Tag Archives: Santri

Cobaan terberat bagi ibu yang anaknya mondok adalah: Keteguhan Hati

Standar

Profil 2

Tulisan saya ini sebenarnya semi curhat. Tapi mengingat curhat sejenis ini terdahulu yakni saat harus melepas anak saya, mbak ninid kecil, diusia 7 tahun mondok ternyata memberi banyak pengertian dan juga saling menguatkan sesama ibu yang memilih pendidikan pesantren untuk anaknya maka saya posting.

Hanya satu harapan saya dalam menulis soal “memondokkan” anak yakni bermanfaat untuk sesama ibu. Amiin.

ANAKKU SAKIT

Saat hari sambangan minggu lalu kutemukan mbak ninid kecil dalam keadaan demam, matanya merah, ¬†gusinya juga sangat merah dan batuk. Dihidungnya ada sedikit darah kering yg saya perkirakan ia mimisan. Tapi dia sangat ceria. Waktu kupeluk dengan sangat haru seraya bertanya:”mbak ninid sakit ya… Kita pulang ya sayang.. Izin dulu istirahat di rumah…” dia malah menjawab:”enggak umi aku nggak sakit… Kalau pulang nanti ngajinya ketinggalan….” ūüėĘūüėĘūüėĘūüėĘ

Padahal pikiran emaknya ini sudah “horor banget”. Jangan2 demam berdarah atau tipes… Ya Alloh… Hati dan pikiran sudah ketakutan ndak karuan. Kok sampai begini dia gak sambat sakit.

Akhirnya kami izin pulang beberapa hari agar  mendapat perawatan medis secukupnya. Saya baga ke UGD hari itu mengingat harinya adalah minggu dimana dokter praktik tutup. Ternyata dari hasil lab alhamdulillah negatif DB maupun types. Hanya saja leukositnya tergolong rendah sehingga harus total istirahat, minum obat dan makan yg cukup. Dokter juga mengizinkan pulang tidak harus opname tapi dalam pengawasan jika terjadi mimisan yang lebih intens atau panasnya tak terkendali maka harus kembali ke rumah sakit.

Alhamdulillah di rumah si kecil sholihahku ini bisa makan dengan baik meski tidak banyak (memang dasarnya tidak suka makan) dan juga tidur nyenyak tiap habis minum obat. Hari ke tiga sudah tidak demam, matanya sudah jernih, tidak mimisan dan gusinya tidak  merah meradang lagi namun batuk belum sembuh tapi sudah berkurang jauh. Kulitnya juga tampak segar kembali.

REMUK REDAMNYA DUNIA BATINKU

Tiap malam selama empat hari sejak itu saya tak bisa tidur. Rebah disisinya dengan waspada penuh. Padahal tiap bangun tidur mbak ninid kecilku ini ceria bertanya ummi kok tidur disini..? Kadang dia bangun untuk minum air yg kusediakan dalam botol disebelah bantalnya. Atau karena ingin pipis sebab sangat banyak minum.

Memandang wajahnya hatiku rasa remuk redam. Perasaan bersalah sebagai seorang ibu kok tidak di rumah saja dia sehingga bisa kuawasi langsung tiap hari. Kenapa tidak saya boyongkan saja nggak usah mondok lagi. Sekolah dan ngaji di rumah saja toh juga bisa. Saya mengajar banyak anak orang lain mengaji kenapa tidak saya ajari sendiri anak saya…? Apakah saya ini ibuk yang baik… Dst. Berbagai pertanyaan tanpa jawaban berkecamuk di pikiranku.

Sesekali saya pindah ke kamar menemui suami dan berurai air mata saya curhat ingin mboyongkan saja anakku ini. Suamiku menasehati tentang sabar dan sebuah pertanyaan:”apakah hanya ummi yang anaknya mondok? Apakah ibunya teman2 ninid juga memboyong anaknya kalau sakit? Kalau orang lain (ibu2) bisa mengendalikan hati dan pikirannya apakah itu begitu sulit buat ummi….? Dulu kan ummi sudah mikir dan memutuskan soal mondok ini apakah hendak putus asa oleh hal ini…”.

Apakah itu bisa saya terima begitu saja? Tidak. Hatiku masih remuk redam… Melihat anak sakit ternyata lebih berat daripada menanggung rasa sakit itu sendiri. Saya percaya bahwa tiap ibu merasakan hal yang saya rasakan. Bahwa melihat anak sakit itu lebih sakit daripada saat diri kita sakit…. ūüėį

MENJERNIHKAN PIKIRAN DAN HATI

Sambil memandangi tubuh kecil anakku ini saya berusaha berfikir dengan jernih. Menjernihkan hati tentang tujuan awal kenapa dulu saya putuskan ia mondok, mengingat-ingat dengan baik bagaimana nasehat2 terbaik yang bisa saya jadikan pegangan. Selain mengenang sejarah ia mondok di usia sedini ini (ada di tulisan terdahulu dalam web ini) saya ingat kitab taklim , yang merupakan kitab pegangan umumnya santri, bahwa kesuksesan seorang pelajar berasal dari tiga pihak: kesungguhan santri itu sendiri, kesungguhan gurunya, dan kesungguhan orang tuanya. Anakku ini kesungguhan batinnya soal mondok tidak bisa saya ragukan, para pengasuhnya di pondok juga begitu sungguh2 terbukti ia ngajinya sudah sangat lancar meski belum sempurna, jadi pertanyaan berikutnya adalah apakah saya orang tuanya bersungguh-sungguh….?

Ini membuat saya makin trenyuh makin remuk redam. ¬†Jadi yang layak dipertanyakan hanyalah saya…? Iya hanya saya… Tentang kesungguhan saya…

Tidak mudah mengendalikan air mata saat mengalami hal ini. Tidak mudah mengendalikan perasaan saat mengalami hal ini. Namun dalam menuju suatu tujuan apapun memang tak mungkin tanpa aral melintang. Untuk lulus menjadi pribadi yang teguh pada tujuan, tidak mudah patah arang, tidak mudah berbelok atau berhenti di jalan terjal pastilah tidak mudah.

Menjadi seorang ibu berarti memberinya yang terbaik. Dan memberi yang terbaik tidak selalu indah dan menyenangkan… ¬†Bismillah semoga saya selalu menjadi seorang ibu yang tegar dalam menyayangi anak-anak saya dengan kebaikan sejati dan diridloi Alloh SWT. Amiin….

 

 

 

 

Iklan

Memahami Kepemimpinan Kyai Bagi Warga NU: Kyai Makruf Amin, NU, MUI dan Pilkada DKI 2017

Standar

Profil 2

Ahok “kesleo lidah” lagi (?) setelah tafsir almaidah 51. Kali ini “kesleo lidah” memperkarakan serta kuasa hukumnya yang sangat tidak sopan terhadap Kyai Makruf Amin selaku ketua MUI yang berstatus saksi dalam persidangan kasus penistaan agama akibat “kesleo lidah” yang pertama. ¬†Begitu banyak warga Nahdliyin marah baik tokoh2nya dan warganya ¬†secara personal melalui akun medsos hingga release resmi organisasi dalam berbagai ¬†tingkatan hingga berbagai badan otonom di lingkungan PBNU. ¬†Ngeri kalau NU sudah marah. Pihak yang paling ngeri harusnya adalah tim Ahok. ¬†Mengapa? ¬†Ini ormas terbesar Bro… ¬†Posisinya jelas tidak merugikan Ahok selama ini. ¬†Pihak yang senang? ¬†Kita semua ¬†tahu siapa saja mereka dan seperti apa kelakuannya, ¬†hehehe…

Pilkada DKI effect

Banyak yang mengatakan pilkada DKI ini pilkada rasa pilpres.  Bukan semata karena  Agus Yudhoyono,  salah satu kontestan,  adalah putra Mantan Presiden SBY namun juga efek yang ditimbulkan serta keterlibatan masyarakat begitu luas melampaui batas wilayah administratif provinsi DKI itu sendiri.

Pro-kontra terhadap para kontestan, ¬†khususnya incumbent yakni Ahok, juga berlangsung dalam fluktuasi yang sulit diperkirakan dinamikanya. ¬†Misalnya hingga menimbulkan gerakan 212 yang begitu masif dengan dipromotori kalangan islam garis keras memanfaatkan momentum fatwa MUI yang merespon “kesleo lidah” Ahok menyoal tasir alquran surat ¬†Almaidah ayat 51. Bahkan buntut dari gerakan tersebut adalah saling intrik politik tiada habisnya khususnya ditujukan pada para pemimpin gerakannya yakni Habib Riziq Shihab di satu sisi dan Megawati Soekarno di sisi lainnya.

Namun bukan mereka yang hendak saya bahas disini melainkan Kyai Makruf Amin yang terseret pusaran arus dinamika ¬†konflik politik kontestasi pilkada rasa pilpres ini. ¬†Kyai Makruf adalah Ketua MUI yang sekaligus juga adalah Rois Aam PBNU yang dalam AD/ART berarti pimpinan tertinggi dari ormas terbesar di Indonesia ini. Kita semua mafhum bahwa fatwa MUI inilah yang dieksploitasi habis gerakan islam garis keras. Lhoh jadi yai makruf amin bagian dari gerakan tersebut dong? ¬†Lhoh tapi kok sikap PBNU malah ¬†tidak mempermasalahkan ¬†terhadap figur kepemimpinan ¬†non muslim Ahok? ¬†Jadi warga NU itu gimana sich…? ¬†Nah, ¬†jika berfikir tanpa memahami budaya NU ya gitu itu hasilnya : bingung!.

Kepemimpinan Kyai: Personal ataukah institusional?

Kyai Makruf boleh jadi saksi dalam kapasitas sebagai ketua MUI. ¬†Tapi jangan lupa beliau Rois Am PBNU yang artinya pemimpin tertinggi. ¬†Warga NU secara umum sudah sangat menghayati budaya tawadhu’ yakni penghormatan serta kepatuhan terhadap Kiai. ¬†Jangankan pada pimpinan tertinggi pada kiai kampung saja sikap tawadhu’ ini sungguh2 diterapkan.

Beberapa pihak  pendukung Ahok mencoba klarifikasi bahwa yang terjadi adalah dalam kapasitas kyai Makruf sebagai MUI bukan sebagai PBNU.  Nah,  penjelasan tersebut pastilah dari pihak yang tidak memahami budaya NU. Benar duduk si persidangan dalam kapasitas MUI namun kehormatan Kyai Amin dalam posisi apapun dan sedang duduk dimanapun adalah kehormatan pemimpin tertinggi NU sebagai organisasi. Begitu juga sebagai seorang Kyai beliau adalah panutan warga NU.  Termasuk jika kelak purna dari PBNU beliau juga tetap kehormatan bagi warga NU.  Lihatlah bagaimana warga NU mencintai Gus Dur selepas PBNU,  juga Kyai Hasyim Muzadi,  dan seterusnya.  Tidak ada pembedaan tegas posisi kepemimpinan institusiona maupun personal dalam tradisi NU.

Sikap tawadhu’ ini bukan hanya terjadi saat ini. ¬†Sikap ini adalah ajaran yang bersumber dari kitab2 yang diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi NU. ¬†Bahkan dalam tradisi pesantren tradisional NU sikap iniadalah ¬†doktrin. ¬†Para santri rela mati untuk menjaga kehormatan Kyiainya.

Jika memahami ini maka pasti tidak heran dengan respon sikap yg muncul dari berbagai kalangan NU ini.  Juga pasti tidak akan klarifikasi soal posisi Kyai Makruf di MUI.

Pertanyaan berikutnya soal kok PBNU tidak ikut jadi pembela fatwa MUI dan tidak terlibat gerakan tersebut…? ¬†Ini juga bagian dari tradisi NU soal pengambil posisi tawassuth. ¬†Ada tradisi sikap tawassut yakni di tengah-tengah, ¬† tasamuh yaknk toleran dan ta’adul atau adil berimbang. ¬†Ada beragam suara dari kalangan kyai soal fatwa MUI tersebut bukan hanya tentang fatwanya melainkan juga tentang konteks masalahnya. ¬†Karena itulah PBNU tampak mengambil sikap demikian sesuai tradisi sikap organisasi. ¬†Dan kalangan ¬†kyai NU, baik di PBNU struktural maupun non struktural, ¬†sangat dewasa soal perbedaan pendapat. Jadi meskipun ada sementara kalangan Kyai yang berbeda dengan pendapat Kyai Makruf di MUI namun itu tidak mengurangi penghormatan dari kalangan Kyai tersebut terhadap Kyai Makruf selaku Rois Am PBNU. ¬†Bahkan saya lihat beberapa tokoh besar di NU yang selama ini pro Ahok pun memposting kemarahan mereka terhadap sikap Ahok yg tidak menghormati Kyai Amin di persidangan tersebut.

Akhirnya jika ada pertanyaan apakah Ahok tidak akan dimaafkan warga NU? Apakah tidak dimaafkan oleh Kyai yang bersangkutan? ¬† Itulah asyik dan hebatnya NU. ¬†Pasti dimaafkan… ¬†Berkaca kasus Gus Mus, Habib Quraisy Shihab, Kyai Said Aqil yang di hina netizen di medsos namun dengan begitu entengnya memaafkan, ¬†mendoakan bahkan memberikan hadiah…. ¬† Subhanalloh indahnya akhlaq para kyiai panutan kami warga NU…

Mereka menyebut kami “Mbak Muallimat”: Catatan kenangan untuk hari santri

Standar

photogrid_1477007464724 From Tambakberas With Love

Ini tulisan kenangan. Yang namanya kenangan ya romantislah, ¬†hehehe…

Madrasah Muallimat ini adalah tempat sekolah saya di lingkungan pondok pesantren tambakberas yang kondang karena banyak kehebatan pengasuhnya khususnya  mbah pengasuh kami yang adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Madrasah ini bernama Muallimin Muallimat Atas (MMA)  dan Muallimin Muallimat Pertama (MMP).  Sebenarnya MMP dan MMA ini satu paket tak terpisah.  Karena itu sering juga ditulis madrasah muallimin muallimat 6 tahun. Begitulah nama  yang kami kenal dari sekolah kami.

Nama formal madrasah ini sebenarnya Madrasah Menengah Atas (MMA). ¬†Itu bentuk ikhtiar yg dilakukan sejalan dengan aturan pendidikan nasional agar bisa terdaftar dan kita punya ijazah. Sabab musabab lainnya adalah sekolah ini 6 (enam) tahun sehingga 3 (tiga) ¬†tahun awal secara formal disebut Madrasah Menengah Pertama ¬†(MMP) ¬†yang secara formal setara SMP. Kok secara formal lagi…? ¬†Iya, ¬†jangan dikira yang masuk MMP ini setara usia MMP.. ¬†Dibawah nanti dijelaskan ūüėĄūüėĄūüėĄ

Madrasah tempat kami sekolah ini memiliki banyak keunikan. ¬†Pertama, ¬†kurikulumnya 60% (atau 70% ya ūüėČ) adalah agama berbasis kitab salaf dan sisanya baru umum. Kedua, ¬†hampir semua kiai dan gus tambakberas ¬†bereputasi keilmuwan ngajar disini. Ini kebanggaan tersendiri. Bahkan Gus Dur juga pernah punya sejarah menjadi kepala sekolah sebentar ¬†disini dan istri beliau bu nyai sinta juga pernah sekolah disini. ¬†Tapi ini saya belum pernah verifikasi langsung hehehe… ¬†Intinya para alumni itu bangga bahwa ini sekolahnya banyak tokoh hebat di kalangan NU. Nah itu adalah keistimewaan ketiga. ¬†Iya, ¬†banyak tokoh mulai dari level kampung hingga nadional adalah alumni sekolah ini. ¬†Meskipun ini adalah sekolah yang kuat tradisi keilmuwan islam secara tradisional ala pesantren namun faktanya alumninya sukses ada di berbagai sektor profesional maupun informal. Keempat, ¬†secara penampilan fisik juga khas. ¬†Sekolah disini berarti tidak pakai sepatu sebab masuk kelas ngebak/nyeker/tanpa alas kaki. ¬†Jilbab yang kami pakai adalah minang. ¬†Terbuat dari kain memanjang yang berpola khas. Kalau upacara kami tidak berbaris-baris melainkan duduk duduk di area pelataran dan kadang depan kelas. Kelima, ¬†untuk masuk kesini tidak mudah namun bukan sulit. ¬†Tidak mudah sebab harus menaklukkan perasaan apakah siap lebih umur (ini penghalusan dari kata tua) ¬†di pondok. Masuk muallimat kebanyakan berasal dari MI khusus di tambakberas yg juga telah konsentrasi ilmu agama. ¬†Jika bukan lulusan MI tersebut jangan dikira bisa masuk. Kalau tak lulus tes maka siap siaplah masuk MI lagi, ¬†hehehe… ¬†Saya dengar sekarang sudah ada kelas persiapan. Jika anda sudah lulus SMP/MTs jangan dikira bisa masuk MMA. ¬†Anda harus tes yg jika tak lulus maka siap siaplah masuk MMP meskipun sudah berijazah SMP. ¬†Nah, ¬†harus siap “lebih berumur” di pondok kalau sekolah muallimat. Emang tesnya apa sich? ¬†Alquran, Setor hafalan alfiyah dan baca kitab kuning gundulan sahabat… ¬†ūüėČūüėČ. Keenam: sekolah ini adalah pencetak para pengurus, ¬†ustadz dan ustadzah di semua kompleks pondok pesantren di lingkungan pesantren Bahrul Ulum Tambak beras. ¬†Dengan kata lain keberlangsungan sistem pengajian beserta ketersediaan ustadz ustadzah di komplek pondok2 dibawah yayasan besar bahrul ulum ini diamankan oleh sekolah muallimin muallimat ini. Dengan kata lain santri yang sekolah disini dianggap lebih mumpuni secara keilmuan pesantren dan memiliki kelayakan mengajar di pondok maupun lainnya dimana kata muallimin muallimat sendiri memang merujuk pada makna guru.

Sungguh keberadaan madrasah ini adalah pemikiran luar biasa dari masyayikh tambak beras. ¬†Tambakberas menyediakan sekolah semua tingkatan pendidikan negeri maupun swasta sambil terus mereproduksi ustadz ustadzah melalui madrasah muallimin muallimat untuk membantu para pengasuk mengajar di madrasah diniyah pondoknya. ¬†Di tengah situasi banyak pondok lain yang “ngajinya kalah” sama sekolah formalnya sehingga pondoknya “berasa kos-kosan”, ¬†tambak beras menjaga keseimbangan ketersediaan guru ngaji kitab kuning salafi tradisional ¬†dengan sekolah khusus ini meskipun sekolah formalnya baik yg negeri maupun swasta terus bergerak makin modern dan maju.

Karena kelebihan kelebihan diatas (catat ya.. ¬†Termasuk: kelebihan usia!ūüėā) menjadikan seragam kami lebih penting daripada nama kami. ¬†Tak heran dalam banyak kesempatan di pondok, ¬†bahkan sekedar pas ngantri beli bakso, kami dipanggil: “Mbak Muallimat”. Sementara hampir tak pernah kudengar ada panggilan:”Mbak Aliyah”, “Mbak SMA”, “Mbak Tsanawiyah”, apalagi “Mbak SMP”.

Ya, disamping kelebihan usia,  anggapan mumpuni secara keilmuwan,  juga penampilan fisik kami memang khas dengan penutup kepala bernama minang seperti dalam gambar diatas. Minang ini adalah jenis penutup kepala muslimah dari masa lampau.  Agak kuno bin ketinggalan zaman.  Alih alih menggunakan jilbab kekinian sebagaimana umumnya penutup kepala muslimah Indonesia kontemporer sekolah kalo  ini malah melestarikan penutup kepala kuno bernama minang ini.   Mungkin karena masyayikh kami sangat berpegang teguh pada qoidah: almuhafadzoh ala qodimissholih wal ahdlu bil jadidil aslah.

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 3 Hal hal yang dirasakan para alumni pondok pesantren.

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n¬†Njenengan pernah tinggal di pondok pesantren sebagai santri…? ¬†Maka seumur hidup njenengan tetaplah seorang santri. Long life education sebagai mainstream pemikiran modern tentang ¬†pendidikan bukanlah hal baru buat santri. Rasulullah SAW telah mengakatakan pada kita tentang uthlubul ilma minal mahdi ilallahdi yakni menuntut ilmu semenjak dalam buaian bunda hingga kelak ke liang lahat.

Clifford Geertz yang mengkodifikasi struktur masyarakat jawa dalam santri,  priyayi dan abangan sebenarnya hendak merujuk santri sebagai sekelompok masyarakat yang menggunakan kaidah kaodah dan nilai nilai agama islam dalam perilaku hidupnya.  Keberadaan kelompok santri ini sangat ditopang oleh keberadaan pondok pesantren dengan para kiainya yang melestarikan kelompok sosial bernama santri ini.

Dan sejarah bangsa ini telah menunjukkan bahwa kekuatan kaum santri sebagai penopang pondasi kebangsaan telah terwujud jauh sebelum indonesia didirikan.  Adapun hari santri yang ditetapkan tanggal 22 oktober adalah momentum politik yang merujuk pada satu kejadian heroik dari jawa timur yakni resolusi jihad. Ini adalah supremasi kaum santri atas kemerdekaan bangsa. Resolusi jihad tersebut terbukti menggelorakan semangat bangsa hingga pecah kejadian besar 10 november di surabaya sebagai tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang kemudian diperingati sebagai hari pahlawan.

Jadi santri bukan hanya tentang sekelompok masyarakat yang hidup dengan nilai nilai agama melainkan juga sekelompok penting masyarakat bangsa Indonesia yang berjuang untuk kejayaan bangsa ini.

Berikut adalah lanjutan tulisan sebelumnya tentang bagaimana para alumni layak bangga menjadi seorang Santri:

4. Mazaltu tholiban.  Selamanya kita adalah santri. Alumni juga tetap seorang santri.  Seumur hidup ia menjadi santri.

Saat sudah lulus dari pondok dan mulai melanjutkan jenjang pendidikan maupun mulai bekerja menikah dan lainnya,  kenangan belajar di pondok mungkin belum terlalu kuat dirasakan mempengaruhi seorang alumni.  Namun saat hidup terus berjalan dan berbagai cobaan serta tantangan menerpa justru disitulah muncul berbagai ingatan atas nasehat dari kiai maupun ajaran ajaran di pondok saat mengaji.

Karena itu wajar sering ada terbit kerinduan masa masa mondok meskipun sebenarnya waktu mondok “ndablek”, males ngaji pun males jamaah. Biasanya terbit rindu ini sambil menyesal kenapa dulu kurang rajin mengaji dan belajar. ¬†Yah, ¬†penyesalan emang selalu datang terlambat sebab kalau datang diawal namanya bukan penyesalan melainkan pendaftaran ¬†ūüėĄūüėĄ..

Begitulah kami para alumni masih akan datang lagi untuk ngaji sejenak pas haflah, ¬†datang curhat minta nasehat ke kiai atau keluarganya, datang mibta didoakan, ¬†datang sekedar reoni tertawa bersama kawan2 santri senasib di zamannya, ¬†nyicipi makanan di warung favorit yg dulu serasa terlezat sedunia dan menyadari sebenarnya rasanya biasa biasa saja. ¬†Dulu begitu lezatnya mungkin karena belum paham makna lezat sesungguhnya dimana saat ini telah makan di warung atau restoran yang sebenar benarnya memaknai lezat ūüėāūüėā… Misalnya jika njenengan santri tambakberas era 90 an maka njenengan akan insyaf bahwa bakso pak thing bukaanlah yg terlezat sedunia meski dulu penuh perjuangan buat menikmati dg diam diam jam kosong lari ke situ atau super antri di jam normal.. Apalagi kalau pernah ¬†mampir ke malang dan sudah ketemu rasanya bakso presiden, ¬†bakso bakar pahlawan trip, ¬†bakso kota cak man dan bahkan bakso bakso tepi jalan di kota malang yang ampun ampin lezat beneran semuanya, ¬†hahaha… ¬†Pak Thing? ¬†Ya Bakso Pak Thing itu rasa kenangan…. ¬†Makanya tetap istimewa meski telah sadar itu biasa biasa saja… ¬†ūüėä

5. Banyak teman banyak saudara.  Termasuk banyak yang bisa diprospek besanan.

Iya, ¬†besanan. ¬†Saat umur bertambah kita beranak pinak maka pembahasan kita tak lagi kuliah dimana, kerja apa, pacaran atau nikah sama siapa namun anakmu usia berapa dan sudah siap nikahin anak atau sudah ada jodohnyakah anakmu…?.

Sebagai santri tentu ada perasaan ingin melestarikan kesantrian ini hingga anak cucu dengan memastikan punya mantu yg berasal dari keluarga santri. ¬†Agar ngerti berbakti pada orang tua sebagaimana ajaran agama. ¬†Perilaku srhari hari juga pakai agama. ¬†Setidaknya pernah ngaji kitabutthoharoh biar tau betul hadats kecil dan hadats besar, ¬†ahahahaiii. ūüėČūüėČūüėČ… Kelak punya cucu juga diajari ilmu agama.

Ini nyata loh.. ¬†Guyonan alumni menjelang tua gini galau galau soal anak anak yang beranjak remaja dan dunia remaja saat ini sungguh merisaukan. Jadi jodohnya anak mulai dipikir dengan ngelirik ngelirik anaknya teman sesama santri buat diambil mantu ūüėĄūüėĄūüėā

6. Saling mengingatkan, ¬†saling mendukung dan saling mendoakan. Karena punya nilai hidup sama tentang peran doa maka para alumni guyub soal saling ini: mengingatkan, ¬†mendukung dan mendoakan… ¬†Bahkan saling ijazah doa apa yg paling ces pleng buat ini buat itu.. ūüėĄūüėĄ

Waktu mondok paling seru soal doa mesti tentang doa mahabbah dan doa tolak mahabbah. ¬†Apa itu doa mahabbah…? ¬†Kalau santri ndak usah dijelaskan hahaha… ¬†Kalau njenengan bukan santri tanyakan yang santri deh…

 

Bersambung…

 

Mengapa harus bangga menjadi santri? Bag 1

Standar

12809563_989244381124213_1130352474086781576_n¬†Njenengan santri…?

Kalau njenengan santri mungkin pernah mengalami kebingungan di awal masa mondok tentang buat apa menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan. ¬†Njenengan juga mungkin juga pernah mengalami kebingungan menulis huruf g, ¬†ng, dan ny dalam hijaiyah ala jawa atau yang disebut pegon. ¬†Njenengan mungkin juga pernah tertidur di depan kamar mandi saat mengantri jelang subuh. ¬†Njenengan mungkin juga pernah berbagi satu krupuk dicuil cuil dinikmati bersama. ¬†Njenengan mungkin juga pernah tanpa merasa nelangsa sedikitpun membuat mie instan dengan cukup direndam pakai air panas. ¬†Njenengan mungkin juga pernah berbagi bantal tidur kruntelan dengan bahagia tanpa terlalu mikir bahwa semua belum mandi. ¬†Njenengan mungkin juga pernah mengalami pengalaman eksotis khas bernama “gudiken” serta “gudiken berjamaah” alias satu kamar saling ketularan gudiken. Kadang juga flu bareng bareng bersahut sahutan saat ngaji atau jamaah sholat, hihihi… ¬†Njenengan santri berarti mengerti apa itu ditakzir, ¬†hihihi… ¬†Menjadi santri berarti mengalami masa berhasil beradaptasi. Berhasil beradaptasi berarti menjadi pribadi yang penuh toleransi.

Menjadi santri memang berarti memiliki segudang pengalaman berbagi.  Berbagi ilmu dalam belajar bersama,  berbagi makanan meski hanya sebiji krupuk dibagi bagi,  berbagi kesenangan dengan bergantian baca majalah dll,  bahkan berbagi kesabaran dengan menikmati penyakit ringan bertular-tularan.  Jadi siapa kelompok masyarakat yang paling memahami berbagi? Itu adalah kaum santri. Jadi menjadi santri itu tahu benar seni berbagi.

Pesantren atau masayarakat biasa menyebut pondok ini adalah lembaga pendidikan yang bukan hanya memberi pengalaman akademik seperti umumnya sekolah. Pondok memiliki kode etik khas yang bukan hanya tertulis sebagai peraturan namun juga nilai hidup yanh disebut keberkahan atau barokah. ¬† Pondok juga berbeda dalam mengukur bagaimana seorang santri dikatakan berhasil. Santri yang sukses bukan hanya kekayaan maupun pangkat jabatannya melainkan bagaimana ia dinilai bermanfaat hidupnya bagi masyarakat sekitar sebagai hakikat dari “keberkahan hidup”. Dan keberkahan ini diyakini didapat bukan dari nilai rapot melainkan perilaku yang diridloi para pengasuh atau guru dan kiai2. Menjadi santri berarti bersikap baik agar meraih barokah.

Disaat sekolah sekolah di luar membanggakan alumninya pada kekayaan dan jabatan, ¬†pondok pesantren masih mempertanyakan alumninya apakah telah “berbuat” kebaikan yang layak dalam hidupnya sebagai seorang santri. ¬†Jadi seorang santri berarti menjadi seseorang yang berani meraih sukses bukan hanya dengan ukuran materi.

Masih banyak alasan mengapa harus bangga menjadi seorang santri.