Tag Archives: ngaji

Cobaan terberat bagi ibu yang anaknya mondok adalah: Keteguhan Hati

Standar

Profil 2

Tulisan saya ini sebenarnya semi curhat. Tapi mengingat curhat sejenis ini terdahulu yakni saat harus melepas anak saya, mbak ninid kecil, diusia 7 tahun mondok ternyata memberi banyak pengertian dan juga saling menguatkan sesama ibu yang memilih pendidikan pesantren untuk anaknya maka saya posting.

Hanya satu harapan saya dalam menulis soal “memondokkan” anak yakni bermanfaat untuk sesama ibu. Amiin.

ANAKKU SAKIT

Saat hari sambangan minggu lalu kutemukan mbak ninid kecil dalam keadaan demam, matanya merah, ┬águsinya juga sangat merah dan batuk. Dihidungnya ada sedikit darah kering yg saya perkirakan ia mimisan. Tapi dia sangat ceria. Waktu kupeluk dengan sangat haru seraya bertanya:”mbak ninid sakit ya… Kita pulang ya sayang.. Izin dulu istirahat di rumah…” dia malah menjawab:”enggak umi aku nggak sakit… Kalau pulang nanti ngajinya ketinggalan….” ­čśó­čśó­čśó­čśó

Padahal pikiran emaknya ini sudah “horor banget”. Jangan2 demam berdarah atau tipes… Ya Alloh… Hati dan pikiran sudah ketakutan ndak karuan. Kok sampai begini dia gak sambat sakit.

Akhirnya kami izin pulang beberapa hari agar  mendapat perawatan medis secukupnya. Saya baga ke UGD hari itu mengingat harinya adalah minggu dimana dokter praktik tutup. Ternyata dari hasil lab alhamdulillah negatif DB maupun types. Hanya saja leukositnya tergolong rendah sehingga harus total istirahat, minum obat dan makan yg cukup. Dokter juga mengizinkan pulang tidak harus opname tapi dalam pengawasan jika terjadi mimisan yang lebih intens atau panasnya tak terkendali maka harus kembali ke rumah sakit.

Alhamdulillah di rumah si kecil sholihahku ini bisa makan dengan baik meski tidak banyak (memang dasarnya tidak suka makan) dan juga tidur nyenyak tiap habis minum obat. Hari ke tiga sudah tidak demam, matanya sudah jernih, tidak mimisan dan gusinya tidak  merah meradang lagi namun batuk belum sembuh tapi sudah berkurang jauh. Kulitnya juga tampak segar kembali.

REMUK REDAMNYA DUNIA BATINKU

Tiap malam selama empat hari sejak itu saya tak bisa tidur. Rebah disisinya dengan waspada penuh. Padahal tiap bangun tidur mbak ninid kecilku ini ceria bertanya ummi kok tidur disini..? Kadang dia bangun untuk minum air yg kusediakan dalam botol disebelah bantalnya. Atau karena ingin pipis sebab sangat banyak minum.

Memandang wajahnya hatiku rasa remuk redam. Perasaan bersalah sebagai seorang ibu kok tidak di rumah saja dia sehingga bisa kuawasi langsung tiap hari. Kenapa tidak saya boyongkan saja nggak usah mondok lagi. Sekolah dan ngaji di rumah saja toh juga bisa. Saya mengajar banyak anak orang lain mengaji kenapa tidak saya ajari sendiri anak saya…? Apakah saya ini ibuk yang baik… Dst. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiranku.

Sesekali saya pindah ke kamar menemui suami dan berurai air mata saya curhat ingin mboyongkan saja anakku ini. Suamiku menasehati tentang sabar dan sebuah pertanyaan:”apakah hanya ummi yang anaknya mondok? Apakah ibunya teman2 ninid juga memboyong anaknya kalau sakit? Kalau orang lain (ibu2) bisa mengendalikan hati dan pikirannya apakah itu begitu sulit buat ummi….? Dulu kan ummi sudah mikir dan memutuskan soal mondok ini apakah hendak putus asa oleh hal ini…”.

Apakah itu bisa saya terima begitu saja? Tidak. Hatiku masih remuk redam… Melihat anak sakit ternyata lebih berat daripada menanggung rasa sakit itu sendiri. Saya percaya bahwa tiap ibu merasakan hal yang saya rasakan. Bahwa melihat anak sakit itu lebih sakit daripada saat diri kita sakit…. ­čś░

MENJERNIHKAN PIKIRAN DAN HATI

Sambil memandangi tubuh kecil anakku ini saya berusaha berfikir dengan jernih. Menjernihkan hati tentang tujuan awal kenapa dulu saya putuskan ia mondok, mengingat-ingat dengan baik bagaimana nasehat2 terbaik yang bisa saya jadikan pegangan. Selain mengenang sejarah ia mondok di usia sedini ini (ada di tulisan terdahulu dalam web ini) saya ingat kitab taklim , yang merupakan kitab pegangan umumnya santri, bahwa kesuksesan seorang pelajar berasal dari tiga pihak: kesungguhan santri itu sendiri, kesungguhan gurunya, dan kesungguhan orang tuanya. Anakku ini kesungguhan batinnya soal mondok tidak bisa saya ragukan, para pengasuhnya di pondok juga begitu sungguh2 terbukti ia ngajinya sudah sangat lancar meski belum sempurna, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah saya orang tuanya bersungguh-sungguh….?

Ini membuat saya makin trenyuh makin remuk redam. ┬áJadi yang layak dipertanyakan hanyalah saya…? Iya hanya saya… Tentang kesungguhan saya…

Tidak mudah mengendalikan air mata saat mengalami hal ini. Tidak mudah mengendalikan perasaan saat mengalami hal ini. Namun dalam menuju suatu tujuan apapun memang tak mungkin tanpa aral melintang. Untuk lulus menjadi pribadi yang teguh pada tujuan, tidak mudah patah arang, tidak mudah berbelok atau berhenti di jalan terjal pastilah tidak mudah.

Menjadi seorang ibu berarti memberinya yang terbaik. Dan memberi yang terbaik tidak selalu indah dan menyenangkan… ┬áBismillah semoga saya selalu menjadi seorang ibu yang tegar dalam menyayangi anak-anak saya dengan kebaikan sejati dan diridloi Alloh SWT. Amiin….

 

 

 

 

Iklan

Fitnah Yang Menghidupkan Dan Fitnah Yang membunuh

Standar

Profil 2

Video Viral ┬áchat yang ditudingkan bersumber dari seorang wanita cantik dan seorang pemimpin ormas islam membuat saya ingin menuliskan kembali renungan diri saya bertahun lalu saya merasa sangat terpuruk dalam situasi penuh fitnah. Tulisan ini tak hendak menghakimi siapapun sebab ini semacam bicara pada diri sendiri. ┬áJadi ini renungan pribadi. ┬áJika ada hal baiknya monggo diambil jika ada buruknya maafkan dan abaikan kelemahan serta kebodohan saya…

Apa itu fitnah?

Sebenarnya saya tidak ingin terjebak pada pembahasan definitif soal fitnah adalah bla bla bla… ┬áNamun bolehlah sedikit kita ta’rif secara umum. ┬áKita mafhum secara awam bahwa fitnah adalah tuduhan tidak benar yang disangkakan atau ditudingkan pada seseorang yang mengakibatkan orang tersebut menyalami kerugian dalam berbagai jenis. ┬áNamun sebenarnya ┬ákalau kita menilik lebih jernih soal fitnah ini dalam pembahasan islam maka kita juga akan bertemu dengan petunjuk Alloh tentang fitnah yang perlu “mengernyitkan dahi” sejenak: innama amwalukum wa awladukum fitnah. ┬áSesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah. ┬áNah loh.. ┬áKalau harta okelah tapi kok anak-anak yg kita lahirkan juga fitnah…? ┬áMaka fitnah disini berarti juga cobaan bukan…? ┬áBisa juga berarti amanah untuk bersikap benar sesuai tuntunan bukan…? ┬áKanapa ini saya sampaikan. ┬áAgar bisa masuk ke alam logika berikutnya dari tulisan pendek ini.

Dua sisi fitnah: Korban Dan Pelaku

Sering kita mendengar bahwa fitnah itu lebih kejam dibanding pembunuhan. Mengapa demikian? ┬áSebab fitnah itu membunuh berkali-kali. ┬áSebaran fitnah itu bisa mengakibatkan beragam ekspresi dari banyak pihak / orang mulai dari level ringan seperti mencibir hingga level berat seperti beneran membunuh korban fitnah ini. ┬áKarena itulah fitnah bisa membuat orang terbunuh berkali-kali: terbunuh nama baiknya, ┬áterbunuh harga dirinya, ┬áterbunuh kehormatan keluarga atau keturunannya hingga membahayakan keselamatan jiwa pada level terbunuh nyawanya… Nah, ┬á Lebih kejam bukan? Sungguh lebih kejam dari sekedar terbunuh bagi seorang korban fitnah.

Namun tidak selalu korban fitnah terbunuh secara fisik kan? ┬áMari kita lihat dengan jernih dari sudut pandang lain. ┬áManakala seseorang tertimpa fitnah lalu kemudian ia menghadapi dengan tegar, ┬ámenjernihkan dengan jelas dan membuktikan dengan sungguh-sungguh atas kebenaran maka sesungguhnya fitnah itu bukan membunuh melainkan membuat hidupnya semakin hidup. ┬áLa yukallifullohu nafsan illa wus’aha, Alloh tidak membebani sesuatu melainkan sesuai kemampuan, ┬ábukankah demikian? Banyak kisah sepanjang perjalanan ┬áummat dimana orang besar semakin besar saat terpapar fitnah namun juga ada orang besar dan “habis” karena fitnah. ┬áSaya ingin mengambil contoh besar bayangkan fitnah yg ditanggung bunda Maryam yg suci ┬ásaat Hamil Isa Al Masih. ┬áJelas Bunda Maryam tidak berzinah namun bagaimana menjelaskannya pada manusia biasa di kala itu…? Dan Bunda Maryam hanya diam saja serta menunjuka bayi tersebut. ┬áLalu kita ke contoh yang agak kontekstual seorang pejabat yang tampak sangat religius secara fisik tertangkap tangan dalam OTT KPK RI berkata:”Saya tertimpa fitnah… ┬áIni cobaan besar buat saya sekeluarga… ” Begitulah manusia tertimpa fitnah dan manusia yang merasa tertimpa fitnah. ┬áFitnah tersebut harus dihadapi sesuai levelnya: fitnah isu/gosip ya tabayyun/klarifikasi, fitnah mengandung unsusr hukum ya harus pembuktian bersih dari sangkaan/tuduhan, fitnah beresiko pada keselamatan ya harus prioritas menghindari resiko tersebut, ┬áfitnah pada integritas ya harus dibuktikan pada kinerja serta seiring waktu dalam perilaku serta bagaimana dengan fitnah yang pada level ambang batas rasionalitas kemanusiaan…? ┬áBergurulah pada Bunda Maryam: Diam dalam kesabaran serta tawakkal meminta Allohlah yang menjernihkan… ┬á ┬áIni level paling “mengerikan”…. ┬áDalam artian membutuhkan keimanan super kuat. Dan banyak orang besar kita kenal dalam sejarah adalah orang-orang yang lolos karena integritasnya saat menghadapi “pembunuhan” bersumber fitnah.

Sekarang lebih kejam dibanding pembunuhan pada sisi pelaku. ┬áMenurut saya disinilah konteks yang lebih penting. ┬áYakni Dosa!. ┬áMaksudnya dosa yang harus ditanggung pelaku fitnah adalah dosa yang lebih kejam/lebih besar dari sekedar suatu pembunuhan. ┬áSebab pelaku fitnah berarti pelaku pembunuhan berkali kali. ┬áIya, ┬áberkali kali sebanyak efek dari fitnah itu “membunuh” korban mulai dari membunuh nama baik, ┬áharga diri, ┬áharkat martabat hingga keselamatan nyawa korban beserta keluarganya. ┬áTuh, ┬ákejam dan berat kan dosa yang harus ditanggung…? ┬áKarena itu hati-hatilah jangan terlibat fitnah. ┬áOiya, ┬ábagaimana yang terlibat…? ┬áMisalnya hanya terlibat kasak kusuk…? ┬áSahabatku… ┬áBegitulah fitnah bekerja.. Kasak kusuk itulah yang memperbesar dan memperlebar efek fitnah… ┬á­čś░­čś░­čś░┬áini baru fitnah-fitnah sekitaran ┬ákita padahal Alloh SWT mengingatkan kelak ada fitnah besar yakni Fitnah Dajjal… ┬áSemoga kita semua sekeluarga diselamatkan Alloh dari segala fitnah khususnya finah yang membawa pada segala jenis kekufuran. ┬áAmiin…

Salam hangat penuh cinta

Mar’atul Makhmudah. ┬áIbu Rumahtangga di Kabupaten Malang.

 

 

 

 

JIPING

Standar

Jiping kependekan dari “Ngaji Kuping” atau dalam bahasa indonesia mengaji dengan telinga (mendengarkan). istilah ini sangat dimengerti di kalangan islam tradisional indonesia khususnya di jawa timur yang merujuk pada pembelajaran agama yang dilakukan kalangan awam yakni hanya dengan mendengarkan.
Mengapa hanya mendengarkan? pada awalnya hanya mendengarkan ini dilakukan sebagai cara minimal mengingat keawaman dan keterbatasan. Misalnya dalam situasi “nderes” atau muroja’ah atau membaca bersama al-qur’an maka yang tidak bisa membaca akan mendengarkan sehingga diyakini mendapatkan pahala sebagaimana yang membaca. Dalam situasi mengaji kitab kuning maka yang tidak mampu menulis makna dalam tulisan arab jawa/pegon akan “jiping” atau cukup mendengarkan dengan seksama sehingga memiliki pahala sebagaimana yang juga menulis serta mendengarkan mauidhoh hasanah (ceramah agama) dalam pengajian umum juga berlaku “jiping”.
Jiping ini jika kita hayati mendalam pengistilahan ini sebenarnya adalah bentuk kebijaksanaan masyarakat islam tradisional untuk memberi posisi yang baik dan mulia bagi kalangan awam dalam belajar agama islam serta beribadah.
Nah, sekarang apa kaitan jiping ini dengan saya? jika ada kategori awam untuk melakukan jiping ini maka saya harus dilempar jauh-jauh dari karakteristik awam. Namun faktanya, jiping ini adalah kelakuan sehari-hari saya. Lebih tepatnya, jiping menjadi wahana “ngeles” atau berdalih dari yang seharusnya saya mengaji dengan memegang mushaf serta “maknani” kitab saat belajar kitab kuning. Saat maghrib saya nyalakan chanel TV Al-Qur’an dari Pilihan chanel TV berlangganan yang isinya siaran live thowaf dari masjidil haram dan diiringi suara merdu imam sana yang mengaji, jadi saya jiping sambil mengikuti lantunan ayat sang imam. Saat perjalanan jarak dekat seperti ke kampus maupun jarak jauh seperti sewaktu pulang kampung, saya menyalakan CD mengajinya imam assudais dan alghomidi yang tersedia di Mobil. Dan kelakuan ini saya jadikan pembenaran jika ibu saya bertanya:”apakah kamu di malang teetap istiqomah mengaji?”. “iya bu saya masih rajin ngaji kok, lihat HP saya aja ada Al-qurannya…” sambil dalam hati membayangkan kelakuan jiping dan merenungi dengan agak ngenes mushaf alqur’an yang mungkin agak berdebu. Yes, maksudku Jiping itu ngeles alias berdalih. Jangan ditiru ya… Ini kurang sip alias tidak keren!!
Namun jujur saja, jiping ini sungguh menentramkan hati untuk orang kota (cie…) pendatang macam saya ini (aslinya orang kampung). Bayangkan di komplek perumahan saya masyarakatnya menolak “berisik” di masjid. maksudnya mereka tidak suka ada aktifitas dengan toa atau pengeras suara dari masjis selain pada jam sholat itupun hanya adzan dan jama’ah serta sedikit sholawat pas hendak qomat dikumandangkan. Tentu sebagai orang hobi jiping kayak saya ini sungguh situasi yang tidak menyenangkan. Maka dari itu ketima perkampungan sebelah mulai punya alat pengeras suara baru di masjid mereka sehingg “berisiknya” terdengar hingga ke rumah saya di komplek adalah suatu berkah tersendiri.
Saya menikmati jiping tiap selasa pagi mereka membaca dziba’ meskipun lagunya kadang-kadang mereka pakai dangdut koplo dan njengkelin, hehehe.. tiap rabo mereka baca burdah yang indah itu. Dan tiap kamis pagi mereka baca tahlil lengkap dengan terlebih dahulu menyebut nama-nama ahli kubur yang mereka kirimi do’a. Kemudian jumat mulai bakda shubuh mereka khotmil qur’an hingga jam 9 pagi. Bayangkan ini adalah kebahagian luar biasa bagi para “Jipingers” macam saya.
Tiba-tiba saya ingat khittoh kaum Jipingers seharusnya adalah para awam dan jumlah mereka sangatlah banyak. Betapa bahagianya mereka dengan keberisikan masjid itu… dan tiba-tiba saya teringat pemerintah yang sempat “berisik” melarang masjid-masjid ini “berisik”. Loh, berisik seindah ini kok dilarang…?.
Mau bahas dalam konteks kebijakan publik? hem, saya sedang tidak asik melihat ini dengan kacamata kebijakan yang kemudian artinya adalah melarang “berisik” yang kayak gini.
MasyaAlloh…. Sepertinya mencintai “berisik”nya ahlul ilmi dan ahlul ibadah di masjid ini sebagian dari iman. bener gak ya…?
Wallahu a’lam.