Tag Archives: cinta

Cobaan terberat bagi ibu yang anaknya mondok adalah: Keteguhan Hati

Standar

Profil 2

Tulisan saya ini sebenarnya semi curhat. Tapi mengingat curhat sejenis ini terdahulu yakni saat harus melepas anak saya, mbak ninid kecil, diusia 7 tahun mondok ternyata memberi banyak pengertian dan juga saling menguatkan sesama ibu yang memilih pendidikan pesantren untuk anaknya maka saya posting.

Hanya satu harapan saya dalam menulis soal “memondokkan” anak yakni bermanfaat untuk sesama ibu. Amiin.

ANAKKU SAKIT

Saat hari sambangan minggu lalu kutemukan mbak ninid kecil dalam keadaan demam, matanya merah, ¬†gusinya juga sangat merah dan batuk. Dihidungnya ada sedikit darah kering yg saya perkirakan ia mimisan. Tapi dia sangat ceria. Waktu kupeluk dengan sangat haru seraya bertanya:”mbak ninid sakit ya… Kita pulang ya sayang.. Izin dulu istirahat di rumah…” dia malah menjawab:”enggak umi aku nggak sakit… Kalau pulang nanti ngajinya ketinggalan….” ūüėĘūüėĘūüėĘūüėĘ

Padahal pikiran emaknya ini sudah “horor banget”. Jangan2 demam berdarah atau tipes… Ya Alloh… Hati dan pikiran sudah ketakutan ndak karuan. Kok sampai begini dia gak sambat sakit.

Akhirnya kami izin pulang beberapa hari agar  mendapat perawatan medis secukupnya. Saya baga ke UGD hari itu mengingat harinya adalah minggu dimana dokter praktik tutup. Ternyata dari hasil lab alhamdulillah negatif DB maupun types. Hanya saja leukositnya tergolong rendah sehingga harus total istirahat, minum obat dan makan yg cukup. Dokter juga mengizinkan pulang tidak harus opname tapi dalam pengawasan jika terjadi mimisan yang lebih intens atau panasnya tak terkendali maka harus kembali ke rumah sakit.

Alhamdulillah di rumah si kecil sholihahku ini bisa makan dengan baik meski tidak banyak (memang dasarnya tidak suka makan) dan juga tidur nyenyak tiap habis minum obat. Hari ke tiga sudah tidak demam, matanya sudah jernih, tidak mimisan dan gusinya tidak  merah meradang lagi namun batuk belum sembuh tapi sudah berkurang jauh. Kulitnya juga tampak segar kembali.

REMUK REDAMNYA DUNIA BATINKU

Tiap malam selama empat hari sejak itu saya tak bisa tidur. Rebah disisinya dengan waspada penuh. Padahal tiap bangun tidur mbak ninid kecilku ini ceria bertanya ummi kok tidur disini..? Kadang dia bangun untuk minum air yg kusediakan dalam botol disebelah bantalnya. Atau karena ingin pipis sebab sangat banyak minum.

Memandang wajahnya hatiku rasa remuk redam. Perasaan bersalah sebagai seorang ibu kok tidak di rumah saja dia sehingga bisa kuawasi langsung tiap hari. Kenapa tidak saya boyongkan saja nggak usah mondok lagi. Sekolah dan ngaji di rumah saja toh juga bisa. Saya mengajar banyak anak orang lain mengaji kenapa tidak saya ajari sendiri anak saya…? Apakah saya ini ibuk yang baik… Dst. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiranku.

Sesekali saya pindah ke kamar menemui suami dan berurai air mata saya curhat ingin mboyongkan saja anakku ini. Suamiku menasehati tentang sabar dan sebuah pertanyaan:”apakah hanya ummi yang anaknya mondok? Apakah ibunya teman2 ninid juga memboyong anaknya kalau sakit? Kalau orang lain (ibu2) bisa mengendalikan hati dan pikirannya apakah itu begitu sulit buat ummi….? Dulu kan ummi sudah mikir dan memutuskan soal mondok ini apakah hendak putus asa oleh hal ini…”.

Apakah itu bisa saya terima begitu saja? Tidak. Hatiku masih remuk redam… Melihat anak sakit ternyata lebih berat daripada menanggung rasa sakit itu sendiri. Saya percaya bahwa tiap ibu merasakan hal yang saya rasakan. Bahwa melihat anak sakit itu lebih sakit daripada saat diri kita sakit…. ūüėį

MENJERNIHKAN PIKIRAN DAN HATI

Sambil memandangi tubuh kecil anakku ini saya berusaha berfikir dengan jernih. Menjernihkan hati tentang tujuan awal kenapa dulu saya putuskan ia mondok, mengingat-ingat dengan baik bagaimana nasehat2 terbaik yang bisa saya jadikan pegangan. Selain mengenang sejarah ia mondok di usia sedini ini (ada di tulisan terdahulu dalam web ini) saya ingat kitab taklim , yang merupakan kitab pegangan umumnya santri, bahwa kesuksesan seorang pelajar berasal dari tiga pihak: kesungguhan santri itu sendiri, kesungguhan gurunya, dan kesungguhan orang tuanya. Anakku ini kesungguhan batinnya soal mondok tidak bisa saya ragukan, para pengasuhnya di pondok juga begitu sungguh2 terbukti ia ngajinya sudah sangat lancar meski belum sempurna, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah saya orang tuanya bersungguh-sungguh….?

Ini membuat saya makin trenyuh makin remuk redam. ¬†Jadi yang layak dipertanyakan hanyalah saya…? Iya hanya saya… Tentang kesungguhan saya…

Tidak mudah mengendalikan air mata saat mengalami hal ini. Tidak mudah mengendalikan perasaan saat mengalami hal ini. Namun dalam menuju suatu tujuan apapun memang tak mungkin tanpa aral melintang. Untuk lulus menjadi pribadi yang teguh pada tujuan, tidak mudah patah arang, tidak mudah berbelok atau berhenti di jalan terjal pastilah tidak mudah.

Menjadi seorang ibu berarti memberinya yang terbaik. Dan memberi yang terbaik tidak selalu indah dan menyenangkan… ¬†Bismillah semoga saya selalu menjadi seorang ibu yang tegar dalam menyayangi anak-anak saya dengan kebaikan sejati dan diridloi Alloh SWT. Amiin….

 

 

 

 

Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Standar
Kau telah mencuri hatiku maka kubalas dengan mencuri namamu dan kutaruh dibelakang namaku

Siang itu ada paket dari ensiklopbee yakni penerbit buku ensiklopedia bergambar untuk anak anak. ¬†Karena saya pindah ikut suami maka alamat pengirimanan kupindahkan ke alamat rumah suami. ¬†Dan karena saya penghuni baru maka saya berfikir biar pak pos tidak kesulitan mencariku maka kububuhkan nama suamiku dibelakang nama alamat post untukku: mahmudah fahrurrozi. Dan paket itu diterima suami saya dengan bingung memandang paket itu ¬†sejenak kemudian ¬†tertawa kecil. ¬†Dan kemudian aku sadar aku bahwa kami telah saling “mencuri”.

JODOH ADALAH RAHASIA ALLOH,  JATUH CINTA ADALAH TAKDIR DAN MENIKAH ADALAH NASIB YANG DIPERJUANGKAN OLEH ORANG YANG JATUH CINTA

Tak terbayangkan kami saling mengenal hanya hanya saling tahu katanya-katanya dari teman-teman tentang diri kami masing-masing dan facebooknya juga twitternya. Bertemu fisik sebentar sekedar kenalan lalu bertemu lagi seminggu kemdian hanya dalam tempo 10 hari berikutnya ¬†kami menikah. ¬†Hanya seperti itu saja. ¬†Begitu simpelnya… Begitu sederhananya.

Tidak simpel atau tidak sederhana adalah ragam respon yang kami terima. ¬†Bahkan ada salah satu respon yang terus berkembang hingga sekarang namun buat apa resah? ¬†Ini kisah cinta kita (cie…). ¬†Ini hidup kita. ¬†Ini keputusan yang kita pilih bersama sebagai pribadi dewasa yang sama sama sadar. ¬†Kami menjalani dengan bahagia.. ¬†(hehehe jujur ding, ¬†saya sedikit resah. Sedikiiiiit..).

Kisah kita mulai berkomunikasi personal bermula dari dua hal. Pertama karena saya akan ada syuting di lokasi lembaga abah (demikian kami ¬†menyebut suami saya) ¬†kedua karena ¬†abah mengkonfirmasi keberadaan seseorang yang mengaku sahabat saya dan menawarkan “banyak hal baru” buat abah. ¬†Dan kebetulan itu palsu alias sama sekali bukan sahabat sebab bertemu sekali saja tidak pernah. Selain itu abah bukan orang pertama yang konfirmasi soal orang ini. ¬†Sebelumnya pernah ada juga yg konfirmasi ke saya. ¬†Tapi saya tak berani mengatakan orang itu penipu. Saya hanya mengatakan bukan sahabat saya dan saya tidak ikut bertanggung jawab atas apapun apalagi jika sampai mengarah pada hal serius. ¬†Rupanya hal ini membuat kita diskusi serius lagi berlanjut guyon tidak serius lalu berkembang serius lagi. Sampai muncul statement: ¬†Kayaknya kita cocok, gimana kalau kita menikah saja. ¬†Ehehehehe…

Tau lagu jawa gak yang bunyinya gini: mo mo romo ono maling… ¬†Berdenting denting isi kepalaku bernyanyi mo mo romo ono maling… ¬†Hehehe.. ¬†Gak tau? ¬†Tanya mbah google+.

Abah duda 5 anak karena istri beliau terdahulu wafat ¬†dan saya janda 2 anak bercerai krn itu pilihan ¬†terbaik saat itu. Artinya status kami memang sama sama “terbuka”. Kita akhirnya ketemuan di restoran di belakang rumah dalam kompleks perumahan saya sebab itu tempat umum dan beliau ada perjalan ke surabaya dimana lokasi ini adalah jalur perjalanannya. Disitu kita berkenalan dan banyak guyon berbagai hal yang ternyata kami ketahui bersama. ¬†Soal partai sebagai “rumah lama” kami yang kebetulan sama, ¬†soal humor-humor pesantren, soal tokoh2 panutan kami dan soal soal kecil lainya.

Dua hari berikutnya saya ada perjalanan ke semarang untuk komgres ilmu politik bersama Adipi di Semarang mulai tanggal 2-5 Juni 2016 dan disela selanya yakni tanggal 3 juni pagi buta saya berangkat ke bandara semarang terbang ke Jakarta menuju Universitas Indonesia ¬†untuk registrasi dan penerimaan formal administratif mahasiswa baru S3 UI. ¬†Sorenya langsung balik ke Semarang lagi melanjutkan acara. ¬†Ya, ¬†status saya adalah mahasiswi S3 UI saat berkenalan dengan abah. ¬†Dan saya sudah merencakan hijrah ke jakarta untuk menjalani kuliah s3. Masuk UI tidak mudah sahabatku… Seleksinya cukup membuat saya terpaksa belajar Tes Potensi Akademik, Toefl dan menulis proposal desertasi serta menghadapi majlis penguji untuk mempertanggungjawabkan proposal tersebut.

Saya bertemu lagi dengan abah di tanggal 7 Juni dalam buka puasa bersama kolega abah di rumah makan agis. Ya itu sdh masuk bulan ramadhan dan disitulah kami bicara serius tentang menikah. Ya ada kolega dekat abah yang hadir itu mensupport kami untuk menikah saja. ¬†Sebenarnya saya agak jengah sih sebab agak “sensi” sayamikir ini teman-teman abah kok kayak panitia seleksi atau dewan juri yang habis sidang pengambilan keputusan aja…

Akhirnya setelah bicara dengan orang-orang terdekat masing-masing kami bersepakat menikah di tanggal 2 Juli 2016 dirumah keluarga saya Lamongan.  Namun beberapa hari kemudian abah menelfon menyampaikan permintaan ibunda beliau agar pernikahan dipercepat tanggal 17 Juni di ndalem ibunda agar beliau bisa menyaksikan langsung mengingat secara fisik (kesehatan) tak mungkin keluar kota.  Yang beliau maksud adalah menikah secara agama sehingga yang tanggal 2 Juli tetap diselenggarakan di Lamongan.

Kami membahas hal ini serius mengingat ini permintaan seorang ibu.  Usia ibu sudah sangat sepuh serta abah terbiasa patuh pada ibu.  Berbagai kemungkinan masalah kami bahas dan kami putuskan mengabulkan permintaan ibu dengan membuat akad nikah ini di kalangan terbatas. Tidak diumumkan mengingat kami sudah pamit ke banyak pihak bahwa akan menikah di tanggal 2 Juli dan itu sudaj cukup mengagetkan banyak pihak.  Toh dari 17 juni menuju 2 Juli adalah waktu yang relatif singkat.

Tanggal 17 juni hari akad nikah itu sebenarnya jadwal saya telah tersusun padat. Terjadwal Saya syuting sebagai host program sobo pondok di UB TV kebetulan di pondok pesantren yang diasuh sahabat sekolah di tambakberas yakni Gus Muhammad dan istrinya yang juga sahabat saya semasa remaja di tambakberas yakni inayatur rosyidah yakni pesantren darul falah areng areng Batu. ¬† Saya tak mungkin membatalkan syuting. ¬†Jadilah saya tetap syuting dan meskipun belum tuntas saya sudahi pada jam 2 siang untuk ¬†berangkat menikah. ¬†Iya sahabat, ¬†saya berangkat menikah kayak berangkat maen. ¬†Tak sempat ganti baju, ¬†tak sempat mandi, ¬†tak sempat renew make up selain sisa syuting seharian itu… ¬†Mungkin saya ini satu satunya pengantin yang tak sempat mandi saat akan akad nikah, hehehe… ¬†(lebay ya?). ¬†Demi takzim kami pada permintaan ibunda.

Namun sahabatku… ¬†Waktu itu relatif. ¬†Yang kita fikir singkat ternyata begitu cepatnya menyebarkan berita pernikahan kami dan sempat membingungkan keluarga besar serta sahabat dan kolega ¬†yang sudah kita pamiti penyelenggaraan di tanggal 2 Juli. Kepalang basah ya sudah mandi sekali.. ¬†Kami mulai mengkonfirmasi agar tidak tersebar dan berkembang menjadi fitnah. ¬†Apakah tak ada fitnah..? ¬†InsyaAlloh tidak ada… ¬†Hanya menyisakan sedikit salah faham saja. ¬†Sedikiiit saja, hehehe…

Hikmahnya adalah pernikahan kami pada tanggal 2 Juli semakin membahagiakan serta melegakan banyak pihak yang selama ini peduli pada masing masimg dari kami. ¬†Semua tersenyum bahagia pada kami hari itu.. Tentu saja kecuali yang bertahan memilih salah paham dan atau ¬†paham yang salah, ¬†hehehehe….

Kami merenungi bersama tentang jodoh. ¬†Bagaimana saya yang sekian tahun menjanda “mbulet” selalu tiap ada yang melamar dan bagaimana beliau banyak menerima ¬†“banyak kandidat istri” dari sahabat sahabatnya dan jalur lainnya ternyata berubah pikiran saat sebentar saja bertemu saya. Sedemikian juga abah berfikir begitulah taqdir beroperasi ¬†manakala abah merencanakan umroh akhir ramadhan namun paspornya hilang ketlisut entah dimana sehingga abah tidak bisa daftar berangkat umroh. ¬†Untuk mengurus paspor baru karena hilang butuh waktu lama. ¬†Dan begitulah ternyata akhir ramadhan adalah waktu yg Alloh tentukan untuk kami menikah. ¬†Lucunya paspor itu muncul begitu saja terlihat di laci padahal abah merasa sudah memeriksa laci itu sebelumnya namun tak menemukan paspornya. ¬†Jodoh memang rahasia ilahi.

Kami juga sering merenungi bersama bagaimana kami bertemu dan hati kami menjadi begitu saling bertaut dalam waktu begitu singkatnya. Kami menyimpulkan ini adalah takdir. Hanya Alloh yang mampu meletakkan perasaan menerima satu sama lain dalam berbagai kerumitan masing-masing. Hanya Alloh yang mampu membuat kami berpikir bukan hanya secara rasional untuk membuat kami saling mengalah untuk jalan hidup bersama yang baru. Jalan yang saling melapangkan satu sama lain meski dalam rangka itu kita saling berkorban.  Hanya kekuatan Alloh yang hanya Alloh yang mampu membuat segalanya menjadi mudah jalannya untuk sesuatu yang umumnya rumit.  Ya,  jatuh cinta itu kekuatan takdir.  Hanya takdirnya yang mampu saling mentautkan dua hati.

Kami juga sesekali sambil guyon maupun serius merenengi bagaimana masing dari kami meyakinkan diri sendiri atas pilihan ini,  meyakinkan pihak lain yang mempertanyakan dan sekaligus bagaimana kami mengelola support pihak lain yang mendukung sekaligus mengelola penolakan pihak lain dalam berbagai motif mereka.  Dan kami berkesimpulan inilah perjuangan. Takdir kita adalah jatuh cinta sebab itu kekuatan Alloh dan kita memperjuangkannya menjadi sebuah ikatan suci pernikahan.

DAN BENARLAH KATA BIJAK BANYAK ORANG : SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU.

Entah siapa yang memulai mengucapkan kalimat ini sehingga ini menjadi kalimat umum untuk pasangan yang baru menikah.

Kami menyadari betul bahwa kita bisa lega berkata alhamdulillah kita akhirnya menjadi pasangan halal dalam akad yang sesuai ridlo Alloh.  Namun sebenarnya ini adalah awal dari hidup baru dan bukan akhirnya.  Akhir itu mungkin hanya sekedar akhir sebuah periode menuju satu periode lain. Ya untuk alhamdulillah sekaligus ini adalah bismillah.  Bismillahirrohmanirrochim. Surabaya, 8 September 2016.

 

Kak Nay Mondok Juga Akhirnya…

Standar

13962692_1080754745306509_1227309429162709118_nTentang Prestasi Dan Bakat Yang Dikhawatirkan Tak Terfasilitasi

Sungguh dulu saya sangat takut membayangkan kedua anakku mondok semua. membayangkan betapa kesepiannya saya tanpa kedua anakku yang tengil, lucu, sholihah dan banyak akal ini. Terlebih saat itu saya masih tinggal di sebuah perumahan yang relatif lengang di sebuah kota tanpa sanak saudara di sini, kota malang, kota yang tanpa sanak saudara.

Kak Nay sangat aktif di sekolah. Dia banyak sekali memiliki prestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non akademik. Di bidang akademik kak nay pernah mengharumkan nama sekolahnya dengan meraih juara 1 olympiade sains bidang bahasa inggris se provinsi Jawa Timur yang waktu final tingkat nasionalnya diselenggarakan di UGM Yogyakarta bersamaan waktunya dengan jadwal masuk pondok pesantren pilihannya yakni almunawwariyyah sudimoro bululawang malang. Karena itu kak nay secara ihlas tidak berangkat ke yogya untuk mengikuti final nasional.

Di bidang non akademik Kak Nay banyak sekali memiliki piala dari berbagai cabang perlombaan dari berbagai instansi penyelenggara di berbagai tingkatan khususnya di bidang kemampuan komunikasi seperti  presenter radio, presenter televisi, ceramah agama/pildacil, story telling, juga menyanyi dalam group paduan suara. Kak Nay juga beberapa kali menjadi presenter tamu acara anak-anak di Radio Kosmonita Malang saat dia duduk di kelas 5 SD. Selain itu Kak Nay juga aktif menulis buku komik dan komik pertamanya akan segera diterbitkan.

Kebanyakan teman-temanku yang tau “reputasi” Kak Nay ini menyatakan “eman” atau “sayang” atau khawatir atas rencana kak nay melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Umumnya alasan mereka adalah khawatir kemampuan akademik dan juga bakatnya akan tidak berkembang dengan baik dengan alasan bahwa kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan di Pondok Pesantren tidak mampu bersaing dengan sekolah umumnya yang ada di luar khususnya di Kota Malang. Bahkan ada juga kawan saya¬† yang secara jelas menyatakan bahwa jika kak nay mondok dia khawatir kelak kak nay tak akan bisa memiliki karir yang baik.

Awalnya komentar beberapa teman tentang “eman” sama Kak Nay sempat membuat saya berfikir apakah potensi dan bakat kak nay akan “terpupus” dan justru tidak berkembang ketika ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren. Sebagai seorang ibu saya sempat merenung berkali-kali tentang bagaimana saya harus mengambil keputtusan untuk jenjang pendidikan lanjut bagi anak gadis pertamaku ini. Selain banyak merenung saya juga memilih beberapa orang sukses dan bijaksana (versi saya) di sekitar saya untuk saya ajak berdiskusi tentang Kak Nay yang bagi saya adalah seorang anak yang tentu saja berkah hidup. Sebagai berkah hidup saya berusahan menjaganya dan memberinya yang terbaik.

Beberapa catatan penting dari nasehat berbagai pihak itu saya rekam baik-baik dalam ingatan saya antara lain:

  1. ketika kita memilih jalan pendidikan agama Alloh untuk anak-anak kita maka yakinlah Alloh yang menjaga dan mengatur kebaikan untuk anak kita di dunia dan akhirat.
  2. kalau anak kita menjaga al-quran maka alquran akan menjaganya.
  3. karir yang baik bukan semata didapat dari ijazah/sekolah yang baik justru dari kepribadian yang baik.
  4. mencari ilmu bukan untuk mendapat pekerjaan. jika sekolah untuk dapat pekerjaan itu adalah niat sekolah yang salah. sementara niat yang salah berarti segala hal yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dalam niat itu maka otomatis juga salah. artinya sepanjang jalan dilalui adalah salah atau bahasa lainnya adalah tersesat.
  5. kenapa banyak orang berfikir kalau punya anak cerdas dan berprestasi maka jangan dipondokkan? sementara kalau anaknya bebal nakal dan menyusahkan maka sebaiknya dipomdokkan saja? itu adalah pikiran yang salah tentang pondok pesantren sebagai bengkel moral dimana orang tua ketika tak mampu mendidik lalu diserahkan pada kiai.. Justru seharusnya kalau anak berpotensi positif maka berilah lingkungan yang positif yakni pondok pesantren.
  6. anak yang mondok akan memiliki bekal yang baik untuk berbakti dengan cara berbakti sesuai aturan Alloh SWT. Bukan hanya baik namun juga benar secara agama.
  7. dst.

Ternyata setelah berhasil memondokkan mengatasi pergolakan batin memondokkan mbak ninid kecil saya masih juga mengalam pergolakan batin saat memondokkan kakaknya. Hanya saja kali ini lebih banyak aspek rasionalnya. mungkin karena kak nay lebih “cukup umur” dibanding adeknya yakni mbak ninid kecil saat berangkat mondok.

Masalah Berikutnya: Gagal Mendapat Formulir Dalam Antrean

Sebenarnya masalah ini sudah saya bayangkan mengingat pengalaman dan pernyataan beberapa wali santri lain yang bercerita tentang sulitnya mendapatkan formulir untuk masuk ke pesantren ini. Di bagian lain blog ini telah saya ceritakan sulitnya formulir masuk pondok pesantren ini  dalam judul anakku mondok. Setelah bagian ini akan sedikit saya ulas lagi.

Hari antrean formulir itu saya berangkat jauh lebih pagi dari biasanya yakni jam 6 pagi. namun ternyata antrian untuk formulir itu telah terbentuk semenjak bakda subuh. Selain itu yang mengantri kebanyakan bapak-bapak dan tentu saja wajah-wajah mereka “tampak waspada” dan “siap berebut”. Tentu saja saya yang perempuan serta bertubuh ramping (cie….) tak berdaya melihat pemandangan tersebut dimana tak sampai 20 menit formulir telah habis.

Sedih..? iya banget. Saya sangat sedih sebab berfikir bahwa ternyata saya tak mampu berusaha sendiri untuk memuliakan anak saya belajar di tempat yang menurut saya sangat baik. Selain itu saya juga sedih sebab merasa kurang bersyukur dimana tahun sebelumnya anakku Mbak Ninid kecil mendapatkan formulir tersebut tanpa antri sama sekali. Hari itu saya menangis pada Kak Nay seraya minta maaf pada kak nay. Di Luar dugaanku Kak nay menjawab:”Sudahlah Umi jangan sedih… dimanapun aku mondok aku akan berusaha jadi anak yang baik dan selalu sayang umi…”. Pagi itu aku termehek-mehek pasrah pada alloh SWT sekaligus bersyukur atas sikap Kak Nay¬† sampai ketika suara WA (Whatsapp) berdenting-denting dari HP di tanganku. Tiba-tiba aku tersadar suatu peluang…

Saya lalu menelfon seorang sahabat lama yang ketika berkontestasi di pilkada lokal berkali-kali minta bantuan saya baik urusan lobi ke DPP Partai induk yang bersangkutan untuk kepentingan rekomendasi¬† maupun dalam hal pemenangan di tingkatan basis. Ya Alhamdulillah yang bersangkutan menang/berhasil dalam pilkada tersebut. Kebetulan saya tahu yang bersangkutan rumahnya tidak jauh dari sini dan saya juga tahu yang bersangkutan sering “sowan” baik sebagai tamu undangan pejabat lokal maupun “sowan” sebagai santri ke pesantren ini. Dan alhamdulillah telpon saya langsung dianngkat dengan sapaan:”Assalamualaikum, Sedang dimana ini neng?” saya jawab:”Di Sudimoro Almunawwariyyah?”. Beliau bertanya lagi: “Ngapain? antri formulir tah? ” “Iya..”¬†¬† “Sudah gak usah antri nanti saya sowan ke situ saya mintakan formulir. Ini saya masih di bandara jakarta nanti turun malang langsung saya ke situ sebelum pulang. Formulirnya nanti saya antar ke rumah njenengan di Riverside”. Alhamdulillah…¬† padahal saya bukan sedang antri tapi sedang hampir putus asa sebab tak kebagian formulir.

Beberapa hari kemudian formulir telah sampai di tangan saya.. penuh takjub saya pandangi formulir itu. Betapa mudahnya Alloh memberi solusi dari jalan yang tak pernah disangka-sangka…¬† sungguh rezeki tiada tiara.

Tentang terbatasnya formulir: Dialog saya dengan pengasuh setahun yang lalu

Dialog ini setahun lalu ketika pertama kali saya datang untuk mendaftarakan ninid tanpa formulir sebab dihantarkan via telfon langsung pada pengasuh Kyai maftuh Said oleh Guru Kami Kyai Said Khumaidi Lamongan. Saya datang pada hari ahad yang kemudian baru saya tahu istilahnya adalah hari sambangan. Di hari itu via telpon abah yai Said bilang supaya langsung menemui beliau di masjid. Dan saya lihat kerumunan orang tua wali santri penuh takdzim pada sesosok yang dari jauh tampak begitu berwibawa berbicara pada mereka di serambi samping masjid pondok tersebut..

Saya segera membaur dalam kerumunan tersebut dan beliau langsung menerima saya dengan sapaan:”Ini dari mana (asalnya)?” Segera saya menjawab dan menjelaskan hal ihwal kedatangan saya serta tak lupa menyampaikan salam dari abah yai said. Di luar dugaan saya (sebab saya belum paham situasi sulitnya mendapat formulit tersebut) beliau berkata pada semua bahwa beliau menerima anak saya sebab titipan sahabat beliau. Agak bingung saya mulai memperhatikan wajah-wajah para wali santri dan mulai memahami dan menyimpulkan bahwa ternyata kebanyakan mereka ini sedang memohon mendapatkan formulir tersebut namun sudah tidak tersedia lagi. Anakku (Mbak Ninid) juga sebenarnya tidak diberi formulir melainkan hanya secarik kertas yang ditulis langung dengan tangan oleh Pak Kiai dan ditujukan pada pengurus.

Dengan agak penasaran saya bertanya pada beliau:”Pak yai kenapa tidak diterima semua saja..?” Beliau menjawab:”kalau saya terima semua itu berarti saya kurang memulikan para santri sebab fasilitas yang tersedia tidak cukup untuk menerima semua. Saya kan harus melayani santri sebaik-baiknya….”. Dengan masih penasaran saya bertanya kembali:”Pak yai kenapa tidak diterima semua lalu di test saja sehingga semua mendapat kesempatan yang sama untuk bisa diterima di pondon pesantren ini…?” Di luar dugaan saya belaiau bertanya lagi:”Di test itu maksudnya dipilih yang pintar? atau saya memilih santri yang masuk sini adalah yang pintar dan bisa menjawab soal testnya…?” Dengan agak galau saya menjawab iya. lalu beliau menjelaskan:”Semua orang tua ingin anaknya jadi pintar, ngerti dan alim. Kalau Kiai mikirnya milih anak santri yang pintar lalu yang meminterkan bocah bodoh siapa..? Mosok Kiai tego ninggal umat bodoh…? Test disini ya cukup itu saja: dapat formulir. Kalau berhasil mendapat formulir ya berarti lulus test masuk. Untuk dapat formulir itu berarti Alloh SWT yang memilih bagaimana anak dapat formulir. Biar Alloh SWT saja yang memilih santri untuk saya. Biar Alloh saja yang mengatur siapa yang mendapat formulir serta bagaiamana caranya. Tugas saya sebagai kiai yang minterno semua santri baik yang sudah asli pinter maupun yang bodoh….”.

Pagi itu saya takjub dengan jawaban beliau yang begitu mendalam rasa pengabdiannya sebagai seorang Kiai. Sungguh pagi itu adalah dialog terbaik sepanjang masa yang pernah saya alami dimana saya menemukan kedalaman budi pekerti makrifatulloh dan keluasan pikiran dari seorang hamba Alloh SWT terpilih di zaman ini. Saya bersyukur bertemu dengan seorang manusia sedemikian layak untuk dihormati. Dan dari hari ke hari saya semakin banyak melihat serta mendengar, terutama dari suami saya, tentang keutamaan ahlak serta pemikiran beliau sebagai seorang Kiai di zaman ini. Semoga Alloh senantiasa melimpahkan kesehatan dan kesejahteraan untuk beliau agar panjang umur dan membina semakin banyak generasi qur’ani yang memberkahkan bumi nusantara ini. amiin…

 

 

Militansi Cinta Kucing Kampung

Standar

12548963_952585768123408_4665429549717036557_n

Saya bukan pecinta kucing namun juga bukan pembenci kucing. Tapi kucing-kucing ini selalu di depan rumah saya. Pada awalnya kucing-kucing kampung ini secara rutin dikasih kerupuk jatah sarapan pagi Mbak Ninid¬† kecil. Mbak Ninid kecil memang sangat menyayangi mereka meskipun terkadang tampak “bereksperimen” terhadap mereka. Mbak Ninid kecil yang sewaktu itu masih sekolah tingkat¬† TK di TK BSS (Brawijaya Smart School) ini meyakinkan guru dan teman-temannya bahwa makanan kucing bukanlah ikan pindang melainkan krupuk, permen, kue-kue yang enak dan daging ayam. Lah ya memang Mbak Ninid tidak salah sebab dalam pengetahuannya kucing-kucing ini doyan makanan yang disebutkan oleh Mbak¬† Ninid dan belum pernah kucing ini makan ikan pindang dari kami sebab Kak Nay benci ikan pindang. Saya menyesuaikan dengan hampir tidak pernah ada ikan pindang dalam menu kami.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Entah dari mana asalnya, awalnya hanya ada satu dan sekarang sudah ada sekitar lima ekor. Seringkali mereka berusaha masuk rumah tiap ada yang membuka pintu rumah kami meskipun sebentar saja. Mereka sudah mengintai depan pintu dan syuuuut langsung masuk rumah saat pintu dibuka. Militan sekali mereka mengintai dan menunggu pintu kami dibuka karena hendak keluar rumah. Bahkan pada suatu hari mereka berusaha masuk dari celah bawah pintu rumah. Cakar mereka berusaha menggapai-gapai dan akhirnya berhasil menarik keset keluar rumah. Rupanya memang keset itu tujuan mereka. Mereka jadikan alas tidur depan pintu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Beberapa tetangga yang lain juga ada yang care sama mereka. Cukup diteriakin “Pus…Pus…!” lalu makanan ditaruh di tanah dan mereka para kucing-kucing ini akan berhamburan mengejar yang neriakin mereka ini. Namun tetap saja setelah puas makan mereka ini kembali di depan pintu rumah saya. Duduk manis terkadang menyeringai licik penuh makna waspada menunggu pintu di buka.¬† Pernah saya bilang:”Pus, Bu Bambang kan sayang sama kalian kenapa gak jaga pintu rumah Bu Bambang aja sich…?”. Mereka menjawab dengan sangat tegas:”Meong… meong… meong…”.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Seringkali saat pulang kantor, mobilku baru masuk gang saja kucing-kucing ini berhamburan mengejarku. Dan saat turun dari mobil mereka sudah mengerubuti kakiku seraya menggosok-gosokkan kepala mereka di kakiku. Geli dan risih sebenarnya namun belakangan ini saya jadi ingat respon Mbak Ninid kecil yang saat ini sudah mondok (Mulai kelas satu SD pertengahan tahun 2015) terhadap ulah kucing-kucing seperti ini. Ia akan menggendong salah satunya lalu mulai duduk depan rumah. Kucing-kucing itu kemudian naik di pangkuannya. Dan Mbak Ninid kecil  ngobrol sama mereka seraya tertawa gembira seolah kucing-kucing ini bercakap-cakap dengannya. Duh dasar anak kecil pikirku.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Yah, belakangan ini saya mulai membiarkan mereka menggosok-gosokkan kepalanya di kakiku sebab saya rindu Mbak Ninid yang sedang mondok. Membayangkan ia yang menikmati situasi ini.¬† Sesekali saya marahi mereka jika masuk rumah namun saya mulai bisa memahami sikap dan respon Mbak Ninid kecil terhadap mereka. Saya mulai mengerti suara mengeong itu beda-beda intonasinya… Terkadang saya mulai membaca beragam makna ngeong itu melalui mata mereka. Mata mereka berbicara banyak hal: saat mengedip perlahan dan mengeong perlahan saya merasa mereka berkata aku sayang kamu…¬†¬† Di saat yang lain mereka mengajak bermain dengan membawa daun-daun kering di kaki mereka kayak main bola aja. Menjengkelkan ketika mereka mulai mengasah kuku mereka dengan mencakar-cakar ban mobil. Lebih menjengkalkan lagi jika mereka mulai naik atap mobil melalui tembok rumah dan membuat guratan-guratan bekas cakar mereka di cat body mobil namun saat mau kumarahi mata mereka berkata:”ini asyik.. lihat mobilmu jadi artistik…” Duh!!

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Ada tetangga (gang sebelah) memelihara kucing luar negeri alias impor. Konon dia beli seharga 4-5 Juta. Namun beberpa waktu kemudian kucing itu hamil dan melahirkan. Tentu saja kucing bayi itu berwajah setengan kampung sebab emak kucing itu “menikah” dengan kucing kampung…¬† Tak kusangka ternyata Tuan kucing itu membuang si bayi kucing dengan alasan jenis begini tidak berkelas dan¬† merusak garis keturunan saja….¬† astaga, saya teringat jomblo2 yang ditolak¬† calon mertua karena kurang ini dan itu. Di Dunia perkucingan pun ada menjaga garis murni keturunan perkucingan ras tertentu.

Kucing-kucing ini selalu di depan rumah. Mereka ini kucing, yakni salah satu jenis binatang. Tentu saja mereka tak punya konsep mencuri. Jika dalam suatu kesempatan mereka berhasil membobol secara cerdik pertahanan pintu rumah kami maka itulah kecerdikan. Dalam suatu kesempatan kecil mereka ambil dengan sangat cermat dan tepat apalagi jika tidak ketahuan sampai mereka kenyang dan mulai mengeong minta dibukakan pintu.¬† Tentu pada awalnya aku sebut itu mencuri. “Dasar kucing pencuri!!”. Belakang aku mulai berfikir benarkah mereka pencuri? tidak ada hukum dalam dunia perkucingan maka bagaimana mungkin ada pencurian. Pastinya hanya berlaku hukum rezeki. Jadi jika mereka mengambil makanan pastilah itu karena makanan itu rezeki mereka. Yah, kucing dan dunia perkucingan mereka ini mendidik saya tentang memiliki terhadap makanan-makanan tersebut.

Kucing-kucing ini selalu di depan¬† rumah. Tak peduli berapakalipun saya usir mereka, tetap saja hanya bergeser sejenak untuk kemudian kembali ambil posisi manis di depan pintu rumah. Sepertinya itu ungkapan cinta mereka pada kami seisi rumah secara militan. Seringkali mereka menyayangi saya dengan cara yang paling mereka suka yakni melarang saya memasak. Terutama jika sudah terlanjur belanja daging ayam.¬† Mata mereka seolah berkata;”Sudah gak usah repot…¬† Mentahan aja sampiyan ndak usah masak….” Dan begitulah mereka, sampai hari ini mereka adalah alasan utama untuk banyak¬† kejadian seperti hari inihari ini (sering terulang sich!): Saya gak jadi memasak….