Tag Archives: Pramuka

Mengapa Iwan Fals Membuatmu Bahagia? Catatan “generasi pernah remaja” nonton konser 55 tahun iwan fals dalam rangka hari pramuka ke 55 Provinsi Jawa Timur

Standar

Siapa yang tidak mengenal nama Iwan Fals di negeri ini?  Jika ada survey tokoh Indonesia yang paling berpengaruh maka hampir pasti nama Iwan Fals ini masuk dalam jajaran nama tersebut.  Terlebih jika diberi batasan periode di era kekuasaan orde baru.

Berikut beberapa catatan penting betapa Iwan Fals ini menorehkan denting denting kebahagiaan dalam memori kolektif lintas generasi.

1. Hanya Iwan Fals yang secara terpadu meramu kritik,  romantisme,  dan juga kenakalan umumnya remaja menjadi kenangan segala rasa.

Musik dengan lagu lagu sarat keprihatinan dan  kritik sosial politik dengan nada keras khas anak muda menjadi icon perlawanan generasi muda Indonesia pada penguasa tirani saat itu. Ingatkah sahabat pada si Bento? Juga ingatkah sahabat pada suatu siang di tugu pancoran? Juga Si Budi?  Atau pada Bapak kita Umar Bakri?

Selayaknya anak muda,  pada periode penuh aksi heroik romantisme menjadi warna penting yang tak mungkin ditinggalkan. Lagu yang sungguh fenomena dan hampir tak ada generasi 80-90an yang tak bisa mendendangkan syair “suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai dan memandang….. “. Namun tetap saja aksi romantisisme ala Iwan Fals masih juga sarat kritik. Misalnya ketika seorang pria menunggu kekasihnya datang di stasiun sebab naik kereta. Si pria ini sudah bergegas karena rindu namun harus pasrah pada kenyataan layanan kereta apa yang selalu hampir pasti terlambat.. “sampai stasiun kereta pukul setengah dua duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga kereta tiba pukul berapa…?  Biasanya kereta terlambat dua jam mungkin biasa… “.

Bahkan kenakalan ala-ala  berperikemanusiaan juga akan kita temui pada karya Fals muda misalnya di lagu “Lonteku terimakasih  atas pengertianmu…”. Juga nakalnya anak sekolah yang “mupeng” melihat guru muda cantik seksi di kelas sehingga ingin memacari gurunya dalam lagu bertajuk Guru Zirah.  “Zirah namanya guru muda kelasku.. Betisnya aduhai bagai salak raksasa… “. Juga nakalnya anak sekolah yang memadu kasih dalam bait bait buku ini aku pinjam.  Khas modus pedekate anak muda zaman tersebut: meminjam buku.  Generasi sekarang apa masih modus pinjam buku?  Sepertinya modus baru ala generasi masa kini bukan buku tapi follow akun medsos 😂😂😂

2. Iwan Fals mendidik generasi muda tidak cengeng.

Di era muda iwan fals,  lagu cengeng memiliki ruang luas di publik. Kegagalan cinta yang meratap ratap ala penyanyi penyanyi cantik yang minta dipulangkan ke rumah orang tuanya dan sebagainya.

Lagu Fals dengan sangat “fals” itu hakekatnya adalah fals atau sumbang (tak enak didengar) bagi kemapanan,  ketidakadilan serta kelaliman penguasa. Tentu bukan fals dalam artian yang sesungguhnya sebab suara Iwan Fals yanh biasa disapa Bang Iwan ini sangat menghayutkan di lagu romantis dan sangat luar biasa di lagu lagu keras bersemangat.

Hingga Bang Iwan beranjak tua di usia 55 tahun ini kualitas “tidak cengeng” sungguh menginspirasi generasi muda.  Tengoklah syair lagu relatif anyar berikut:”aku lelaki tak mungkin menerimamu bila ternyata kau mendua membuatku terluka, tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu, jangan pernah memilih aku bukan pilihan…. “.

3. Iwan fals menginspirasi pengikutnya tentang hidup yang baik.

Sudah rahasia umum artis artis terutama  bergenre musik keras di masa 90-an banyak terjebak narkoba, dunia gemerlap dan free sex.  Bang Iwan dalam pengembaraan masa remajanya dengan sangat apik pada akhirnya menunjukkan betapa kebahagiaan hakiki adalah menjadi kekasih yang baik,  menjadi bapak yang baik,  menjadi saudara yang baik dan menjadi musisi yang mencerahkan.

Tengoklah syair syair lagu lagunya yang ia dedikasikan pada putranya:”Galang Rambu Anarkhi anakku…  ”

4. Iwan fals menginspirasi untuk hidup tidak biasa biasa saja.

Hidupnya yang sederhana tanpa umumnya gemerlap dunia artis adalah nilai tersendiri disamping juga ia menunjukkan pentingnya mengaktifkan pikiran dan hati nurani. Statemen-statementnya adalah hasil renungan mendalam.  Ia menunjukkan pentingnya percaya pada diri sendiri dan kemanusiaan.

Apa yang kau rasakan saat nonton konser 55 tahun Iwan Fals?

Konser di lapangan kodam V brawijaya ini bersamaan 55 tahun Pramuka Provinsi Jawa Timur. Suatu kebetulan yang unik di usia yang sama yakni 55 tahun.

Pada mulanya agak takut juga melihat massa yang sangat padat berupa anak muda dengan dandanan rata-rata tampak urakan.  Namun saya segera sadar bahwa sepertinya saya benar benar beranjak tua sebab dulu berbaur dengan mereka berarti bebas lepas bernyanyi berteriak bersama. Segeralah saya mengambil nafas panjang dan mulai melangkah dengan merasa kemudaan penuh semangat. Sungguh menjadi begitu ringan kaki ini melangkah. Sama seperti dulu saat remaja,  bedanya hanya kali ini ada tangan suami yang menggandengku,  hehehe…

Mulailah kami berjalan menembus kerumunan tersebut mencari jalan menuju tribun tamu undangan dan alhamdulillah ternyata lancar sekali.  Mungkin juga karena kami berdua tampak “tidak segenerasi” (untuk tidak menyebut tampak tua 😂😂😂) sehingga anak anak muda ini memberi kami jalan begitu saja.  Siapa menyangka anak anak muda yang secara umum tampak urakan ternyata bersikap demikian sopan pada muka beda generasi ini,  hehehe..  Benarlah kata orang bijak bahwa don’t judge the book by it’s cover.  Luar biasa OI (Orang Indonesia),  sebutan nama organisasi  untuk penggemar Iwan Fals,  bersikap.

Sampai di lokasi sunggub surprise saya bertemu dg pak haryadi dosen semasa kuliah s1 di fisip unair bersama Arif Afandi mantan Wakil Walikota Surabaya yang juga ada Eep Saifullah Fatah sekalian diantara mereka.  Karena suara bising lagu-lagu pembuka kami tak bisa ngobrol hanya saling sapa ringan dan sejurus kemudian kami semua tenggelam menikmati aksi di penggung.

Cak lontong juga hadir menghibur dengan banyolan banyolan suroboyoan sebelum acara konser utama.  Juga sambutan dari Gus Ipul selaku Ketua Pelaksana dan dilanjutkan ada  sambutan lagi yakni dari Pakde Karwo selaku Gubernur Jawa Timur.

Tibalah yang dinanti yakni konser Iwan Fals.  Lagu pembuka yang dibawakannya adalah buku ini aku pinjam. Segera saja lapangan bersorak sorai dalam teriakan semua penonton menyertai lagu tersebit dinyanyikan:”Biar tau.. Biar rasa… Cinta ini milik kita”.

Pilihan lagu pembuka ini sungguh luar biasa.  Kami semua seperti tersedot mundur ke beberapa tahun kebelakang menjadi remaja yang sedang mengalami cinta monyet. Eh,  kata cinta monyet sekarang “tidak usum” lagi ya..    😂😂😂😂

Lagu demi lagu dibawakan oleh Bang Iwan dengan sangat prima dan diikuti pula dengan sangat bersemangat oleh OI.  Oiya,  selain OI ada juga panggung khusus undangan dari para anggota pramuka berprestasi se jawa timur.  Karena yang punya perhelatan adalah pramuka maka sesekali gemuruh suara tepuk pramuka membahana.  Sesekali juga Bang Iwan mengulas nilai nilai kepramukaan dalam dasa dharma maupun lainnya.  Sungguh malam itu adakah malam pertautan antar generasi. Yang setua Bang Iwan di kepala 5 usianya,  yang seusia suami saya di kepala 4, yang seusia saya di kepala 3, yang seusia para penonton di kepala 2 dan juga 1 semuanya dalam satu semangat bernyanyi.

Sungguh malam yang luar biasa. Sampai esoknya saya masih merasakan semangat muda yang tergelar terhampar di lapangan kodam V Brawijaya Surabaya itu.  Oiya,  kami juga bertemu EO acara ini dan menyempatkan wefie sebab ternyata ia adalah sahabat senior di pondok tambakberas.  Loh,  acara konser gini EO nya santri?  Iyalah,  santri sekarang ini banyak profesional di berbagai bidang.  Jadi mengapa harus ragu memondokkan anak?  Santri gak kalah diadu profesionalismenya,    hehehe…  Akhirukalam,  Terimakasih suamiku yang telah mengajakku menghadiri konser malam itu…

Iklan