninid dan kemampuannya mengingat. Saya menceritakan tentang hadiah CD Mirah Ingsun pemberian Mbah Tejo (Sujiwo Tejo) yang hanya dalam tempo satu malam saja besok paginya Mbak Ninid kecil ku ini sudah hafal. Padahal itu bahasa jawa lawas yang agak jarang terdengar sehari-hari. Lalu guru saya tanya:”Pernahkan kau coba bagaimana jika dia mendengarkan al-Qur’an sebelum tidur?”. Lalu saya baru mikir bahwa benar sekali tiap kuajari ngaji Mbak Ninid kecil ini cepat sekali hafal. Guruku bilang:”lagu mbak tejo itu baik tapi kenapa tidak kau isi juga ingatannya itu dengan al-qur’an? Yang jelas-jelas terbaik..”.

Saya mengakui bahwa tidak tiap malam ia ngaji dengan saya. Tidak bisa rutin karena kadang saya sampai rumah sepulang aktifitas Mbak Ninid kecil ini sudah tidur. Guru saya berkata:”Berarti kamu butuh pertolongan kyai. Taruhlah anakmu di pondok saja..”    Seperti disambar petir perintah tersebut di telingaku. SEperti mozaik yang baru nyambung dalam ingatanku betapa mbak ninid kecil ingin mondok….   Apakah saya bahagia? tidak, saya takut kesepian….   Mbak NInid kecil ini adalah kebahagian dan kegembiraan saya ketika pulang ke rumah. Tempat saya mencurahkan segenap kegembiraan dan keriangan kanak-kanak. Jadi membayangkan ia harus mondok dan jauh dari saya sungguh saya pikir saya tak sanggup. Ia masih 6 tahun. Yang saya prospek mondok adalah kakaknya yang 11 tahun di tahun depan saat berusia 12 tahun. Di usia yang sama tersebut saya dan saudara-saudara saya dipondokkan oleh orang tua kami.

Saya timbang-timbang dalam diskusi, renungan dan do’a selama ibadah umroh tersebut. Akhirnya saya putuskan mencoba. Pondok yang kami pilih adalah Pesantren Al Munawwariyah Bululawang Malang dengan pertimbangan bagus untuk anak kecil serta tidak terlalu jauh dari rumah. Ternyata ketika saya hendak mendaftar pondok tersebut sudah tutup pendaftaran akibat quota santri baru habis. Oleh guru saya, KH Said Khumaidi, dimintakan formulir khusus yang dikeluarkan oleh kyai pengasuhnya yakni KH Maftuh Said. Mbak Ninid kemudian diterima dari jalur formulir kiai tersebut. Alhamdulillah…

Apakah saya senang..? jujur saja tidak. Dalam hati kecil saya ingin Mbak NInid ndak kerasan lalu minta boyongan pulang. Begitu juga ibuku, neneknya. Namun mengingat bagaimana timbang menimbang keputusan ini dibuat di tanah suci saya menguatkan tekat. Bismillah…  Niat ingsun mondokkan Mbak Ninid…

Masa-masa Awal Mondok

*Ada mitos bahwa kalau santri sudah kena penyakit kulit berarti mondoknya di terima. Haddeeeeh…. tentu saja ini mitos. Tapi begitulah kami menerima mitos itu sebagai ya begitulah biasanya, hehehehe…..

Di hari awal mengantar ananda ke pondok tanggal 30 Agustus 2015 Mbak Ninid sangat bersemangat. Bahkan dia sempat melucu (seperti biasa dia memang lucu) ketika di tes oleh petuga pondok ia ditanyai

Petugas:”bisa tambah-tambahan?”

Mbak Ninid menjawab:”Tambah-tambahan itu apa?”

Petugas:”Ya misalnya satu tambah satu hasilnya berapa?”

Mbak Ninid:”oooo  satu tanbah satu ya hasilnya dua. Itu namanya bukan tambah-tambahan tapi Matematika..”

Hari itu Mbak Ninid kecil gembira dan bersemangat sekali sebagai hari pertama masuk pondok. Ia bahkan tak tampak sedih sama sekali ketika kami harus pulang meninggalkan ia di pondok. Sungguh di luar dugaanku….    Kami baru boleh sambang (berkunjung) 40 hari kemudian…..   Ya Alloh…  Bagaimana aku melalui 40 hari ke depan tanpa dia disisiku…   Begitulah batinku menjerit meskipun bibirku tersenyum dan tertawa-tawa riang dengan mbak ninid.

40 hari kemudain kami berkunjung. Hari yang kami nanti-nantikan itu akhirnya tiba. Ibuku jauh-jauh dari Lamongan datang untuk ikut berkunjung ke pondok Mbak Ninid. Sepanjang perjalanan ibuku menangis setengah marah-marah yang intinya jika melihat Ninid sakit atau nangis tidak kerasan maka saat itu juga diboyong dan dibawa ibuku pulang ke Lamongan untuk di sekolahkan disana. Ibuku berfikir saya terlalu tega memondokkan ia yang masih sekecil itu…  Dengan “sok” bijaksana saya menjawab:”Ibu tiap anak punya jalan hidupnya sendiri-sendiri…  ini adalah juga ujian bagi kita untuk sabar dan ridlo dia mencari ilmu kebaikan masa depannya….”. Namun ibu memaksaku berjanji dan saya menyerah berkata:”Baiklah…  Ibu boleh mengambil Ninid jika dia sakit dan menangis tidak kerasan”.

Seperti film dramatis saat melihat Mbak Ninid ternayata sakit cacar….  Ibuku tergugu. Saya menahan air mata….  Apakah Mbak Ninid menangis? Sama sekali tidak…   Bahkan ketika saya berinisiatif membawanya pulang sampai ia sembuh Mbak NInid menolak dan  berkata;”Tidak Umi… Saya mau menjadi santri yang baik. Kasihan Pak Kiai sudah menjaga kami… Kalau saya pulang sekarang nanti Pak Kiai sedih…”.

Perjanjianku dengan ibu adalah jika mbak ninid kecil ini sakit dan atau tidak kerasan maka ibuku lebih berhak atas mbak  ninid daripada aku, ibunya…   Kenyataannya dia sakit tapi bersikeras tetap di pondok. Dan itu sakit cacar air… menular kan…? Dan itu sakit kulit…   Kami langsung teringat mitos sakit kulit sebagai tanda mondok diterima, hahahaha….   Kami terharu biru antara air mata tawa gembira dan air mata terharu atas sikap bocah 6 tahun ini dan tentu saja sedih (terutama ibu) karena gagal membawanya pulang…

Pada sambangan 2 minggu kemudian Mbak Ninid kecil masih tabah…..

Sambangan 4 minggu kemudian Mbak Ninid mulai berkaca kaca saat saya tinggalkan pulang dan mulailah hatiku bernyanyi nyayi: “Balonku ada lima rupa rupa warnanya hijau kuning kelabu merah muda dan biru… meletus balon hijau :DOR!!!!!!!!!!!! Hatiku sangat kacau………”.  Di tengah kekacauan hati ini kita mesti tertawa-tawa riang persis saat lagu ini dinyanyikan…. Ini lagu ketabahan anak-anak TK saudara-saudara! Mereka tertawa gembira saat hatinya kacau! Anak TK bisa masa emaknya tidak bisa?!!!

Sambangan 6 minggu berikutnya mata Mbak Ninid seolah bicara:”Umi…  kenapa kau buang aku disini…..?”

Sambangan 8 minggu kemudian Mbak Ninid bercerita tentang tangisan teman-temannya yang ingin pulang dan beberpa temannya yang tak kuat dan memutuskan boyongan pulang. Apakah Mbak Ninid ingin boyong? Ia mulai menjawab Iya semua temanku ingin boyong…..  Seketika itu saya sadar ini efek teman-temannya. Saya menjawab:”Kita fikirkan dulu ya…   Boyong juga kan harus ada alasan yang baik serta persiapan yang baik. Apakah Mbak Ninid punya alasan yang baik..? Apakah ada hal buruk yang terjadi atau diperbuat orang lain pada mbak ninid disini” Dia diam… lalu curhat tentang teman-temannya yang menurutnya suka mengganggunya. Dan kami diskusi tentang sikap-sikap yang baik…  Dan astaga, saya seperti bicara pada anak umur 12 tahun. Hari itu Mbak Ninid tidak jadi ingin ingin boyong….  Dia ingin hafal Al-Qur’an…..    MasyaAlloh…….   *emaknya termehek-mehek.

Satu hal yang sangat saya takutkan adalah kecukupan gizinya. Membayangkan ia hanya makan makanan sederhana lauknya tahu tempe ikan asin berganti ganti disitu situ aja. itu membuat saya browse dan diskusi dengan teman-teman ahli gizi dan akhirnya kudapatkan kesimpulan itu cukup. Kandungan gizi nabati itu cukup. Namun demi memuaskan batinku tiap sambangan kubawakan roti tawar, mentega, keju, susu dan meses coklat. Biar dia dapat tambahan gizi. Saya takut dia tidak tumbuh maksimal. Kakaknya sangat tinggi untuk ukuran usianya. Saya khawatir adeknya, Mbak Ninid kecil ini, tidak tumbuh maksimal. Namun apa yang terjadi? Beberapa waktu kemudian saya bertanya dalam sebuah acara sambangan. Rotinya dimakan sayang? habis dalam berapa hari? Dia menjawab;”Ya langsung habislah Umi…  Kan dimakan rame-rame….”    Haduh Ya Alloooooh…..   Batinku nelangsa….   Dia malah ngomong lagi;”Umi di pondok itu semua anak doyan roti. Masa aku makan sendiri….   Umi mau aku pelit?” …..emaknya langsung speechless…..  Kuputuskan biarlah itu dia bagi sesukanya. Alloh maha tahu tujuanku. Biarlah roti-roti itu membangun gizinya bersama teman-temannya dan semoga tiap bagian yang dia kasikan teman2nya itu membuat Mbak Ninid kecil penuh berkah dalam tiap asupan gizinya yang terbatas itu…   Sudah. Pasrah. Tawakkal. Titik. Ndak Usah dipikir!. Beneran gak dipikir……?    Saya tetap mikir sahabat sekalian… hiks hiks…. Yang benar adalah saya berusaha Pasrah dan Tawakkal. Berusaha meningkatkan Iman (Percaya) pada Alloh atas segalanya untuk Mbak Ninid kecil ini….  Itu yang benar.

Catatan Penting Dari Pengalaman 6 Bulan Terakhir Ini..

Memondokkan anak bukan hanya ujian bagi sang anak. itu juga ujian untuk kita.. hikmah yang saya catat banyak. Diantaranya adalah berikut:

  1. Belajar sabar untuk ta’at. Sabar bukan hanya pada saat ada musibah ternyata. Sabar juga adalah hal penting saat kita memilih untuk taat aturan di pondok. Ketika aturannya tak boleh pulang ya sudahlah ia tidak kita bawa pulang melainkan sesuai aturan. Saat kangen melanda saya juga tetap sabar menghitung kalender untuk berkunjung sesuai aturan.
  2. Belajar tawakkal. Bahwa ketika mata dan diri kita tak bisa menjangkau langsung maka kita wakilkan pada Alloh dalam do’a. Yakin bahwa Allohlah yang akan mewakili ini dan tentu itu lebih baik serta Paling baik. Adakah penjaga yang lebih baik dari penjagaan Alloh SWT.
  3. Belajar menyisihkan rezeki dengan tertib mengingat di pondok butuh biaya.
  4. Belajar semakin istiqomah berdo’a untuk anak-anak. Addu’a shilahul mu’min. Hanya doalah yang menjadi senjata ampuh kita.
  5. Belajar membangun hubungan yang baik dengan para wali santri lain yang sebelumnya tak saling kenal.
  6. Belajar memahami melalui mendengarkan ceritanya saat sambangan. Kira-kira apa saja yang mereka lakukan di pondok. Menghayati melalui cerita anak-anak kita ternayata indah sekali…
  7. Belajar agama dan al-qur’an lebih baik lagi agar setidaknya di masa awal ini kita tak kalah sama anak-anak kita…  Jika suatu saat mereka mengungguli kita pastikan bahwa kita telah pada level tinggi pengetahuan dan akhlaq kita sehingga mengungguli kita berarti: Luar Biasa…!!!  Aamiin…..

Semoga ulasan ini bermanfaat untuk sahabat sekalian.

 

 

*Foto disini adalah foto perbandingan Mbak Ninid Usia 1 tahun dan pada saat Ulang tahun Ke 7. Satunya lagi adalah Foto saat kami sambang di minggu-minggu awalnya mondok.foto(1)

 

Pengalaman menangani bakat anak..

Standar

Kak Nay senang menggambar dan hari ini telah menelurkan karya buku komik pertamanya yang berkisah tentang keseharian kakak beradik dirinya dan adeknya. Gambar yang dibuat kak nay dalam komiknya tampak sangat komunikatif serta pandai sekali membuat plot cerita sehingga membawa pembacanya bisa menghayati kelucuan serta ketengilan kelakuan kanak-kanak mereka.

Misalnya salah satu episode dalam bukunya ini bercerita tentang pertengkaran kanak-kanaknya dengan sang adik dan dilerai umi (saya). Namun pertengkaran itu berlanjut sampai saat makan malam tiba di Rumah Makan favorit mereka yang kebetulan menu-menunya berporsi sangat besar. Karena besarnya porsi tersebut maka saya meminta mereka berbagi makanan dalam satu menu untuk menghindari makanan sisa yang mubadzir. Sebenarnya tujuannya adalah agar kakak dan adek bisa berdiskusi dan menemukan solusi sebagai kesepakatan bersama. akan tetapi yang terjadi justru mereka bertengkar kembali maka akhirnya sayalah yang membuat keputusan.

Kak Nay menggambarkan kejadian menjengkelkan bagi mereka ini dengan plot yang asyik sehingga membuat yang membaca akan tertawa. Berikut cuplikan halaman terakhir episode tersebut:

IMG_0857

Pada awalnya saya tidak mengenali dengan baik bakat Kak Nay ini. yang saya ketahui adalah rumah yang senantiasa berantakan oleh kertas kertas bergambar yang berserakan dimana mana. Tentu saja saya agak marah-marah supaya ia lebih rapih dan menjaga kebersihan hingga dalam suatu kesempatan kami ngobrol dan Kak Nay menceritakan gambar-gambar berserakan tersebut. Barulah saya menyadari bahwa kertas-kertas berserakan itu adalah sebuah potensi yang patut digali serta diarahkan lebih lanjut.

Mulailah saya mencari informasi, sharing dengan teman, serta meminta pendapat teman-teman melalui media sosial apa yang sebaiknya saya lakukan mengingat saya sama sekali tidak paham dunia gambar menggambar. Kemudian seorang teman dari penyiar RRI memberi kontak seorang komikus bereputasi tinggi yang tinggal di malang. Dari sini saya berdikusi tentang komik serta kami bersama sama membuat rangkaian hal-hal strategis yang bisa kita lakukan untuk mengarahkan dan mengembangkan potensi Kak Nay ini hingga tercetus ide membuat buku komik.

Dari kejadian ini saya mendapatkan pelajaran bahwa mengenali dan mengarahkan bakat atau potensi anak mungkin tidak bisa kita lakukan sendiri. terkadang kita perlu men-share apa yang menjadi keperluan kita bahkan apa yang perlu untuk kita ketahui tentang bakat anak kita tersebut. dalam banyak kasus saya diskusi ternyata tidak selalu bakat anak adalah “turunan” dari orang tuanya sebab bisa saja itu muncul dari minatnya. dan minat ini bisa dari apapun misalnya lingkungan, trend, daya tarik hal tersebut serta aspek-aspek lain yang memunginkan.

Kak nay mungkin tidak berkembang sepesat ini tanpa bantuan banyak pihak yang peduli mulai dari teman-teman saya yang memberi pendapat dan gagasan tentang apa yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang ibu atas bakat anaknya ini. sampai kemudian teman-teman saya ini memberi saya “jalan” bertemu ahlinya.

Oke, semoga sharing pengalaman ini ada manfaatnya.