Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 1

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n Njenengan santri…?

Kalau njenengan santri mungkin pernah mengalami kebingungan di awal masa mondok tentang buat apa menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan.  Njenengan juga mungkin juga pernah mengalami kebingungan menulis huruf g,  ng, dan ny dalam hijaiyah ala jawa atau yang disebut pegon.  Njenengan mungkin juga pernah tertidur di depan kamar mandi saat mengantri jelang subuh.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi satu krupuk dicuil cuil dinikmati bersama.  Njenengan mungkin juga pernah tanpa merasa nelangsa sedikitpun membuat mie instan dengan cukup direndam pakai air panas.  Njenengan mungkin juga pernah berbagi bantal tidur kruntelan dengan bahagia tanpa terlalu mikir bahwa semua belum mandi.  Njenengan mungkin juga pernah mengalami pengalaman eksotis khas bernama “gudiken” serta “gudiken berjamaah” alias satu kamar saling ketularan gudiken. Kadang juga flu bareng bareng bersahut sahutan saat ngaji atau jamaah sholat, hihihi…  Njenengan santri berarti mengerti apa itu ditakzir,  hihihi…  Menjadi santri berarti mengalami masa berhasil beradaptasi. Berhasil beradaptasi berarti menjadi pribadi yang penuh toleransi.

Menjadi santri memang berarti memiliki segudang pengalaman berbagi.  Berbagi ilmu dalam belajar bersama,  berbagi makanan meski hanya sebiji krupuk dibagi bagi,  berbagi kesenangan dengan bergantian baca majalah dll,  bahkan berbagi kesabaran dengan menikmati penyakit ringan bertular-tularan.  Jadi siapa kelompok masyarakat yang paling memahami berbagi? Itu adalah kaum santri. Jadi menjadi santri itu tahu benar seni berbagi.

Pesantren atau masayarakat biasa menyebut pondok ini adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya memberi pengalaman akademik seperti umumnya sekolah. Pondok memiliki kode etik khas yang bukan hanya tertulis sebagai peraturan namun juga nilai hidup yanh disebut keberkahan atau barokah.   Pondok juga berbeda dalam mengukur bagaimana seorang santri dikatakan berhasil. Santri yang sukses bukan hanya kekayaan maupun pangkat jabatannya melainkan bagaimana ia dinilai bermanfaat hidupnya bagi masyarakat sekitar sebagai hakikat dari “keberkahan hidup”. Dan keberkahan ini diyakini didapat bukan dari nilai rapot melainkan perilaku yang diridloi para pengasuh atau guru dan kiai2. Menjadi santri berarti bersikap baik agar meraih barokah.

Disaat sekolah sekolah di luar membanggakan alumninya pada kekayaan dan jabatan,  pondok pesantren masih mempertanyakan alumninya apakah telah “berbuat” kebaikan yang layak dalam hidupnya sebagai seorang santri.  Jadi seorang santri berarti menjadi seseorang yang berani meraih sukses bukan hanya dengan ukuran materi.

Masih banyak alasan mengapa harus bangga menjadi seorang santri.

 

 

 

 

 

 

Mengapa orang berkata padamu: Sudah sukses ya sekarang….

Standar

Profil 2

Kemarin via inbox seorang kawan lama dari masa remaja yang dulu sering mem-bully saya baik secara serius maupun secara guyon menyapa dengan ucapan selamat atas kesuksesan hidup. Entahlah mengapa dimatanya saya ini “enak buat dikerjain”. Tiga tahun kami tetap berteman meskipun menjengkelkan banget. Hehehehe..

Dalam banyak kesempatan saya juga bertemu kawan lama dan mereka berkomentar:”wah sudah sukses ya kamu sekarang… “. Atau:”Saya dengar dirimu sudah sukses …”. Terkadang juga:”beruntung sekali kamu sukses…”. Benarkah saya sukses..??  Saya justru tidak merasa demikian. Atau minimal jika pembicaraan itu lebih detil maka seringkali saya tidak sepakat dengan apa yang dia maksud dengan sukses.

MENGAPA INDIKATOR SUKSES BERKUTAT PADA CAPAIAN HARTA, PANGKAT, JABATAN, PEKERJAAN, DAN STATUS SOSIAL…?

Faktanya demikian. Saat orang berkata padamu “wah sudah sukses ya sekarang…” maka yang mereka sedang maksud dan sedang lihat adalah capaian hal hal diatas.  Mungkin karena hal itu yang paling mudah dilihat orang lain.  Mungkin juga karena umumnya itu adalah yang diinginkan banyak orang namun akan sangat menyedihkan jika itu adalah tujuan hidup dari seseorang.

Saya sendiri merasa bahwa banyak sekali episode kegagalan dalam hidup saya. Jika diurai dalam satu tulisan perbandingan maka bukan mustahil gagal itu tak lebih banyak dari berhasil pada apa yang saya tuju.  Episode kegagalan tersebut mungkin tak terdengar atau juga mungkin tak terlihat di mata mereka.  Atau juga mungkin sebenarnya tahu dan diam2 mereka mendoakan kebaikan bagi kita,hehehe…

Capaian atas harta,  pangkat, jabatan maupun status sosial bukanlah sesuatu yang tiba tiba didapat seseorang kecuali jika itu terkait warisan leluhurnya.  Disamping itu menurut saya capaian tersebut bukanlah indikasi mutlak dari suksesnya seseorang. Banyak orang yang terlihat sukses dengan indikator diatas namun sebenarnya menuai banyak kegagalan yang bukan kegagalan biasa melainkan kegagalan besar. Artinya banyak sisi yang kita mesti melihat dengan bijaksana.

MELIHAT DENGAN BIJAKSANA TENTANG SUKSES

Tidak ada orang yang mutlak sukses sebagaimana tidak ada orang yang mutlak gagal dalam hidupnya. Kita hanya perlu bijaksana untuk melihat bahwa setiap orang memiliki kegagalan dan juga memiliki kesuksesan. Bijaksana ini membuat hati kita damai baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kita perlu menempatkan diri dalam posisi melihat orang lain secara baik.  Mata yang baik adalah mata yang memandang dengan keluhuran budi.

Sukses ini mari kita lihat di “medan perang”nya masing-masing. Seorang ibu tumah tangga tak akan tampak sukses jika kita bandingkan haryanya dengan seorang direktris kaya raya bergaji puluhan juta.  Namun coba juga dibalik bahwa seorang direktris ini tak lebih sukses mendedikasikan penuh waktunya untuk keluarganya dimana yang paling terbatas di dunia ini adalah waktu. Semua orang memiliki sumberdaya waktu yang sama dalam satu hari yakni 24 jam. Seorang guru ngaji mungkin tampak tak sukses jika kita bandingkan hartanya sebagai guru ngaji dengan hartanya seorang profesor. Jika jika dilihat lebih adil bagaimana murid-murid mereka masing masin on progress sebagai manusia yang berguna bagi sesama maka apakah si guru ngaji adalah orang yang gagal…?

Indikator yang baik disusun dari kategori yang relevan. Demikianlah secara ilmiah juga para peneliti membuat indikator secara relevan untuk menjadi ilmiah.  Jika indikator tidak relevan maka itu mirip dengan kita percaya pada “survey pesanan” untuk memblow up seorang calon atau kontestan pilkada dimana indikator tidak relevan itu sebenarnya menghasilkan hasil survey yang cacat metodologi dan otomatis cacat hasil.

Kalau secara ilmiah saja pemyusunan indikator harus relevan mengapa kita harus membebani kesuksesan orang selalu dengan indikator harta pangkat jabatan status…?  Kata pramudya ananta beraikaplah adil sejak dalam pikiran.

Mungkin demikianlah sebaiknya kita melihat terhadap orang lain.  Yakni bahwa tak ada orang mutlak sukses pun tak ada orang mutlak gagal.  Di medan juangnya masing masing merrka menoreh sukses.

ORANG SUKSES ADALAH ORANG YANG MENGELOLA KEGAGALAN

Sekarang melihat kedalam atau bahasa kerennya introspeksi. Karena tak ada yg mutlak sukses maka tiap orang menoreh episode kegagalan.  Bahkan banyak kegagalan.

Banyak kisah sorang pengusaha sukses seperti om bob sadino mendahului kegagalan menerpanya namun ia tetap bangkit berusaha.  Banyak kisah seorang penemu harus ratusan kali gagal hingga menemukan formula terbaik yang dimanfaatkan secara luas.  Thomas alfa edison ratusan kali gagal sebelum akhirnya lampu pijar menerangi malam kita hingga hari ini.

Maka apalah orang biasa seperti diri kita ini…  Kegagalan adalah hal biasa.  Namun orang sukses adalah orang yang mengelola kegagalan. Alhamdulillah bahwa kegagalan pada hakekatnya menguatkan jiwa kita dan rasa tawakkal kita pada Alloh.  Dan kesuksesan pada hakekatnya untuk memperbesar rasa syukur kita pada Alloh SWT.

Tulungagung, 13 oktober 2016.

Hormat saya,

Maratul Makhmudah

 

Bahagia itu Menemukan Sudut Pa(n)dang

Standar

Profil 2

Saat Tersungkur Barangkali Itulah Saat Kita Punya Sudut Pandang Baru…

Seorang teman membicarakan dengan penuh prihatin berita duka dari teman lain perihal bisnisnya yang gagal akibat penipuan. Ia membayangkan betapa terpuruknya si teman yang ia bicarakan saat ini.  Saya mendengarkan dengan seksama bagaiamana akhirnya kegagalan itu berimbas pada terjualnya aset aset pribadi yang dulu keluarga kecil mereka itu mengumpulkan dengan susah payah.

Dalam kesempatan yang lain saya bertemu dengan teman yang dibicarakan ini namun di luar dugaan ternyata teman yang ini tidak berduka cita.  Dengan penuh semangat ia menceritakan bagaiamana ia mengelola kebangkrutan itu dan bagaimana ia memetik pelajaran yang ia sebut hikmah. Memang aset-aset yang telah ia miliki sebelumnya terpaksa ia jual dan ia memulai bisnis baru dari nol.  Ia bahagia bahwa Alloh memberinya kebangkrutan itu melihat dengan jelas,  membuka mata dengan sudut pandang baru,  bahwa ada banyak hal yang lupa ia syukuri selama ini.

Ia mulai betutur dengan sistematis bahwa ia mulai melihat anak-anaknya tumbuh luar biasa baik dimana sebelumnya ia tak terlalu memperhatikan.  Ia mulai menghayati betapa Alloh memberi suami setia dan sabar dalam situasi sedemikian sulit.  Ia mulai menikmati hangatnya keluarga besar yang menerimanya secara ikhlas tanpa embel2 kekayaan seperti sebelumnya. Dan ia bahkan menceritakan bagaimana tetangga dan pembantu2nya ihlas dipotong upahnya lebih rendah namun tetap setia bekerja untuk dia.  Hanya beberapa yang bersikap negatif dan menghinakan sehingga ia menyadari bahwa inilah cara Alloh memilah orang2 munafik disekitanya yang seperti semut mengerubuti gula.  Saat manisnya habis semut semut akan pergi.

Ia juga bersyukur bahwa kebangkrutannya itu memberinya sikap sensitif terhadap sumber sumber baru yang potensial produktif.  Selain itu ia juga mulai “tidak meletakkan telur dalam satu keranjang secara terukur”. Jujur saya terperangah dengan penjelasnnya sumber2 ekonomi baru yang ia maksud ternyata lebih prospektif daripada apa yang telah hilang.  Ia bilang bahwa segalanya milik Alloh saat Alloh mau ambil ya kita harus ihlas barangkali untuk digantikan yang lebih berkah. Ia mengingatkan makna inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Sayapun berfikir bahwa telinga saya hampir terkecoh oleh pendapat bahwa ia terpuruk oleh kegagalan dan pada situasi yang menderita. Nyatanya teman saya ini jauh lebih bahagia dalam apa yang disebut keterpurukan yang menyedihkan.  Nyatanya saya melihat yang terjadi adalah berkah dalam bencana. Ia tidak sedih melainkan ia bahagia.

Jadi bersama kesulitan alloh berikan kemudahan (inna ma’al usri yusro)  mungkin adalah dalam bentuk awal bagaiamana kita menemukan sudut pandang yang baik dan benar serta menghadirkan Alloh sebagai bentuk kehambaan kita.

Saya jadi ingat seorang sahabat zaman masa remaja yang beberapa waktu lalu saya singgahi untuk ziarah haji.  Tanpa bermaksud ghibah disini tanpa saya sebut nama melainkan mutiara hikmah semata dari sahabat saya ini.

Sahabat saya ini di waktu sebelumnya saya singgahi di rumah sakit karena anaknya opname. Dengan sangat sedih ia bercerita tentang perilaku suaminya yang tergoda wanita lain dari kalangan yang kurang baik.  Sebenarnya andaikan itu wanita “biasa” maka ia ihlas suaminya menikah yang kedua.  Saya ikut menangis waktu itu dan mengatakan bahwa saya tak sanggup memberi nasehat sebab mungkin saya pun tak mampu menghadapi. Hanya ada dalam alquran dalam situsi begini saya hanya harus berkata tetaplah bersabar dan penuh cinta kasih (watashouw bisshobri watashouw bil marhamah).

Saat ziarah terakhir itu Agak kaget saya melihat perubahan dari sahabat saya ini mulai dari secara fisik hingga caranya berbicara dan menyatakan pendapat.  Secara fisik iamakin cantik dan cara bicaranya makin luwes bahkan saya bilang mempesona. Apa yang terjadi padamu sahabatku?  Gimana kabar wanita itu…?

Ia memulai tuturnya dari bahwa seminggu lalu telah menelfon wanita itu untuk pamit berangkat haji dan berterimakasih atas kehadiran wanita itu telah membuatnya berubah.  Ia mulai belajar bersolek dan berdandan yang baik.  Ia mulai belajar bergaul dan bahkan berbisnis jual beli tanah meskipun motivasi awalnya takut tak punya sumber ekonomi dari suami akibat hadirnya wanita lain.  Ia mulai belajar menggunakan gadgetnya untuk membuka cakrawala. Bahkan ia mulai mempersilahkan suaminya bersama wanita itu dengan syarat syarat kepatutan norma masyarakat dan keabsahan serta kebenaran perilaku berdasarkan syariat.  Ternyata justru itu membuat wanita itu pergi dari suami sahabatku ini. Yakni saat ia pasrah dan ihlas serta tawakkal.

Saat jatuh tersungkur kita memandang dari bawah.  Kita melihat segalanya dengan berbeda. Barangkali bersama jatuh itu Alloh memberi rezeki dari sudut pandang baru…

Memaknai bahagia

Jadi apakah seseorang berbahagia ataukah bersedih?  Orang lain tak akan bisa mengukur dengan presisi bagaiamana seseorang bersedih atau berbahagia atas sesuatu.  Namun jika kita sensitif pada diri sendiri kita akan bertemu dengan fakta orang miskin belum tentu merasa kekuarangan dan orang kaya belum tentu merasa berkecukupan. Orang sehat belum tentu merasa kuat dan orang sakit belum tentu merasa lemah.  Orang berpangkat belum tentu berkuasa menentukan kehendaknya sendiri dan orang rendahan belum tentu bisa diatur atur penguasa.

Barangkali begitulah jika segala sesuatu dilihat dari sudut pandang lebih hakikat dari tujuan segala sesuatu. Jadi apakah kita  bahagia?

Jangan-jangan kita telah sepihak subjektif menaruh bahagia itu dalam standardisasi tanpa hakikat sehingga kita salah memandang ke dalam diri kita maupun orang lain.

Mari kita, khususnya saya,  meletakkan sudut pandang dengan benar sehingga menjadi “sudut Padang” yang membuat hidup kita terang benderang…  Alfatihah.

Mojokerto,  29 september 2016

Maratul Makhmudah.  Ibu Rumah Tangga.

Di Rumah makan M’riah Kota Mojokerto  sambil nunggu suami diskusi dengan sahabat2nya di Forum Peduli Bangsa

 

 

 

 

 

Sahabatku, barangkali hidup ini seperti mengeja surat alfatihah…

Standar

Profil 2Setiap muslim pasti bisa merapal surat al fatihah ini. Bukan hanya karena ia surat pembukaan dalam alqur’an melainkan juga dalam shalat kita surat ini kita baca tiap rakaatnya.

Dalam banyak kesempatan surat ini juga menjadi pamungkas doa untuk hasilnya maksud-maksud tertentu. Di masa lalu bahkan surat ini dibaca dengan penuh keyakinan oleh “wong tuwo” dan menjadi sugesti ketika ditiupkan di air minum hingga menyembuhkan si sakit.

Bismillah dan kaki kita melangkah

Sahabatku, ingatkah engkau pernah kau alami suatu masa dimana kau ambil keputusan besar yang menurut banyak orang sungguh sangat beresiko namun tetap kau lakukan dengan berbagai alasan dan argumentasimu. Lalu ketika kau mulai lakoni malah engkau lupa dengan berbagai alasan dan argumentasimu itu. Bagimu alasan apapun tak lagi penting selain ayo jalani aja. Beginilah hidup. Pilihan kita adalah terus berjalan dimana kita telah mulai dengan keyakinan. Begitulah kita tandai keyakinan itu dengan bismillah…

Sahabatku, waktu itu aku tanyakan tahukah engkau perbedaan orang berani dan orang nekat? orang berani berhitung sebelum melangkan dan orang nekat hanya berbekal yakin meski tau kemungkinannya kecil…  Kamu menjawab bahwa aku perlu belajar tentang iman dan tasawwuf. Bagaimana iman yang berarti percaya itu jauh lebih kuat dari akal pikiran kita. Bagaimana mungkin kau hendak mengadu antara akal yang terbatas dari si pemberani dengan keimanan yang adalah kekuatan tanpa batas dari orang yang kamu sebut nekat? Sungguh aku berberat hati menerima penjelasanmu dengan berkata baiklah… Jika kau butuh pundakku maka aku selalu menjadi sahabatmu.

Ternyata hari ini kita saling membutuhkan pundakmu-pundakku tanpa harus menjelaskan apa masalahmu… kita bisa tertawa dan menangis bersama untuk kemudian kembali bahagia tanpa harus tau mengapa. Sepertinya itu adalah bagian dari bismillah….

Segala Puji Bagi Alloh..

Sahabatku, begitu banyak yang telah terjadi dalam dekade terlewati persabatan kita. Bersyukur bagi kita bukan hanya tentang kesenangan dan kenikmatan. Begitu kesengsaraan dan kesedihan yang pernah menimpa kita ternanyata adalah sebuah pintu yang memaksa kita masuk dalam suatu sudut pandang baru. Betapa itu juga adalah tempaan yang menguatkan kita dan menjadikan kita berdiri demikian kokoh dimana orang berfikir seharusnya kita roboh. Bahkan dalam situasi penuh fitnah kita pernah  saling mengingatkan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah dosa bagi pelakunya lebih kejam dari dosanya pembunuhan sebab fitnah membunuh berkali-kali. sedangkan pembunuhan membunuh hanya sekali. Namun percayalah bahwa kita yang tertimpa fitnah bukannya mati namun makin hidup dan semakin bersinar… Fitnah tak akan pernah benar-benar membunuh kita… Maka bukankah kita layak berkata alhamdulillah? Sebagaimana setelah bismillah lalu melangkah maka katakanlah alhamdulillah untuk segala onak dan duri yang harus kita lewati..

Alloh Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang..

Sahabatku ternayata kemudian kita mengerti makna kebersamaan… Yakni tak harus tubuhku dan tubuhmu saling bertemu. Bahkan cukuplah saat aku sedih tetiba datang SMS mu menyatakan rindu dan doa.. Atau saat kau ingat aku tetiba aku menelfonmu dan sekedar bertanya makan apa hari ini? Demikianlah kita mengerti kebersamaan… Maka bagaimana kita mengingkari kebersamaan ini bukan hanya kita namun kehadiranNya… Kita merenung dan tercenung saat menyadari bahwa saat kita diberi masalah sebenarnya kita juga Ia beri solusi. Kita hanya perlu lebih mendengarNya yang ada di hati.. Kita hanya perlu lebih bersabar mengikuti petunjukNya… Sungguh kasih dan sayang mencipatakan kebersamaan maka bagaiaman mungkin kita mengingkari yang maha pengasih lagi maha penyayang berarti maha kebersamaan bukan…

Pemilik Hari Akhir..

Kita pada saatnya akan membuktikan ini… Bahwa Ia benar-benar ada dan adalah pemilik di hari ini… Hari akhir….

Beribadah dan Memohon Pertolongan…

Sahabatku, hidup kamu bilang adalah ibadah. 100% hanya untuk beribadah. Aku bilang memangnya kamu gak bekerja gak makan? kau bilang bekerja dan makan juga ibadah. Aku ingat suatu hari kukatakan sesuatu yang tidak baik saat aku dalam situasi terdzalimi lalu kau tampar pipiku dan kau bilang hati hati ucapanmu dikabulkan karena kamu terdzalimi. Berkatalah yang bagus dan memohonlah yang bagus… Doa yang jelek itu jika terkabulpun kamu tak akan bahagia. Buat apa…?

Sahabatku maka kita mulai berdebat tentang memohon pertolongan dan beribadah. Apa salahnya minta kaya agar dermawan, minta jabatan agar banyak membantu, minta cerdas cendekia agar banyak meluruskan orang tersesat dst.. Pada suatu titik kita ketemu bahwa seharusnya kita berdoa untuk memohon pertolongan Alloh agar senantiasa maksimal beribadah pada posisi terbaik yang Alloh pilihkan untuk kita; entah kaya atau miskin pangkat atau melarat dan seterusnya. Kita tak tau mana yang terbaik untuk kita… Hari itu kita menemukan bijaksananya berdoa.

Sahabatku ternayata hingga hari ini kita sering mengevaluasi betapa “kedonyan-nya” isi pikiran kita, hati kita bahkan ibadah kita. Sulit ternayata… Dan kita jadi punya celetukan yang sumbernya dari “ocehan”mu: “Yo ngunu kui urip kakaean fiqh kurang tasawuf….”. Lalu kita tertawa… Mentertawakan kenaifan kita sendiri…

Maka Tunjukkanlah kami jalan yang lurus…

Naif ya naif.. Orang naif ya harus memohon pada yang maha kuasa atas jalan yang lurus..

Bagaiamana Jalan Yang Lurus Itu..?

Yang Alloh ridlo… jalan orang yang engkau (Alloh) beri nikmat bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan manusia yang sesat. Begitulah kita tak lagi ribut hendak jadi apa dan bagaimana melakoni hidup. Dan argumentasi maupun alasan telah hilang itu mungkin semoga karena ini.. yakni pasrah pada jalan kenikamatan versi Dia..

Sahabatku kita pernah punya impian sederhana saat remaja dan menjadi tak sederhana saat menjelang dewasa dengan bernagai ambisi kita.. Dan sekarang kita telah merasa demikian tua dan letih dalam ketidaksederhanaan… Dan kita mulai Menyederhanakan jalan hidup kita dengan satu kalimat “terserah yang Maha Kuasa”…

Iya sahabatku… Aku setuju. Dan aku bahagia lupa pada alasan-alasan itu. Aku setuju kita sederhanakan dalam kalimat itu:” Terserah Alloh Yang Maha Kuasa…”

Alfatihah.

 

Ayah kita adalah nahkoda dan ibuk kita ka’bah

Standar

13775958_1063283173720333_8497288857349120904_n

14249703_1104201442961839_1986560524183551749_o

ANAK-ANAK ZAMAN TETAP ADALAH ANAK ORANG TUANYA

Ungkapan Kahlil Gibran tentang anak anak kita bukanlah anak kita melainkan anak anak zaman sungguh sangat terkenal.  Bahwa kita orang tua bagaikan busur tempat anak anak panah yang hidup diluncurkan. Perhatikanlah bahwa orang tua adalah busurnya.  Tetap saja dalam zaman apapun anak anak itu meluncur dari sebuah busur yang semestinya busur berkualitas dengan kekuatan daya tarik kesadaran pemanah akan meluncurkan anak panah yang tepat sasaran.

Artinya orang tua yang sadar zaman harusnya akan melepaskan anak-anak zaman yang relevan.  Orang tua berkualitas harusnya akan melepaskan anak anak panah berkualitas. Orang tua baik melepas anak anak baik. Juga orang tua yang bervisi kuat anak melepaskan anak anak yang hebat.

Sebagai busur dari anak panah hidup itu sudahkah kita senantiasa meningkatkan kualitas kita menjadi busur yang kuat?

MENGINGAT SEORANG AYAH DARI KAMPUNG

Semasa hidup beliau kami  memanggil ayah kami dengan sebutan abah. Abah kami orang kampung. Tamat sekolah PGA (pendidikan guru agama)  Abah kami hanya sebentar saja jadi guru sebab fokus di pertanian dan perdagangan.  Selebihnya seumur hidup beliau “ngramut” sekolah madrasah di kampung  yang dahulu didirikan oleh pendahulu beliau.  Kakek dan buyut kami. Saat ini “ngramut” itu dilanjutkan oleh adek abah,  paklek kami. Disamping itu abah aktif di kepengurusan NU ditingkatan  MWC hingga PC.

Abah kami orang yang selalu bersikap sederhana, berfikir cepat dan bertindak sangat taktis strategis.  Ala kampung tentu saja.  Saat telah dewasa ini kami banyak diskusi ketika pulang kampung tentang pikiran-pikiran abah kami.  Apa saja yang pernah beliau katakan juga apa apa yang beliau inginkan.

Semasa kami kecil di kampung banyak orang dewasa yang berbicara tentang sekolah di sekolah negeri agar jadi pegawai. Artinya sekolah kampung kami yang madrasah ibtidaiyah maarif pula itu diserang supaya tidak laku.  Dituduh tak akan mampu menjadikan lulusannya sebagai pegawai terutama pegawai negeri. Serangan tersebut utamanya banyak datang dari kalangan keluarga pegawai negeri,  birokrasi, tentara,  polisi dan umumnya pendukung orde baru (loh sori nyinggung politik.  Oke lupakan soal orde baru ini fokus lagi ke abah dan sekolah madrasah).

“Serangan mental” tersebut juga dirasakan oleh kami anak-anak abah. Kakak saya mengenang salah pahamnya tentang pegawai sebagai suatu jabatan dengan privilige luar biasa sehingga orang hebat adalah pegawai. Pegawai adalah orang hebat luar biasa.  Kebetulah ada proyek normalisasi sungai / pengerukan depan rumah dan ada “Kapal Keruk” di sana. Tentu anak-anak kecil di kampung yang “udik” ini semuanya takjub melihat kapal keruk demikian besar diatas sungai depan rumah kami. Anak-anak penasaran ini tentu saja dilarang masuk oleh pegawainya dan ada tulisan tertera:”DILARANG MASUK KECUALI PEGAWAI!”. Kakak saya membayangkan para pegawai (pegawai apapun) memang istimewa hingga boleh masuk ke kapal keruk itu, hehehehe…. Salah paham ini karena secara mental sering mendapat omongan tentang orang hebat adalah pegawai. Dan anak-anak madrasah tidak mungkin bisa jadi pegawai.

Suatu ketika kami anak-anak kecil yang salah paham ini bertanya kepada abah tentang omongan orang bahwa kita kelak tidak mungkin jadi pegawai karena sekolah madrasah. Abah kami menjawab:”Abah memang menyekolahkan kalian bukan buat jadi pegawai atau pekerjaan apapun. Abah menyekolahkan kalian karena demikianlah perintah Alloh dan Rosululloh. Supaya kalian berilmu, tidak bodoh dan kelak bermanfaat untuk ummat islam umumnya.” Kami makin tidak mengerti kok abah tidak ingin kita hebat dan jadi pegawai sehingga boleh masuk kapal keruk yang keren itu. Duch!

Namun sebagai hiburannya Abah mendaftarkan sekolah ganda buat kami, pagi sekolah SD Negeri siang sekolah madrasah. Namun karena  ujian akhirnya bersamaan  ya ikut madrasah aja, hehehehe…  Ijazahnya ikut ijazah madrasah ya..  Minimal tau oh gitu toch sekolahnya SD Negeri.. Sekolahnya para calon pegawai, hehehehe….

Waktu itu kami makin tak mengerti ketika Abah memutuskan kami semua mondok seraya berpesan bahwa mondok supaya punya bekal ilmu agama dan hidup penuh berkah dan sementara  orang-orang itu berkata:”anak dipondokkan mau jadi apa..  Makin tak bisa jadi pegawai aja.. Mending juga sekolah SMP Negeri nanti bisa dapat pekerjaan bagus dan jadi pegawai.”. Pegawai itu apa sich…  Kami makin jadi anak-anak kecil yang minder dengan anak-anaknya pegawai, hehehehe…  Abah benar-benar tak peduli soal gak bisa jadi pegawai itu.

Abah memondokkan kami di beberapa pesantren baik kami singgah sebemtar maupun lumayan lama. Beberapa yang kami pernah mondok antara lain: cacak di langitan wetan, gading malang dan alhikam malang saat kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Saya sendiri pernah puasa mondok romadhon di langitan wetan lalu masuk MTsN tambak beras hingga lulus MMA kemudian kuliah di unair. Adek saya yang laki-laki waktu kecil mondok di sedayu gresik namun tak lama. Kemudian melanjutkan MTsN di Tambakberas dilanjutkan MA Program Khusus keagamaan di Denanyar Jombang kemudian kuliah di UIN Jakarta. Adekku ini lulusan terbaik  UIN Jakarta  dizamannya.  Adek perempuanku sempat mondok di Suci gresik kemudian lanjut di lamongan dan kemudia SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Dia melanjtkan kuliah di Universitas Brawijaya di fakultas yang sama dengan kakak pertama yakni Fakultas Hukum. Adek bungsu saya mondok di tambakberas kemudian SMA di Darul Ulum Peterongan Jombang. Saat ini masih kuliah di Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang.

Apakah hari ini kami tak bisa jadi pegawai? Sebenarnya saat ini kami juga tak peduli soal jadi pegawai itu. Kakak pertama saat ini seorang hakim. Saya sendiri pernah jadi anggota DPRD, menjadi pengurus parpol, menjadi dosen di universitas negeri hingga memutuskan jadi ibu rumah tangga saja. Adek laki-laki saya berkhidmat untuk masyarakat di kepenguran pusat sebuah parpol yang berbasis konstituen kuat dan memiliki posisi penting di sebuah kementrian. Adek perempuan saya jadi pegawai (hehehehe… ini yang “sukses jadi pegawai”) di sebuah Bank Syariah dan yang bungsu maish kuliah.

Soal pekerjaan sebenarnya Abah pernah berpesan pada kami agar tak meninggalkan berdagang. Jadi apapun boleh namun sebaiknya punya sumber ekonomi perdagangan sebab berkah ekonomi sebagian besarnya dari perdagangan begitu pesan beliau.

Saat Abah kami meninggal kami mulai merasakan benar bahwa selama ini abah menjalankan arah seperti seorang nahkoda kapal di tengah bahtera. Beliau yang mengarahkan kemana perahu berjalan di tengah gelombang. Visi atau pandangan kedepan seorang ayah ini kami rasa tak cukup tergantikan oleh kami yang berlima ini. Ya, kehilangan seorang ayah seperti kapal kehilangan nahkodanya. Semoga mendapat tempat terbaik disisiNya. Alfatihah.

 

DAN IBUK KITA BAGAI KA’BAH

Mungkin pelajaran memahami cintapun butuh di mengerti sejalan waktu. Saat suara ibu terdengar serak menahan isak ketika berkata:”aku kangen kalian… “. Saya teringat tahun 1999 saya membatalkan keinginan kuliah di al azhar ketika ibu berkata: “kamu kecil sudah mondok lalu mau kuliah ke luar negeri terus pulang di bawa orang sebab menikah. Kapan jadi anakku…? “. Saya bersyukur akhirnya kuliah di universitas airlangga dan sering pulang serta paling banyak menemani ibu ketika saat itu bbrp kali jatuh sakit namun alhamdulillah kemudian sehat hingga hari ini. Setelah lulus kuliah juga masih bersama abah dan ibu sambil menjadi anggota dprd dan kuliah s2 di almamater yang sama.
Setelah Abah wafat dan kami telah tinggal berjauhan dari rumah kampung halaman kami makin sering pulang dan intens berkomunikasi satu sama lain meskipun terbatas pada WA group dan telpon-telponan. Makin umur bertambah makin kami mengerti maknanya bersaudara.Yakni ketika merindukan makan bersama sambil sekedar guyonan dan gojlok-gojlokan.  Yakni  ketika bersedih dan merindukan masa kecil yang nakal bersama saudara. Yakni ketika terbayang pertengkaran-pertengkaran kecil yang tetap saling menyayangi. Yakni ketika berlomba merayu dan menghibur ibuk kami hingga tertawa bersama. Ya Ibuk kami menjadi fokus kami semua.
Ibuk kami selalu galau saat kami kecil dan berprestasi di berbagai bidang seperti cerdas cermat, puisi, pidato, dan lainnya. Beliau selalu bertanya mengapa tak ada yang menang lomba qiroah atau sholawat? Bahkan ikut lombanya saja tak ada yang mau.. Sementara beliau selalu bertanya kenapa tak ada yang seperti ibuk dan adek-adek beliau suka ngaji alquran dan semasa muda mereka banyak diminta qiroah di acara-acara publik sebagai pembuka acara. Jadi memang lomba apapun ibu akan bertanya kapan ikut lomba qiro’ah? hahahaha…. Adakah diantara kami yang Pede ikut qiro’ah? hingga saat ini tidak ada. Jadi cukuplah hafal surat yasin sudah membuat ibuk bahagia.. Kata beliau setidaknya kalian bisa tahlilan buat orang tua dan kakek buyut kalian.
Wisata kuliner mungkin hal lazim buat kami bersaudara. Namun tetap saja kita merindukan ayam kampung kelo kuning buatan ibuk yang tak tersamai apapun lezatnya. Juga pecel bandeng panggang. Juga sambal terasinya. Juga omelanya karena tak segera mandi saat bangun tidur malah setelah sholat sudah sibuk makan-makan. Begitulah merindukan ibuk.
Dan seorang ibu adalah sebuah rumah. Yakni tempat kami meletakkan rindu dan sehingga hati kami tak mampu tak menengoknya pun sekedar menanyakan kabarnya. Mungkin juga seorang ibu seperti kakbah dimana kemanapun kau berputar berkeliling dunia ia tetap porosnya. Poros dimana kau katakan: “aku pulang bu.. ” dengan sepenuh hatimu… Atau sebaliknya kau katakan dengan pilu saat ia harus bertirakat sabar ihlas untuk anak perempuannya yang berkata:”maafkan aku ibu.. Lebaran idul adha ini aku tidak bisa pulang… “. Ya, tirakat seorang ibu adalah mengihlaskan anak perempuannya untuk keluarganya. Namun tetap saja ibu adalah rumah tempat kita mengatakan pulang. Ibu bagaikan baitulloh tempat kita berputar kemanapun dan ia porosnya. Saat makin tua begini barulah bisa dengan mendalam menghayati nasehat rosululloh tentang ibu dan surga kita… Alhamdulillah untuk keberadaan surga dunia kita..

 

Tuanku Bagaimana kujelaskan bahwa aku rindu…?

Standar

14316860_1123455391069111_6249185088446704244_n.jpg40980_121907544524572_5540955_n.jpg

Rindu ini

Rindu ini adalah saat kupejamkan mata dan begitu nyata tampak diriku berada disana bersama tubuh letih bahagia. Di depan pintu rumahMu yang kadang menghanyutkan diriku dalam pusaran berjejak jejak ritmis kaki dalam berbagai warna.

Rindu ini adalah saat basah air mata duduk tanpa sela bersama jutaan manusia yang hening penuh cinta. Di sebuah padang gersang namun begitu sejuk di mata.

Rindu ini adalah saat berjalan di suatu senja bersama suatu kebersamaan ajaib.. Ya Engkau bersama kami yang menunduk mencari kerikil-kerikil dan selepasnya merebahkan penat serasa  memandangi langit dan kerlip gemintangnya tampak sesekali di tengah gerimis kecil nan sejuk.

Rindu ini adalah Memuji kebesaranMu dalam gerak perlahan hingga mencapai tembok itu dan kami bisikkan namaMu Bismillahi Allahu Akbar.

Rindu ini adalah memandangi tenda tenda putih beraroma manusiawinya kami…  Yang telah Engkau ciptakan dalam bentuk yang sempurna namun sekaligus bisa lebih rendah martabatnya dibanding binatang…

Rindu ini adalah selalu ingin kembali ke rumahMu yang saat kupandangi masih juga rindu…  Yang belum kutinggalkan pun sudah rindu…  Yang saat kupamitipun membuncah rindu…

Rindu ini adalah menggenangnya bayangan ibrahim ismail dan hajar dalam kekuatan iman dan kelembutan kasih sayang…  Dalam kesejukan yang mengalir di tenggorokanku… Dan letih kakiku berlari lari kecil diantara dua bukit itu…

Rindu ini adalah tersimpannya bunyi gunting memotong sedikit rambutku dan kutangisi tanpa alasan…  Antara lega bahagia dan resah kapankah ini kesempatan ini terulang untukku…

Rindu ini adalah saat ruangan 7 x 12 berkarpet hijau itu basah oleh sujudku yang lemah…  Seakan tak rela mengapa hanya sekecil ini hingga kau bisikkan bahwa itu hakekatnya seluas cakrawala…  Hingga tak kurisaukan lagi jarak ruang dan waktu untuk hadirnya pemilik taman surgawi itu…

Rindu itu adalah aroma awraq bercampur  debu-debu beterbangan di waktu asar… Saat kaki ini melangga merengsek mendekatinya yang menyimpan jasad  manusia termulia… Hanya mendekatinya saja begitu bahagia…

Rindu ini adalah melihat wajah wajah dalam berbagai warna namun dalam garis ekspresi yang sama: rindu…

Rindu ini adalah melihat kaki kaki dalam berbagai warna bergerak berputar  begitu harmoni: rindu…

Rindu ini adalah panasnya matahari dan semilirnya angin menerpa kulitku hingga kurasakan keringatku menjadi penyejuk dalam  senyuman perjumpaan…

Rindu ini adalah terbayang bulan purnama  diatas kubah hijau itu… Seraya berkata engkau bagai purnama Tuanku engkau juga bagai matahari…

Rindu ini adalah saat tiada habisnya kukatakan Tuanku aku ada disisi jasad engkau… Adakah engkau melihatku….  Oh Tuanku berabad jarak darimu namun engkau tak pernah meninggalkanku…

Rindu ini adalah saat selalu kukatan aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu…  Aku rindu….  Aku sungguh-sungguh rindu…  Aku tak pernah bisa berhenti rindu….

Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Standar
Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Siang itu ada paket dari ensiklopbee yakni penerbit buku ensiklopedia bergambar untuk anak anak.  Karena saya pindah ikut suami maka alamat pengirimanan kupindahkan ke alamat rumah suami.  Dan karena saya penghuni baru maka saya berfikir biar pak pos tidak kesulitan mencariku maka kububuhkan nama suamiku dibelakang nama alamat post untukku: mahmudah fahrurrozi. Dan paket itu diterima suami saya dengan bingung memandang paket itu  sejenak kemudian  tertawa kecil.  Dan kemudian aku sadar aku bahwa kami telah saling “mencuri”.

JODOH ADALAH RAHASIA ALLOH,  JATUH CINTA ADALAH TAKDIR DAN MENIKAH ADALAH NASIB YANG DIPERJUANGKAN OLEH ORANG YANG JATUH CINTA

Tak terbayangkan kami saling mengenal hanya hanya saling tahu katanya-katanya dari teman-teman tentang diri kami masing-masing dan facebooknya juga twitternya. Bertemu fisik sebentar sekedar kenalan lalu bertemu lagi seminggu kemdian hanya dalam tempo 10 hari berikutnya  kami menikah.  Hanya seperti itu saja.  Begitu simpelnya… Begitu sederhananya.

Tidak simpel atau tidak sederhana adalah ragam respon yang kami terima.  Bahkan ada salah satu respon yang terus berkembang hingga sekarang namun buat apa resah?  Ini kisah cinta kita (cie…).  Ini hidup kita.  Ini keputusan yang kita pilih bersama sebagai pribadi dewasa yang sama sama sadar.  Kami menjalani dengan bahagia..  (hehehe jujur ding,  saya sedikit resah. Sedikiiiiit..).

Kisah kita mulai berkomunikasi personal bermula dari dua hal. Pertama karena saya akan ada syuting di lokasi lembaga abah (demikian kami  menyebut suami saya)  kedua karena  abah mengkonfirmasi keberadaan seseorang yang mengaku sahabat saya dan menawarkan “banyak hal baru” buat abah.  Dan kebetulan itu palsu alias sama sekali bukan sahabat sebab bertemu sekali saja tidak pernah. Selain itu abah bukan orang pertama yang konfirmasi soal orang ini.  Sebelumnya pernah ada juga yg konfirmasi ke saya.  Tapi saya tak berani mengatakan orang itu penipu. Saya hanya mengatakan bukan sahabat saya dan saya tidak ikut bertanggung jawab atas apapun apalagi jika sampai mengarah pada hal serius.  Rupanya hal ini membuat kita diskusi serius lagi berlanjut guyon tidak serius lalu berkembang serius lagi. Sampai muncul statement:  Kayaknya kita cocok, gimana kalau kita menikah saja.  Ehehehehe…

Tau lagu jawa gak yang bunyinya gini: mo mo romo ono maling…  Berdenting denting isi kepalaku bernyanyi mo mo romo ono maling…  Hehehe..  Gak tau?  Tanya mbah google+.

Abah duda 5 anak karena istri beliau terdahulu wafat  dan saya janda 2 anak bercerai krn itu pilihan  terbaik saat itu. Artinya status kami memang sama sama “terbuka”. Kita akhirnya ketemuan di restoran di belakang rumah dalam kompleks perumahan saya sebab itu tempat umum dan beliau ada perjalan ke surabaya dimana lokasi ini adalah jalur perjalanannya. Disitu kita berkenalan dan banyak guyon berbagai hal yang ternyata kami ketahui bersama.  Soal partai sebagai “rumah lama” kami yang kebetulan sama,  soal humor-humor pesantren, soal tokoh2 panutan kami dan soal soal kecil lainya.

Dua hari berikutnya saya ada perjalanan ke semarang untuk komgres ilmu politik bersama Adipi di Semarang mulai tanggal 2-5 Juni 2016 dan disela selanya yakni tanggal 3 juni pagi buta saya berangkat ke bandara semarang terbang ke Jakarta menuju Universitas Indonesia  untuk registrasi dan penerimaan formal administratif mahasiswa baru S3 UI.  Sorenya langsung balik ke Semarang lagi melanjutkan acara.  Ya,  status saya adalah mahasiswi S3 UI saat berkenalan dengan abah.  Dan saya sudah merencakan hijrah ke jakarta untuk menjalani kuliah s3. Masuk UI tidak mudah sahabatku… Seleksinya cukup membuat saya terpaksa belajar Tes Potensi Akademik, Toefl dan menulis proposal desertasi serta menghadapi majlis penguji untuk mempertanggungjawabkan proposal tersebut.

Saya bertemu lagi dengan abah di tanggal 7 Juni dalam buka puasa bersama kolega abah di rumah makan agis. Ya itu sdh masuk bulan ramadhan dan disitulah kami bicara serius tentang menikah. Ya ada kolega dekat abah yang hadir itu mensupport kami untuk menikah saja.  Sebenarnya saya agak jengah sih sebab agak “sensi” sayamikir ini teman-teman abah kok kayak panitia seleksi atau dewan juri yang habis sidang pengambilan keputusan aja…

Akhirnya setelah bicara dengan orang-orang terdekat masing-masing kami bersepakat menikah di tanggal 2 Juli 2016 dirumah keluarga saya Lamongan.  Namun beberapa hari kemudian abah menelfon menyampaikan permintaan ibunda beliau agar pernikahan dipercepat tanggal 17 Juni di ndalem ibunda agar beliau bisa menyaksikan langsung mengingat secara fisik (kesehatan) tak mungkin keluar kota.  Yang beliau maksud adalah menikah secara agama sehingga yang tanggal 2 Juli tetap diselenggarakan di Lamongan.

Kami membahas hal ini serius mengingat ini permintaan seorang ibu.  Usia ibu sudah sangat sepuh serta abah terbiasa patuh pada ibu.  Berbagai kemungkinan masalah kami bahas dan kami putuskan mengabulkan permintaan ibu dengan membuat akad nikah ini di kalangan terbatas. Tidak diumumkan mengingat kami sudah pamit ke banyak pihak bahwa akan menikah di tanggal 2 Juli dan itu sudaj cukup mengagetkan banyak pihak.  Toh dari 17 juni menuju 2 Juli adalah waktu yang relatif singkat.

Tanggal 17 juni hari akad nikah itu sebenarnya jadwal saya telah tersusun padat. Terjadwal Saya syuting sebagai host program sobo pondok di UB TV kebetulan di pondok pesantren yang diasuh sahabat sekolah di tambakberas yakni Gus Muhammad dan istrinya yang juga sahabat saya semasa remaja di tambakberas yakni inayatur rosyidah yakni pesantren darul falah areng areng Batu.   Saya tak mungkin membatalkan syuting.  Jadilah saya tetap syuting dan meskipun belum tuntas saya sudahi pada jam 2 siang untuk  berangkat menikah.  Iya sahabat,  saya berangkat menikah kayak berangkat maen.  Tak sempat ganti baju,  tak sempat mandi,  tak sempat renew make up selain sisa syuting seharian itu…  Mungkin saya ini satu satunya pengantin yang tak sempat mandi saat akan akad nikah, hehehe…  (lebay ya?).  Demi takzim kami pada permintaan ibunda.

Namun sahabatku…  Waktu itu relatif.  Yang kita fikir singkat ternyata begitu cepatnya menyebarkan berita pernikahan kami dan sempat membingungkan keluarga besar serta sahabat dan kolega  yang sudah kita pamiti penyelenggaraan di tanggal 2 Juli. Kepalang basah ya sudah mandi sekali..  Kami mulai mengkonfirmasi agar tidak tersebar dan berkembang menjadi fitnah.  Apakah tak ada fitnah..?  InsyaAlloh tidak ada…  Hanya menyisakan sedikit salah faham saja.  Sedikiiit saja, hehehe…

Hikmahnya adalah pernikahan kami pada tanggal 2 Juli semakin membahagiakan serta melegakan banyak pihak yang selama ini peduli pada masing masimg dari kami.  Semua tersenyum bahagia pada kami hari itu.. Tentu saja kecuali yang bertahan memilih salah paham dan atau  paham yang salah,  hehehehe….

Kami merenungi bersama tentang jodoh.  Bagaimana saya yang sekian tahun menjanda “mbulet” selalu tiap ada yang melamar dan bagaimana beliau banyak menerima  “banyak kandidat istri” dari sahabat sahabatnya dan jalur lainnya ternyata berubah pikiran saat sebentar saja bertemu saya. Sedemikian juga abah berfikir begitulah taqdir beroperasi  manakala abah merencanakan umroh akhir ramadhan namun paspornya hilang ketlisut entah dimana sehingga abah tidak bisa daftar berangkat umroh.  Untuk mengurus paspor baru karena hilang butuh waktu lama.  Dan begitulah ternyata akhir ramadhan adalah waktu yg Alloh tentukan untuk kami menikah.  Lucunya paspor itu muncul begitu saja terlihat di laci padahal abah merasa sudah memeriksa laci itu sebelumnya namun tak menemukan paspornya.  Jodoh memang rahasia ilahi.

Kami juga sering merenungi bersama bagaimana kami bertemu dan hati kami menjadi begitu saling bertaut dalam waktu begitu singkatnya. Kami menyimpulkan ini adalah takdir. Hanya Alloh yang mampu meletakkan perasaan menerima satu sama lain dalam berbagai kerumitan masing-masing. Hanya Alloh yang mampu membuat kami berpikir bukan hanya secara rasional untuk membuat kami saling mengalah untuk jalan hidup bersama yang baru. Jalan yang saling melapangkan satu sama lain meski dalam rangka itu kita saling berkorban.  Hanya kekuatan Alloh yang hanya Alloh yang mampu membuat segalanya menjadi mudah jalannya untuk sesuatu yang umumnya rumit.  Ya,  jatuh cinta itu kekuatan takdir.  Hanya takdirnya yang mampu saling mentautkan dua hati.

Kami juga sesekali sambil guyon maupun serius merenengi bagaimana masing dari kami meyakinkan diri sendiri atas pilihan ini,  meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan dan sekaligus bagaimana kami mengelola support pihak lain yang mendukung sekaligus mengelola penolakan pihak lain dalam berbagai motif mereka.  Dan kami berkesimpulan inilah perjuangan. Takdir kita adalah jatuh cinta sebab itu kekuatan Alloh dan kita memperjuangkannya menjadi sebuah ikatan suci pernikahan.

DAN BENARLAH KATA BIJAK BANYAK ORANG : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

Entah siapa yang memulai mengucapkan kalimat ini sehingga ini menjadi kalimat umum untuk pasangan yang baru menikah.

Kami menyadari betul bahwa kita bisa lega berkata alhamdulillah kita akhirnya menjadi pasangan halal dalam akad yang sesuai ridlo Alloh.  Namun sebenarnya ini adalah awal dari hidup baru dan bukan akhirnya.  Akhir itu mungkin hanya sekedar akhir sebuah periode menuju satu periode lain. Ya untuk alhamdulillah sekaligus ini adalah bismillah.  Bismillahirrohmanirrochim. Surabaya, 8 September 2016.

 

Mengapa Kita Harus Menghormati Para janda?

Standar

Sahabatku, Sudah lama saya ingin menulis tentang hal ini namun takut. Kenapa sekarang tidak takut? Sebab sekarang sudah tidak berstatus janda. Menyandang status janda lalu menulis  yang terkesan  keluh kesah menjadi janda rentan menjadi fitnah. Terutama anggapan berusaha caper alias cari perhatian. Atau pikiran negatif yang terstigma secara umum seolah minta digodain.

Sebenarnya ada banyak perempuan berstatus janda, artis pula,  yang sudah sangat lama survive dan luar biasa dalam tulisan-tulisan mereka namun tentu saja saya ini bukan jenis mereka. saya ini jenis yang biasa-biasa saja. Jadi mau nulis saja takut dan banyak pertimbangan ini itu. Saya takut mengaku janda waktu itu. Takut tak siap menghadapi respon balik yang harus saya hadapi. Saya lebih banyak menghindar jika ditanya status. Kebanyakan saya menghindar dengan mengatakan bahwa saya ibu rumah tangga dengan dua anak.  Maklum saya perempuan biasa dalam hal ini. Saya perempuan penakut soal ini…

Tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda

Semua perempuan bermimpi indah tentang kehidupan percintaan dan rumah tangganya. Itu adalah alasan kenapa Cinderella Story  dan segudang tokoh-tokoh perempuan pendamba cinta sejati  besutan disney tak lekang zaman. Happily ever after.

Dalam kehidupan nyata ternyata banyak sekali tidak berlaku demikian.  Dongeng yang selalu diakhiri dengan : begitulah akhirnya mereka berbahagia selamanya biasanya dikatakan pada titik pernikahan dari tokoh-tokoh dongeng. Di kehidupan nyata justru segala sesuatu bermula dari situ. Sesuatu yang umumnya dikatakan selamat menempuh hidup baru.

Namanya juga hidup baru maka segala sesuatu berbeda. Ada yang kemudian berhasil mewujudkan berbahagia selamanya namun tidak sedikit yang terpaksa gagal yang berujung pada perceraian. Dari sinilah sebuah pengalaman hidup berharga ingin saya share. Yakni bagaimana merasakan langsung status tersebut menjadi kekuatan sekaligus menjadi begitu banyak cobaan dan hambatan. Ala kulli hal, saya bersyukur atas segala hikmah yang saya terima dalam hal ini. Segala kekuatan yang tumbuh dari mengalami hal ini. Segala pengalaman hidup yang menjadi khazanah kebijaksanaan buat diri saya karena hal ini.

Namun bagaimanapun tak ada perempuan yang bercita-cita jadi janda. Jika kemudian ada perempuan mengalami keadaan harus menanggung status tersebut dalam periode hidupnya maka percayalah: mereka perempuan tangguh. Mereka tak pernah berdoa menjadi janda namun ketika itu harus dihadapi maka tak ada pilihan selain dihadapi. Apapun masalahnya baik itu suami meninggal maupun bercerai sama-sama status tersebut menyisakan sudut perih yang sulit dinafikan. Baik akibat stigma masyarakat maupun beratnya perjuangan untuk survive disini.

Saya melihat banyak kawan-kawan maupun bukan kawan yang ia adalah janda tampak begitu tangguh menghadapi hidup. Saya melihat mereka pantang menyerah. Saya melihat mereka menjadi kreatif. Terutama kreatif dalam menggali sumber-sumber ekonomi. Jujur memang ada juga yang kemudian memilih jalan pintas soal rezeki dari arah yang kurang layak.. Misalnya masuk kehidupan gemerlap malam. Dan itu tidak banyak. Dan itu dilakukan juga bahkan oleh yang bersuami dengan dukungan suaminya. Juga dilakukan perempuan yang  status KTPnya belum pernah menikah. Namun status janda seolah adalah alasan dan stigma dari kelakuan negatif. Itu salah satu ketidak adilan stigma yang harus ditanggung mereka. Dan saya pernah mengalami.

Di Tempat Yang Baikpun…

Saya bersyukur saat menjalani masa menjadi janda itu bekerja di kampus. Sebuah lingkungan baik dimana penghuninya mengemban tridharma yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian bagi para dosennya, mengemban pelayanan tridharma bagi para pegawainya dan mengemban tugas  mengembangkan diri sebaik baiknya. Artinya semua orang disini punya tugas baik yang diemban. Sebuah institusi yang harusnya penuh kebaikan.

Benarkah semuanya sebaik itu? Secara umum memang baik. Hampir semuanya disini memandang orang bukanlah dari statusnya seperti kekayaan, jabatan, kekuatan, asal usul, dan juga status perkawinan. saya bilang hampir semuanya. Artinya memang adalah disini orang-orang yang selalu bersikap negatif terhadap saya karena status saya. Hal tersebut dilakukan baik dalam ungkapan lisan maupun sikap. Bahkan pernah beberapa kali status saya tersebut dijadikan dalih menyerang secara pribadi. Saya jadi membayangkan bagaimana para janda yang bekerja di tempat-tempat dimana ideologi patriarkhi begitu berkuasa. Bekerja ditempat sebaik ini saja masih saya alami..

Saya tidak hendak menceritakan siapa pelakunya namun hendak mencoba merenungi bagaimana orang yang bertitel S3 yang artinya mengenyam pendidikan formal sampai jenjang tertinggi masih bersikap seperti itu. Beberapa statementnya yang membuat saya tertawa miris. Tapi percayalah sebenarnya saya menjawab statemennya tersebut secara selayaknya perempuan terpelajar. Berikut beberapa statement yang saya catat dalam lembaran diary saya:

  1. “Dudo karo rondo iku regane seje. Lek dudo iku koyok anduk dicentelno pager lak ono wae sing ngeleles. Tapi rondo loh sopo sing arep. Contohne mbak Muda iku loh masio ayu sopo sing arep.. Buktine sampe saikoi gak payu rabi….” (Terj: Duda dan janda itu nilainya beda. Duda itu bagaikan handuk jelek sekalipun yang diaturh di pagar ada saja yang mau ngambil. Sementara janda siapa yang mau. Contohnya mbak muda itu meskipun cantik siapa yang mau.. Buktinya sampai sekarang ya belum ada yang menikahi). Tenang sahabat sekalian.. Saya menjawab bahwa yang menikahi janda yang menurut sampean ndak laku ini besok orang beriman yang berakhlaq baik sebagaimana akhlaqnya rosululloh yang mencintai dengan penuh penghormatan pada seorang janda bernama Khadijah. Rosululloh pasti tidak pernah membandingkan para janda tak lebih baik dari handuk bekas. Benar gak bahwa yang beriman pada Alloh dan Rosululloh tidak mungkin menghina status janda yang disandang seorang perempuan?
  2. “Lek janda yo pacarane ngawur wae wong wes gak perawan. Susah percoyo rondo iku pacaran baik-baik. Maneh nek ono sing ngejak yo gelam-gelem wae mesti”. (Terj: Kalau janda ya cara pacarannya ngawur aja kan sudah tidak perawan. Susah untuk percaya bahwa janda itu pacarannya secara baik-baik. Kalau ada yang ngajakin ya pasti mau-mau aja.”. Tenang sahabat saya menanggapi begini: “wow jadi sudah berapa janda mau diajakin sama bapak..?” dia menjawab:”ya gak ada..”. Saya menanggapi:”Jadi dari total populasi janda yang kelakuan semuanya kayak gitu satupun gak ada yang mau sama bapak? Gimana kok total populasi tak terepresentasi oleh sampel…? Kasihan njenengan pak kok gak ada janda yang mau diajakin sama panjenengan…..”. Mungkin sahabat bertanya yang ngomong kayak gitu dosen? iya dosen.. Dan bergelar doktor, hehehehe..
  3. “Susah percaya pada integritas seorang dosen yang Janda. Seorang perempuan jadi janda pasti karena tidak berintegritas”. Lhoh…? Sudah yang ini sengaja tidak saya tanggapi. Saya tak mau berdebat dengan logika tidak waras. Saya mau menjaga akal sehat saja, hehehehe….
  4. “Itu mbak muda banyak punya proyek dan sering ngisi kegiatan di ormas dan pemda-pemda pasti karena memanfaatkan statusnya yang janda. Kan para pejabat itu naksir-naksir gitu trus ngundang biar ada alasan ketemuan..”. Hahhhh? Yang ini juga tidak saya tanggapi. Maklum aja yang bersangkutan saya lihat di curriculum vitaenya dalam beberapa tahun terakhir ternyata memang tak pernah mendapat undangan bicara dalam forum-forum publik kecuali dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang panitia sekaligus narasumbernya adalah dirinya sendiri. Kayaknya ini jenis dosen jagoan kandang yang mentalnya terintimidasi oleh status janda. Atau sedang bermimpi disamperin janda-janda yang menurutnya pada “arepan” (mau-mau aja) sama siapapun tapi tak kunjung ada, ahai… kasihan…
  5. “Makanya cari istri itu yang bodoh-bodoh aja yang penting cantik. Biar rumah tangga kita aman. Kalau punya istri pinter nanti malah minta cerai dan banyak tuntutan kayak teman-teman kita dosen-dosen perempuan yang janda-janda itu..” Saya menghela nafas panjang soal ini. Bagaimana seorang terpelajar menginginkan ibu yang bodoh bagi anaknya. Atau secara tidak langsung dia menceritakan bahwa istrinya adalah perempuan bodoh yang ia pilih untuk dinikahi. Logika rusak…
  6. Saat bersikap ramah dibilangnya kita naksir dia. Saat kita tegas dan apalagi galak gak lama kemudian terdengar kasak-kusuk: Jalak dia! Janda Galak!.
  7. Pernah pada suatu hari sedang ngobrol seorang teman cerita bahwa salah satu kolega kita baru saja menjada sebab bercerai dengan suaminya. Dan saya heran ketika melihat wajah salah satu kolega tiba-tiba berbinar-binar bahagia seraya berkata:”waaah…  kok aku baru tau”. Saya tak habis pikir melihat hal itu. Sungguh siang itu ingin sekali kubisikkan sebuah kalimat indah penuh makna pada bapak itu:”Pak… koen pikir lek ono rondo mesti arep raimu…. istighfar pak, nyebut, iling umur…” Dan hari itu hal ini saya posting di Facebook.

 

Tingginya Status Jenjang Pendidikan Tak Otomatis Berarti Tingginya Kemuliaan Akhlaq Seseorang

Seorang profesor maupun doktor mungkin lebih pandai dari yang bukan bergelar serupa namun bukan berarti akhlaq mereka lebih mulia. Sangat saya sayangkan ketika saya bertemu dengan kejadian-kejadian di atas justru oleh orang-orang bergelar tinggi.

Banyak kesempatan saya menjumpai kemuliaan akhlaq (termasuk di kampus) justru datang dari orang-orang sederhana, jabatannya biasa saja, tidak bertitel tinggi, atau bahkan anak-anak muda (mahasiswa) yang melihat lebih tulus dari apa yang mereka rasakan langsung.

Cara orang menyikapi status perempuan yang janda menurut saya adalah salah satu indikator dari kemuliaan akhlaq seseorang. Stigma dan stereotype yang dilekatkan masyarakat terhadap janda adalah cobaan bagi semua orang. Cobaan dalam artian apakah seseorang mampu berfikir dan bersikap bijaksana untuk tidak ikut-ikutan bersikap negatif.

Apa yang difikirkan tentang janda ini memang seringkali mudah ditangkap. Perhatikanlah dalam banyak group WA menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok. Jujur saja termasuk pernah terjadi dalam WA Group dosen. Artinya sekelompok orang berpendidikanpun tak bebas dari terseret perilaku salah kaprah ini. Salah yang jelas jelas salah namun kaprah di kalangan masyarakat. Bagaimana mungkin mengaku beriman pada rosululloh yang memuliakan dan bahkan mencintai seorang janda bernama khadijah sementara kalian menjadikan janda sebagai bahan guyonan dan olok-olok bahkan posting-posting porno?

 

Memilih Berhenti Berkarir Dan Menjadi Ibu Rumah Tangga

Standar

Wanita Bekerja Dan Ibu Rumah Tangga

Saya bersyukur bahwa sejak dulu selalu memuliakan pilihan hidup para wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Meskipun saya dahulu  seorang aktifis yang memilih memiliki karir namun sejak dulu tak pernah memandang sebelah mata posisi ibu rumah tangga.

Perdebatan tentang mana yang baik menjadi wanita bekerja ataukah ibu rumah tangga selalu menjadi biang keributan di Media Sosial. Sebenarnya dua-duanya baik manakala keseimbangan bisa dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. Bukan hanya salah satu pihak sehingga hal ini membutuhkan kesepakatan yang sungguh-sungguh jujur satu sama lain tentang keadaan  yang diinginkan oleh masing-masing pihak.

Ibu rumah tangga berarti fokus pada rumah tangga namun secara ekonomi mungkin (tidak selalu) ada ketergantungan pada suami. Sebaliknya Ibu bekerja berarti memiliki kemandirian ekonomi namun harus bisa membangun waktu berkualitas menggantikan yang harus berbagi waktu untuk pekerjaan di luar. Tentu ada variasi-variasi pilihan dalam mengatur hal ini namun komitmen adalah hal utama.

Pernah berkarir di partai politik, anggota DPRD, wirausaha dan kemudia menjadi dosen dan konsultan pemerintah daerah tidak membuat saya canggung ketika tahun ini, 2016, saya memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja. Mencurahkan waktu untuk suami, anak-anak, dan menjadi bagian dari sistem sosial suami semata.

Hampir Segalanya Adalah Pilihan,  Pilihan Menjadi  Jalan Hidup Dan Selebihnya adalah Taqdir

Sekitar Tahun 1998 saya masih sekolah di Madrasah Muallimin Muallimat Atas (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan masih seneng-senengnya jadi pengurus OSIS  kami hendak menyelenggarakan sarasehan budaya yang mengundang KH Mustofa Bisri namun menjelang hari H beliau ada udzur dan minta maaf tidak bisa hadir. Sebagai panitia kami sedih bukan kepalang.

Dalam keadaan sedih itu kami “ditimbali” (dipanggil) KH Nashir Fattah pengasuh pondok Al Fathimiyyah dan memberi kami nasihat yang seumur hidup tidak  mungkin dilupakan oleh angkatan kami yang bernama “FABANA” sebab kami abadikan nasehat tersebut dalam stiker angkatan berlatar hitam bertinta perak. Nasehat tersebut pendek namun sangat mengena: ana uriid anta turiid wallahu yaf’alu ma yuriid. Maknanya secara bebas saya intisarikan sebagai berikut: “aku ingin kamu juga ingin namun Alloh-lah yang akan terwujud keinginannya”. Stiker itu berasal dari tulisan tangan mbak Umi Hanik yang seingat saya saat ini menjadi pengasuh sebuah pesantren bernama Miftahul Huda di Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah.

Dalam penjelasannya Yai Nashir Fattah mengibaratkan jika dipersentese kerja kaeras kita bisa saja kita prediksikan 99% sukses terlaksana namun ada 1% takdir Alloh. dan 1% inilah yang akan terwujud. Jika 1% tersebut sudah menunjukkan wujudnya maka percayalah (berimanlah sebab iman artinya percaya) bahwa itu yang terbaik dari Alloh. Akan ada hikmah bagi orang yang beriman. Selamilah ilmu hikmah dari keseluruhan hidup kita. Hari itu narasumber digantikan oleh almukarrom Gus Ishomuddin Hadziq yang ternayata juga luar biasa kedalaman ilmu memberi pencerahan pada kami tentang kitab kuning dalam sarasehan budaya pesantren hari itu.

Kejadian itu adalah penanda penting bagi saya tentang kegagalan. Siapa yang tak ingin hidupnya hanya bahagia saja…? namun mana mungkin dalam hidup ini kita hidup tanpa masalah, tanpa ada sama sekali kegagalan, tanpa ada sama sekali kesedihan. pasti ada banyak hal yang harus kita alami dan kita sikapi dan kemudian sikap kita itulah yang menjadi: jalan hidup. Artinya jalan hidup ini kita tapaki sebenarnya dengan arahan dari alam sadar kita yakni proses berfikir. Di hari lain saya punya perspektif baru  bahwa kesedihan untuk memperdalam iman dan kebahagiaan untuk memperbesar rasa syukur.

Saat kita remaja mata kita memandang segala sesuatu mungkin dalam “keremajaan” pula. Yakni dalam situasi transisi kanak-kanak tanpa beban tanggung jawab dan dewasa dengan segala tanggungjawab sebagai suatu konsekwensi. Saat dewasa beberapa dari kita baru kita menyadari ada banyak kesalahan atau bahkan kebaikan yang tak sengaja kita lakukan dan menjadi pembuka jalan maupun penutup jalan kita di masa kini. Namun selalu ada pilihan jalan dalam hidup ini. Banyak jalan menuju Roma dan tentu saja pasti lebih banyak lagi jalan menuju surga.

Saya berasal dari keluarga kampung dengan segala macam kebiasaanya yang “ala kampung”. Saat SD saya juga merangkap sekolah MI (Madrasah Ibtidaiyah) pada siang harinya sebab di masa saya sekolah SD masuk pagi sedangkan MI masuk siang. Malamnya setelah maghrib sekolah diniyah di langgar atau surau milik budhe saya di kampung. Selepas SD/MI abah saya memondokkan saya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan saya bertempat di PPP Annajiyah Bahrul Ulum. Kalau anda ke Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang gtermasyhur itu anda akan bertemu dengan banyak asrama didalamnya serta banyak sekali pengasuh/Kiai yang mengampu masing-masing tempat. Saya masuk MTsN Tambakberas Jombang lalu selepasnya dengan banyak berdebat dan diskusi dengan abah akhirnya kami putuskan sekolah di MMA tersebut. Dan saya merasa dari situlah mulainya sebuah jalan hidup kesadaran dimulai. Sungguh saya sangat bersyukur pernah sekolah disana. Sebuah sekolah bersahaja yang kurikulumnya mayoritas agama berbasis kitab kuning (entah berapa persen) namun tetap mendapat ijazah umum (kami sering guyon ijazah nunut) sehingga kami tetap bisa melanjutkan kuliah secara normal.Sebagaimana normalnya anak SMA biasa saya berhasil lolos UMPTN masuk ke Universitas Airlangga (UA) surabaya yang konon pada zaman tersebut tidak mudah sebab hanya ada satu jalur seleksi yakni UMPTN itu.  Begitu juga S2 saya lakoni di Universitas Airlangga dan tahun ini, 2016, saya diterima di Universitas Indonesia (UI) yakni program studi ilmu politik dan sudah melengkapi segala macam administrasi namun saya (bersama suami) memutuskan batal sekolah s3 di UI. Loh gak jadi sekolah S3..? Kan lolos seleksinya susah plus biayanya mahal pula 24 juta..? Inilah juga jalan hidup, yakni proses berfikir mengambil keputusan yang berpadu dengan kekuatan taqdir. Saya juga tak pernah membayangkan jadinya seperti ini. Inilah kekuatan 1% taqdir Gusti Alloh yang akan begitu mudahnya merubah arah kita meskipun prediksinya tingkat keberhasilan 99%. Terserah Kuasa Gusti Alloh.

Soal Sekolah saya yang MMA tersebut jangan salah bahwa  alumni MMA ini tersebar dalam bernagai profesi bukan hanya kiai dan bu nyai, diantara kami ada yang komisaris BUMN, Departemen Keuangan, Pajak, Dekan/Dosen, Guru, Tenaga Ahli di kementrian dan DPR, Tenaga ahli di Lembaga Funding Internasional, penerima beasiswa dari berbagai belahan dunia yang bukan hanya bidang ilmu agama, dan Politisi? Bejibun yang politisi… pengurus partai dan anggota DPR baik level daerah, provinsi maupun pusat. Loh katanya sekolah agama kok profesinya beraneka ragam gitu…? Kami menyebutnya berkah…  berkah adalah ziyadatul khair yakni bertambah-tambah/berlipat gandanya kebaikan yang berasan dari do’a para masyayikh kami yang banyak bertirakat untuk kami. Dan kami meneladani mereka.

Pernah Gagal…? Saya Bukan Hanya Pernah Namun Banyak

Sebaik-baik orang yang gagal adalah yang banyak belajar dari kegagalan. Kegagalan terbesar dalam hidup saya adalah gagal berumah tangga alias pernah bercerai. Jadi pernah menjanda..? iya saya pernah merasakan hidup beberapa tahun dalam keadaan menjadi janda. Gimana rasanya hidup berstatus janda di sebuah kota (Malang) tanpa sanak saudara pula? Nanti saya tuliskan pada bagian lain di blog ini secara panjang lebar apa saja yang terjadi terutama respon dan imej/stereotype yang dilekatkan masyarakat masyarakat terhadap janda . Disini sekilas saja.

Gagal berumah tangga tersebut membuat saya merasa gagal “uswah” atau gagal menjadi teladan. Hal tersebut membuat saya memutuskan berhenti menerima undangan untuk ceramah agama atau mauidhoh hasanah dalam acara-acara pengajian umum masyarakat maupun sekedar hadir acara bertema keluarga sakinah. Saya sungguh malu punya ilmu pengetahuan namun gagal bersikap yang baik dan benar dalam rumah tangga. ya..  baik dan benar. Dalam rumah tangga ternyata kita tidak hanya dituntut benar melainkan juga baik. Bukan hanya baik melainkan juga benar.

Saya juga agak menutup diri dari pergaulan namun kabar tersebut beredar luas begitu saja dan menimbulkan banyak pertanyaan maupun pernyataan yang menjurus pada hal negatif terhadap saya. Frustasi gak..? jujur iya. Sebagian saya merasa ada salah namun sebagian saya merasa bersikap benar dan itu manusiawi.  Saya tidak menampik andil kesalahan saya dalam perceraian itu namun sungguh tidak adil ketika mendengar begitu banyak gosip menyudutkan saya. Bagi saya saat itu hanyalah berpegang pada suatu ayat yakni kita lahir dalam keadaan tak tahu apa apa dan Alloh memberi kita sepasang alat pendengaran, penglihatan dan hati nurani namun sedikit yang bersyukur dengan menggunakan semuanya. (Wallahu akhrojakum min buthuni ummahatukum la ta’lamuna syaian wa ja’ala lakumussam’a wal abshoro wal af’idah qolilan ma tasykuruun). Jadi para penggosip hanya menggunakan pendengaran mereka yakni telinga. Saya berdoa semoga para penggosip juga mulai dibukakan mata mereka serta hati nurani mereka terhadap posisi saya sebagai seorang Ibu yang berjuang  mendidik anak-anak saya serta mereka memaafkan saya pernah menjadi seorang istri yang gagal.

Namun diluar dugaan saya ternyata status janda  tersebut membuat teman-teman saya merasa enjoy meminta nasehat saya jika mereka ada masalah rumah tangga terutama ketika mereka bermasalah. Saya juga heran apakah mereka tak takut saya suruh bercerai seperti saya?  Bahkan ada banyak kesempatan diantara mereka datang ke rumah untuk menginap dan curhat-curhat. Disitu saya merasa ada hikmah dari kegagalan sehingga saya berdoa agar Alloh menjadikan saya uswah dalam kegagalan ini. Saya termotivasi untuk sukses dan sehingga meskipun dilihat orang lain sebagai wanita gagal berumah tangga namun tidak rapuh, kokoh dan mendidik anak-anak dengan penuh tanggung jawab.  Saya segera introspeksi dan memperbaiki diri sebab ingin mernjadi istimewa namunbanyak pula hal-hal kurang istimewa yang masih saya lakukan. Saya merasa banyak berbuat yang tidak baik.  Berusaha! Iya Berusaha! Berat? Iya berat…. Mungkin air mata tidak bisa mewakili yang saya maksud di sini.

Karir Dan Jalan Hidup

Lulus S1 saya mengalami nasib menjadi anggota DPRD di usia 23 tahun dari hasil pemilu legislatif tahun 2004. Itu karir formal saya yang pertama. Saya menyebutnya formal sebab menyangkut institusi formal. Setelahnya saya begitu asyik tenggelam dalam kerja-kerja politik di partai maupun DPRD. Keasyikan tersebut agak mengurangi perhatian saya pada rumah tangga. Saya sudah merasakan namun tidak segera bersikap. Saya baru bersikap dengan memutuskan berhenti berkarir politik dan pindah ke Kota Malang untuk dekat dengan suami (saat ini sudah  mantan) dan anak-anak saya boyong semua ke Kota Malang ini. Sebuah Kota yang bagaikan rimba belantara dalam hal tidak apa-apa serta tak punya sanak keluarga.

Keputusan saya untuk berhenti dari parpol tentu ditentang banyak pihak terutama para Kiai Kampung pendukung beserta para konstituen setia dengan banyak alasan mereka. Namun saya bersikukuh pada keputusan menyelamatkan rumah tangga. Namun takdir berkata lain yakni rumah tangga saya tetap tidak selamat. Hampir putus asa saya hendak kembali ke Lamongan kampung halaman namun seorang Kiai, guru saya, menyuruh saya tetap bertahan di Kota Malang dan belajar hidup yang sesungguhnya. Belajar survive dan mengabdikan diri secara baik dan benar. Waktu itu saya menangis dan berkata:”Yai saya  tak punya siapa-siapa lagi disini…  Saya begitu kecil bagai sebutir debu di Kota Malang ini. saya ingin pindah lagi dan  pergi dari kota malang ini… saya begitu keciiiil….”. Beliau menjawab:”Mengapa tidak kau fikir dengan benar bahwa mantanmu itu kecil dan Malang itu besaaaaar….  Kalau keluarga menjadi kerisauanmu saya  Saya doakan kelak kamu memiliki keluarga yang sangat besaaaaaar di Malang. InsyaAlloh Malang baik untukmu…”.

Mungkin karena saya santri dan santri punya kebiasaan taat pada guru maka dalam keadaan sama sekali tidak bahagia di Kota Malang saya tetap tinggal disini. Disebuah Kota tanpa sanak famili, tanpa sumber penghasilan jelas dan tanpa tempat tinggal tetap sebab terpaksa meninggalkan rumah lama untuk mengasuh dan membesarkan dua orang anak sendirian.. Berat? Berat dan saya mulai mengerti makna hidup adalah pengabdian. Mengabdi apakah ringan? Jika bahagia akan ringan… Maka kemudian saya belajar bahagia. Rupanya saya sudah lupa caranya bahagia. Karena itu saya belajar kembali tentang bagaimana caranya bahagia.  Saya mulai berkarir kembali sebagai dosen di Universitas Brawijaya Malang. Saya mendedikasikan waktu saya untuk mereka. Para Mahasiswa, Institusi Kampus dan tentu saja yang utama adalah anak-anak saya… Alhamdulillah mereka semua membuat saya bahagia. Mereka adalah alasan utama saya bahagia di sini.

Karir sebagai dosen di sebuah kampus negeri ternama di program studi ilmu politik, yang sebelumnya adalah dunia praktisi bagi saya, membuat saya dengan cepat menemukan banyak relasi di luar kampus serta bertemu dengan aktifitas-aktifitas sosial di dalam maupun luar kampus. Rupanya pengalaman praktis juga membuat saya agak berbeda dalam cara pandang serta sikap sehingga saya banyak sejali mendapatkan undangan seperti menjadi narasumber di radio khususnya RRI, menjadi narasumber kegiatan workshop DPRD serta seminar-seminar pemerintah daerah, menjadi narasumber acara televisi, dan bahkan sesekali saya juga mendapat undangan ceramah agama. Namun yang terakhir ini selalu saya tolak sebab saya merasa gagal uswah. Belakangan di tahun 2015 saya mulai mau kembali berceramah tetapi hanya di UB TV untuk program cahaya qalbu dengan beberapa alasan penting khususnya membantu institusi di kampus tercinta  yang baru tumbuh ini.Saya sungguh mulai menikmati pengabdian hidup ini dan memaknainya sebagai bahagia…

Bertemu Jodohku

Sekian tahun menjada tentu keluarga besar saya di kampung resah dan sudah mulai memaksa saya segera menikah di Malang ini sehingga memiliki keluarga yang utuh di malang. Tentu hal tersebut saya perhatikan sehingga belakangan saya mulai membuka diri untuk hubungan yang baru. Namun ada saja kerumitan yang saya hadapi ketika  ada yang pendekatan sehingga saya putuskan akan lebih jelas dalam satu keputusan jika anak-anakku sudah mulai mondok.

Di luar dugaan justri anakku yang  kecil berusia 6 tahun masuk SD minta mondok di tahun 2015 dan kakaknya setelah luus SD tahun 2016 ini masuk SMP dan baru mulai mondok. Artinya tahun 2016 anak-anak sudah mulai mondok dan janjiku pada keluarga harus saya tepati. Saya harus mulai sangat serius soal menikah kembali.

Ada beberapa pilihan baik yang berasal dari usulan keluarga, usulan sahabat, usulan guru, dan tentu saja berkenalan sendiri. Namun semuanya saya tidak merasa mantap untuk memutuskan menikah terutama ketika menyelami pemikiran tentang bagaiamana menjalani hidup bersama kedepan. Sepertinya pernikahan kedua bagi orang gagal memang lebih penuh kehati-hatiaan sehingga membawa pikiran yang dalam.

Sampai suatu hari saya sekedar nyambung dengan beliau (suami saya sekarang) di face book dan kemudian berbarengan saya mengasuh program televisi UB TV sebagai Host acara Sobo Pondok. Ini adalah program yang direncanakan untuk mengisi bulan ramadhan tahun ini. Salah satu lokasi syuting adalah pondok pesantren yang diasuh oleh beliau sehingga saya harus berkomunikasi secara pribadi untuk menyiapkan syuting di lokasi ini. Kami menjadi intens berdiskusi dan sampai kemudian kita bertemu di H-1 ramadhan yakni beberapa hari sebelum syuting dilakukan.

Jodoh rahasia Alloh SWT. Begitulah dari hari kita bertemua itu hingga tanggal kami memutuskan bersedia segera menikah adalah 10 hari saja yakni 17 juni 2016 dan itu berlangsung secara agama, sederhana, hanya dihadiri keluarga terdekat dan para asatidz pondok. Tentu mengagetkan banyak pihak sebab sebelumnya kami bersepakat menikah pada tanggal 2 Juli 2016 dan segala sesuatunya dipersiapkan oleh masing-masing keluarga. Percepatan tersebut adalah keinginan dari ibunda beliau yakni ibu mertua saya. Karena itu pernikahan tersebut berlangsung di ndalem beliau, di depan kamar beliau dimana beliau menyaksikan dari dalam kamar mengingat secara fisik beliau tidak memungkinkan  untuk berdiri maupun berjalan. Dan pernikahan resmi sebagaimana rencana di tanggal 2 juli 2016 tetap diselenggarakan di rumah keluarga kami di Lamongan.

Beliau (Ibu mertua)  juga meminta saya berhenti bekerja dan fokus pada keluarga serta tanggungjawab keluarga terhadap pondok. Saya banyak berfikir dan berdiskusi dengan suami saya atas segala resiko dan konsekwensinya dan bismillah saya putuskan menerima permintaan ibuk. Tentu ada banyak sikap tidak percaya atas keputusan saya mengingat yang mereka lihat adalah saya yang tampak ambisius terhadap karir (sebenarnya lebih tepat tampak serius terhadap pekerjaan) dan punya segudang aktifitas di luar rumah juga apresiasi publik yang lumayan luas. “Apa gak eman?” itu pertanyaan umum yang disampaikan pada saya.

Menjadi Ibu Rumah Tangga

Sungguh alhamdulillah saya senantiasa menghormati posisi perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga awalnya mungkin berat bagi saya. disini tak ada yang namanya prestasi apalagi apresiasi. Disini tak ada gaji/honor berdasarkan masa tugas maupun beban kinerja dan posisi  apalagi borang akreditasi. Disini juga tak ada hal istimewa seperti menjadi narasumber  yang kemudian secara asik saya upload buat jempol yang banyak dari face booker. Disini tak ada kemegahan dan tepuk tangan atas hal istimewa yang kita berhasil selesaiakan. Disni juga tak ada penghargaan untuk inovasi yang kita buat. Disini segala sesuatu berbeda.

Kebaikan dan kebahagiaan dalam posisi ibu rumah tangga adalah ketika pagi hari bangun tidur kita sudah mulai berfikir menjadikan  apa yang kita fikirkan itu konkrit segera. Kamar rapih, rumah bersih, masakan tersedia, suami terseyum bahagia, anak berangkat sekolah senang dan beres, melihat bayiku sudah tertawa, serta mungkin hal tambahan buat saya adalah jam 3 dini hari sudah membangunkan para santri putri untuk berjamaah qiyamullail kemudian mengaji surat waqiah dan al-mulk hingga jamaah shubuh dilanjut mengaji klasikal.

Menjadi ibu rumah tangga lebih konkrit sebab tak butuh rekomendasi berjarak waktu seperti hasil penelitan di kampus. Rekomendasi bagi ibu fumah tangga berarti segera lakukan saat ini juga. Road Map Penelitian mungkin berlangsung tahunan namun Road Map seorang ibu rumah tangga berlangsung menit bahkan detik. Menjadi ibu rumah tangga jauuuh lebih kompleks dimana tahapan urusan berlangsung lebih cepat daripada urusan-urusan ilmiah yang memiliki metodologi ilmiah. Jadi kata siapa menjadi ibu rumah tangga tak butuh pinter-pinter amat…? Ibu rumah tangga itu pastilah pinter karena bertumpuk-tumpuk urusan mereka bisa selesaikan sehari-hari dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Menjadi ibu rumah tangga juga  berarti harus bersikap strategis. Dengan sumber daya yang kadang terbatas seorang ibu rumah tangga harus bisa mengatur agar semuanya cukup terakomodasi. Bayangkan jika disaat yang sama suami dan anak-anak memanggil untuk minta bantuan atau sekedar bertanya ini itu ditambah jika terdengar bayinya menangis. Seorang ibu rumah tangga pasti akan cepat mengambil keputusan prioritas mana yang akan didahulukan lalu bergeser bergerak ke mana untuk langkah berikutnya. Rumit bukan?  rumit buat pembaca yang buka ibu rumah tangga padahal ini baru contoh kecil. Jadi Ibu Rumah Tangga tidak mudah.

Tak ada jam kerja sebagai ibu rumah tangga. Sepanjang waktu adalah jam kerja 24 jam. Bahkan andaikan bisa sehari lebih dari 24 Jam maka sebesar itulah jam kerja para ibu rumah tangga. Maka beruntunglah saya yang sejak dulu bersikap bahwa hidup adalah pengabdian. Ini era baru pengabdian hidup sebagai ibu rumah tangga.

Alhamdulillah ala kulli hal… Suami baik, anak-anak baik, keluarga besar yang amat sangat baik, lingkungan sosial baik, dan segala sesuatu yang tak bisa kusebut juga baik. Semoga Alloh SWT sentiasa ridlo pada hidup kita semuanya dimanapun posisi kita. Amiin….

Kak Nay Mondok Juga Akhirnya…

Standar

13962692_1080754745306509_1227309429162709118_nTentang Prestasi Dan Bakat Yang Dikhawatirkan Tak Terfasilitasi

Sungguh dulu saya sangat takut membayangkan kedua anakku mondok semua. membayangkan betapa kesepiannya saya tanpa kedua anakku yang tengil, lucu, sholihah dan banyak akal ini. Terlebih saat itu saya masih tinggal di sebuah perumahan yang relatif lengang di sebuah kota tanpa sanak saudara di sini, kota malang, kota yang tanpa sanak saudara.

Kak Nay sangat aktif di sekolah. Dia banyak sekali memiliki prestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non akademik. Di bidang akademik kak nay pernah mengharumkan nama sekolahnya dengan meraih juara 1 olympiade sains bidang bahasa inggris se provinsi Jawa Timur yang waktu final tingkat nasionalnya diselenggarakan di UGM Yogyakarta bersamaan waktunya dengan jadwal masuk pondok pesantren pilihannya yakni almunawwariyyah sudimoro bululawang malang. Karena itu kak nay secara ihlas tidak berangkat ke yogya untuk mengikuti final nasional.

Di bidang non akademik Kak Nay banyak sekali memiliki piala dari berbagai cabang perlombaan dari berbagai instansi penyelenggara di berbagai tingkatan khususnya di bidang kemampuan komunikasi seperti  presenter radio, presenter televisi, ceramah agama/pildacil, story telling, juga menyanyi dalam group paduan suara. Kak Nay juga beberapa kali menjadi presenter tamu acara anak-anak di Radio Kosmonita Malang saat dia duduk di kelas 5 SD. Selain itu Kak Nay juga aktif menulis buku komik dan komik pertamanya akan segera diterbitkan.

Kebanyakan teman-temanku yang tau “reputasi” Kak Nay ini menyatakan “eman” atau “sayang” atau khawatir atas rencana kak nay melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Umumnya alasan mereka adalah khawatir kemampuan akademik dan juga bakatnya akan tidak berkembang dengan baik dengan alasan bahwa kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan di Pondok Pesantren tidak mampu bersaing dengan sekolah umumnya yang ada di luar khususnya di Kota Malang. Bahkan ada juga kawan saya  yang secara jelas menyatakan bahwa jika kak nay mondok dia khawatir kelak kak nay tak akan bisa memiliki karir yang baik.

Awalnya komentar beberapa teman tentang “eman” sama Kak Nay sempat membuat saya berfikir apakah potensi dan bakat kak nay akan “terpupus” dan justru tidak berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Sebagai seorang ibu saya sempat merenung berkali-kali tentang bagaimana saya harus mengambil keputtusan untuk jenjang pendidikan lanjut bagi anak gadis pertamaku ini. Selain banyak merenung saya juga memilih beberapa orang sukses dan bijaksana (versi saya) di sekitar saya untuk saya ajak berdiskusi tentang Kak Nay yang bagi saya adalah seorang anak yang tentu saja berkah hidup. Sebagai berkah hidup saya berusahan menjaganya dan memberinya yang terbaik.

Beberapa catatan penting dari nasehat berbagai pihak itu saya rekam baik-baik dalam ingatan saya antara lain:

  1. ketika kita memilih jalan pendidikan agama Alloh untuk anak-anak kita maka yakinlah Alloh yang menjaga dan mengatur kebaikan untuk anak kita di dunia dan akhirat.
  2. kalau anak kita menjaga al-quran maka alquran akan menjaganya.
  3. karir yang baik bukan semata didapat dari ijazah/sekolah yang baik justru dari kepribadian yang baik.
  4. mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. jika sekolah untuk dapat pekerjaan itu adalah niat sekolah yang salah. sementara niat yang salah berarti segala hal yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam niat itu maka otomatis juga salah. artinya sepanjang jalan dilalui adalah salah atau bahasa lainnya adalah tersesat.
  5. kenapa banyak orang berfikir kalau punya anak cerdas dan berprestasi maka jangan dipondokkan? sementara kalau anaknya bebal nakal dan menyusahkan maka sebaiknya dipomdokkan saja? itu adalah pikiran yang salah tentang pondok pesantren sebagai bengkel moral dimana orang tua ketika tak mampu mendidik lalu diserahkan pada kiai.. Justru seharusnya kalau anak berpotensi positif maka berilah lingkungan yang positif yakni pondok pesantren.
  6. anak yang mondok akan memiliki bekal yang baik untuk berbakti dengan cara berbakti sesuai aturan Alloh SWT. Bukan hanya baik namun juga benar secara agama.
  7. dst.

Ternyata setelah berhasil memondokkan mengatasi pergolakan batin memondokkan mbak ninid kecil saya masih juga mengalam pergolakan batin saat memondokkan kakaknya. Hanya saja kali ini lebih banyak aspek rasionalnya. mungkin karena kak nay lebih “cukup umur” dibanding adeknya yakni mbak ninid kecil saat berangkat mondok.

Masalah Berikutnya: Gagal Mendapat Formulir Dalam Antrean

Sebenarnya masalah ini sudah saya bayangkan mengingat pengalaman dan pernyataan beberapa wali santri lain yang bercerita tentang sulitnya mendapatkan formulir untuk masuk ke pesantren ini. Di bagian lain blog ini telah saya ceritakan sulitnya formulir masuk pondok pesantren ini  dalam judul anakku mondok. Setelah bagian ini akan sedikit saya ulas lagi.

Hari antrean formulir itu saya berangkat jauh lebih pagi dari biasanya yakni jam 6 pagi. namun ternyata antrian untuk formulir itu telah terbentuk semenjak bakda subuh. Selain itu yang mengantri kebanyakan bapak-bapak dan tentu saja wajah-wajah mereka “tampak waspada” dan “siap berebut”. Tentu saja saya yang perempuan serta bertubuh ramping (cie….) tak berdaya melihat pemandangan tersebut dimana tak sampai 20 menit formulir telah habis.

Sedih..? iya banget. Saya sangat sedih sebab berfikir bahwa ternyata saya tak mampu berusaha sendiri untuk memuliakan anak saya belajar di tempat yang menurut saya sangat baik. Selain itu saya juga sedih sebab merasa kurang bersyukur dimana tahun sebelumnya anakku Mbak Ninid kecil mendapatkan formulir tersebut tanpa antri sama sekali. Hari itu saya menangis pada Kak Nay seraya minta maaf pada kak nay. Di Luar dugaanku Kak nay menjawab:”Sudahlah Umi jangan sedih… dimanapun aku mondok aku akan berusaha jadi anak yang baik dan selalu sayang umi…”. Pagi itu aku termehek-mehek pasrah pada alloh SWT sekaligus bersyukur atas sikap Kak Nay  sampai ketika suara WA (Whatsapp) berdenting-denting dari HP di tanganku. Tiba-tiba aku tersadar suatu peluang…

Saya lalu menelfon seorang sahabat lama yang ketika berkontestasi di pilkada lokal berkali-kali minta bantuan saya baik urusan lobi ke DPP Partai induk yang bersangkutan untuk kepentingan rekomendasi  maupun dalam hal pemenangan di tingkatan basis. Ya Alhamdulillah yang bersangkutan menang/berhasil dalam pilkada tersebut. Kebetulan saya tahu yang bersangkutan rumahnya tidak jauh dari sini dan saya juga tahu yang bersangkutan sering “sowan” baik sebagai tamu undangan pejabat lokal maupun “sowan” sebagai santri ke pesantren ini. Dan alhamdulillah telpon saya langsung dianngkat dengan sapaan:”Assalamualaikum, Sedang dimana ini neng?” saya jawab:”Di Sudimoro Almunawwariyyah?”. Beliau bertanya lagi: “Ngapain? antri formulir tah? ” “Iya..”   “Sudah gak usah antri nanti saya sowan ke situ saya mintakan formulir. Ini saya masih di bandara jakarta nanti turun malang langsung saya ke situ sebelum pulang. Formulirnya nanti saya antar ke rumah njenengan di Riverside”. Alhamdulillah…  padahal saya bukan sedang antri tapi sedang hampir putus asa sebab tak kebagian formulir.

Beberapa hari kemudian formulir telah sampai di tangan saya.. penuh takjub saya pandangi formulir itu. Betapa mudahnya Alloh memberi solusi dari jalan yang tak pernah disangka-sangka…  sungguh rezeki tiada tiara.

Tentang terbatasnya formulir: Dialog saya dengan pengasuh setahun yang lalu

Dialog ini setahun lalu ketika pertama kali saya datang untuk mendaftarakan ninid tanpa formulir sebab dihantarkan via telfon langsung pada pengasuh Kyai maftuh Said oleh Guru Kami Kyai Said Khumaidi Lamongan. Saya datang pada hari ahad yang kemudian baru saya tahu istilahnya adalah hari sambangan. Di hari itu via telpon abah yai Said bilang supaya langsung menemui beliau di masjid. Dan saya lihat kerumunan orang tua wali santri penuh takdzim pada sesosok yang dari jauh tampak begitu berwibawa berbicara pada mereka di serambi samping masjid pondok tersebut..

Saya segera membaur dalam kerumunan tersebut dan beliau langsung menerima saya dengan sapaan:”Ini dari mana (asalnya)?” Segera saya menjawab dan menjelaskan hal ihwal kedatangan saya serta tak lupa menyampaikan salam dari abah yai said. Di luar dugaan saya (sebab saya belum paham situasi sulitnya mendapat formulit tersebut) beliau berkata pada semua bahwa beliau menerima anak saya sebab titipan sahabat beliau. Agak bingung saya mulai memperhatikan wajah-wajah para wali santri dan mulai memahami dan menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan mereka ini sedang memohon mendapatkan formulir tersebut namun sudah tidak tersedia lagi. Anakku (Mbak Ninid) juga sebenarnya tidak diberi formulir melainkan hanya secarik kertas yang ditulis langung dengan tangan oleh Pak Kiai dan ditujukan pada pengurus.

Dengan agak penasaran saya bertanya pada beliau:”Pak yai kenapa tidak diterima semua saja..?” Beliau menjawab:”kalau saya terima semua itu berarti saya kurang memulikan para santri sebab fasilitas yang tersedia tidak cukup untuk menerima semua. Saya kan harus melayani santri sebaik-baiknya….”. Dengan masih penasaran saya bertanya kembali:”Pak yai kenapa tidak diterima semua lalu di test saja sehingga semua mendapat kesempatan yang sama untuk bisa diterima di pondon pesantren ini…?” Di luar dugaan saya belaiau bertanya lagi:”Di test itu maksudnya dipilih yang pintar? atau saya memilih santri yang masuk sini adalah yang pintar dan bisa menjawab soal testnya…?” Dengan agak galau saya menjawab iya. lalu beliau menjelaskan:”Semua orang tua ingin anaknya jadi pintar, ngerti dan alim. Kalau Kiai mikirnya milih anak santri yang pintar lalu yang meminterkan bocah bodoh siapa..? Mosok Kiai tego ninggal umat bodoh…? Test disini ya cukup itu saja: dapat formulir. Kalau berhasil mendapat formulir ya berarti lulus test masuk. Untuk dapat formulir itu berarti Alloh SWT yang memilih bagaimana anak dapat formulir. Biar Alloh SWT saja yang memilih santri untuk saya. Biar Alloh saja yang mengatur siapa yang mendapat formulir serta bagaiamana caranya. Tugas saya sebagai kiai yang minterno semua santri baik yang sudah asli pinter maupun yang bodoh….”.

Pagi itu saya takjub dengan jawaban beliau yang begitu mendalam rasa pengabdiannya sebagai seorang Kiai. Sungguh pagi itu adalah dialog terbaik sepanjang masa yang pernah saya alami dimana saya menemukan kedalaman budi pekerti makrifatulloh dan keluasan pikiran dari seorang hamba Alloh SWT terpilih di zaman ini. Saya bersyukur bertemu dengan seorang manusia sedemikian layak untuk dihormati. Dan dari hari ke hari saya semakin banyak melihat serta mendengar, terutama dari suami saya, tentang keutamaan ahlak serta pemikiran beliau sebagai seorang Kiai di zaman ini. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan kesehatan dan kesejahteraan untuk beliau agar panjang umur dan membina semakin banyak generasi qur’ani yang memberkahkan bumi nusantara ini. amiin…