Tag Archives: Jombang

Mereka menyebut kami “Mbak Muallimat”: Catatan kenangan untuk hari santri

Standar

photogrid_1477007464724 From Tambakberas With Love

Ini tulisan kenangan. Yang namanya kenangan ya romantislah,  hehehe…

Madrasah Muallimat ini adalah tempat sekolah saya di lingkungan pondok pesantren tambakberas yang kondang karena banyak kehebatan pengasuhnya khususnya  mbah pengasuh kami yang adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Madrasah ini bernama Muallimin Muallimat Atas (MMA)  dan Muallimin Muallimat Pertama (MMP).  Sebenarnya MMP dan MMA ini satu paket tak terpisah.  Karena itu sering juga ditulis madrasah muallimin muallimat 6 tahun. Begitulah nama  yang kami kenal dari sekolah kami.

Nama formal madrasah ini sebenarnya Madrasah Menengah Atas (MMA).  Itu bentuk ikhtiar yg dilakukan sejalan dengan aturan pendidikan nasional agar bisa terdaftar dan kita punya ijazah. Sabab musabab lainnya adalah sekolah ini 6 (enam) tahun sehingga 3 (tiga)  tahun awal secara formal disebut Madrasah Menengah Pertama  (MMP)  yang secara formal setara SMP. Kok secara formal lagi…?  Iya,  jangan dikira yang masuk MMP ini setara usia MMP..  Dibawah nanti dijelaskan 😄😄😄

Madrasah tempat kami sekolah ini memiliki banyak keunikan.  Pertama,  kurikulumnya 60% (atau 70% ya 😉) adalah agama berbasis kitab salaf dan sisanya baru umum. Kedua,  hampir semua kiai dan gus tambakberas  bereputasi keilmuwan ngajar disini. Ini kebanggaan tersendiri. Bahkan Gus Dur juga pernah punya sejarah menjadi kepala sekolah sebentar  disini dan istri beliau bu nyai sinta juga pernah sekolah disini.  Tapi ini saya belum pernah verifikasi langsung hehehe…  Intinya para alumni itu bangga bahwa ini sekolahnya banyak tokoh hebat di kalangan NU. Nah itu adalah keistimewaan ketiga.  Iya,  banyak tokoh mulai dari level kampung hingga nadional adalah alumni sekolah ini.  Meskipun ini adalah sekolah yang kuat tradisi keilmuwan islam secara tradisional ala pesantren namun faktanya alumninya sukses ada di berbagai sektor profesional maupun informal. Keempat,  secara penampilan fisik juga khas.  Sekolah disini berarti tidak pakai sepatu sebab masuk kelas ngebak/nyeker/tanpa alas kaki.  Jilbab yang kami pakai adalah minang.  Terbuat dari kain memanjang yang berpola khas. Kalau upacara kami tidak berbaris-baris melainkan duduk duduk di area pelataran dan kadang depan kelas. Kelima,  untuk masuk kesini tidak mudah namun bukan sulit.  Tidak mudah sebab harus menaklukkan perasaan apakah siap lebih umur (ini penghalusan dari kata tua)  di pondok. Masuk muallimat kebanyakan berasal dari MI khusus di tambakberas yg juga telah konsentrasi ilmu agama.  Jika bukan lulusan MI tersebut jangan dikira bisa masuk. Kalau tak lulus tes maka siap siaplah masuk MI lagi,  hehehe…  Saya dengar sekarang sudah ada kelas persiapan. Jika anda sudah lulus SMP/MTs jangan dikira bisa masuk MMA.  Anda harus tes yg jika tak lulus maka siap siaplah masuk MMP meskipun sudah berijazah SMP.  Nah,  harus siap “lebih berumur” di pondok kalau sekolah muallimat. Emang tesnya apa sich?  Alquran, Setor hafalan alfiyah dan baca kitab kuning gundulan sahabat…  😉😉. Keenam: sekolah ini adalah pencetak para pengurus,  ustadz dan ustadzah di semua kompleks pondok pesantren di lingkungan pesantren Bahrul Ulum Tambak beras.  Dengan kata lain keberlangsungan sistem pengajian beserta ketersediaan ustadz ustadzah di komplek pondok2 dibawah yayasan besar bahrul ulum ini diamankan oleh sekolah muallimin muallimat ini. Dengan kata lain santri yang sekolah disini dianggap lebih mumpuni secara keilmuan pesantren dan memiliki kelayakan mengajar di pondok maupun lainnya dimana kata muallimin muallimat sendiri memang merujuk pada makna guru.

Sungguh keberadaan madrasah ini adalah pemikiran luar biasa dari masyayikh tambak beras.  Tambakberas menyediakan sekolah semua tingkatan pendidikan negeri maupun swasta sambil terus mereproduksi ustadz ustadzah melalui madrasah muallimin muallimat untuk membantu para pengasuk mengajar di madrasah diniyah pondoknya.  Di tengah situasi banyak pondok lain yang “ngajinya kalah” sama sekolah formalnya sehingga pondoknya “berasa kos-kosan”,  tambak beras menjaga keseimbangan ketersediaan guru ngaji kitab kuning salafi tradisional  dengan sekolah khusus ini meskipun sekolah formalnya baik yg negeri maupun swasta terus bergerak makin modern dan maju.

Karena kelebihan kelebihan diatas (catat ya..  Termasuk: kelebihan usia!😂) menjadikan seragam kami lebih penting daripada nama kami.  Tak heran dalam banyak kesempatan di pondok,  bahkan sekedar pas ngantri beli bakso, kami dipanggil: “Mbak Muallimat”. Sementara hampir tak pernah kudengar ada panggilan:”Mbak Aliyah”, “Mbak SMA”, “Mbak Tsanawiyah”, apalagi “Mbak SMP”.

Ya, disamping kelebihan usia,  anggapan mumpuni secara keilmuwan,  juga penampilan fisik kami memang khas dengan penutup kepala bernama minang seperti dalam gambar diatas. Minang ini adalah jenis penutup kepala muslimah dari masa lampau.  Agak kuno bin ketinggalan zaman.  Alih alih menggunakan jilbab kekinian sebagaimana umumnya penutup kepala muslimah Indonesia kontemporer sekolah kalo  ini malah melestarikan penutup kepala kuno bernama minang ini.   Mungkin karena masyayikh kami sangat berpegang teguh pada qoidah: almuhafadzoh ala qodimissholih wal ahdlu bil jadidil aslah.