Tag Archives: politik

Memahami Kepemimpinan Kyai Bagi Warga NU: Kyai Makruf Amin, NU, MUI dan Pilkada DKI 2017

Standar

Profil 2

Ahok “kesleo lidah” lagi (?) setelah tafsir almaidah 51. Kali ini “kesleo lidah” memperkarakan serta kuasa hukumnya yang sangat tidak sopan terhadap Kyai Makruf Amin selaku ketua MUI yang berstatus saksi dalam persidangan kasus penistaan agama akibat “kesleo lidah” yang pertama.  Begitu banyak warga Nahdliyin marah baik tokoh2nya dan warganya  secara personal melalui akun medsos hingga release resmi organisasi dalam berbagai  tingkatan hingga berbagai badan otonom di lingkungan PBNU.  Ngeri kalau NU sudah marah. Pihak yang paling ngeri harusnya adalah tim Ahok.  Mengapa?  Ini ormas terbesar Bro…  Posisinya jelas tidak merugikan Ahok selama ini.  Pihak yang senang?  Kita semua  tahu siapa saja mereka dan seperti apa kelakuannya,  hehehe…

Pilkada DKI effect

Banyak yang mengatakan pilkada DKI ini pilkada rasa pilpres.  Bukan semata karena  Agus Yudhoyono,  salah satu kontestan,  adalah putra Mantan Presiden SBY namun juga efek yang ditimbulkan serta keterlibatan masyarakat begitu luas melampaui batas wilayah administratif provinsi DKI itu sendiri.

Pro-kontra terhadap para kontestan,  khususnya incumbent yakni Ahok, juga berlangsung dalam fluktuasi yang sulit diperkirakan dinamikanya.  Misalnya hingga menimbulkan gerakan 212 yang begitu masif dengan dipromotori kalangan islam garis keras memanfaatkan momentum fatwa MUI yang merespon “kesleo lidah” Ahok menyoal tasir alquran surat  Almaidah ayat 51. Bahkan buntut dari gerakan tersebut adalah saling intrik politik tiada habisnya khususnya ditujukan pada para pemimpin gerakannya yakni Habib Riziq Shihab di satu sisi dan Megawati Soekarno di sisi lainnya.

Namun bukan mereka yang hendak saya bahas disini melainkan Kyai Makruf Amin yang terseret pusaran arus dinamika  konflik politik kontestasi pilkada rasa pilpres ini.  Kyai Makruf adalah Ketua MUI yang sekaligus juga adalah Rois Aam PBNU yang dalam AD/ART berarti pimpinan tertinggi dari ormas terbesar di Indonesia ini. Kita semua mafhum bahwa fatwa MUI inilah yang dieksploitasi habis gerakan islam garis keras. Lhoh jadi yai makruf amin bagian dari gerakan tersebut dong?  Lhoh tapi kok sikap PBNU malah  tidak mempermasalahkan  terhadap figur kepemimpinan  non muslim Ahok?  Jadi warga NU itu gimana sich…?  Nah,  jika berfikir tanpa memahami budaya NU ya gitu itu hasilnya : bingung!.

Kepemimpinan Kyai: Personal ataukah institusional?

Kyai Makruf boleh jadi saksi dalam kapasitas sebagai ketua MUI.  Tapi jangan lupa beliau Rois Am PBNU yang artinya pemimpin tertinggi.  Warga NU secara umum sudah sangat menghayati budaya tawadhu’ yakni penghormatan serta kepatuhan terhadap Kiai.  Jangankan pada pimpinan tertinggi pada kiai kampung saja sikap tawadhu’ ini sungguh2 diterapkan.

Beberapa pihak  pendukung Ahok mencoba klarifikasi bahwa yang terjadi adalah dalam kapasitas kyai Makruf sebagai MUI bukan sebagai PBNU.  Nah,  penjelasan tersebut pastilah dari pihak yang tidak memahami budaya NU. Benar duduk si persidangan dalam kapasitas MUI namun kehormatan Kyai Amin dalam posisi apapun dan sedang duduk dimanapun adalah kehormatan pemimpin tertinggi NU sebagai organisasi. Begitu juga sebagai seorang Kyai beliau adalah panutan warga NU.  Termasuk jika kelak purna dari PBNU beliau juga tetap kehormatan bagi warga NU.  Lihatlah bagaimana warga NU mencintai Gus Dur selepas PBNU,  juga Kyai Hasyim Muzadi,  dan seterusnya.  Tidak ada pembedaan tegas posisi kepemimpinan institusiona maupun personal dalam tradisi NU.

Sikap tawadhu’ ini bukan hanya terjadi saat ini.  Sikap ini adalah ajaran yang bersumber dari kitab2 yang diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi NU.  Bahkan dalam tradisi pesantren tradisional NU sikap iniadalah  doktrin.  Para santri rela mati untuk menjaga kehormatan Kyiainya.

Jika memahami ini maka pasti tidak heran dengan respon sikap yg muncul dari berbagai kalangan NU ini.  Juga pasti tidak akan klarifikasi soal posisi Kyai Makruf di MUI.

Pertanyaan berikutnya soal kok PBNU tidak ikut jadi pembela fatwa MUI dan tidak terlibat gerakan tersebut…?  Ini juga bagian dari tradisi NU soal pengambil posisi tawassuth.  Ada tradisi sikap tawassut yakni di tengah-tengah,   tasamuh yaknk toleran dan ta’adul atau adil berimbang.  Ada beragam suara dari kalangan kyai soal fatwa MUI tersebut bukan hanya tentang fatwanya melainkan juga tentang konteks masalahnya.  Karena itulah PBNU tampak mengambil sikap demikian sesuai tradisi sikap organisasi.  Dan kalangan  kyai NU, baik di PBNU struktural maupun non struktural,  sangat dewasa soal perbedaan pendapat. Jadi meskipun ada sementara kalangan Kyai yang berbeda dengan pendapat Kyai Makruf di MUI namun itu tidak mengurangi penghormatan dari kalangan Kyai tersebut terhadap Kyai Makruf selaku Rois Am PBNU.  Bahkan saya lihat beberapa tokoh besar di NU yang selama ini pro Ahok pun memposting kemarahan mereka terhadap sikap Ahok yg tidak menghormati Kyai Amin di persidangan tersebut.

Akhirnya jika ada pertanyaan apakah Ahok tidak akan dimaafkan warga NU? Apakah tidak dimaafkan oleh Kyai yang bersangkutan?   Itulah asyik dan hebatnya NU.  Pasti dimaafkan…  Berkaca kasus Gus Mus, Habib Quraisy Shihab, Kyai Said Aqil yang di hina netizen di medsos namun dengan begitu entengnya memaafkan,  mendoakan bahkan memberikan hadiah….   Subhanalloh indahnya akhlaq para kyiai panutan kami warga NU…

Fitnah Yang Menghidupkan Dan Fitnah Yang membunuh

Standar

Profil 2

Video Viral  chat yang ditudingkan bersumber dari seorang wanita cantik dan seorang pemimpin ormas islam membuat saya ingin menuliskan kembali renungan diri saya bertahun lalu saya merasa sangat terpuruk dalam situasi penuh fitnah. Tulisan ini tak hendak menghakimi siapapun sebab ini semacam bicara pada diri sendiri.  Jadi ini renungan pribadi.  Jika ada hal baiknya monggo diambil jika ada buruknya maafkan dan abaikan kelemahan serta kebodohan saya…

Apa itu fitnah?

Sebenarnya saya tidak ingin terjebak pada pembahasan definitif soal fitnah adalah bla bla bla…  Namun bolehlah sedikit kita ta’rif secara umum.  Kita mafhum secara awam bahwa fitnah adalah tuduhan tidak benar yang disangkakan atau ditudingkan pada seseorang yang mengakibatkan orang tersebut menyalami kerugian dalam berbagai jenis.  Namun sebenarnya  kalau kita menilik lebih jernih soal fitnah ini dalam pembahasan islam maka kita juga akan bertemu dengan petunjuk Alloh tentang fitnah yang perlu “mengernyitkan dahi” sejenak: innama amwalukum wa awladukum fitnah.  Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah.  Nah loh..  Kalau harta okelah tapi kok anak-anak yg kita lahirkan juga fitnah…?  Maka fitnah disini berarti juga cobaan bukan…?  Bisa juga berarti amanah untuk bersikap benar sesuai tuntunan bukan…?  Kanapa ini saya sampaikan.  Agar bisa masuk ke alam logika berikutnya dari tulisan pendek ini.

Dua sisi fitnah: Korban Dan Pelaku

Sering kita mendengar bahwa fitnah itu lebih kejam dibanding pembunuhan. Mengapa demikian?  Sebab fitnah itu membunuh berkali-kali.  Sebaran fitnah itu bisa mengakibatkan beragam ekspresi dari banyak pihak / orang mulai dari level ringan seperti mencibir hingga level berat seperti beneran membunuh korban fitnah ini.  Karena itulah fitnah bisa membuat orang terbunuh berkali-kali: terbunuh nama baiknya,  terbunuh harga dirinya,  terbunuh kehormatan keluarga atau keturunannya hingga membahayakan keselamatan jiwa pada level terbunuh nyawanya… Nah,   Lebih kejam bukan? Sungguh lebih kejam dari sekedar terbunuh bagi seorang korban fitnah.

Namun tidak selalu korban fitnah terbunuh secara fisik kan?  Mari kita lihat dengan jernih dari sudut pandang lain.  Manakala seseorang tertimpa fitnah lalu kemudian ia menghadapi dengan tegar,  menjernihkan dengan jelas dan membuktikan dengan sungguh-sungguh atas kebenaran maka sesungguhnya fitnah itu bukan membunuh melainkan membuat hidupnya semakin hidup.  La yukallifullohu nafsan illa wus’aha, Alloh tidak membebani sesuatu melainkan sesuai kemampuan,  bukankah demikian? Banyak kisah sepanjang perjalanan  ummat dimana orang besar semakin besar saat terpapar fitnah namun juga ada orang besar dan “habis” karena fitnah.  Saya ingin mengambil contoh besar bayangkan fitnah yg ditanggung bunda Maryam yg suci  saat Hamil Isa Al Masih.  Jelas Bunda Maryam tidak berzinah namun bagaimana menjelaskannya pada manusia biasa di kala itu…? Dan Bunda Maryam hanya diam saja serta menunjuka bayi tersebut.  Lalu kita ke contoh yang agak kontekstual seorang pejabat yang tampak sangat religius secara fisik tertangkap tangan dalam OTT KPK RI berkata:”Saya tertimpa fitnah…  Ini cobaan besar buat saya sekeluarga… ” Begitulah manusia tertimpa fitnah dan manusia yang merasa tertimpa fitnah.  Fitnah tersebut harus dihadapi sesuai levelnya: fitnah isu/gosip ya tabayyun/klarifikasi, fitnah mengandung unsusr hukum ya harus pembuktian bersih dari sangkaan/tuduhan, fitnah beresiko pada keselamatan ya harus prioritas menghindari resiko tersebut,  fitnah pada integritas ya harus dibuktikan pada kinerja serta seiring waktu dalam perilaku serta bagaimana dengan fitnah yang pada level ambang batas rasionalitas kemanusiaan…?  Bergurulah pada Bunda Maryam: Diam dalam kesabaran serta tawakkal meminta Allohlah yang menjernihkan…    Ini level paling “mengerikan”….  Dalam artian membutuhkan keimanan super kuat. Dan banyak orang besar kita kenal dalam sejarah adalah orang-orang yang lolos karena integritasnya saat menghadapi “pembunuhan” bersumber fitnah.

Sekarang lebih kejam dibanding pembunuhan pada sisi pelaku.  Menurut saya disinilah konteks yang lebih penting.  Yakni Dosa!.  Maksudnya dosa yang harus ditanggung pelaku fitnah adalah dosa yang lebih kejam/lebih besar dari sekedar suatu pembunuhan.  Sebab pelaku fitnah berarti pelaku pembunuhan berkali kali.  Iya,  berkali kali sebanyak efek dari fitnah itu “membunuh” korban mulai dari membunuh nama baik,  harga diri,  harkat martabat hingga keselamatan nyawa korban beserta keluarganya.  Tuh,  kejam dan berat kan dosa yang harus ditanggung…?  Karena itu hati-hatilah jangan terlibat fitnah.  Oiya,  bagaimana yang terlibat…?  Misalnya hanya terlibat kasak kusuk…?  Sahabatku…  Begitulah fitnah bekerja.. Kasak kusuk itulah yang memperbesar dan memperlebar efek fitnah…  😰😰😰 ini baru fitnah-fitnah sekitaran  kita padahal Alloh SWT mengingatkan kelak ada fitnah besar yakni Fitnah Dajjal…  Semoga kita semua sekeluarga diselamatkan Alloh dari segala fitnah khususnya finah yang membawa pada segala jenis kekufuran.  Amiin…

Salam hangat penuh cinta

Mar’atul Makhmudah.  Ibu Rumahtangga di Kabupaten Malang.

 

 

 

 

Selera Humor Dan Teror Bom Jakarta (Teror Vs Humor)

Standar

Terorisme itu tidak lucu. Gak ada lucu-lucunya namun mengapa netizen indonesia justru menjadikan kejadian teror bom jakarta sebagai obyek kelucuan yang beragam macam bentuk? mulai dari posting lucu, meme lucu, surat terbuka lucu dan kelucuan lainnya.. tentu saja ada juga respon serius maupun sok serius bertebaran di media sosial. tapi lebih asik saya ngobrol soal yang lucu-lucu aja disini. ngobrol santai….

sudah lazim orang tahu bahwa tujuan utama terorisme adalah menyerbarkan rasa takut dan mengokohkan eksistensi mereka di tengah masyarakat. artiya kaum teroris ini membunuh satu orang untuk membuat takut ribuan orang. mereka meledakkan bom di satu lokasi simbolis untuk mengirim pesan ke berbagai penjuru atas keberadaan mereka dan tujuan jangka panjang mereka. dan kasus bom jakarta ini ditengarai sebagai aksi ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah). setidaknya demikianlah release yang yang dilakukan pihak kepolisian serta pengakuan yang diunggah pihak isisi sendiri. http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://news.detik.com/internasional/3118788/isis-klaim-dalangi-teror-bom-jakarta-sebut-targetnya-warga-asing, http://elshinta.com/news/42538/2016/01/15/polisi-berhasil-identifikasi-pelaku-teror-bom

Namun ini Indonesia.. Respon yang muncul bukannya rasa takut melainkan rasa humor. Entah sejak kapan bangsa ini menjadi begini penuh humor. Dulu memang pernah bangsa kita mengidentifikasi diri sebagai bangsa yang ramah (era orba) bahkan dalam kurikulum sekolah di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila namun di rezim berikutnya terjadi chaos begitu rupa dan kita tak lagi  mengidentifikasi diri sebagai bangsa ramah itu sebab kemarahan, tawuran gang maupun suporter bola, kelompok atas nama agama membakar warung di bulan ramadhan serta mengacungkan pedang di jalan-jalan,  hingga baku  tembak kelompok masyarakat,   bisa terjadi dimana saja kapan saja. tentu itu mencekam.  Namun mungkin lebih tepatnya pada awalnya mencekam hingga kemudian menjadi terbiasa setelah serangkaian teror-teror “pendahuluan”.

Respon humor ini memang dalam beragam bentu. ada yang gambar atau lazim disebut meme, kisah humor, percakapan (imajinatif)  humor seperti para teroris bom jakarta itu “budhek” (tuli) disuruh ke suriah malah ke sarinah, serta bentuk lainnya.   Beberapa meme  berikut beredar luas di kalangan netizen misalnya berikut:

Beberpa hal lucu yang saya tangkap dalam humor para Netizen Pertama, mereka menjadikan respon “wong cilik” yang bekerja di lokasi kejadian sebagai bukti hal lucu dimana di belahan negeri lain saat ada aksi terorisme warganya berlarian menjauh. sedangkan tukang sate, pedagang asongan, dan para pengamen jalanan justru mearasa ini adalah momen peningkatan omset. So, foto mereka tetap asik bekerja di tengah situasi yang seharusnya penuh takut adalah kelucuan penting pertama. ini adalah pesan netizen pada teroris bahwa masyarakat tidak takut. Kedua, Masyarakat menjadikan kejadian ini tontonan. Bukannya berhamburan menjauh alih-alih masyarakat berkumpul menyaksikan kejadian padahal polisi saja berlindung di belakang  mobil-mobil mereka di tengah baku tembak. Seolah pesan masyakarat penonton itu bahwa kami tak takut peluru nyasar atau peluru kalian mengarah pada masyarakat. What?! Ini tidak takut atau tak sadar bahaya…?.   Ketiga, tentu saja infotainment juga punya produk penting yakni polisi ganteng yang sedang beraksi di arena menjadi artis baru di kalangan gadis-gadis remaja dan penggemar infotainment yang mengolah informasi ala infotainment tentunya. Bayangkan situasi terorpun yang seharusnya mencekampun   bisa menciptakan artis lokasi (arlok) yang membuat dada penonton infotainment berdebar-debar menonton acara ini. Semacam istilah cinta lokasi (Cinlok) yang juga muncul dari dunia infotainment. Keempat, tentu nasionalisme juga ambil tempatlah. Muncul juga respon dalam berbagai bentuk itu tentang betapa Indonesia adalah bangsa besar yang tidak takut teror serta tidak takut menghadapi terorisme. Tagar-tagar yang muncul sejalan ini misalnya: #indonesiaberani, #KamiTidakTakut dan sebagainya. Simak saja berita ini: http://www.tribunnews.com/nasional/2016/01/15/tagar-seputar-teror-jakarta-bermunculan-dari-kamitidaktakut-sampai-cumadegdegan .

Tentu saja ada pula humor yang tidak layak dilakukan oleh netizen dan segera mendapat serangan protes netizen lagi untuk kemudian dihapus yang memposting. Misalnya meme yang menjadikan polisi di arena kejadian sebagai bahan humor. Saya pasti tidak memuat disini sebab saya juga tidak setuju menjadikan polisi yang sedang berjibaku itu sebagai bahan humor.

So, pertanyaan beriutnya benarkan hal tersebut benar-benar humor? Bolehkah humor ini dilakukan? layakkah? Membicarakan humor ini membuat saya terkenang Gus Dur yang sering menjadikan humor sebagai cara efektif untuk menyampaikan pesan. Beberapa pesan humor Gus Dur bahkan saat ini menjadi kode umum dari masyarakat untuk mengkritik negara misalnya; “Gitu aja kok repot” untuk merespon tiap kali berhadapan dengan hal birokratis dan “anggota DPR kayak anak TK” menjadi ungkapan umum ketika ada kasus kelakuan anggota DPR yang kurang layak. Jadi kalau teroris menyampaikan pesan agar mereka diakui dan takuti dengan cara teror maka kemudian masyarakat (netizen) menjawan pesan tersebut dengan cara humor yang berarti tidak takut. Pesan tersirat dijawab dengan pesan tersirat. Mungkin boleh juga kalau saya bilang disini: tetaplah berselara humor yang serius dan jadikan selera humor secara benar.  Melawan serta mengkritik dengan humor juga toch bukan kali pertama  terjadi di negeri ini.